APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nostalgia

Nostalgia

Misa Almira tak mampu lepas dari ingatan masa kecil bersama sahabat yang sangat ia sayangi. Akibat sebuah kekeliruan fatal di masa lalu, sosok berharga itu tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Ketika fakta sebenarnya terkuak, Misa didera penyesalan yang teramat besar. Walau kini ia telah tumbuh dewasa dan fokus membangun kariernya, bayang-bayang kesalahan masa lalu dan memori manis bersamanya tetap melekat erat dalam hidup Misa.
Bab
Bagikan

Bab 2

Di kantor perusahaan periklanan yang sederhana di pinggiran kota, Misa tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya saat mendengar pengumuman dari Kepala Kantor.

“Dan untuk merayakan keberhasilan kita tahun ini, kita akan mengadakan pesta malam ini di kafe E.Z yang terkenal di samping kantor kita!”

Sorak-sorai memenuhi ruangan saat Misa dan rekan-rekannya menyambut kabar tersebut dengan penuh antusias. Setelah berbulan-bulan bekerja keras, mereka akhirnya berhasil mencapai target perusahaan.

Saat siang berganti sore, Misa bersiap untuk pesta dengan hati yang berdebar. Dia tahu bahwa acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan penghargaan kepada timnya.

Kafe E.Z dipenuhi dengan kegembiraan saat para karyawan tiba. Musik menggema di udara, dan lampu-lampu berkelap-kelip menciptakan suasana yang semarak. Misa berbaur dengan rekan-rekannya, menikmati makanan dan minuman serta mengobrol dengan gembira.

Suasana malam itu terasa seperti mimpi bagi Misa. Dia telah bekerja keras selama ini, dan rasanya luar biasa bisa merayakan pencapaian mereka bersama rekan satu timnya. Dia menyadari bahwa dia tidak hanya menemukan pekerjaan di perusahaan ini, tetapi juga sebuah keluarga.

Saat acara semakin larut, Misa dan teman-temannya berdiri di balkon kafe. Mereka memandang ke kota yang berkilauan di bawah mereka, merasa bangga dengan apa yang telah mereka raih.

“Kita melakukannya, Misa,” kata salah satu rekan kerja Misa, menepuk pundaknya. “Kita telah mencapai target.”

Misa tersenyum. “Kita semua melakukannya,” katanya. “Ini adalah kerja keras semua orang.”

Dia melihat kembali rekan-rekannya dan merasa dipenuhi dengan rasa syukur. Mereka telah melalui begitu banyak kesulitan bersama, tetapi mereka tidak pernah menyerah. Mereka telah membuktikan bahwa bahkan perusahaan periklanan kecil di luar Ibukota dapat mencapai kesuksesan.

Lalu, Pak kepala kantor mendatangi mereka yang sedang berada di balkon.

Hahahaha. Kau terlihat sangat senang, Misa!' seru Pak Kepala.

Misa terkejut. “Aih? Eh? A-apa iya, Pak Kepala? Aku hanya ikut-ikutan orang lain saja yang merasa senang dan bersemangat.”

Tawa semakin keras menggema di ruangan. “Tentu saja! Selama dua tahun kau bekerja untuk perusahaan ini, kau selalu murung dan itu membuat para pria yang mengincarmu menjadi kewalahan dan kesulitan menghadapimu yang selalu murung begitu, ditambah kau itu pegawai teladan yang selalu menyelesaikan tugasmu sebelum batas akhir waktu pengumpulan tugas. Jadi, intinya adalah kau itu wanita yang paling istimewa! Termasuk Hani dan Mira juga!”

Wajah Misa memerah padam. Tatapannya menjelajahi seluruh ruangan. Semua pria yang memperhatikannya langsung membuang pandangan saat matanya bertemu dengan mereka. Sementara itu, para wanita menatap Misa dengan mata iri.

“I-ini… ini sangat membuatku tak enak hati,” gumam Misa dalam hati.

“Apa benar... ?” gumamnya pelan.

“Tentu saja, Misa! Lihat, seluruh pria yang membuang pandangan mereka saat kau melihati mereka,” kata Pak Kepala.

Wajah Misa kembali merona. Perasaan yang berkecamuk dalam hatinya membuatnya ingin menghilang saat itu juga.

“...berhentilah menggodaku…, Pak Kepala!”

“Hahaha!”

Pak Kepala malah menertawakannya saat wajah Misa memerah. Ia merasa heran pada Pak Kepala yang selalu saja menggodanya Apa karena wajah Misa yang terlihat polos? Atau memang beliau orang yang jahil.

Dalam keriuhan kafe yang dipenuhi gelak tawa dan perbincangan, suasana tiba-tiba berubah senyap saat Mira angkat bicara. Beranjak dari tempatnya, ia melangkah menuju Pak Kepala kantor yang duduk di dekat jendela. Senyum jenaka terukir di bibirnya.

“Baiklah-baiklah! Waktu bercandanya selesai!”

Semua mata tertuju pada Mira, yang kini berdiri di depan Pak Kepala. Pak Kepala yang sedari tadi terlihat santai, kini menunjukkan ekspresi kaget dan gugup.

“Sekarang,” Mira melanjutkan, suaranya terdengar sedikit menggoda, “waktunya kita merayakan keberhasilan kita yang sudah mencapai target di bulan ini. Dan yang lebih penting lagi…”

Mira menggantungkan kalimatnya, membuat semua orang di ruangan itu menanti dengan penuh harap.

“...Pak Kepala yang akan mentraktir kita malam ini di kafe ini!”

Sorak sorai dan tepuk tangan bergema di kafe. Pak Kepala terkagum-kagum sekaligus sedikit panik. “Eeehh?! Kenapa harus aku, Mira?!”

Mira terkekeh. “Bukankah Pak Kepala yang masih muda dan bugar? Lagi pula, Pak Kepala sendiri yang bilang pada kami kalau malam ini kita akan adakan pesta, kan?”

“Iya, tapi-”

“Tapi apa, Pak Kepala?” Mira menimpalinya dengan nada menggoda. “Bukankah perusahaan ini milik anda Pak Kepala? Tidak apa-apa dong kalau Pak Kepala yang mentraktir.”

Pak Kepala mengerutkan kening. Ia tidak bisa mengelak lagi. Dengan senyum terpaksa, ia mengangguk. “Baiklah... baiklah... Saya akan mentraktir kalian.”

Kemeriahan kembali memenuhi kafe. Semua orang bergegas memesan minuman dan makanan favorit mereka. Mira tersenyum puas. Ia bangga bisa membuat Pak Kepala mentraktir mereka, walaupun ia harus sedikit memaksanya.

Misa yang menyaksikan ekspresi Pak Kepala yang berusaha menahan tawa. Pria itu biasanya bersikap serius dan berwibawa, tetapi kini wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa geli. Misa memahami alasannya.

“Jika saja aku bisa mengabadikan momen ini,” pikir Misa. “Ini adalah tontonan yang langka.”

Di depan kafe itu, Misa tak sengaja memandang dengan tatapan sendu ke kerumunan anak-anak SMA yang berpasangan-pasangan. Malam minggu ini terlihat begitu indah bagi mereka, penuh canda tawa dan kemesraan. Namun, bagi Misa, pemandangan itu bagaikan belati yang menusuk hatinya.

"Kau kenapa menangis, Misa?' tanya Hani, temannya, yang duduk di sampingnya.

Misa tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya. “Aih? Aku menangis? Aku tidak menangis, ini karena tadi mataku kemasukan debu dan membuat air mataku keluar.”

“Jangan bohong, Misa. Aku tahu kau itu menangis dan bukannya matamu kemasukan debu. Mana ada debu berterbangan di ruangan ber-AC seperti ini, sebenarnya kau teringat kembali dengan masa SMA-mu dan 'orang itu' ketika matamu tak sengaja melihat anak-anak SMA itu bersama, kan?” tebakan Hani tepat sasaran.

Misa terdiam. Ia tahu temannya itu sangat mengenalnya. Hani selalu bisa membaca pikirannya, termasuk kepedihan rahasia yang selama ini ia pendam.

“Ah, aku ketahuan, ya?” Misa akhirnya angkat bicara, wajahnya tampak sendu. “Iya, aku mengaku kalau aku teringat dengan semua itu, terlebih lagi dengan mereka berdua yang membuatku teringat padanya saat sedang minum jus berdua, Hani. Mereka menggambarkan seperti aku dan 'orang itu' saat berada di toko jus langgananku.”

Hani menghela napas lagi. “Sudah berapa kali aku mengingatkanmu tentang ini, Misa... lupakanlah dia yang tak akan mungkin kembali lagi padamu…”

Misa menunduk seketika. Entah kenapa, perasaannya yang terdalam selalu bisa dirasakan oleh Hani sejak mereka bersahabat di bangku SMA. Apakah ini yang dinamakan kekuatan sahabat yang mampu merasakan apa yang sahabatnya rasakan?

“Dengarkan aku, Misa,” Hani menggenggam tangan Misa. “Tolong lupakanlah dia dan kembali menjalani hari-harimu seperti dulu lagi, seperti saat kita masih SMA yang ceria. Aku mohon, Misa... aku mohon... sudah lama aku tak melihatmu seperti pada masa SMA dulu yang terlihat ceria…”

“Hani…” Misa terisak pelan. “Aku sudah mencoba untuk melupakannya. Bahkan setelah aku mengetahui rahasia itu, tapi entah kenapa kepalaku ini masih terus terbayang-bayang dengannya. Apa ini akibat aku telah menyakitinya?”

“Misa, aku tahu kamu masih belum melupakannya,” ujar Hani lembut. “Tapi kamu harus tahu, menyakiti seseorang itu tidak benar. Dia telah memilih jalannya sendiri, dan kamu harus menghargainya.”

“Tapi aku merasa sangat kehilangan, Hani…” Misa semakin terisak. “Aku tidak pernah membayangkan akan kehilangan. Aku masih merasa bersalah karena telah menyakitinya.”

“Tidak apa-apa untuk merasa kehilangan, Misa. Tapi kamu harus belajar menerima kenyataan dan melanjutkan hidupmu. Ada banyak hal indah yang menunggumu di depan.”

Tiba-tiba, Hani menggenggam tangan Misa erat dan bergegas menariknya keluar dari kafe. Mereka menuju ke parkiran, lalu berhenti tepat di taman kota yang sepi. Rintik hujan mulai turun, membasahi tanah kering.

Di sana, mereka saling menatap dalam diam. Misa menunduk, menghindar dari tatapan Hani. Dia tahu apa yang akan dikatakan temannya itu. Dia akan disuruh melupakan masa lalunya, masa kelam dari masa SMA-nya.

“...Misa…” suara Hani memecah keheningan.

“...aku tahu, Hani. Maaf, tapi aku tak bisa,” Misa menjawab dengan lirih, air mata mulai membasahi pipinya. “Aku sudah mencobanya! Selama bertahun-tahun aku merasakan sakit karena suara itu terus terngiang di kepalaku. Saat aku memejamkan mata, aku melihatnya tersenyum pilu…”

Tangisan pecah dari bibir Misa. Air matanya mengucur deras, membasahi pipi dan menetes ke tanah.

“Apa kau tahu kalau aku ingin terlepas dari ini semua?!” teriak Misa. “Aku tidak menginginkan ini semua! Akulah yang membuat hidupku tidak tenang!”

Misa menundukkan kepalanya, masih menangis. “Tidakkah kau tahu, Hani, saat bayangan 'orang itu' selalu menghantuiku... aku pernah berpikir untuk mengakhiri hidupku agar bisa terlepas dari ini…”

Hani terkejut mendengar pengakuan Misa. Tubuhnya gemetar, suaranya tercekat. Dia membuka pelukannya lebar, dan Misa secara refleks mendekat. Hani memeluk Misa erat, membiarkan temannya menangis dalam pelukannya.

“Aku di sini, Misa,” bisik Hani. “Aku akan selalu ada untukmu.”

Suara tangisan Misa perlahan mulai mereda. Dalam pelukan Hani, dia merasa sedikit tenang. Dia tahu masih ada seseorang yang peduli padanya, yang tidak akan meninggalkannya saat dia sedang berjuang.

Hujan terus turun, membasahi mereka berdua. Namun, perasaan hangat dari pelukan Hani membuat hujan terasa tidak lagi sedingin es. Misa tahu bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi masa lalunya. Hani akan selalu ada untuknya, apa pun yang terjadi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Sang CEO
8.8
Dulu dicampakkan karena miskin, Adnan kini kembali sebagai pria kaya setelah sepuluh tahun berlalu. Ia bertekad membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan kekasih yang dulu memilih pergi demi lelaki kaya. Namun, Adnan terkejut saat mengetahui wanita itu kini justru menjadi wanita panggilan demi bertahan hidup. Di balik kondisi tragis sang mantan, rahasia apa yang sebenarnya tersimpan? Akankah Adnan tetap tega melanjutkan rencana balas dendamnya?
Sampul Novel DIARY_LIANA
8.4
Liana Salsabila, mahasiswi pintar asal Medan, harus kehilangan rahimnya akibat dipaksa keguguran dengan minuman beracun oleh kekasihnya. Trauma mendalam ini kian berat karena hubungan asmara rahasia tersebut dijalani tanpa restu dari orang tuanya, Arbi dan Fitri, yang merupakan pengusaha saham terpandang. Kini, setelah ditinggalkan begitu saja dalam kondisi terpuruk, Liana harus bersiap menghadapi kemarahan besar keluarganya saat rahasia kelam ini akhirnya terbongkar.
Sampul Novel Hukuman atas Impulsif Mahasiswi Tercantik
9.2
Seorang mahasiswi yang terbiasa menikmati kehidupan bebas dengan banyak pria mengira takdirnya akan terus seperti itu. Namun, pandangannya berubah total setelah ia bertemu dengan pacarnya saat ini, sosok yang ia yakini sebagai cinta sejati. Sayangnya, hubungan romantis mereka terbentur sebuah rahasia intim yang sulit diungkapkan, karena sang kekasih ternyata memiliki keterbatasan fisik di ranjang. Kisah romantis remaja modern ini menyoroti perjuangan batin dan komitmen di tengah ujian yang tak terduga.
Sampul Novel Keperkasaan Sang Mertua
9.3
Hubungan terlarang yang menegangkan tersaji dalam novel modern Keperkasaan Sang Mertua. Di hadapan jendela kaca besar yang memperlihatkan keramaian orang di bawah, seorang menantu perempuan tidak berdaya menghadapi tindakan intim dan dominasi fisik dari ayah mertuanya sendiri. Meski sang menantu merasa sangat malu dan memohon untuk dihentikan, sang mertua justru mengabaikan rasa bersalah tersebut. Ia menganggap situasi berisiko ini sebagai hal yang mengasyikkan untuk dinikmati.
Sampul Novel Pernikahan Kontrak CEO Muda
9.3
Kehidupan mapan Adrian sebagai CEO muda terasa kosong hingga ia menjalani kawin kontrak dengan Gea karena tuntutan situasi. Kesepakatan yang semula murni bisnis ini perlahan berubah saat perasaan cinta mulai hadir di antara keduanya. Sayangnya, hubungan mereka tidak berjalan mulus karena kemunculan pihak ketiga dan rangkaian ujian berat. Kini, mereka terjebak antara mempertahankan batasan kontrak atau mengikuti kata hati demi cinta sejati.
Sampul Novel Sayap-sayap Patah
8.6
Inara Subrata memilih New York untuk memulihkan diri dari masa lalu kelamnya. Tak disangka, pertemuannya dengan Fabio, seorang CEO kaya di Brooklyn, malah membuka kembali luka lama yang berusaha ia lupakan. Ara kini dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dalam ikatan tanpa kepastian yang menyiksa batin, atau menyaksikan usaha sang kakak hancur tanpa sisa. Di tengah situasi pelik ini, sanggupkah Ara meraih kebahagiaan dan cinta sejati yang ia dambakan di negeri orang?