APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nikah Kontrak Dengan CEO Dingin

Nikah Kontrak Dengan CEO Dingin

Nadine Arwen menghadapi kemalangan besar setelah ayah tirinya menjualnya ke muncikari. Namun, takdir mempertemukannya dengan Leonardo Ethan, miliarder dingin yang membelinya demi memenuhi tuntutan pernikahan sang kakek. Leonardo mencari istri yang suci, tetapi ia menyimpan niat terselubung. Di balik gelimang harta, Nadine justru tersiksa oleh sikap dingin dan obsesi misterius sang suami. Mampukah Nadine bertahan dalam belenggu pernikahan kontrak tanpa cinta ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Waktu terus berjalan, dan Nadine semakin terbiasa dengan peran yang diharapkan darinya dalam pernikahan yang seolah kosong dari emosi itu. Dia hidup dalam bayang-bayang aturan Leonardo yang ketat, berusaha menjalani hari-harinya dengan sebaik mungkin meski hatinya terus diliputi rasa kesepian. Hubungannya dengan Leonardo tetap dingin-tak ada tawa, tak ada kehangatan, hanya jarak yang semakin melebar seiring berjalannya waktu.

Suatu malam, saat Nadine sedang menikmati teh hangat di teras belakang, pemandangan kota yang berkilauan di kejauhan menjadi pelariannya dari realita. Dia terhanyut dalam pikirannya hingga suara pintu teras yang terbuka membuatnya tersentak.

Leonardo keluar, tanpa suara, hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sebatas siku. Aura dinginnya masih menyelimuti, tetapi malam ini ada sesuatu yang berbeda. Tatapan matanya yang biasanya begitu tajam, kini tampak sedikit lebih tenang, seakan ada sesuatu yang dipendam di balik ketenangannya.

"Kau sering duduk di sini?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan yang biasanya tidak diisi oleh kata-kata di antara mereka.

Nadine menoleh, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Ini pertama kalinya Leonardo memulai percakapan tanpa nada perintah atau ketegasan. "Ya, aku suka melihat pemandangan kota dari sini. Rasanya menenangkan."

Leonardo mengangguk pelan, duduk di kursi di sampingnya tanpa berkata apa-apa lagi. Udara malam yang sejuk menyelimuti mereka, membuat suasana terasa lebih damai dari biasanya. Nadine tak ingin melewatkan kesempatan ini, tapi dia juga tak ingin memaksakan percakapan. Dia membiarkan Leonardo bicara lebih dulu.

"Sejak kapan kau menyukai tempat ini?" Leonardo akhirnya berbicara lagi setelah beberapa menit keheningan.

Nadine memandangnya dengan tatapan lembut. "Sejak awal aku pindah ke sini. Rasanya, tempat ini adalah satu-satunya tempat di rumah yang memberiku ketenangan."

Leonardo hanya diam, matanya menatap jauh ke depan, seakan memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia ungkapkan. Nadine mengamati wajah suaminya yang tampak letih, namun masih tegas dan tanpa kompromi. Ada keinginan dalam dirinya untuk bisa lebih dekat dengan Leonardo, untuk memahami apa yang sedang dirasakannya, tapi dia tahu itu tidak mudah.

"Kenapa kau begitu tertutup?" tanya Nadine, akhirnya memberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan yang sudah lama mengendap di hatinya. "Setiap kali aku mencoba mendekat, kau selalu menjauh. Kau membangun dinding di antara kita yang tak pernah bisa kugapai."

Leonardo menoleh perlahan, matanya bertemu dengan mata Nadine. Ada kilatan emosi yang tak bisa dijelaskan dalam tatapannya, seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi terhenti oleh tembok yang ia bangun sendiri.

"Aku tidak punya alasan untuk terbuka," jawabnya dengan nada datar, meski ada kegetiran yang tersembunyi dalam suaranya. "Aku sudah terbiasa hidup seperti ini. Jarak antara kita sudah cukup baik."

"Baik untuk siapa?" Nadine bertanya dengan pelan, mencoba tetap tenang meski dadanya bergemuruh. "Baik untukmu? Atau baik untuk kita berdua?"

Leonardo menatapnya dalam-dalam, seolah-olah sedang mencari jawaban dalam pertanyaan itu. Dia tidak segera menjawab, dan keheningan yang tercipta terasa berat di antara mereka.

"Aku tidak tahu bagaimana cara hidup berbeda," kata Leonardo akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Aku tidak tahu bagaimana cara menjadi... lebih dari ini."

Nadine terdiam, merasa bahwa inilah kali pertama Leonardo menunjukkan sedikit sisi manusiawinya, sesuatu yang lebih dari sekadar dingin dan jauh. Dia merasa bahwa di balik semua sikap keras dan kedinginannya, ada luka yang mungkin belum pernah sembuh, sesuatu yang membentuknya menjadi pria seperti sekarang.

"Kita bisa belajar," ujar Nadine dengan lembut, penuh harap. "Tidak ada yang sempurna dalam pernikahan. Aku juga tidak tahu bagaimana menjalani ini semua. Tapi kita bisa belajar... bersama."

Leonardo menarik napas dalam-dalam, tatapannya kembali beralih ke pemandangan kota di depan mereka. Dia tidak segera menanggapi, namun Nadine tahu kata-katanya telah mencapai hati Leonardo, meskipun tipis. Ada keheningan yang berbeda malam itu-bukan lagi jarak, melainkan ruang untuk sesuatu yang mungkin lebih baik di antara mereka.

Setelah beberapa saat, Leonardo berdiri dan berjalan kembali menuju pintu, tetapi sebelum masuk, dia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Nadine. "Aku akan mencobanya," ucapnya singkat sebelum akhirnya menghilang ke dalam rumah.

Kata-kata sederhana itu membawa secercah harapan dalam hati Nadine. Meskipun perjalanannya mungkin masih panjang, dan Leonardo masih menjadi pria yang sulit dijangkau, setidaknya kini ada pintu yang mulai terbuka di antara mereka-meski hanya sedikit. Nadine tersenyum tipis, merasakan bahwa malam ini mungkin adalah awal dari sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih baik.

---

Hari demi hari berlalu, dan meski perubahan tidak datang dengan cepat, Nadine mulai merasakan sedikit perbedaan dalam sikap Leonardo. Dia tidak lagi terlalu ketus saat berbicara dengannya, dan kadang-kadang mereka bisa berbagi momen kecil seperti sarapan bersama tanpa ketegangan yang biasanya menyelimuti mereka. Hubungan mereka tetap jauh dari sempurna, tapi setidaknya kini ada ruang untuk komunikasi yang lebih baik.

Suatu sore, Nadine sedang berjalan di taman belakang rumah saat dia melihat Leonardo duduk di bangku taman, tampak tenggelam dalam pikirannya. Dia ragu sejenak sebelum mendekat, tetapi kali ini, ada dorongan dalam hatinya untuk mencoba lagi.

"Leonardo," panggilnya pelan.

Pria itu menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, dia tersenyum kecil-meskipun hanya sesaat.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Boneka
8.5
Menghadapi rumor perselingkuhan suaminya yang kaya, protagonis novel romantis misteri Aku Bukan Boneka berniat menyelidiki kebenaran demi melindungi haknya. Namun, ibu kandungnya justru mengacaukan pameran seni yang ia persiapkan selama tiga tahun. Sang ibu menghancurkan lukisan berharga miliaran rupiah sambil melontarkan hinaan keji di depan umum, berdalih demi kebaikannya. Di balik tuntutan agar ia mandiri dan bercerai, terungkap rencana licik sang ibu yang ingin menjodohkannya dengan duda paruh baya miskin.
Sampul Novel Belenggu Ceo Bastard
7.9
Nica harus menjalani kenyataan pahit saat terjebak dalam cengkeraman Dave, seorang miliarder kejam yang tidak mengenal belas kasihan. Setiap tangisan dan rasa sakit yang dialami Nica justru menjadi kepuasan tersendiri bagi Dave, yang terus memperlakukannya dengan semena-mena. Di bawah dominasi kekuasaan sang miliarder, Nica tidak berdaya dan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu. Hubungan penuh paksaan ini pun meninggalkan trauma mendalam yang merenggut kebebasannya.
Sampul Novel Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian
9.1
Tiga tahun Wenny Cladia merawat suaminya, Hendro Jamil, miliarder Kota Livia yang terbaring koma. Namun setelah siuman, Hendro justru berpaling pada cinta pertamanya yang baru kembali, membuat Wenny sadar bahwa ia hanya dimanfaatkan. Enggan terus dihina, Wenny melayangkan gugatan cerai dengan alasan sang suami impoten. Saat Hendro yang murka datang melabrak, ia terkejut mendapati Wenny yang dulu dianggapnya jelek kini menjelma menjadi dokter ahli medis yang menawan dan siap menantangnya.
Sampul Novel Gadis Terbuang vs Raja Bisnis
8.7
Sambil memegang map lamaran, Olivia menelusuri jalan dengan letih demi mencari pekerjaan. Ketika ia berbicara dengan seorang satpam, perhatiannya teralihkan oleh kehadiran Alexander Drake. Pengusaha sukses nan karismatik itu baru saja turun dari mobil mewahnya. Pandangan mereka pun bertemu, memicu ketegangan instan di antara keduanya. Walau Olivia merasa tidak percaya diri dan Alexander bergeming dingin, benih ketertarikan mulai tumbuh. Pertemuan di depan kantor ini akan mengubah takdir Olivia.
Sampul Novel Istriku, Jaminan Bisnis Ayahku
9.1
Kehidupan pernikahan Elias Pradana dan Safira terasa hampa setelah sebuah insiden pahit. Di tengah renggangnya hubungan mereka, pengusaha sukses ini menemukan kedamaian pada Dina, gadis desa yang polos. Namun, saat Safira mulai berupaya berubah demi merebut kembali hati suaminya, Dina memilih mundur dan menghilang karena enggan menjadi beban. Kini, Elias didera dilema besar, terjebak di antara bayang masa lalu bersama sang istri atau mengejar kebahagiaan barunya.
Sampul Novel Jebakan Cinta Sang Miliarder (Amata: Beloved).
7.9
Kepulangan Hwanhee setelah tiga tahun justru berujung pada paksaan sang ayah untuk menikahi Ayda Hannah Elsworth demi ambisi keluarga. Di sisi lain, Hannah yang keras kepala curiga rahasianya dimanfaatkan sebagai alat kendali, sehingga ia menolak menjadi menantu boneka. Meski kewalahan menghadapi sikap Hannah yang rumit dan liar, kemandirian wanita itu perlahan memicu dinamika benci jadi cinta yang tak terduga di antara keduanya.