APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Perfec Husband

My Perfec Husband

Avril terjebak dalam situasi buntu ketika seorang pria menyodorkan penawaran mutlak yang tak mungkin ia elak. Hanya ada dua pilihan rumit bagi Avril: menyerahkan dirinya seutuhnya atau bersedia dinikahi oleh pria tersebut. Tekanan dari ucapan yang dingin dan penuh kuasa itu membuat Avril didera keraguan mendalam. Apakah ia akan tunduk pada paksaan ini karena terdesak keadaan, ataukah sebenarnya ada keinginan dari dalam lubuk hatinya untuk menerima tawaran itu?
Bab
Bagikan

Bab 3

Happy reading

Avril POV

"Apa masalahmu Avril, saya akan pulang kalau saya ingin."

Mataku melotot, bos setan sialan.

Ah iya, kalian pasti bertanya tanya kan kenapa Pak Radhika yang berstatus bos ku itu memanggil namaku sesantai itu? Oke biar ku jelaskan sedikit.

Pak Radhika yang berstatus bos besar di kantorku ini adalah temen sekolahku di SMA dulu, dan ya kami cukup dekat. Lebih tepatnya banyak hal yang membuat kami jadi deket, entah karena guru, tugas atau keadaan.

Aku cukup senang saat dulu kami tidak satu kampus, tapi sial kembali datang padaku. Aku malah melamar pekerjaan di kantornya ini, dan ya sekarang aku menjadi bawahannya. Benar benar nasib buruk, kalau tidak mengingat gaji di sini besar. Aku pasti sudah lari keluar dari pekerjaanku setelah tau kalau dia bos nya.

"CK Pak, ini acara penting tau. Bapak di wajibkan datang," ucapku penuh penekanan.

Sebenernya aku tidak tau si, acara sepenting apa sampai Pak Radhika harus datang.

Setahuku dulu saat masih SMA, Pak Radhika itu adalah lelaki dingin yang anti dekat wanita. Karena itulah Tante Kinan, Ibu Pak Radhika sering uring uringan dengan percintaan anak sulungnya.

"Hmm," balas Pak Radhika lagi.

"Hmm???" Mataku melotot, astaga aku benar benar kesal sekarang.

"Apa lagi? Saya sudah katakan akan pergi kan," ucap Pak Radhika.

"CK, saya sudah di beri amanah agar bapak pergi siang ini, jadi cepat siap siap karena sebentar lagi jam 1," ucapku dan memberikan toobag yang berisi pakaian bosku itu.

Mataku makin melotot saat melihat tidak ada pegerakkan sama sekali pada Pak Radhika.

"Pak," panggilku lagi.

"Apa?"

"Astaga cepat gerak Radhika, sebentar lagi jam 1." Ucapku habis kesabaran.

"Saya malas pergi, keluarlah saya masih banyak pekerjaan."

"Tidak bisa, cepat Radhi." Paksaku.

"Hmm."

Kesal dengan hmm yang terus saja Pak Radhika  katakan, aku memutari meja kerjanya dan menarik tangan Pak Radhika.

"Cepat Radhi, jangan menambah beban ku. Pekerjaanku masih banyak," ucapku memaksa.

"Kamu pikir hanya pekerjaanmu saja yang banyak? Saya juga."

"CK saya tidak perduli, cepat pak siap siap." Paksaku lagi.

Pak Radhika menatap datar ke arahku, lalu menarik tanganku dengan kuat, reflek aku terjatuh karena tidak ada berpegang pada apa pun.

Dan sedetik setelahnya mataku melotot karena sudah berada di pangkuan bos setan ku itu, dan yang lebih menyebalkan ya lagi kalau ternyata Pak Radhika juga sedang menatapku dengan intens, demi Tuhan tolong jangan tatap aku begitu.

Aku berusaha turun dari pangkuan lelaki itu, memberontak karena soalnya Pak Radhika sama sekali tidak mau melepaskan ku begitu saja.

"Pak," ucapku kesal dan berusaha bebas.

"Hm?"

"Lepas ish, saya mau turun." Desaku kesal.

"Pak," panggilku lagi. Makin kesal karena ucapanku sama sekali tidak lelaki itu tanggapi.

Pak Radhika menyatukan dahi kami, membuat aku membulatkan mata kaget.

Ha? A-apa yang baru saja Pak Radhika lakukan? Mulutku bahkan sampai terbuka sangking kagetnya.

"Berhenti menggoda saya Avril, demi Tuhan pertahanan saya tidak sekuat itu." Desa Pak Radhika berat.

"Ha?" Otakku sama sekali tidak paham dengan yang baru saja pak Radhika katakan. Maksutnya apa?

"Saya akan siap siap," ucap lelaki itu setelahnya. Lalu menurunkan ku di atas kursi dan bergegas pergi ke ruang pribadinya, tidak lupa dengan menggambil toobag yang berisi pakaian beliau.

Aku menyentuh dadaku yang berdegup kencang, demi Tuhan tanganku sampai gemetaran. Aku sangat kaget dengan apa yang baru saja di lakukan Pak Radhika, apa maksutnya? Siapa yang menggoda beliau? Orang stres mana yang mau melakukan itu.

"Berhenti bertingkah begitu atau saya akan menarikmu ke sini Avril," ucapan datar itu membuatku reflek berdiri tegak.

Sedetik setelahnya aku langsung melotot ke arah Pak Radhika, dasar bos setan sialan.

"CK cepat siap siap dan segera pergi," ucapku kesal dan beranjak dari kursi itu. Berjalan keluar, pekerjaanku masih banyak.

Mataku melirik jam di pergelangan tanganku, pukul 01:17 lewat. Astaga aku bahkan melewatkan makan siang ku hanya untuk membujuk Pak Radhika, astaga sialan sekali.

Tidak jadi ke kantin, aku kembali membelokkan tubuhku ke kubekelku. Berniat untuk kembali menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Mengabaikan sakit perut yang semakin lama makin terasa.

Tapi saat pantatku baru saja ingin mendarat di kursi kerjaku, sebuah tangan dengan kurang ajarnya malah menarikku sehingga otomatis badanku langsung beranjak dan mengikuti si penarik.

"CK apa yang bapak lakukan?" Tanyaku kesal saat tau kalau yang menarikku adalah Pak Radhika.

"Hmm," balas lelaki itu datar.

Mataku makin melotot mendengar respon lelaki itu, belum lagi dengan para karyawan yang memang sudah kembali dari makan siang. Makin banyak yang berlalu kalau, di tambah dengan pegangan tangan yang kuat ini makin membuatku malu.

Aku berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Pak Radhika, tapi bukannya lepas genggaman tangan lelaki itu malah makin kuat.

"Terus memberontak maka saya akan makin kuat menggenggamnya," ucap Pak Radhika datar.

Mulutku berdecak kesal, bos setan ini kembali membuat ulah. Mentang mentang dia adalah direktur di perusahaan jadi bisa berlaku seenak jidatnya saja. Dasar menyebalkan, aku benar benar sangat kesal sekarang.

"Bapak mau bawa ke mana si? Lagi pulak saya bisa jalan sendiri, bapak tidak perlu menarik saja begini," ucapku memelas.

Demi Tuhan aku malu dengan tatapan tatapan, yang di layangkan para karyawan pada kami. Apa lagi Pak Radhika menggenggam tanganku begitu kuat, CK apa si sebenernya yang beliau pikirkan.

"Aku bisa jalan sendiri Radhi," ucapku mulai kesal.

"Saya tau kami bisa jalan sendiri, tapi dengan otak kosong dan jalan lama itu. Saya benar benar tidak sabar untuk menunggu," balas Pak Radhika datar.

Sialan, apa yang baru saja dia katakan? Otak kosong dan jalan lamban? Bajingan sialan, aku benar benar ingin melemparnya ke rawa rawa sangking kesalnya.

"Masuk," ucap Pak Radhika saat kami sudah sampai di depan mobil milik lelaki itu.

Aku mundur dua langkah, berniat kabur. Memangnya dia pikir dia siapa, enak saja memaksaku sesuka hatinya.

"CK saya bilang masuk Avril bukan malah kabur," decak Pak Radhika kesal dan langsung memaksaku masuk dengan kasar.

"Berhenti memaksa saya Radhika," teriakku kesal.

"Maka menurut lah, maka saya tidak akan memaksa. Tapi kamu sepertinya lebih suka cara kekerasan di banding mengatakannya secara baik baik," balas lelaki itu lagi dengan datar.

"Dasar tidak berprikemanusiaan, " decakku sinis. Lalu duduk dengan tenang di kursi samping kemudi.

Bisa ku lihat Pak Radhika yang memutari mobil dan masuk ke kursi di sampingku. Lalu menatapku datar.

"Apa lagi?" Tanyaku sedikit emosi.

"Apakah kamu sengaja agar saya juga yang memasangkan sabuk pengaman?" Tanya lelaki itu sambil menatapku lalu beralih dengan sabuk pengaman di sampingku.

Aku memutar bola mata kesal, lalu menggambil sabuk pengaman itu dan memasangnya segera.

Selesai aku memangnya, pak Radhika langsung menjalankan mobilnya keluar dari perkara gan kantor.

Aku sama sekali tidak tanya lagi, terlalu kesal dengan respon Pak Radhika yang menyebalkan, terserah mau ke mana.

Lagian pun kalau nantinya pekerjaanku itu tidak selesai itu salah pak Radhika sendiri, kenapa membawaku pergi saat masih jam kantor.

Hampir 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di perubahan dan berhenti di sebuah rumah besar dengan halaman yang luas serta rumah mewah tingkat 3.

Tentu rumah siapa lagi kalau bukan rumah orang tua Pak Radhika, aku ingat pernah menginjak rumah ini satu kali dulu, saat di tugaskan kerja kelompok dengan Pak Radhika.

"Kenapa kita ke sini?" Tanyaku sambil menatap pak Radhika dengan alis terangkat.

Tapi bukannya menjawab, Pak Radhika malah keluar dari mobil dan meninggalkanku begitu saja.

Mataku melotot, hah? Maksutnya apa? Ha? Apa apaan lelaki itu? Batinku tidak terima.

Kesal tidak di respon, aku keluar dan segera mengejar Pak Radhika yang sudah jauh di depan, menahan pergelangan tangan lelaki itu.

"Maksutnya apa? Kenapa membawa saya ke sini?"

Bisa ku lihat Pak Radhika yang memutar bola matanya malas. "Pulang, apa lagi." Jawaban datar pria itu lontarkan padaku.

"Iya saya tau bapak pulang, tapi pertanyaannya kenapa membawa saya? Demi Tuhan Pak saya masih memiliki banyak pekerjaan," ucapku tertekan.

"Hmm, kamu yang memaksa saya pulang. Maka kamu juga harus ikut saya," balas lelaki itu datar.

TBC

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dan Dosa
9.5
Bisma, putra konglomerat yang terjebak dalam kehidupan kelam, gemar mempermainkan hati wanita. Namun, dunianya berbalik saat obsesi membawanya mengejar Melati, kekasih dari sahabatnya sendiri. Alih-alih membawa kebaikan, tindakan Bisma justru menyengsarakan gadis yang ia harapkan bisa mengubah dirinya. Kini, bayang-bayang masa lalu memperingatkannya bahwa ia tak layak bahagia. Akankah ia menyerah atau terus mengejar cinta di tengah kutukan dosanya?
Sampul Novel Gadis Pecandu di Rumah Sakit
9.8
Saat berbaring di ranjang pasien untuk memeriksa gangguan gairah parah yang dideritanya, seorang wanita harus menghadapi tindakan tidak senonoh dari sosok yang ia kira adalah dokter medis. Alih-alih diperiksa secara profesional, ia justru dipermainkan secara fisik hingga tak berdaya. Ketika ia menoleh ke belakang demi menghentikan perbuatan itu, ia terkejut mendapati bahwa pria itu sebenarnya adalah dosennya sendiri, yang kemudian langsung merangsek maju dengan sangat kasar.
Sampul Novel His First Love
9.2
Demi membalas pengkhianatan suaminya, Zhepyr, Davira sang mantan putri rela dicap buruk. Perselingkuhan Zhepyr dengan cinta pertamanya membakar amarah Davira yang kini menyadari harga dirinya. Di depan ksatria setianya, ia bertekad tidak akan menangis dan siap membuat mereka berlutut. Davira kini dihadapkan pada pilihan sulit: memaafkan atau pergi tanpa belas kasih demi hidup baru. Akankah dendam ini berujung pada perpisahan?
Sampul Novel MELODI MELII
9.2
Hubungan saudara kembar antara Melodi dan Meli yang dulu harmonis kini hancur akibat tragedi masa lalu. Dipicu dendam mendalam, Melodi sengaja menantang Meli dalam segala hal, termasuk memperebutkan hati pria yang sama. Persaingan sengit ini memicu konflik yang terus meruncing di antara mereka. Akankah salah satu dari mereka bersedia mengalah demi ikatan darah, ataukah persaingan cinta ini justru akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Sampul Novel Muda, Liar dan Bergairah
9.1
Lucas Traverson, calon koki yang terobsesi dengan kendali diri, harus menghadapi kenyataan pahit saat bekerja untuk Alyssa Deveraux. Mantan penari eksotik yang kini menjadi pemilik restoran barunya itu membawa kembali ingatan akan malam panas masa lalu mereka. Di tengah ketegangan gairah yang membara, Alyssa ternyata menyembunyikan rahasia gelap yang misterius. Lucas kini terjebak dalam batas tipis antara fantasi dan kenyataan berbahaya yang menguji pertahanannya.
Sampul Novel Pelaminan Tanpa Mempelai
9.3
Sebagai sekuel Enam Tahun Tanpa Malam Pertama, kisah ini menyoroti kepedihan seorang wanita akibat dosa masa lalu orang tuanya. Kehidupannya hancur saat sang kekasih pergi meninggalkannya di hari pernikahan. Takdir rumit kemudian menyeretnya ke dalam ikatan rumah tangga bersama putra dari musuh bebuyutan keluarganya. Mampukah ia bertahan menghadapi pernikahan yang penuh konflik dan dilema batin mendalam ini?