APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My [Secret]ary

My [Secret]ary

Penolakan Raya atas posisi pemimpin anak perusahaan Chinar Group membawanya bertemu kembali dengan Jevano. Mantan kakak tingkat kuliahnya tersebut kini justru bekerja sebagai sekretaris pribadinya. Walau Jevano selalu bersikap dingin dan cuek, Raya tidak bisa menahan perasaannya. Namun, di balik sikap profesional tersebut, sang sekretaris menyimpan misteri besar. Jevano bukanlah pegawai biasa, melainkan sosok penuh rahasia yang menyembunyikan identitas aslinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Kamu sama sekali tidak membantu. Tidak usah jadi sekretaris kalo gitu!” kesal Raya. Dia melontarkan semua kalimat yang selama rapat tadi hanya tertahan di mulut.

Jevano menggelengkan kepala. “Seorang pemimpin harus siap menghadapi keadaan darurat. Kalau soal memperkenalkan diri saja tidak bisa, bagaimana nanti sewaktu menghadapi masalah saat memimpin?”

“Tapi itu tidak bisa disamakan. Aku bahkan tidak mengerti apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan sebagai pemimpin. Kamu tidak mengajariku.” Raya terus marah-marah. Dia tidak peduli saat ini dirinya dan Jevano masih berada di ruang pertemuan.

Untunglah di sini tidak ada orang lain lagi, hanya tinggal mereka berdua saja. Bu Puji bilang Raya harus menunggu di sini sebentar sementara dia menyiapkan ruangan untuk Raya gunakan nanti.

“Tunggu di sini sebentar,” kata Jevano. Dia memilih mengalah sedikit, sebab meneruskan perdebatan dengan Raya sepertinya tak akan mudah.

Jevano sedikitnya sudah memahami bagaimana sifat Raya. Perempuan itu terlalu manja, seperti yang dibilang Pak Prames padanya. Raya juga tidak pernah terjun ke dunia bisnis sebelumnya. Perempuan semacam dia pasti tidak tahu betapa susahnya membangun bisnis untuk menghasilkan uang. Bukan tipe Jevano sama sekali.

Kaki Jevano melangkah ke parkiran mobil, dia mengambil sebuah paper bag berisi beberapa buku. Dibawanya paper bag itu ke ruangan tempat Raya menunggu.

Raya menyambut kedatangannya dengan tatapan kesal. Jevano sedikit pun tidak peduli soal itu. Dia hanya heran saja, bagaimana mungkin perempuan yang dulu pernah menyukainya ternyata semacam ini?

Jevano tidak tahu saja kalau sampai saat ini pun Raya masih menyukainya. Perempuan itu sudah terlanjur jatuh terlalu dalam hingga sulit mencari jalan keluar.

“Nih. Mau jadi pemimpin yang baik ‘kan?” tanya Jevano seraya menyodorkan paper bag berisi buku.

Raya mengangkat alis, diambilnya paper bag dari tangan Jevano. Dia mengintip isi di dalam, lantas mengeluarkan semuanya ke atas meja.

Mulutnya terbuka lebar. Tak henti-hentinya dia terkejut dengan kelakuan Jevano. Ya coba bayangkan saja, Raya meminta Jevano mengajarinya cara menjadi pemimpin yang baik dan bukannya mengajari, Jevano malah memberikan buku tentang manajemen bisnis serta cara menjadi pemimpin yang baik.

Itu semua buku yang dibutuhkan. Kamu bisa membacanya dan tanyakan yang tidak dipahami.”

“Kamu pikir aku sedang kuliah lagi? Kenapa malah memberiku buku alih-alih mengajariku langsung?”

“Untuk melakukan praktik, seseorang harus memahami teori lebih dulu. Sudah kuliah ‘kan? Pasti kamu paham hal mendasar seperti itu.”

“Ck! Nyebelin.”

“Tidak usah marah. Saya melakukan ini agar kamu bisa mandiri. Tidak selamanya semua hal hanya berputar di sekelilingmu saja. Itu pelajaran pertama dari saya,” ucap Jevano sambil menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu terbuka.

Rupanya sekretaris Bu Puji yang membuka, dia menyampaikan kalau ruangan untuk Raya sudah dirapikan dan mereka bisa langsung ke sana.

“Baik, terima kasih banyak.” Jevano memberi sedikit senyuman kepada sekretaris Bu Puji yang juga dibalas dengan senyuman.

Raya mendengus kesal. Lihatlah! Jevano ternyata bisa tersenyum, tapi kenapa tingkahnya ke Raya sangat menyebalkan?

“Ayo, ke ruanganmu,” ajak Jevano.

Kali ini Raya berjalan lebih dulu, mengikuti sekretaris Bu Puji. Dia kesal dengan Jevano, moodnya sudah hancur berantakan. Ditambah lagi Jevano bisa bersikap baik kepada orang lain, sedangkan padanya tidak sebaik itu. Tersenyum saja tidak.

Raya jadi berpikir, mengapa dia bisa menyukai laki-laki itu? Apa yang Raya lihat darinya?

Jarak ruang rapat ke ruangan Raya tidak terlalu jauh, hanya melewati dua ruangan. Begitu pintu ruangan terbuka, Raya disambut oleh ruangan cukup luas dengan kaca jendela memenuhi dua sisi ruangan. Dari sini, dia bisa melihat pemandangan ibu kota di bawah sana, gedung-gedung tinggi, serta langit biru.

“Bu Puji bilang untuk pengangkatan Bu Raya akan diadakan bulan depan.”

Raya yang tadinya sibuk melihat ke luar jendela segera menoleh ke belakang. “Bulan depan? Kenapa cepat sekali?”

“Saya hanya menyampaikan apa yang dipesankan ke saya.”

“Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak. Kamu boleh pergi,” kata Raya. Kakinya melangkah menuju kursi putar, mendudukkan diri di sana.

“Kak, aku ingin bertanya serius kali ini. Boleh tolong jawab?” tanya Raya. Dia memanggil Jevano dengan sebutan ‘kak’ karena tidak tahu harus memanggilnya bagaimana.

“Hm.” Gumaman Jevano menjadi pertanda bahwa Raya boleh mengajukan pertanyaan.

Raya memutar kursi, duduk membelakangi Jevano. “Kenapa Ayah ingin aku menjadi pemimpin? Padahal aku sama sekali tidak memenuhi kualifikasi itu. Aku baru lulus kuliah bulan kemarin, menjalani sidang skripsi, bahkan belum wisuda."

Jevano tidak memberi respon, dia diam saja. Sekitar sepuluh menit lamanya berlalu dalam keheningan. Raya sampai membalikkan kursi, takut kalau ternyata Jevano tidak ada di belakangnya.

“Kenapa diam saja? Tidak ingin menjawabku?”

“Mohon maaf, pertanyaan itu hanya bisa dijawab Pak Prames.”

Raya memijat pangkal hidungnya. “Aku juga tahu, maksudku ya jawaban dari pandanganmu.”

“Saya tidak memiliki pandangan apapun tentang itu. Siapapun yang terpilih menjadi pemimpin, itulah apa yang seharusnya dia jalani.”

Raya menganggukkan kepala, meski dia tidak begitu paham dengan kalimat Jevano. Setidaknya sedikit maksud bisa Raya tangkap.

“Apalagi mereka yang berasal dari keluarga besar. Segalanya dijalani karena tuntutan semata, bukan atas dasar kemauan.”

Mata Raya memandang tepat ke arah Jevano, memperhatikan wajahnya yang tetap datar. Tidak ada emosi apapun terpancar di sana.

“Baiklah, terima kasih. Aku akan mengingat itu.”

“Hm. Jangan lupa baca bukunya.”

Setelah mengucapkan itu, Jevano berlalu pergi, meniggalkan Raya di dalam ruangan sendirian. Perempuan itu bahkan tak sempat bertanya mau ke mana Jevano. Biarlah Jevano pergi saat ini. Raya butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya.

***

Bersamaan dengan posisi yang didapat ada tanggung jawab besar di dalamnya.

Raya membaca salah satu kalimat itu dari sebuah postingan di sosial media. Entahlah, dia mulai terpikirkan tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Walau semua itu dia lakukan atas dasar suruhan sang ayah.

Kembali dia buka buku pemberian Jevano, membaca dan mencoba memahami apa yang tertulis di sana. Sesekali Raya mengecek jam di tangan, sudah hampir pukul dua belas, jam makan siang.

“Kak Jev ke mana deh, kenapa belum balik?” Raya menatap lama pintu ruangannya, berharap Jevano mendadak muncul membawakan makanan.

Seperti sebuah kebetulan, pintu ruangan Raya terbuka tepat ketika Raya membayangkan Jevano datang. Senyum Raya sudah mengembang, dikiranya Jevano yang datang membuka pintu, tapo ternyata malah sekretaris Bu Puji.

“Maaf, Bu mengganggu waktunya. Saya membawakan makanan, tadi Pak Jevano menyuruh saya memesan ini untuk Bu Raya.”

Raya mengernyitkan dahi. “Dianya ke mana?”

“Pak Jevano bilang ada urusan, jadi tidak bisa makan siang bersama.”

Raya berdecih. Sebenarnya apa sih kerjaan Jevano tuh? Kenapa dia masih saja sibuk padahal Raya ada di sini? Disuruh duduk diam membaca tumpukan buku pemberiannya.

“Yaudah, taruh meja aja. Makasih banyak ya.” Raya tersenyum ke arah Tari, sekretaris Bu Puji.

Sepeninggal Tari, Raya langsung menghampiri sofa dekat meja yang sudah ditaruh makanan oleh Tari. Dia menghabiskan makanan itu sendiri.

“Awas aja nanti kalo udah kembali.”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DIBUANG MANTAN, DIKEJAR CEO SULTAN
9.8
Aruna terpaksa mengasuh Maira, anak bosnya yang bernama Brahmana, demi menolong sang ayah dari ibu tirinya. Namun, bekerja di rumah CEO itu justru menjebak Aruna dalam konflik batin antara luka lama dan perasaan cinta yang baru tumbuh. Walau ia berusaha menjauh, ketulusan sang bocah dan kejujuran Brahmana terus menahannya. Kini, Aruna bimbang untuk terus menyimpan dendam demi ayahnya atau luluh dalam pelukan sang sultan.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Niat Laras menyelamatkan diri dari rumah justru berujung petaka ketika ia dan ketiga anaknya diculik sopir travel. Di tempat penyekapan yang kejam, ia harus kehilangan salah satu buah hatinya. Tragedi memilukan ini menyalut dendam mendalam, memicu tekadnya membongkar dalang serta motif di balik aksi keji ini. Kini, Laras harus berjuang demi menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa sekaligus meloloskan diri dari ancaman maut yang mengintai.
Sampul Novel Hanya Istri Kedua
9.3
Demi menyelamatkan sang ayah dari ancaman kebangkrutan, Anyelir rela mengorbankan impian masa depannya. Ia bersedia menjadi istri kedua dari Serkan Alvaro, seorang pengusaha muda sukses yang dikenal sangat dingin. Namun, alasan sebenarnya di balik keputusan Serkan menikahi Anyelir dengan imbalan bantuan keuangan masih menjadi misteri. Anyelir pun harus menjalani kehidupan pernikahan yang penuh teka-teki. Sanggupkah ia menemukan kebahagiaan sejati dalam rumah tangga ini?
Sampul Novel Jodoh Pengganti
7.9
Shanaya hidup menderita karena diperlakukan layaknya pembantu oleh ayah dan ibu tirinya. Penderitaannya kian bertambah saat dipaksa menggantikan adik tirinya menikahi putra keluarga Hartono. Sang adik menolak keras pernikahan tersebut lantaran rumor bahwa calon suaminya adalah pria yang sangat dingin dan kejam. Terjebak tanpa pilihan, Shanaya terpaksa melangkah ke dalam pernikahan misterius ini. Mampukah ia bertahan menghadapi sosok suami yang begitu ditakuti?
Sampul Novel KUSEMBUNYIKAN KEKAYAANKU DARI SUAMI DAN MERTUA
9.6
Mia lelah terus-menerus direndahkan oleh ibu mertuanya karena dinilai miskin dibanding menantu lain. Di balik hinaan kejam itu, Mia memilih diam dan menyimpan rahasia besar. Tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya sangat kaya raya, memiliki aset melimpah serta tumpukan emas dari hasil kerja kerasnya menulis online. Ia sengaja menyembunyikan kekayaan ini agar suami dan mertuanya yang serakah tidak bisa merampas harta tersebut.
Sampul Novel MILIARDER CANTIK ITU ISTRIKU
8.4
Demi bertahan hidup, Zio terpaksa mengambil keputusan nekat untuk menemani seorang wanita dalam satu malam. Alih-alih bertemu perempuan paruh baya seperti dugaannya, ia justru dihadapkan pada sosok muda yang luar biasa menawan. Kejutan tak berhenti di sana; wanita tersebut justru memintanya untuk menghamili sekaligus menikahinya. Di tengah himpitan kesulitan hidup yang menderanya, sanggupkah Zio memenuhi tuntutan ekstrem dari miliarder misterius itu?