
Nenek 70 Tahun yang Dihujat Dunia Maya
Bab 2
Aku kira video itu akan berakhir dengan penyelidikan lebih lanjut, setidaknya menemukan laporan tentang bagaimana soda api dan plastik bisa berubah menjadi kuning telur palsu. Namun, yang terjadi hanyalah Nona Meita ini dengan marah berseru di depan kamera,
"Pedagang tak bermoral ini memanfaatkan usia tua untuk berpura-pura tuli dan bisu. Berapa banyak orang yang sudah dirugikan oleh bacang busuk ini?"
"Keamanan pangan adalah isu besar yang menyangkut setiap warga biasa. Meita menyerukan, laporkan segera kalau menemukan masalah. Satu telepon darimu bisa menyelamatkan banyak warga yang tidak bersalah!"
Aku menonton video itu berulang kali, dan menyadari bahwa ini hanyalah "berita" palsu yang dibuat-buat tanpa bukti nyata.
Namun, di kolom komentarnya, tidak ada yang peduli dengan hal itu.
"Aku nggak berani beli makanan isi di luar. Siapa tahu apa yang mereka masukkan ke dalamnya!"
"Nenek tua itu benar-benar pandai berpura-pura. Dia nggak takut kena karma dan mati tanpa keturunan?"
"Aku tahu tempat ini, Pasar Sayur di Jalan Tambang Barat. Nenek ini sudah bertahun-tahun berjualan di sini. Tahun lalu, aku pernah beli satu kantong karena kasihan padanya!"
"Aku sudah telepon hotline pelaporan. Kok katanya bacangnya nggak ada masalah? Kalau nggak ada masalah, kenapa ada yang melapor?"
"Kalau nggak ada yang mengurus, biar kami yang urus! Tunggu kumpul tim ...."
"Aku ikut!"
"Aku juga ikut!"
"…."
Komentar-komentar yang dingin itu menjadi pesta bagi para "pembela keadilan."
Aku menyaksikan apa yang dilakukan para "pembela keadilan" itu. Belasan orang langsung menyerbu, mengerumuni lapak kecil nenekku.
Pria-pria kekar membalikkan baskom stainless berisi bacang. Bacang dan air tumpah ke tanah.
Orang-orang di belakangnya menginjak-injak ketan satu per satu seperti permainan memukul tikus tanah.
Mereka tertawa, mencaci, dan dengan sok pemaaf menunjuk hidung nenekku sambil berkata,
"Karena kamu sudah tua, hari ini kami nggak memukulmu. Tapi lain kali, berjualanlah dengan hati nurani!"
"Kalau berani jual bacang lagi, kami akan hancurkan lapakmu setiap kali melihatmu!"
Tak ada yang peduli pada tangisan nenekku, atau pada bacang yang diinjak hingga hancur itu, yang bahkan tidak memiliki satu pun kuning telur di dalamnya.
Mereka hanya ingin "membela keadilan." Siapa yang peduli apakah semut kecil itu benar-benar bersalah atau tidak?
"Tok, tok, tok."
Suara ketukan lembut memotong lamunanku. Aku tersadar, buru-buru menghapus air mata di wajahku dan pergi membuka pintu.
"Bella, ini aku, Bu Jenny. Kamu di rumah, 'kan?"
Dari luar terdengar suara wali kelasku.
Aku buru-buru membuka pintu, baru ingat kalau aku belum izin. "Bu Jenny, maafkan aku. Aku nggak sengaja bolos ...."
Aku tahu tentang insiden lapak Nenek karena teman sebangkuku saat istirahat siang tadi melihat video penghancuran itu dan memberitahuku.
Aku hanya melihatnya sekilas, lalu langsung berlari keluar kelas, melupakan urusan izin dan semacamnya.
Ibu Jenny langsung memelukku, menepuk punggungku, dan berkata, "Nggak apa-apa, nggak apa-apa, Ibu mengerti."
Pelukannya sangat hangat, seperti pelukan nenekku.
Aku tidak bisa menahan diri lagi, air mata pun mengalir.
"Bu Jenny ... nenekku nggak pernah bikin bacang dengan kuning telur palsu .... Orang itu bohong!"
Aku bisa meyakinkan diriku sendiri untuk tidak peduli dengan hinaan orang asing, tetapi aku tak bisa tidak peduli dengan pandangan orang di sekitarku.
"Ibu tahu. Keluarga Ibu sudah makan bacang buatan nenekmu selama lebih dari sepuluh tahun. Nenekmu nggak pernah jualan bacang isi kuning telur!"
Bu Jenny menghapus air mataku dan berkata, "Ibu sudah bilang ke guru-guru lain di sekolah. Para guru yang pernah makan bacang bikinan nenekmu bersedia jadi saksi dan membantu bicara. Jangan takut, masih ada kami, para guru!"
"Sekarang, jangan pikirkan apa pun. Bulan depan ujian akhir akan datang. Jangan sampai hal ini memengaruhi suasana hatimu."
Ibu Jenny menatapku dengan cemas, takut aku kehilangan fokus pada masa-masa terakhir menjelang ujian.
Aku menghapus air mataku, menggigit bibir, dan berkata, "Bu, aku nggak akan menunda belajar ... Tapi, aku harus menjelaskan semuanya! Kami nggak akan diam difitnah seperti ini!"
Ibu Jenny berkata, "Kepala bagian akademik sudah minta guru-guru lain untuk berkomentar di bawah video reporter itu dan meluruskan. Guru-guru di sekolah kita banyak. Suara besar pasti bisa menyampaikan kebenaran!"
Namun, sedetik kemudian, ponsel Bu Jenny berbunyi. Itu telepon dari kepala bagian akademik, Pak Joko.
"Apa? Semua komentar dihapus dan akun-akun kita diblokir?"
Berbicara itu sangat mudah, bahkan anak usia satu tahun pun sudah bisa memanggil ibunya.
Tetapi, berbicara juga sangat sulit. Hanya perlu mengklik satu tombol untuk membungkam teriakan kita yang penuh emosi.
Anda Mungkin Juga Suka





