APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Moonlight

My Moonlight

Cassiopeia Arsy, gadis angkuh berjuluk Devil Girl karena gaya Baratnya yang provokatif, pindah ke sekolah baru. Di sana, ia justru jatuh hati pada Zein Damar Priyambada, ketua OSIS dingin yang disegani meski impresi pertama mereka sangat kacau. Di balik konflik yang terus membara, mereka berdua rupanya memendam trauma masa lalu yang kelam. Akankah hubungan emosional ini mampu menyembuhkan luka lama mereka seiring terungkapnya berbagai rahasia?
Bab
Bagikan

Bab 1

Sebuah sedan hitam mengkilat berhenti tepat di depan gerbang sebuah sekolah. Para siswa tampak ramai menyerbu. Seorang cewek dengan seragam serupa masih melipat kedua tangannya di dada, wajahnya cemberut dan dingin, iris matanya melirik para siswa yang baru berdatangan. Dia jelas enggan.

“Ayo turun,” ujar seorang perempuan cantik yang mengenakan busana layaknya nyonya muda dengan mengapit tas di lengannya.

Dia melirik cewek itu yang masih duduk di jok belakang mobilnya.

Seorang pria yang menjadi supirnya hanya mampu diam, dia jelas tahu apa penyebab si cewek bersikap seperti itu.

“Kamu bisa terlambat, Cassie. Kita harus bertemu guru dulu,” bujuk sang perempuan itu.

Tanpa kata, tangannya bergerak membuka pintu mobil lantas keluar dan menutupkan pintu dengan sekali hentakan membuat dua orang di dalam sana berjengit. Terlebih perempuan itu yang seketika memasang raut wajah yang sedih. Bagaimana putrinya berubah menjadi seperti itu? Lantas embusan napas terbuang dari hidungnya.

Tangan kekar yang terbalut kemeja biru navy itu terangkat dan mengusap lengan sang perempuan untuk menguatkannya.

“Pergilah, dia menunggumu sebelum kembali lagi ke mobil. Aku akan menunggu di sini,” katanya lembut.

Perempuan itu menatapnya lamat lalu mengangguk setelah kembali mengembuskan napasnya.

“Nggak apa-apa. Suatu saat nanti, dia pasti akan paham apa yang kamu alami, Siska,” ujarnya membesarkan hati sang perempuan yang bernama Siska itu.

Tatapannya tertuju pada wajah sang pria, mencari ketenangan dari lekuk senyum yang diciptakannya. Selalu, dia merasa begitu damai. Siska mengangguk kemudian turun dari mobil setelah berkata pada sang pria agar menunggunya sebentar. Arghana, pria itu mengangguk.

Sorot tajam yang merendahkan itu memindai halaman sekolah yang terbilang elit dan luas tampak terlihat jelas dari depan gerbang. Sesungguhnya ini hanyalah satu hal dari sekiannya yang dia benci. Pindaian matanya juga tak melewatkan para siswa yang baru datang. Seragamnya sama seperti yang tengah dia kenakan. Melihat pada siswa yang menatapnya lantas berbisik membuat dia menggerakan bibirnya entah menggumamkan apa.

Siska berdiri di sampingnya bermaksud untuk mengajaknya masuk ke sekolah itu. Namun, cewek itu justru hendak kembali ke mobil tapi Siska sigap menghentikannya.

“Hentikan, Cassie!” tegasnya. “Sampai kapan kamu akan di rumah? Ayo masuk dan selesaikan sekolahmu,” katanya.

Tatapan tajam kembali terarah pada Siska. Sorot yang penuh kebencian itu tampak sekali dari cewek yang namanya disebut Cassie itu. Dengan kesal Cassie kembali membalik badannya lantas melangkahkan kaki menuju halaman sekolah tanpa menyapa penjaga yang sejak tadi berdiri di gerbang.

Sekali lagi Siska menghela napas, mencoba menebalkan lagi dinding kesabarannya. Menghadapi Cassie bukanlah perkara yang mudah. Putrinya itu telah melalui banyak hal yang tak menyenangkan saat usianya masih belia.

Langkah Siska mengikuti Cassie. Sebelum melewati gerbang sesaat dia menyapa penjaga dengan anggukan kepalanya yang dibalas hal serupa oleh pria berseragam itu lantas melewati pintu besi yang cukup tinggi.

Maman, penjaga itu menggeleng melihat tingkah Cassie, bahkan Arghana yang memperhatikan dari dalam mobil ikut mengembuskan napasnya, mencoba untuk sabar. Dia tahu, hadirnya bukanlah siapa-siapa bagi Cassiopeia Arsy, putri dari Siska Maharani itu. Namun, Argha telah bertekad untuk membuktikan pada Cassie siapa yang sebenarnya salah.

Para siswa masih ramai memenuhi koridor-koridor kelas ketika Cassie melangkahkan kakinya ke sana. Matanya memindai dengan tatapan benci, dinginnya menusuk siapapun yang tak sengaja menatap langsung sorot itu. Mereka yang berpapasan di tengah jalan segera melipir, memberi jalan pada Cassie. Namun, pada akhirnya mereka menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki, tatapan mereka seolah baru pertama kali melihat sosok sepertinya.

“Permisi. Maaf, ruang guru di mana, ya?” Siska bertanya pada seorang siswa yang berada di belakang Cassie.

Mendengar suara ibunya bertanya Cassie mendengkus kesal.

“Anda lurus saja, lalu belok kiri, di sana adalah ruang khusus guru. Bila belok kanan, itu lapangan,” jelas siswa itu.

“Oh. Terima kasih,” ucap Siska.

Siswa itu mengangguk.

Cassie masih berjalan dengan angkuh. Dagunya terangkat, matanya melirik sana sini dengan dingin dan tajam lagi-lagi aura kebencian dia keluarkan.

“Sini, Cassie.” Siska meraih lengan Cassie dan menariknya belok ke arah kiri sesuai instruksi siswa tadi.

Tapi lagi, Cassie mendengus kesal lantas melepaskan pegangan tangan Siska dengan kasar. Beruntungnya tidak banyak siswa di area itu. Siska sendiri memilih sibuk mencari ruang yang dimaksud meski dalam hatinya dia terluka tapi tak berdarah. Sebuah definisi yang dialaminya. Dia mencoba untuk sabar dan tabah menghadapi putri semata wayangnya yang baru kembali dari asuhan sang ayah.

Berulang kali Cassie membuang napas kasar melihat sosok Siska yang berjalan di depannya. Lagi-lagi kebencian hadir dari sorot matanya untuk perempuan yang sesungguhnya telah melahirkan dirinya ke dunia. Mengingat akan hal itu dan apa yang telah dilaluinya, membuat Cassie semakin mengatupkan rahang. Dia marah, teramat sangat marah bila mengingat akan hal itu. Sebuah kenangan yang membentuk dirinya kini.

“Ayo masuk, Cassie,” tegur Siska ketika melihat putrinya hanya diam saja.

Cassie menurut. Kakinya menghentak lantai tapi tak digubris Siska yang terlanjur masuk ke ruang guru. Cassie mengikuti.

Mereka kini ada di ruangan khusus pertemuan. Seorang guru pria seusiaan Siska di pertengahan empat puluh tahun itu duduk berhadapan dengan anak dan ibu.

“Baik. Saya sudah melihat data yang diberikan kesiswaan. Berhubung Beliau akan masuk siang karena ada urusan, jadi saya akan membantu,” tutur guru itu.

Sesaat kembali melihat data lalu menatap keduanya bergantian.

“Kamu bisa masuk hari ini, Cassie, dan saya adalah wali kelas dari kelas barumu,” jelasnya.

Cassie hanya menatap tak peduli membuat Siska tersenyum canggung pada pria itu.

Chandra Murfi, pria yang memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas baru di kelas Cassie itu tersenyum maklum pada Siska.

Bel masuk telah berbunyi lima menit lalu sehingga suasana terasa sepi. Ketiganya sesaat terdiam.

“Baiklah. Sepertinya waktumu sudah tiba, Cassie. Saya akan mengantarmu ke kelas baru agar bisa mengikuti jam pelajaran pertama,” jelas Pak Chandra.

“Baik, Pak. Tolong bantu Cassie,” ucap Siska.

“Baik Bu, tenang saja. Sudah menjadi kewajiban saya membantu anak-anak jadi jangan khawatir.”

Siska mengangguk dan tersenyum. Dia mempercayakannya pada Chandra begitu berhadapan langsung dengan pria itu. Beberapa saat lalu Siska sesungguhnya cukup khawatir tapi melihat Chandra, dia bisa menitipkan Cassie dengan leluasa. Sungguh, sikap Cassie berbeda dari kebanyakan remaja Indonesia.

“Baik kalau begitu Pak, saya mohon pamit,” ujar Siska kemudian.

Mendengar sang ibu mengatakan itu, Cassie lantas menatapnya. Entah kenapa, kali ini dia menurut saja, padahal sebelumnya dia bisa berontak membuat seorang guru yang ditemuinya tidak tahan.

Setelah beberapa kali berpesan pada guru baru Cassie, Siska segera pamit yang kemudian diikuti Cassie. Niatnya ikut sang ibu dengan cara menyelinap, bahkan menegakan kepalanya melewati Chandra begitu saja serta beberapa guru lain.

“Kenapa kamu ikut keluar, Cassie? Kamu harus ke kelas sekarang dan mulai belajar,” tegur Siska ketika menyadari Cassie membuntutinya.

Tapi Cassie mana peduli, dia melenggang begitu saja melewati Siska.

Melihat tingkah Cassie yang begitu, mau tak mau Siska harus tegas kali ini. Dia meraih tangan Cassie, mencengkramnya kuat agar cewek itu diam sesaat.

“Sekali ini saja, Cassie! Tolong, kali ini saja turuti,” pinta Siska dengan nada suara yang melas.

Sungguh, demi apapun, dia tidak bisa bersabar tetapi melihat Cassie begitu dia harus.

Iris hitam kelam yang dimiliki Cassie mengarah padanya. Siska tak gentar kali ini. Dia lelah dengan tingkah semena putrinya kepada siapapun.

Cassie menepis kasar cekalan Siska pada pergelangan tangannya hingga terlepas. Dengan raut wajah penuh amarah, Cassie menatap Siska tajam.

“Lantas apa? Itu keputusanmu untuk membawaku kembali setelah sekian tahun. Aku bilang tidak mau, kenapa masih berusaha keras untuk memperjuangkanku, hah?” katanya.

Siska terdiam. Dia jelas tahu apa maksud Cassie.

“Cassie ….”

“Hentikan! Aku tidak mau mendengar alasan basimu lagi, dan urus saja urusanmu dengan pria itu!” katanya lagi dengan penuh penekanan.

“Hati-hati kalau bicara, Cassie. Argha bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Terus saja bela dia!” sentak Cassie dengan suara yang sedikit meninggi membuat Siska tersentak. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimanya! And, I won’t accept you as my mother anymore! So, urus saja urusanmu, maka aku akan mengurus urusanku, Nyonya!” katanya.

Siska terdiam. Hatinya kembali tersayat dengan perkataan Cassie yang melemparkannya pada masa lalu tentang keputusannya dahulu.

Usai mengatakan itu dengan penuh penekanan, Cassie berbalik hendak pergi tetapi langkahnya terhenti kala didapatinya sosok siswa di depan, hanya berjarak sekitar lima meter tapi itu cukuplah membuat Cassie terpaku akan hadirnya sosok itu.

Apakah dia mendengarnya? Pikir Cassie. Namun, siswa itu berjalan mendekat dengan wajah datarnya seolah tak peduli dengan kehadiran Cassie. Cukuplah itu membuat Cassie merekam wajah dan sosoknya. Dalam hatinya Cassie berjanji tidak akan membiarkan siapapun mengetahui kisahnya termasuk siswa itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hasrat liar ayah tiri
8.1
Seorang gadis remaja mengira ayah tirinya adalah pelindung. Namun, sebuah tragedi berdarah memaksa mereka tinggal berdua. Di balik topeng kebaikannya, pria itu perlahan memikat sang putri tiri yang masih polos dengan rayuan dan sentuhan. Masa SMA gadis itu pun terenggut demi memuaskan obsesi sang ayah. Hubungan keluarga yang semula normal kini berubah menjadi skandal terlarang yang disimpan rapat-rapat dari dunia luar.
Sampul Novel Intelijen Tampan
9.7
Carlo Bandarez, agen rahasia Rusia berparas menawan, selalu menutup hati dari wanita walau banyak yang memujanya. Namun, hatinya goyah setelah bertemu kembali dengan sahabat kecilnya, Claudia Rodriguez. Meski Carlo berusaha meredam gejolak asmara tersebut, cinta di antara mereka justru semakin membara. Kini, ia menghadapi dilema pelik ketika diperintahkan menyelidiki kasus kejahatan ayah Claudia, Samuel Rodriguez. Carlo pun harus memilih antara loyalitas tugas atau perasaan cintanya.
Sampul Novel Karma Untuk Istri Durhaka
9.5
Demi mengamankan proyek besar, Melissa melakukan perjalanan bisnis selama setengah tahun. Namun saat pulang, ia justru menggandeng mesra klien utama mereka dalam kondisi hamil tiga bulan. Di hadapan sang suami, Edwin, klien tersebut menyombongkan pengorbanan Melissa sambil menyodorkan kontrak kerja sama. Melissa yang bangga dengan kehamilannya menuntut perceraian sebagai syarat tanda tangan. Tanpa ragu, Edwin merobek kontrak kotor itu dan menyetujui perceraian demi harga dirinya.
Sampul Novel Perjalanan Fantasi
9.5
Kehancuran hati akibat dikhianati sang kekasih tepat sebelum pertunangan membuat aktris berbakat, Keisha Yania Putri, tertidur lelap dalam kesedihan bersama kalung peninggalan ibunya. Begitu terbangun, ia mendapati dirinya terlempar ke dimensi asing yang misterius. Usai sempat disekap di sebuah gubuk, Keisha berhasil diselamatkan oleh seorang Pangeran dan Panglimanya. Petualangan baru ini pun memicu cinta segitiga. Siapa ksatria yang akhirnya berhasil memikat hati Keisha?
Sampul Novel SUAMI MADU TIGA
9.2
Pengusaha kaya raya, Sebastian Narendra Gunawan, berniat mempersunting seorang gadis payung untuk menjadi istri ketiganya. Namun, ambisi pria beristri dua ini tidak berjalan mulus karena dihadang berbagai rintangan emosional. Salah satu istrinya bahkan nekat melancarkan aksi teror demi menggagalkan rencana tersebut. Di bawah bayang-bayang ancaman yang menegangkan, akankah Naren berhasil memadu tiga istrinya, atau justru sang calon pengantin baru yang memilih mundur?
Sampul Novel Terjebak Pesona CEO Dingin
8.5
Dunia Arlena runtuh seketika akibat pengkhianatan sang kekasih. Saat terpuruk, kecerobohan asisten membuatnya salah masuk kamar hingga kesuciannya direnggut oleh Leonard Hartanto, CEO yang sombong. Takdir tak terduga mempertemukan mereka lagi dalam sebuah perjodohan keluarga. Demi menghindari jodoh pilihan sang ibu, Leonard yang didera rasa bersalah memutuskan menikahi Arlena. Di tengah kepedihan hati dan masa lalu kelam Leonard, mampukah pernikahan rapuh ini bertahan?