APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Sugar Daddy is a Monster

My Sugar Daddy is a Monster

Demi bertahan hidup, Lylia Prozky yang lugu terpaksa menjadi sugar baby bagi Dante Prime, pengusaha kejam sekaligus monster dunia bawah yang tak kenal ampun. Di saat Lylia mendambakan cinta sejati, ia justru terjebak dalam obsesi dan sikap posesif Dante yang kian membara saat ada pria lain mendekat. Kini, Lylia harus berjuang menghadapi ancaman musuh yang mengintai sekaligus jeratan perasaan dari sang monster yang sangat berbahaya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Lylia POV

"Harusnya kau memilih jurusan manajemen bisnis, Adikku sayang!" Ucap Kakaku, Taylor. Sembari menunjukku dengan sendok makannya.

"Aku tau yang aku lakukan kak, aku memilih jurusan tata boga karena aku ingin pintar masak seperti Ibu, ya kan Bu?" Ucapku sembari menatap Ibuku dengan tatapan manis mengharap pembelaannya.

"Taylor, sudahlah berhenti mengganggu Adikmu. Apapun pilihannya nanti itu haknya, dia juga tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis. Jadi sudahlah." Bela Ibu.

"Tolong setidaknya Ibu bela aku sedikit saja." Rajuk Taylor.

"Alangkah mudahnya kalau suatu saat nanti aku meneruskan bisnis Ayah dengan bantuan adikku yang juga ada di dunia bisnis." Tambahnya.

"Nggak mau! Dunia bisnis itu membosankan, Kak!" Ucapku menghentikan lamunan Kakakku.

"Ck! Adik tidak pengertian." Kata Taylor sembari menggelengkan kepalanya.

Aku menertawakannya lalu menjulurkan lidah begitu dia melihatku. Kami kemudian melanjutkan makan malam kami yang seru, sama seperti makan malam sebelumnya.

  .

  .

  .

  Setelah acara makan malam selesai aku segera berlari menuju kamarku yang berada di lantai dua. Iya. Rumah kami memang sedikit agak luas, jadi aku harus berlari kalau tidak mau terlambat menonton film kesukaanku. Ayah memang memiliki perusahaan yang bisa di katakan lumayan besar. Jadi aku sudah terbiasa hidup dengan berkecukupan sedari lahir. Tak masalah, aku juga tidak pernah memanfaatkannya secara berlebihan karena aku sadar harta ini bukan milikku, tapi hasil kerja keras Ayah.

Tok.

Tok.

"Masuk!" Ucapku setelah mendengar suara pintuku di ketuk oleh seseorang.

"Lagi ngapain?" Tanya Taylor di ujung pintu.

"Nonton film Korea kak, mau nobar?" Tanyaku sekilas menatapnya, ia kemudian berjalan mendekatiku yang sedang asik nenonton sambil duduk bersandar di headboard kasurku.

"Nggak!" Jawabnya singkat.

Kini Taylor duduk di sebelahku. Ia mengangkat lengan kanannya dan mencoba untuk merangkulku. Aku lalu mendorong badanku sedikit kedepan dan mengizinkan lengannya merengkuh bahuku. Ada keheningan yang aneh setelah dia berhasil merangkulku. Saat aku mencoba menoleh kearahnya. Taylor segera memiringkan kepalanya hingga bersandar di atas kepalaku. Aku bisa mencium dengan jelas aroma collogne Taylor. Tak lama tangan yang tadinya merangkul bahuku kini sudah mengelus rambutku. Aku terdiam kebingungan saat Taylor melakukannya.

'Hm, ada masalah apa di kantor Ayah sampai kakak seperti ini?' Batinku.

Kubiarkan Taylor melakukan apa yang bisa menenangkannya. Sudah kebiasaannya memang setiap ada masalah, akulah yg akan menjadi tempatnya pelampiasan emosinya. Kuhentikan filmku, lalu menutup dan meletakkan laptopku menjauh dari kami. Aku bergerak keatas pangkuan Taylor. Posisi kami sekarang saling berhadapan sekarang. Aku menatapnya sekilas, lalu memeluk lehernya. Taylor hanya terdiam membiarkanku melakukannya. Aku menepuk punggungnya hingga Taylor mulai merasa tenang dan membalas pelukanku sambil ikut menepuk nepuk punggungku dengan lembut.

"Maafkan Kakakmu ini ya." Ucapnya tiba tiba.

"Iya, Kak. Aku tidak pernah sepenuhnya marah sama Kakak. Yah, meskipun Kakak menyebalkan sih." Kataku dengan suara kecil.

Taylor mendengus dan tertawa kecil di pelukanku. Ia menghirup udara di ceruk leherku dan kemudian menyandarkan dagunya di bahuku denga manja.

"Aku tidak tau kenapa kamu selalu baik." Ucap Taylor.

"Maafkan Kakakmu ini." Taylor mengeratkan pelukannya padaku.

'Hm? Perkataan yang sama. Kan sudah kubilang aku memafkanmu Kak.' Kekehku sembari menganggukkan kepala dan tetap mengelus punggung kakakku.

"Ya sudah lanjut gih! Makasih ya, sudah nemenin Kakakmu yang tidak bisa di andalkan ini." Ucapnya setelah dia melepaskan pelukannya dan mengangkatku lalu mendudukkanku kembali keposisi awal.

"Hah? I-iya Kak. Kalau ada apa apa nanti datang aja lagi." Ucapku kikuk.

Taylor mengeluarkan senyuman aneh yang tidak bisa ku artikan, lalu mengacak rambutku sekilas sebelum pergi menjauh.

"Apa sih! Selamat malam, Kak." Kataku dengan penuh rasa riang.

Aku berharap kakakku juga ikut bahagia melihat senyumanku.

"Selamat malam." Balasnya masih dengan senyuman yang tidak bisa diartikan itu, sebelum menutup pintu.

'Kenapa dia sunyum menakutkan seperti itu sih?' Takutku yang membayangkan kembali senyuman Taylor yang terlihat menyedihkan itu.

  .

  .

  .

  Brak!!

  Prang!!!

  Gubrakk!!!

Aku terbangun dengan kaget saat mendengar suara gemuruh yang timbul dari luar kamarku.

"Cari mereka!" Ucap samar samar seorang pria, di lanjutkan dengan suara gaduh yang mengerikan.

Aku terdiam, tubuhku terpaku kaku tidak bisa bergerak dan aku menangis tanpa suara.

Iya.

Aku ketakutan! 

'Apa maling?' Pikirku.

Jantungku berdetak tidak karuan dan kini badanku tidak bisa ku gerakkan saat suara gaduh itu terdengar semakin mendekat. 

"Ayah.. Ibu.. Kak Taylor.. Tolong aku." Bisikku serak.

Pintu kamar Taylor berada tepat di depan kamarku. Harusnya dia datang menemaniku dalam kondisi mencekam seperti ini. Tapi kemana dia?

  Brakkk!!!

Pintu kamarku di dobrak oleh seorang pria berjas hitam, dengan kacamatanya yang menutupi mata sipitnya tengah mengobservasi kamarku. Saat mata kami bertemu, tubuhku menegang seketika saat ia semakin mempertajam pengelihatannya padaku.

"Kami hanya menemukan seorang gadis, Tuan." Ucapnya sembari menyentuh headset di telinganya.

"Baik." Ucapnya kemudian menerobos masuk ke kamarku dan menarik paksa lenganku untuk turun dari tempat tidur dan memaksaku mengikutinya.

Aku menangis sambil memukul lengannya dengan sisa tenaga yang kupunya. Begitu kami keluar dari kamar, aku bisa melihat betapa hancurnya kondisi dalam rumahku saat itu. Vas, guci dan foto semua jatuh berserakan di lantai. Beberapa pintu dalam kondisi rusak akibat ditendang paksa dan beberapa pria berjas hitam lainnya yang menerobos masuk ke setiap ruangan. Aku melihat kamar Taylor terbuka dan berantakan. Tapi kosong?

"Lepaskan aku!" Teriakku.

Tidak bergeming, pria ini tetap menarik lenganku dan memaksaku mengikutinya ke pintu utama rumah.

"Tolong, lepaskan aku Tuan." Rintihku kemudian.

Dia hanya menoleh dan melirikku dengan matanya yang tajamnya.

"Jangan harap kau bisa lepas dari Tuan Dante, Nona." Sinisnya.

Aku bergidik ngeri melihat matanya itu.

'Dante? Siapa?' Batinku.

Aku mengikutinya masuk ke kursi penumpang di salah satu mobil hitam yang ternyata sudah banyak terparkir berserakan di pekarangan rumah kami. Aku terduduk diam bersamanya di depanku. Ya, kami duduk saling berhadapan.

'Sia sia saja aku melawan. Ternyata jumlah mereka banyak sekali. Siapa mereka? Dimana Ayah, Ibu dan Kak Taylor?' Pikirku dengan mata kosong dan sembab akibat air mata yang masih mengalir tanpa henti.

Aku hanya bisa menangis tanpa suara saat mobil berjalan meninggalkan rumahku. Mataku menatap ke arah luar jendela mobil dengan tatapan kosong. Lampu malam dan suasana dingin kota ini semakin mengaburkan pikiranku. Pria dengan kacamata di depanku saat ini masih setia memperhatikanku dengan tatapan tajamnya. Tapi aku sudah tidak peduli lagi karena sibuk dengan pikiranku yang penuh dengan pertanyaan, tanpa ada yang tau jawabannya.

"Kau..." Tegurnya.

Aku meliriknya. Suaranya yang dalam berhasil mematahkan lamunanku.

"Siapa namamu?" Tanyanya dengan ekspresi datar.

Aku terdiam sejenak untuk berpikir sebelum menjawab.

"Lylia."

"Namaku... Lylia"

Lylia POV END

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Collateral Fate
9.5
Dalam misi penyelamatan berisiko tinggi, Letnan Arya Pradipta dari pasukan khusus berjuang membebaskan Alana Weston, relawan yang ditawan teroris internasional. Namun, situasi berubah mencekam saat keduanya terjebak di wilayah musuh yang mematikan. Di tengah pelarian yang mengancam nyawa, Arya menyadari bahwa penculikan Alana bukanlah kriminalitas biasa, melainkan bagian dari konspirasi politik skala besar yang kini mengincar keselamatan mereka.
Sampul Novel Keinginan Sang Elf: Petualangan Erotis di Dunia Peri
8.7
Lyra, seorang elf muda, memutuskan menjelajah dunia luar demi menjawab rasa penasaran dan hasrat terpendamnya. Petualangan ini mempertemukannya dengan peri tampan bernama Orion, yang membimbingnya menyelami sisi erotis yang asing baginya. Di tengah keindahan dunia peri, bahaya gelap mulai mengancam. Sembari mengungkap rahasia besar yang menguji cinta mereka, hubungan keduanya pun bertumbuh menjadi sebuah ikatan intim yang sangat mendalam.
Sampul Novel Ketika Anak Kami Melompat, Saya Memutuskan Ikatan Kami
8.8
Demi selingkuhannya, Alpha Damien tega mengabaikan hari lahir putrinya. Noah yang mengalami gangguan jiwa merasa terbuang hingga nekat mengakhiri hidupnya. Di tengah duka yang hancur, Damien justru melindungi Omega lain alih-alih mendampingi sang istri. Kecewa atas pengkhianatan ini, sang istri nekat melakukan Ritual Penolakan di hadapan seluruh kawanan. Kini ikatan takdir mereka telah terputus selamanya, menyisakan penyesalan Damien yang sia-sia memohon ampun.
Sampul Novel Keturunan Terakhir!
9.5
Zha, pemimpin mafia Legion Of Death berjuluk Gadis Pecinta Asap, bertekad membalas kematian ayahnya dengan memburu sisa keturunan Klan Jangkar Perak. Berbekal petunjuk tato jangkar, misinya berubah drastis setelah sebuah peluru mengungkap adanya chip manipulasi di tubuhnya sejak bayi. Begitu chip itu dilepas, tato jangkar justru muncul di kulitnya. Zha kini menghadapi kenyataan pahit tentang siapa pewaris sejati yang dicarinya.
Sampul Novel LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian
8.4
Demi menggali petunjuk penting, agen elite Telik Sandi 69 bernama Lintang rela memakai daya pikatnya untuk menjebak Bernardo yang mesum. Namun, ini barulah awal dari misi kerajaan yang jauh lebih besar. Bersama empat rekannya, Lintang dikirim untuk mengusut teror mencekam di Benua Swarna Dwipa. Penyelidikan menuntun mereka ke Tanah Kematian, sebuah area kejam tanpa hukum. Di sana, mereka harus menghentikan konspirasi gelap yang mengancam eksistensi umat manusia di Jagad Mayapada.
Sampul Novel Luna Jatuh Cinta pada Alpha Lain Setelah Pasangannya Mengkhianatinya
9.2
Saat pesta ulang tahun Alpha Marc Dale, ia membawa kembali mantan pasangan sejatinya, Lucy Burton, yang dahulu disiksanya. Namun, tepat pada hari jadi kami, saya menyaksikan Marc memeluk dan menandai Lucy di kamar. Meski Marc berdalih itu adalah hukuman, Lucy justru mengejek saya dengan memamerkan cincin pernikahan yang persis seperti kepunyaan saya. Pengkhianatan keji ini seketika menghancurkan jiwa serigala saya dalam kepedihan yang teramat sangat.