APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nona Hujan, Cobalah Diriku!

Nona Hujan, Cobalah Diriku!

Kekeringan parah melanda Kerajaan Meng selama puluhan tahun akibat dosa masa lalu. Demi menolong rakyatnya, Putra Mahkota Li Yun Zhu berusaha mencari solusi hingga menemukan harapan pada Su Yu Er, anggota Suku Chang'o yang memiliki kemampuan memanggil hujan. Namun, Yun Zhu menghadapi dilema berat karena ia harus meminta bantuan kepada keturunan dari bangsa yang dahulu dibantai oleh keluarganya sendiri. Akankah dendam masa lalu ini menghancurkan peluang keselamatan kerajaannya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Selamat Membaca ^_^

***

Siang itu langit di atas wilayah suku Chang'o terlihat hitam kelam. Sepertinya hari akan hujan. Beberapa dahan pohon yang hijau bergoyang cukup keras, angin meniupnya dengan begitu kencang. Rumput dan beberapa bunga indah turut menari oleh tiupan sang angin. Menyambut datangnya hujan, semuanya tampak berbahagia.

Mendapat berkah dari seorang dewi hujan, suku Chang'o begitu menghormati keluarga sang pemimpin suku, keluarga Su. Mereka selalu mengadakan ritual ketika hujan datang di kala musim bercocok tanam. Dengan adanya hujan para penduduk suku Chang'o tidak lagi kesulitan dalam menggarap sawah. Alhasil mereka bisa hidup sejahtera dan mandiri.

Langit yang kelam semakin terlihat kelam seiring adanya alunan Gu Zheng mengiringi seseorang menari. Tarian itu, tarian yang dibawakan Su Yu Er ketika ia memulai ritualnya memanggil hujan.

Berdiri di tengah kolam luas, ia menari dengan diiringi petikan Gu Zheng kakaknya. Meliuk-liuk, menjentikkan jarinya beberapa kali, Su Yu Er menari seolah seperti bukan dirinya sendiri.

Siang terlihat seperti malam, guntur dan petir mulai menyambar di atas langit suku Chang'o. Beberapa titik hujan akhirnya membumi dengan perlahan.

Sorak-sorai penduduk suku Chang'o terdengar ramai. Hujan kali ini turun, penduduk bisa leluasa menggarap sawah dan menyebar benih.

Semua berkat Su Yu Er. Gadis anak kepala suku itu bisa mendatangkan hujan melalui tariannya yang sering disebut sebagai tarian Dewi Hujan.

****

Berbeda dengan wilayah lain, wilayah yang cukup jauh dari suku Chang'o. Kekeringan merajalela, banyak hama pangan dan penyakit. Semua tersebar hampir di seluruh pelosok Kerajaan Meng.

Hampir tiga puluh tahun tidak ada hujan, Kerajaan Meng hanya mengandalkan Sungai Ohan yang mengalir kecil ke desa-desa di seluruh pelosok negeri. Angka kematian akibat kekeringan selalu bertambah setiap tahunnya.

Ini karma. Beberapa peramal istana mengatakannya demikian. Karena kelalaian kakek buyut Li Yun Zhu, kekeringan di wilayah Kerajaan Meng tidak pernah berakhir sampai saat ini.

Hari itu di musim yang panas dan panjang, Li Yun Zhu menghadiri rapat istana dengan berbagai kalangan pejabat istana dan para menteri. Seluruh anggota istana bersujud ketika Li Yun Zhu hadir. Jubah emasnya yang panjang terseret oleh langkah kaki yang gagah.

Setelah beberapa tahun dari peristiwa penyusupan itu, Li Yun Zhu kini sudah dinobatkan menjadi seorang raja menggantikan ayahnya yang sudah tua.

Berjalan menuju singgasana yang terbuat dari pahatan emas, Li Yun Zhu menatap ke depan dengan tatapan serius dan tajam. Menghentikan langkah, ia berbalik badan dan akhirnya duduk dengan nyaman di singgasana.

Mengangkat tangan kirinya, seluruh anggota istana bangun dari sujud dan mulai duduk bersimpuh dengan rapi.

"Yang Mulia, ada sesuatu yang ingin hamba sampaikan," ucap salah satu pejabat istana sambil membungkuk hormat.

"Katakan!" instruksi Li Yun Zhu keras.

Sang penjabat lalu berdiri dan bersujud tepat di hadapan Li Yun Zhu. Setelah membungkuk dalam, sang pejabat mengutarakan apa yang menjadi keluh kesahnya.

"Yang Mulia kekeringan di wilayah Shangnan berdampak buruk pada kesehatan warga. Mereka hampir kehabisan bahan makanan, mereka kelaparan. Sepertinya tahun ini mereka tidak bisa membayar pajak, Yang Mulia," lapor pejabat tersebut lalu kembali membungkuk.

Sebelum Li Yun Zhu berkata, beberapa pejabat istana tampak berdiri dan turut bersujud di hadapan Li Yun Zhu.

"Yang Mulia, kekeringan di wilayah Haonan juga sama parahnya. Mereka terkena dehidrasi karena aliran sungai Ohan akhir-akhir ini berhenti mengalir. Untuk mendapatkan air, mereka harus membeli pada suku Chang'o yang berjualan air. Terkadang mereka harus berebut, ada juga yang tidak kebagian air karena tidak memiliki uang," lapor pejabat tersebut dengan serius.

"Benar Yang Mulia. Wilayah-wilayah di bagian pesisir Meng sudah mulai mengalami dampak kekeringan tersebut. Mereka tidak bisa bercocok tanam, mereka tidak bisa menikmati aliran sungai Ohan yang lambat laun juga turut mengering. Mohon kebijaksanaan Yang Mulia," imbuh penjabat berbadan gemuk seraya bersujud.

"Mohon kebijaksanaan Yang Mulia," seru seluruh anggota istana sembari bersujud di hadapan sang raja.

Li Yun Zhu menghela napas, ia mengangkat tangannya sekali lagi. Menatap wajah rakyatnya, Li Yun Zhu merasa khawatir. Jika kekeringan terus-menerus terjadi maka bangsa Meng akan punah dan dicatat sebagai bangsa yang gagal.

"Kanselir Yu, bagaimana pendapatmu? Apakah kau memiliki saran untuk menanggulangi kekeringan ini?" tanya Li Yun Zhu seraya menatap ke arah Kanselir Yu.

Membungkuk hormat, Kanselir Yu mengemukakan pendapatnya.

"Yang Mulia, wilayah kita mengalami kekeringan hampir berpuluh-puluh tahun lamanya. Sampai saat ini belum ada solusi terbaik selain memasok air dari suku Chang'o. Harga air yang semakin mahal sepertinya anggaran kita hanya akan habis untuk membeli air Yang Mulia," ucap Kanselir Yu dengan hati-hati.

Menyipitkan mata, Li Yun Zhu terlihat sangat sedih. Suku Chang'o berada di wilayah Kerajaan Meng namun hanya suku tersebut yang dianugerahi hujan berlimpah dan tanah yang subur. Sebenarnya apa yang sudah terjadi hingga air hujan pun tidak mau turun ke wilayah Meng selain suku Chang'o.

"Kanselir Yu, apakah kau tahu alasan kenapa air hujan hanya bisa turun di atas langit suku Chang'o? Kenapa air hujan tidak pernah sekalipun menetes di atas wilayah Meng yang lainnya? Apakah rakyat tidak pernah mengadakan ritual meminta hujan?" tanya Li Yun Zhu tegas sembari menatap mata kanselirnya.

"Yang Mulia, suku Chang'o memiliki seorang gadis titisan dewi hujan. Itulah kenapa suku Chang'o selalu diberkati hujan secara terus-menerus," jelas Kanselir Yu sambil membungkuk hormat.

"Kalau begitu kenapa kita tidak mengundangnya untuk memanggil hujan di wilayah Meng? Berapa pun harganya aku akan membayarnya," ucap Li Yun Zhu dengan serius.

"Yang Mulia, Kerajaan Meng berseteru dengan suku Chang'o. Karena sebuah kesalahan di masa lalu, suku Chang'o tidak bisa disentuh siapapun tak terkecuali Kerajaan Meng," ujar Kanselir menjelaskan.

Li Yun Zhu terdiam cukup lama, ia lantas beranjak berdiri si hadapan penjabat dan menteri Kerajaan Meng.

"Jika demikian maka hari ini aku akan datang ke suku Chang'o untuk meminta maaf atas keteledoran masa lalu. Aku akan meminta bantuan sang gadis titisan Dewi Hujan untuk memanggil hujan di Wilayah Meng," tegas Li Yun Zhu bersikeras.

"Yang Mulia..."

"Tidak peduli bagaimana anggapan mereka, aku sebagai raja sah di Kerajaan Meng akan tetap mengusahakan air untuk rakyatku. Kekeringan ini harus segera berakhir."

****

"Nona, berhentilah bermain air!" teriak Rui Yen pada nonanya yang masih bermain air dengan riang. Gadis yang diberi peringatan hanya menatap Rui Yen seakan meremehkan, dia kembali memainkan air dengan kedua tangannya yang putih bak pualam.

"Nona sudah waktunya Anda pulang, jika Tuan Su Murong tahu Anda bermain air di sungai, beliau akan murka dan menghukumku," keluh Rui Yen seraya bersungut.

"Rui Yen jangan rewel! Sebentar lagi aku akan keluar dari air. Jika kau bosan, kau bisa ikut masuk ke dalam air dan bermain denganku. Ayolah!" ajak Su Yu Er dengan gembira, sesekali gadis itu memercikkan air ke wajah Rui Yen.

Rui Yen hanya menggeleng tak mengerti, entah sampai kapan ia harus bersabar menangani nonanya ini.

"Nona Su, jangan bermain-main lagi. Mari kita pulang. jika Anda terlambat pulang, bukan hanya Ayah Anda tapi suami-suami Anda juga akan marah," khawatir Rui Yen sambil menatap Nonanya yang masih asyik berenang dan bermain air.

"Jangan menyebut Su Li Jong dan Su Moran sebagai suami-suamiku! Mereka hanyalah saudara-saudara kandungku," tegas Su Yu Er tidak senang.

"Nona, kalian sudah dinikahkan berarti kalian sudah sah menjadi suami istri. Sudah selayaknya peraturan adat Chang'o, seseorang boleh mengambil saudaranya sendiri untuk menjadi pasangan hidup," ucap Rui Yen menjelaskan.

Su Yu Er menghentikan tingkahnya bermain air, tiba-tiba ia menepuk air dengan sangat keras. "Bagaimanapun aku hanya dijodohkan dengan saudara kembarku. Ramalan itu sepertinya ngawur!"

"Nona jangan marah, Ayah Anda sendiri yang meramal tangan Anda. Tuan Su Murong pasti memiliki niat baik sehingga ia memberikan putra kembarnya untuk kau nikahi," ujar Rui Yen sekenanya.

Wajah putih Su Yu Er memerah. Ia kembali menepuk air berkali-kali hingga menyiprat kesana-kemari, Rui Yen yang terkena air hanya bisa berusaha menutupi wajahnya dengan lengan bajunya.

"Bagaimanapun mereka adalah kakakku dan bukan suamiku!" tegas Su Yu Er mengelak.

Rui Yen hanya tertawa kecil mendengar nonanya terus mengelak dari kenyataan. Setelah sekian lama bermain air, Su Yu Er keluar dari air dan berjemur sebentar di atas bebatuan sungai.

"Rui Yen, aku belum ingin pulang. Aku masih ingin di sini," keluh Su Yu Er seraya menoleh pada Rui Yen yang duduk di sampingnya.

"Kenapa tidak ingin pulang? Nona jika kau berlama-lama di sini, aku takut ada orang yang akan melihat penampilanmu," ujar Rui Yen kembali merasa khawatir.

"Kenapa seluruh keluarga Su menyembunyikan diriku? Kenapa aku tidak boleh keluar dalam waktu yang cukup lama? Ada apa dengan penampilanku? Aku memiliki anggota tubuh yang lengkap dan aku juga berwujud manusia," tegas Su Yu Er bernada marah.

"Nona, Anda istimewa. Lihat kulit dan rambut Anda, semua putih dan berkilau. Anda berbeda dengan kami. Anda adalah harta keluarga Su, mereka tidak ingin kehilangan Anda. Nona, mari kita pulang. Jangan sampai Tuan marah dan tidak mengijinkan kita pergi lagi," bujuk Rui Yen sembari memegang tangan putih Su Yu Er.

Gadis itu terdiam, ia hanya menurut pada bujukan Rui Yen. Mengenakan kembali jubah hitamnya, Su Yu Er berjalan beriringan dengan teman sekaligus pelayan pribadinya.

Selama perjalanan pulang, Su Yu Er dan Rui Yen berpapasan dengan beberapa orang berkuda. Mereka merapat ke tepian, memberi jalan pada pasukan kuda yang berderap sangat cepat.

"Rui Yen siapa mereka? Sepertinya mereka menuju ke rumah kita," tebak Su Yu Er menghentikan langkah.

"Ketiga pengendara kuda itu terlihat masih muda, sepertinya pelajar dari kota. Tapi untuk apa mereka datang ke tempat terpencil ini?" Rui Yen bertanya-tanya.

"Ayo segera pulang, sepertinya kita akan kedatangan tamu."

****************************************

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda berdarah iblis, dijatuhi hukuman menjalani sepuluh kehidupan fana untuk melompati bencana cinta. Walau dibesarkan di alam langit, ia selalu diasingkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudara perempuannya. Di balik hukuman ini, Kaisar Langit menyimpan taktik rahasia. Sang Kaisar berniat melenyapkan emosi Aranjo demi menjadikannya Dewi Agung berkekuatan mutlak. Akankah takdir tunduk pada ambisi sang penguasa langit, atau malah berbalik?
Sampul Novel Berpura-pura Amnesia Membuatnya Kehilangan Segalanya
8.1
Pasangan beta-ku, Kyan, mendadak hilang ingatan usai diserang serigala liar. Dia melupakan kehamilanku dan justru berpaling pada Gamma Evelyn. Setelah dihina sebagai kasta rendah, aku memutuskan ikatan kami. Namun, saat aku bersiap mendampingi Raja Alpha, Kyan kembali dengan penyesalan mendalam dan menanyakan anak kami. Dengan dingin, aku menegaskan janin itu telah tiada lalu pergi memulai hidup baru.
Sampul Novel Ditolak oleh Alpha-ku, Diklaim oleh Mahkota-ku
9.2
Demi Lyra dan anak haramnya, Alpha Damian tega mengkhianati pasangannya sendiri. Saat upacara pewaris, ia bahkan menyerang pasangannya yang sedang mengandung dan menuduhnya mencelakai anak Lyra. Damian membiarkan penerus sahnya sekarat demi menyelamatkan anak simpanannya. Namun, ia tidak menyadari bahwa wanita yang ia campakkan adalah putri dari kawanan terkuat di dunia. Kini, pasukan keluarga sang putri telah tiba di perbatasan untuk menjemputnya kembali.
Sampul Novel MAGIC OF OMEGA
8.4
Nyawa Azeeva Cassie Liona, putri walikota Paramour, kini terancam oleh lima pemburu hadiah dari kawanan serigala. Namun, target mereka bukanlah gadis biasa. Sebagai penyihir tangguh, Azeeva dengan cerdik membalikkan keadaan. Ia berhasil memperdaya Carl Justin, sang Omega dari kelompok pemburu tersebut, hingga ia terpikat oleh pesonanya. Hubungan berbahaya pun terjalin saat sang musuh justru jatuh cinta di tengah misi yang mematikan.
Sampul Novel PRIA BERKEKUATAN MONSTER DI DALAM DINDING YANG TIDAK AKAN MUDAH DI HANCURKAN
8.2
Akibat eksperimen kejam, Shin yang berasal dari kalangan bawah kini memiliki kekuatan monster. Di bawah dominasi Maou selama berabad-abad, kepemimpinan manusia mulai diragukan. Shin bersama rekan-rekannya bertekad meruntuhkan pemerintahan yang tidak adil ini sekaligus membongkar rahasia besar yang tersembunyi. Mampukah mereka memulihkan dunia, ataukah kehancuran akibat dosa masa lalu ini mustahil diperbaiki? Siapakah yang akan punah terlebih dahulu?
Sampul Novel WANITA UNTUK MANUSIA BUAS Kisah Anindira
8.9
Terdampar di dimensi asing, Anindira didera trauma mendalam setelah mengalami pemerkosaan hingga dirinya hamil. Di balik kepedihan itu, sang ayah biologis dari bayinya terus mengawasi dan berharap bisa menebus kesalahannya. Perjalanan hidup Anindira pun diwarnai hubungan poliandri bersama empat pria berbeda, yang terikat karena insiden hingga intrik politik. Saat takdirnya kian rumit dengan kehadiran dua pria lain, akankah sosok yang tulus mencintainya diberi kesempatan kedua?