APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Not Seen

Not Seen

Demi balas budi, seorang pria menikahi wanita penolong nyawanya. Pernikahan ini terjadi akibat desakan sang ibu, yang justru membenci anak kandungnya sendiri dan memperlakukannya seperti orang asing berutang. Berharap meraih kebahagiaan di kota, wanita malang ini malah menemui kenyataan pahit. Alih-alih terbebas dari penderitaan masa lalu di desa, ia kini justru terjebak dalam kesepian mendalam dan dinginnya penolakan dari keluarga barunya.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Saya terima nikahnya Naura Imron dengan mas kawin 25 gram emas dibayar tunai."

Deg!

Sah! Semuanya berseru dan kini pengantin Ervan dan Naura Imron telah sah menjadi suami istri. Hanya sedikit orang yang menyaksikan pernikahan ini, setidaknya rukun dan syarat pernikahan dilaksanakan dan tak dilanggar.

Seorang perempuan kecil merasa bahwa ini mimpi, bagaimana mungkin ia menikah tanpa dihadiri oleh kedua orang tuanya dan hanya dihadiri wali hakim dan beberapa saksi. Ia hanya tertawa lucu dan tak menyangka akan menjadi seperti ini. Walau akal sehatnya membeku saat ini.

Pikirannya kacau tak karuan. Ini semua entah bermula dari mana sampai bisa jadi begini. Kepalanya bahkan enggan untuk menilik situasi di ruangan yang tak begitu luas. Ingin pasrah, namun kenapa kehidupannya begini? Udara dingin dengan bibir yang membisu tak banyak berkomentar. Matanya terpejam menahan takdir yang bahkan tak terlintas dipikiranya.

Dua hari sebelumnya.

Prak!

"Dasar anak bodoh, masak seperti ini saja kau tidak becus!"

Crang!

"Kenapa kau diam saja? Cepat ambilkan garam, dasar anak tidak berguna!" Wajah wanita paru baya itu merah terbakar emosi.

Teriakan itu membuat wajah anak perempuannya menjadi kaku dan ketakutan. Ia tak dapat berbuat apa-apa selain menurut pada sang ibu.

Ia berlari ke dapur mengambilkan garam di mangkuk kecil.

"Ini, Bu garamnya," sodor anak perempuan tersebut dengan kepala menunduk.

"Tuang ke pancinya dan jangan sampai keasinan!" cerca ibu tanpa memelankan suaranya.

Sang gadis itu dengan gemetar menabur garam ke panci sedikit demi sedikit, diaduk, kemudian dicicip. "Sudah tak asin," batinnya, kemudian duduk di kursi kembali untuk makan.

Tatapan iba ditunjukkan sang ayah yang duduk kaku tak berguna di samping istrinya. Ia sebagai ayah justru tak dapat membela anak kesayangannya, hanya dapat menatap dengan penuh arti pada gadisnya.

3 bibir tersenyum melihat suasana pagi ini. Ya, tontonan asik pagi mereka adalah menyaksikan saudarinya dicerca oleh sang ibu negara. Naura memiliki 2 kakak dan 1 adik laki-laki, hanya ia yang perempuan.

Walau hanya satu, Naura diperlakukan seperti anak tiri yang dibenci ibu seolah-olah ayah kandungnya telah tiada dan menyisakan penderitaan bagi sang ibu tiri. Padahal Naura juga menderita semenjak kelahiran anak bungsu.

Sejak kecil Naura tak mendapat kasih sayang, ditambah pekerjaan semakin banyak semenjak ia masuk SD. Harus menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, piring, bahkan membersihkan rumah sudah menjadi kewajibannya.

Berangkat ke sekolah berjalan kaki sekitar 2 kilo meter, sedang ketiga saudara naik angkot dan diberi uang jajan. Ayah diam-diam selalu memberikan uang jajan pada Naura dan mengobati luka yang digoreskan oleh ibu kandung yang jahat di malam hari saat semuanya sudah tidur.

Ayah tidah bisa membantah ibu karena pernikahan ini hasil dari perjodohan. Ibu yang menolak keras memberikan syarat jika ingin menjadi suaminya tak boleh melarang atau membantah apapun yang dilakukannya. Ayah yang mencintai ibu dengan cara menurut, hanya bisa diam saja saat anak perempuannya diperlakukan dengan sadis.

Usai sarapan gadis tersebut segera merapikan meja, mencuci piring juga mengelap lantai yang terkena tumpahan mangkuk ibu yang dibuang tadi, dengan tangan yang banyak luka dan memar.

Setiap hari tangisnya selalu tumpah, tak pernah tersenyum ataupun tertawa, selalu menundukkan kepala juga tak banyak bicara.

Dirasa rumah sudah bersih, ia pamit pada ayah untuk berangkat kuliah.

"Maafkan Ayah, ya Nak. Ayah tak bisa membuatmu tersenyum," lirih ayah dengan suara pelan sambil memeluknya.

"Tidak apa Ayah, Naura baik-baik saja, kok." Senyum tipis ditunjukkan gadis yang dimarahi tadi.

"Ini bekal untukmu."

"Terima kasih, Ayah." Naura menyalami ayah kemudian berjalan keluar pagar rumah menuju jalan yang biasa dilewati angkot.

Senyumnya merekah ketika ia tiba di kampus, di tempat inilah ia dapat mengekspresikan dirinya. Masuk ke dalam kampus dengan penuh harap bahwa suatu hari nanti ia dapat membanggakan orang tuanya.

Waktu pulang telah tiba, tapi Naura tidak langsung pulang ke rumah, ia pergi ke taman yang jaraknya tidak begitu jauh dari kampus. Sebelum masuk, ia membeli kopi di warung kecil yang dekat dengan taman.

Berjalan perlahan dengan beberapa buku di pelukannya, menatap jalanan yang dipijak, ia tidak suka meninggikan pandangan.

Mata indah Naura menemukan kursi taman yang panjang, ia duduk di sana kemudian mengerjakan tugas kampus.

Senja mulai terlihat, pandangan menjadi redup, Naura bergegas pergi ke halte bus yang akan membawanya ke stasiun kereta.

Suasana di desa ini tidak begitu ramai, juga ditambah senja sudah mulai pergi. Desa yang sangat nyaman dan tenang. Berbeda dengan keadaan rumah Naura. Baru saja tiba di rumah sudah mendapatkan tatapan tajam dari ibu.

"Ke mana saja kamu, bukannya pulang lebih cepat, malah lambat! Cepat masak, kakak dan adikmu sudah kelaparan!" Tatapan yang menyala itu membuat Naura langsung terbakar rasa takut dan segera melaksanakan perintah ibu.

Naura tak sanggup menatap wajah ibu, ia selalu menundukkan kepala, hingga yang tampak di matanya hanya kaki sang ibu.

Berlari ke kamar kemudian ke dapur dengan pakaian sederhana, tak lupa ia mengenakan kerudung agar rambut panjangnya tak jatuh walau sehelai.

Memasak dengan bahan yang ada di dapur. Tangannya cepat sekali mengupas sayuran juga mengiris, sikap gesitnya patut diakui karena tak begitu lama masakan sudah siap dihidangkan.

Nasi sudah tersedia di meja, tinggal lauknya saja. Makanan di nampan perlahan dibawanya ke meja makan.

Drrrrttt.

Drrrrttt.

Tangan kecil nan kurus itu terlihat gemetar, namun ia tetap berusaha meraih meja.

Tes.

Tes.

Currr.

Tangan ibu meraihnya cepat.

"Terima kasih, Bu," lirih Naura menatap nanar ibu.

"Astaga anak ini, membawakan makanan segini saja sudah gemetar. Makanya, pulang kuliah tuh jangan keluyuran, dasar anak tak tahu diri. Pergi sana! Bikin jengkel saja," usir ibu tanpa belas kasihan.

Tiga jemari kakak tertua menoyor bahu Naura hingga terjungkal ke depan membuat Naura hampir mencium lantai.

"Hahah, dasar anak sial," umpatnya setelah membiarkan adiknya terjatuh.

"Emang gak ada gunanya dia, hahaha."

"Sudah-sudah makan, aku lapar," lerai adiknya yang tak begitu perduli, yang penting ia makan.

Dengan tubuh yang masih gemetar ia masuk ke dalam kamar. Segera minum air yang ada di botol besar.

Glek.

Glek.

Glek.

Setengah botol habis diminum. Semua tubuhnya merunduk, mata layu menatap lantai dengan kosong.

"Dasar anak bodoh, sialan, tak berguna! Bikin jengkel saja."

Suara ibu terngiang-ngiang di telinganya membuat mata tak sanggup lagi menahan tangis.

"Hiks." Tangisnya pun tumpah.

Tok tok tok.

"Hei, anak bodoh, bersihkan dapur." Walau suaranya datar, tetapi makna dari ucapannya membuat Naura lagi-lagi serasa dicambuk di bagian dada.

"Iya, Bu," sahut Naura sambil berlari ke pintu.

"Sedang apa kau di dalam, lama sekali?" tanya ibu setelah Naura ke luar.

Naura menggeleng sambil menjawab, "tidak melakukan apa-apa."

"Cepat bersihkan dapur, nanti ayahmu pulang dapur berantakan. Lamban," cerca ibu dengan wajah sinis.

Kaki panjang Naura membawanya ke dapur, tangan kurus dan lecet segera merapikan meja makan yang berantakan, mata merah juga masih terlihat jelas.

Pukul 12 malam.

Ayah baru pulang dari tempatnya bekerja, walau gajinya tidak begitu besar, tapi tetap dijalani. Ia langsung pergi ke kamar Naura.

Tok, tok, tok.

Punggung jemari ayah mengetuk pelan. "Naura, apa kamu sudah tidur?" bisik ayah pelan sekali.

Naura yang tengah terjaga dengan buku di meja belajar mendengar ketukan pintu. Ia segera berlari untuk membuka.

"Ayah!" serunya dengan wajah berbinar sambil membuka pintu.

"Anak kesayangan Ayah belum tidur?"

"Naura masih belajar sambil menunggu Ayah."

"Kamu sudah makan?"

Naura menggeleng.

"Kalau begitu ayo makan di kamarmu, nanti ibu bangun karena makanan ini enak sekali," bisik ayah di depan wajah putrinya dengan sedikit senyum lucu.

Naura mengangguk girang. "Kalau begitu, Naura ambilkan piring ya, Yah?"

"Iya."

Ayah masuk ke dalam, duduk di karpet yang tipis. Matanya mengedar melihat seisi kamar putrinya yang kosong melompong. Meja belajar hanya dipenuhi dengan buku.

Naura kembali dengan 2 piring dan sendok. Keduanya makan bersama, ayah selalu membawa makanan sisa pelanggan yang masih utuh. Beruntung sekali ayah bekerja di bagian dapur restoran, jadi ia bisa membawa sisa makanan yang masih bisa dimakan.

Naura makan dengan sangat lahap. Matanya berkaca-kaca menikmati makanan yang lezat dan jarang ia rasakan. Tangan ayah menyeka air mata yang perlahan menetes tanpa kata. Ekspresi ayah dan Naura menggambarkan perasaan yang perih jika diucapkan.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Luna Baru Alfa-ku: Hidup yang Dirampas, Pasangan yang Ditelantarkan
9.6
Terbangun dari tidur terkutuk selama lima tahun, aku mendapati Kaelan, Alpha-ku, telah menggantikanku dengan seorang Omega. Keluargaku sendiri menyatakan aku mati secara hukum demi melantik Luna baru. Bahkan anakku lebih memilih wanita itu dan mengharapkan kematianku. Saat aku sekarat setelah dicelakai, Kaelan justru menguras darahku demi menyelamatkan kekasihnya. Melihat pengkhianatan mereka, aku sadar keberadaanku hanyalah beban bagi kebahagiaan mereka.
Sampul Novel Bukan Istri Pajangan
8.2
Kehidupan Riana hancur setelah kesuciannya direnggut oleh Danis, anak dari dosennya. Walau Danis mau bertanggung jawab dengan menikahinya, Riana justru merasa diabaikan bagai istri pajangan tanpa kehangatan. Kepedihan Riana kian memuncak saat memergoki Danis bersama mantan kekasihnya yang tengah hamil besar. Di tengah luka pengkhianatan ini, Riana kini terdesak di antara pilihan sulit: bertahan demi anak mereka atau melepas sang suami demi perempuan lain.
Sampul Novel Istri Kontrak Tuan CEO
8.4
Pasca dijebak ayah dan ibu tirinya untuk dijual kepada duda kaya, hidup Scarlett Piers hancur. Dalam situasi genting, pengusaha misterius berwatak dingin bernama Xanders Rilley datang menolong. Xanders menawarkan perlindungan, namun mengajukan syarat berupa pernikahan kontrak selama setahun. Scarlett kini dihadapkan pada dilema besar: menyetujui kesepakatan itu demi membalas dendam pada keluarganya, atau justru masuk ke dalam pusaran bahaya yang jauh lebih mengancam.
Sampul Novel Janda Laila
9.4
Pernikahan Laila selama lima tahun terancam hancur karena belum juga dikaruniai anak. Kini, suami dan ibu mertuanya memberikan tuntutan yang sangat berat. Laila dipaksa memilih antara mengizinkan suaminya berpoligami atau menyetujui perceraian. Menghadapi dilema yang menguras emosi ini, ia harus segera mengambil keputusan besar bagi hidupnya. Apakah Laila akan menerima kehadiran istri kedua, atau memilih pergi dan memulai hidup baru sebagai seorang janda?
Sampul Novel Kata Cinta Membuat Sakit Hati
7.9
Hamil empat bulan tidak membuat suami dokterku memprioritaskanku. Enam belas kali dia membatalkan pengurusan surat nikah kami demi menolong perawatnya, mulai dari membelikan pembalut hingga menjaganya di rumah sakit saat berbohong padaku. Muak dengan pengkhianatan ini, aku memutuskan untuk menggugurkan kandungan dan pergi meninggalkannya ke luar negeri. Namun, setelah kehilangan segalanya, pria itu justru menyusulku ke luar negeri demi memohon maaf atas segala kesalahannya.
Sampul Novel Terjerat Cinta Hot Mommy
9.6
Raffa Anggara, pemuda 23 tahun, sangat populer di klub malam Jakarta karena lihai memikat wanita kaya yang kesepian. Meski sering ditawari menjadi suami simpanan atau pasangan resmi, sang Casanova yang sinis pada cinta ini selalu menolak. Namun, keyakinannya goyah saat bertemu klien baru yang misterius. Sosok unik tersebut berhasil meluluhkan hatinya, hingga Raffa rela mempertaruhkan nyawa demi dia. Siapakah sebenarnya wanita yang mampu menaklukkannya?