APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Sugar Daddy is a Monster

My Sugar Daddy is a Monster

Demi bertahan hidup, Lylia Prozky yang lugu terpaksa menjadi sugar baby bagi Dante Prime, pengusaha kejam sekaligus monster dunia bawah yang tak kenal ampun. Di saat Lylia mendambakan cinta sejati, ia justru terjebak dalam obsesi dan sikap posesif Dante yang kian membara saat ada pria lain mendekat. Kini, Lylia harus berjuang menghadapi ancaman musuh yang mengintai sekaligus jeratan perasaan dari sang monster yang sangat berbahaya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dante POV

"Kalian cari sampai dapat!"

"Baik, Tuan." Balas seorang pria berjas hitam dengan mata sipit berkacamata.

Ia kemudian berlalu meninggalkan ruanganku bersama dengan dua orang pria berjas hitam lainnya. Aku kembali melanjutkan aktivitasku mengecek beberapa dokumen sambil sesekali menghisap rokok yang kuapit di kedua jari kananku.

.

.

.

Sejam berlalu, aku masih membuka lembar demi lembar kertas yang kini memenuhi meja kerjaku. Sampai di menit selanjutnya ponsel keluaran terbaru milikku berdering dan mengacaukan konsentrasiku. Aku mengangkatnya.

"Bawa dia kemari, Kai." Titahku lalu mematikan sambungan telepon setelah mendengar penjelasan dari salah satu bodyguard setiaku.

'Hmm... Para tikus itu berhasil kabur rupanya. Tapi apa mereka sengaja meninggalkan anaknya untuk mengalihkan perhatianku?' Pikirku kemudian membakar sebatang rokok lagi dan menghisapnya kuat-kuat sebelum melanjutkan pekerjaanku yang sempat terhenti.

.

.

.

Kini kondisi meja kerjaku kembali rapi. Aku masih sibuk dengan rokok dan tablet milikku, membaca tentang data diri keluarga Prozky. Dua kancing atas kemeja putihku telah terbuka. Sepertinya vodka yang kuminum sedikit demi sedikit ini berhasil membuatku kegerahan di ruangan kerjaku yang sama sekali tidak panas.

Tok.

Tok.

"Tuan, Kai datang ingin menemui anda." Ucap samar samar seorang pria dibalik pintu kerjaku.

"Masuk!" Jawabku singkat.

Aku menghentikan segala kegiatanku kecuali merokok dan melihat ke arah pintu yang dibuka oleh seorang laki laki yang masih muda, tampak gagah dengan setelanya, kemudian bersandar seolah menahan pintu. Seorang pria berjas hitam berkacamata yang biasa ku panggil Kai lalu masuk ke ruanganku.

Aku memperhatikannya berjalan mendekat seraya tetap terduduk. Perhatianku kini mulai teralihkan dengan sosok gadis muda yang dicengkram keras oleh Kai dan tampaknya sudah pasrah. Sosoknya sangat kecil sehingga tertutup oleh badan Kai yang menjulang. Kai berhenti tepat didepan mejaku lalu memberikan salamnya dengan sedikit membungkuk.

"Jadi, bagaimana?" Tanyaku singkat.

"Maaf, Tuan. Tampaknya seisi rumah berhasil mengendus penggerebekan tersebut. Kediamannya tampak kosong. Tuan Dexter, Ibu Christine dan Tuan Taylor telah kabur tanpa jejak. Seisi rumah telah kami periksa, tetapi kosong. Maafkan kami atas ketidak becusan kami, Tuan! Sebagai gantinya, kami menemukan Nona ini di kamarnya." Jelas Kai sambil menarik gadis tersebut untuk berdiri disebelahnya.

Aku memperhatikan gadis tersebut, masih dengan dress tidurnya. Rambut panjangnya terurai dan terlihat sedikit berantakan. Matanya sembab dan menunduk melihat lantai. Aku yakin pasti dia menangis melihat kejadian brutal itu. Kedua tangannya mencengkram ujung dress dan dia menggigit bibir bawahnya. Dan dia tidak memakai alas kaki.

"Kai, setidaknya biarkan dia memakai sendal atau semacamnya. Lihat akibat perbuatanmu, kau membuat lantai rumahku kotor!" Aku menghembuskan asap rokokku.

"Maafkan saya, Tuan!" Kai kembali membungkuk meminta maaf.

Aku berdiri dari singgasanaku lalu duduk di sofa yang memang ada di ruang kerjaku sambil tetap membawa rokok dan segelas vodka yang ku minum tadi. Aku duduk dengan gagah dan memberikan sinyal agar Kai melepaskan gadis itu dan membawanya duduk di hadapanku. Kai mengerti keinginanku lalu menyeret gadis tersebut untuk duduk di seberang sana. Gadis itu terduduk tanpa ekspresi. Kai lalu berdiri disampingnya.

"Halo. Perkenalkan saya Dante." Ucapku memperkenakan diri.

Gadis itu hanya diam menunduk. Aku paham kondisinya. Kulihat Kai mulai melirik sinis gadis itu,namun jentikan jariku berhasil menghentikannya. Kai melihatku lalu kembali terdiam.

"Maafkan saya atas ketidak nyamanan ini. Tapi saya membutuhkan informasi tentang keberadaan Ayah, Ibu atau Kakakmu. Apa kamu tau dimana mereka?" Tanyaku sehalus mungkin.

Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya sedikit.

"Baiklah, Nona. Tampaknya usiamu sekarang sudah menginjak dewasa. Jadi saya perlu menjelaskan kondisi yang terjadi sekarang." Ucapku sambil menyesapi vodkaku.

"Saya masih menganggap kamu sebagai anak dari rekan kerja saya. Jadi akan saya jelaskan sesingkat mungkin. Jauh sebelum perusahaan Ayahmu itu sukses, saya meminjamkan modal yang nilainya tidak sedikit di perusahaan ayahmu. Tapi sayangnya, iming iming imbal jasa yang telah disepakati itu tidak pernah ayahmu tepati. Tentunya tidak masalah buat saya, tapi saya sangat tidak menyukai ingkar janji. Entah siapa dalang di balik itu semua, tapi saya yakin Ayahmu bisa dimintai pertanggungjawaban." Aku memperhatikan gadis itu dengan saksama mencoba untuk mencari tau ekspresi apa yang di keluarkannya, tapi nihil.

"Intinya Ayah, Ibu dan Kakakmu berhutang. Saya pernah mencoba menarik sedikit keuntungan dari perusahan Ayahmu, tapi siapa sangka uang yang sedikit itu ternyata berhasil menggoyahkan kestabilan perusahaannya. Lalu selanjutnya segala investasi atas nama keluarga Prozky dialihkan secara diam diam, entah kemana dan atas nama siapa. Yang jelas saya akhirnya menyuruh anak buah saya untuk mencari keberadaan keluargamu sampai ke rumahmu. Karena mereka selalu menghindar. Jadi, apa saya salah untuk mengambil kembali apa yang sebenarnya milik saya?" Aku melihat sedikit pergerakan di seberang sana.

Gadis itu mulai menangis sesenggukan dalam hening.

"Jadi, tolong. Bisakah kamu memberi tahu saya dimana keberadaan keluargamu?" Tanyaku sebaik mungkin mencoba memastikan sekali lagi.

"A-a-aku... Tidak tau, Paman." Balasnya terbata bata.

'Hah? Paman? Siapa? Aku?' Batinku.

"Ka-kami masih menikmati makan malam bersama tadi, lalu Kak Taylor sempat memelukku sebelum—" Kata katanya terputus, dia lalu kembali terdiam sejenak lalu menangis sambil menjambak rambutnya.

Dret!

Dret!

Dret!!!

Aku teralihkan dengan suara getar ponselku di meja kerja. Aku beranjak meraihnya lalu menjawab panggilan telepon dari Victor anak buahku yang lainnya, sama seperti Kai.

"Apa?! Mereka berhasil kabur ke Jepang?" Kagetku lalu menoleh ke arah gadis itu.

Dia segera menatapku tak kalah kagetnya. Aku bisa melihat bola mata coklatnya yang cerah itu mengeluarkan air mata. Kantung matanya yang membengkak. Hidungnya yang memerah. Serta bibirnya yang basah dan sedikit lecet akibat gigitannya sendiri. Dan ekspresinya, membuatku ikut— Ah, Bagaimana bisa dia membuat ekspresi seperti itu?

"Baiklah, bubar!" Titahku kemudian mematikan sambungan telepon.

"Maaf gadis kecil, tampaknya keluargamu meninggalkanmu sendirian." Ucapku sambil terus memperhatikan ekspresinya yang tidak berubah.

Aku berjalan mendekatinya. Menarik beberapa lembar tisu lalu berjongkok di hadapannya.

"Tampaknya gadis kecil ini sudah bukan siapa siapa lagi, Kai. Jadi sekarang bagaimana caranya agar hutang keluarganya lunas?" Aku menyeka kedua matanya dengan tisu tersebut lalu membuangnya di pangkuannya.

"Baiklah!" Ucapku kemudian berdiri lalu kembali duduk di hadapannya.

"Apa kemampuanmu?" Tanyaku.

Dia masih terdiam terpaku dengan tatapan kosongnya.

"Bagaimana caramu membayar seluruh hutang orang tuamu?" Tanyaku lagi.

Dia masih bergeming.

"Kalau kamu masih diam, saya jual kamu!" Ancamku.

Aku tidak suka diacuhkan.

"Aku suka memasak dan bersih bersih, Paman!" Balasnya segera tersadar dari lamunannya.

"Anak kecil yang terbiasa hidup mewah dari lahir sepertimu, bisa masak?" Tanyaku tak yakin.

"I-iya. Aku juga kuliah di jurusan tata boga, dan nilai praktekku selalu bagus. Jadi aku cukup yakin dengan kemampuanku." Belanya.

Aku terdiam sesaat.

"Baiklah, mulai sekarang kamu akan bekerja disini. Tanpa gaji sampai hutang orang tuamu lunas. Dan jangan harap bisa lolos dari saya, Lylia Prozky." Aku menyebut namanya setelah membaca singkat data dirinya dari Eugene anak buahku yang lain, sebelum mereka tiba di ruanganku.

Aku menghisap rokokku dan menghembuskannya yang kemudian dibalas batuk olehnya. Baiklah tampaknya kesadarannya sudah kembali.

"Ba-baik, Paman." Balasnya lesu.

"Mulai sekarang panggil saya Tuan, Lylia." Aku memperdalam suaraku.

"Ba-baik, Tu-Tuan." Ucapnya kikuk.

Dante POV END

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Collateral Fate
9.5
Dalam misi penyelamatan berisiko tinggi, Letnan Arya Pradipta dari pasukan khusus berjuang membebaskan Alana Weston, relawan yang ditawan teroris internasional. Namun, situasi berubah mencekam saat keduanya terjebak di wilayah musuh yang mematikan. Di tengah pelarian yang mengancam nyawa, Arya menyadari bahwa penculikan Alana bukanlah kriminalitas biasa, melainkan bagian dari konspirasi politik skala besar yang kini mengincar keselamatan mereka.
Sampul Novel Keinginan Sang Elf: Petualangan Erotis di Dunia Peri
8.7
Lyra, seorang elf muda, memutuskan menjelajah dunia luar demi menjawab rasa penasaran dan hasrat terpendamnya. Petualangan ini mempertemukannya dengan peri tampan bernama Orion, yang membimbingnya menyelami sisi erotis yang asing baginya. Di tengah keindahan dunia peri, bahaya gelap mulai mengancam. Sembari mengungkap rahasia besar yang menguji cinta mereka, hubungan keduanya pun bertumbuh menjadi sebuah ikatan intim yang sangat mendalam.
Sampul Novel Ketika Anak Kami Melompat, Saya Memutuskan Ikatan Kami
8.8
Demi selingkuhannya, Alpha Damien tega mengabaikan hari lahir putrinya. Noah yang mengalami gangguan jiwa merasa terbuang hingga nekat mengakhiri hidupnya. Di tengah duka yang hancur, Damien justru melindungi Omega lain alih-alih mendampingi sang istri. Kecewa atas pengkhianatan ini, sang istri nekat melakukan Ritual Penolakan di hadapan seluruh kawanan. Kini ikatan takdir mereka telah terputus selamanya, menyisakan penyesalan Damien yang sia-sia memohon ampun.
Sampul Novel Keturunan Terakhir!
9.5
Zha, pemimpin mafia Legion Of Death berjuluk Gadis Pecinta Asap, bertekad membalas kematian ayahnya dengan memburu sisa keturunan Klan Jangkar Perak. Berbekal petunjuk tato jangkar, misinya berubah drastis setelah sebuah peluru mengungkap adanya chip manipulasi di tubuhnya sejak bayi. Begitu chip itu dilepas, tato jangkar justru muncul di kulitnya. Zha kini menghadapi kenyataan pahit tentang siapa pewaris sejati yang dicarinya.
Sampul Novel LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian
8.4
Demi menggali petunjuk penting, agen elite Telik Sandi 69 bernama Lintang rela memakai daya pikatnya untuk menjebak Bernardo yang mesum. Namun, ini barulah awal dari misi kerajaan yang jauh lebih besar. Bersama empat rekannya, Lintang dikirim untuk mengusut teror mencekam di Benua Swarna Dwipa. Penyelidikan menuntun mereka ke Tanah Kematian, sebuah area kejam tanpa hukum. Di sana, mereka harus menghentikan konspirasi gelap yang mengancam eksistensi umat manusia di Jagad Mayapada.
Sampul Novel Luna Jatuh Cinta pada Alpha Lain Setelah Pasangannya Mengkhianatinya
9.2
Saat pesta ulang tahun Alpha Marc Dale, ia membawa kembali mantan pasangan sejatinya, Lucy Burton, yang dahulu disiksanya. Namun, tepat pada hari jadi kami, saya menyaksikan Marc memeluk dan menandai Lucy di kamar. Meski Marc berdalih itu adalah hukuman, Lucy justru mengejek saya dengan memamerkan cincin pernikahan yang persis seperti kepunyaan saya. Pengkhianatan keji ini seketika menghancurkan jiwa serigala saya dalam kepedihan yang teramat sangat.