APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Lovely Angel

My Lovely Angel

Demi menyudahi tekanan sang ibu yang terus memaksanya kencan buta dan mengejeknya perawan tua, Renata akhirnya bersedia menikahi Dafa. Di sisi lain, sang CEO kaya raya berstatus duda anak dua itu setuju menikah hanya karena menuruti kemauan anak-anaknya yang mendambakan sosok ibu. Namun, Dafa masih belum bisa melupakan mendiang istrinya, Arin. Sanggupkah rumah tangga tanpa rasa cinta ini bertahan di saat hati Dafa masih tertutup rapat untuk masa lalunya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari ini Renata berangkat lebih awal karena ia tidak ingin terlambat dalam pertemuan dengan pemilik rumah sakit. Selain itu ia penasaran dengan si pemilik Rumah sakit tersebut yang kata para pegawai lain merupakan seorang Pria tampan. Karyawan rumah sakit bahkan sering membicarakan dan mengidolakannya.

"Benarkah? setampan apa sih memangnya?" ucap Renata penasaran.

"Mengapa aku jadi sepenasaran ini ya."  Renata menghela nafas kasar setelah bermonolog dengan dirinya sendiri.

Namun ada satu alasan lagi yang membuat semangat berangkat lebih awal adalah ia ingin segera mengunjungi bocah laki-laki yang kemarin menangis memanggilnya bunda.

"Semoga anak itu sudah membaik," ucap Renata dalam hati. Entah mengapa Renata merasa sayang sekali dengan anak itu meski baru melihatnya kemarin namun ada rasa lain yang membuat sayang dan ingin selalu menemui anak tersebut setelah mendengar cerita dari sang pengasuh kemarin.

"Bagaimana keadaanya hari ini?" gumam Renata lirih.

"Semoga kamu suka ya dek dengan apa yang aku bawain," ucap Renata menenteng rantang kecil berisi bubur ayam buatannya.

"Pagi suster Maria? ini data pasien yang harus saya kunjungi ya?" ucap Renata ramah.

"Pagi, Dok. Iya, Dok. Tumben dokter datang pagi sekali? Apakah dokter Ren juga ingin bertemu dengan orang tampan?" goda suster Maria.

"Ahhh suster Maria bisa aja, saya ingin menjenguk seseorang yang spesial makanya saya datang lebih awal sebelum kunjungan tapi jika nanti bisa bertemu orang tampan itu bonusnya, Sus. Hehehe," jawab Renata sambil terkikik.

"Tapi saya juga penasaran sih," batin Renata.

Renata menyusuri lorong demi lorong menuju ke arah ruangan Kafa. Sesampainya di depan kamar Kafa, Renata mengetuk pintu lalu masuk dan ia melihat seorang anak kecil duduk di ranjang sendiri bermain robot tanpa ada yang menemani.

"Astaga ... Kasihan sekali Kafa," batin Renata.

Sungguh miris hati Renata melihat itu  semua, pikirannya melayang membayangkan dirinya sewaktu kecil yang penuh kasih sayang dan membandingkannya dengan Kafa. Sesekali ia mencoba menempatkan dirinya seandainya ia menjadi Kafa. Setetes air mata itu turun begitu saja melihat ada seorang anak kecil yang sedang sakit dibiarkan sendiri tanpa perhatian apalagi kasih sayang.

Renata mengusap air matanya dengan cepat. Ia lantas mengembangkan senyuman ramah, menyapa Kafa yang dibalas senyuman dan pelukan oleh Kafa. Sungguh hatinya senang ketika melihat bocah kecil tersebut tersenyum dan memanggilnya dengan sebutan Bunda.

Renata bertanya mengapa Kafa sendirian  dengan polosnya bocah kecil tersebut menjawab jika ia bersama sang Kakak namun sang Kakak yang diketahui namanya Shafa sedang membelikan ia susu kotak kesukaannya di mini market rumah sakit.

Renata meletakkan paper bag di atas nakas, lalu mengeluarkan sebuah kotak yang berisi bubur. Dengan lembut Renata membujuk Kafa agar nau memakan bubur yang dibawakan sebelum meminum susu kotak kesukaannya. Kafa yang penurut mematuhi kata-kata Renata untuk memakan bubur yang dibawakan dan meminum obat dengan syarat Renata harus mau dipanggil Bunda dan mau menemaninya bermain. Tanpa berpikir panjang Renata pun menyetujui permintaan Kafa. Hal itu membuat Kafa bersemangat dan ingin cepat sembuh agar bisa bermain bersama Renata.

Beberapa saat kemudian seorang gadis berumur empat belas tahun datang dengan kantung plastik berisi susu kotak dan makanan ringan. Yap dia adalah Shafa kakak perempuan dari Kafa. Dengan senyum manisnya Shafa mendekat dan menyapa Renata serta mengucapkan terima kasih telah membantu membujuk adiknya makan dan minum obat. Kemudian Kafa memperkenalkan Shafa kepada Renata dengan polosnya ia bercerita kepada Shafa jika ia ingin bunda yang cantik dan baik seperti Renata yang ditanggapi dengan senyuman oleh Shafa. Renata pun hanya mendengarkan keseruan kakak beradik yang bercerita dan memutuskan untuk kembali ke ruangannya karena sepertinya ia harus segera bekerja, dengan tergesa-gesa Renata pergi menuju ruangannya berniat melakukan visit namun usahanya urung, lorong yang ingin ia lewati dipenuhi oleh karyawan yang menyambut kedatangan pemilik Rumah sakit. Renata menepuk  jidatnya dan berkata mengapa ia sampai lupa jika ia harus ikut menyambut pemilik Rumah sakit. Renata pun ikut bergabung dalam kerumunan tersebut berharap bisa melihat wajah sang pemilik Rumah sakit. Namun usahanya sia-sia karena ia hanya bisa menatap punggung si pemilik rumah sakit saja. Dengan kesal Renata pun membalik badan dan berjalan mencari jalan lain menuju ke arah ruangannya.

"Loh dokter Ren tidak ikut melihat Pria tampan?" Goda suster Maria.

"Sudah kok. Tapi saya telat, jadi saya hanya bisa melihat punggungnya saja sus," keluh Renata.

"Hanya melihat punggungnya saja sudah bisa membuat hatiku senang," batin Renata.

"Hahaha Dokter Ren kurang beruntung," ledek Suter Maria.

"Suster Maria sendiri kenapa tidak ikut menyambut?" tanya Renata heran.

"Saya sudah pernah bertemu bahkan bersalaman, Dok. Jadi saya sudah tidak penasaran lagi," ucap suster Maria sembari tersenyum lebar.

"Wah beruntung sekali anda sus. Ya sudah ayo mulai visit sus," ajak Renata.

Renata dan suster Maria pun memulai mengunjungi kamar pasien-pasien yang berada di dalam daftar visit pagi ini.

"Kurang satu pasien lagi, Dok."

"Oh ya? ruangan mana sus?" tanya Renata.

"Ruangan VVIP," sahut Maria.

Renata melangkah semangat menuju deretan ruangan VVIP hingga suster Maria berkata bahwa kamar VVIP yang akan mereka kunjungi ditempati oleh seorang anak laki-laki yang merupakan anak dari pemilik rumah sakit. Renata kaget karena kamar yang disebutkan oleh suster Maria tersebut adalah kamar Kafa bocah kecil yang menarik perhatiannya.

Dengan sebuah senyuman Renata masuk ke kamar Kafa, namun tak ditemuinya bocah kecil bernama Kafa di ranjang. Hal itu sontak membuat  Renata panik, namun kepanikannya berubah menjadi sebuah senyuman saat ia melihat seorang anak laki-laki berjalan menghampirinya dari dalam kamar mandi.

"Hai, Sayang bagaimana kabarmu hari ini? tante dokter khawatir sekali denganmu," ucap Ren mendekap erat tubuh mungil itu.

Tanpa Renata sadari ada seseorang yang berjalan di belakang Kafa yang sedang membawa tiang penyangga infus. Renata yang saat itu sedang memeluk Kafa dan mencium pipinya dengan gemas pun terkejut. Dengan reflek Ren berangsur mundur dan menghentikan aktifitasnya.

"Ma-maaf pak. S-saya tidak bermaksud lancang, S-ss saya sayang dan gemas kepada putra Bapak," ucap Renata dengan merendahkan tubuhnya lalu melepaskan Kafa dari dekapannya.

Tanpa membalas ucapan Renata, Dafa membawa Kafa dan membaringkannya di ranjang.

"Saya periksa dulu ya, Den?" ucap Renata kepada Kafa.

Renata menempelkan stetoskop di dada Kafa, Renata memeriksa Kafa dengan hati-hati dan teliti lalu melaporkan hasilnya kepada Dafa.

"Tekanan darahnya normal, suhu tubuhnya juga normal. Perutnya sudah tidak kembung lagi. Tinggal pemulihan saja, Pak," ucap Renata yang kemudian pamit karena telah selesai mengerjakan tugasnya.

"Sudah selesai, Saya pergi dulu, Pak. Permisi," ucap Renata sambil melangkah pergi.

Baru selangkah Renata berjalan tiba-tiba Kafa memanggilnya dan memohon untuk ditemani oleh Renata, namun karena rasa sungkan kepada Dafa, Renata membujuk Kafa dan berjanji akan bermain nanti setelah selesai pekerjaan yang diangguki oleh Kafa.

"Bunda ... bunda jangan pergi." Kafa merengek memohon kepada Renata untuk tetap tinggal.

"Temenin Kafa di sini dong bunda," rajuk Kafa.

"Sayang maaf ... Tante gak bisa, tante harus kerja tapi tante janji nanti pulang kerja tante temenin ya," bujuk Renata yang diangguki oleh Kafa.

Renata bernafas lega karena ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan membujuk bocah kecil itu. Kafa bahkan langsung menuruti setiap ucapan Renata.

"Syukurlah dia mau, aku pikir akan sulit membujuknya," batin Renata sembari melangkahkan kaki keluar ruangan.

Akhirnya Renata bisa menghembuskan nafas lega setelah keluar dari ruangan Kafa yang entah mengapa menjadi tidak nyaman karena kehadiran pria yang Kafa sebut ayah.

"Benarkah dia ayah Kafa?" batin Renata.

"Jadi bunda anaknya sih aku mau, tapi kalau jadi istri bapaknya yang super dingin itu aku bisa mati muda," gumam Renata pelan sambil berjalan menuju ruangannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Sang Kakak Ipar
9.7
Demi mengatasi masalah keuangan, Gavin memboyong istrinya, Aura, untuk menetap di kediaman sang kakak. Namun, keputusan ini justru menjerumuskan Aura ke dalam pusaran obsesi Adrian Mahendra. Sebagai konglomerat berhati dingin yang sangat berpengaruh, Adrian diam-diam mendamba adik iparnya tersebut. Lewat pengaruh dan taktik liciknya, Adrian mulai menyudutkan Aura, memaksanya goyah di antara komitmen pernikahan dan jerat pesona sang ipar yang kian sulit dihindari.
Sampul Novel Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
9.5
Kebahagiaan rumah tangga Adara Paramitha dan Garen Wijaya seketika runtuh akibat kecelakaan tragis yang menimpa Garen. Demi menyelamatkan nyawa suaminya, Adara terpaksa menerima bantuan finansial dari konglomerat Rian Kusuma. Namun, pertolongan tersebut menuntut bayaran mahal yang mengancam kesetiaannya. Di sisi lain, Kirana Senja selaku kekasih Rian mulai mencium adanya ancaman. Kini, mereka semua terjebak dalam dilema pengorbanan dan rahasia yang siap menghancurkan pernikahan Adara.
Sampul Novel Cinta dan Gairah 21+
8.1
Antologi romansa dewasa ini menyajikan kumpulan kisah penuh gairah dengan latar belakang tokoh yang beragam. Pembaca akan diajak menyelami dinamika emosional yang mendalam dari berbagai profesi, mulai dari kehidupan ibu rumah tangga, mahasiswa, kuli bangunan, hingga pesona para suami, manajer, dan CEO. Setiap cerita dirancang secara unik untuk memenuhi fantasi Anda melalui narasi yang memikat. Nikmati jalinan alur yang intens dan penuh warna di dalam buku ini.
Sampul Novel Cinta Yang Kau Balas Dengan Surat Cerai!
9.1
Saat menyiapkan makan malam, Amara dikejutkan oleh permintaan cerai suaminya, Damien Crowhurst. Meski mencintai Damien sejak awal perjodohan akibat kebangkrutan keluarganya, Amara sepakat berpisah dan menerima kompensasi besar. Sikap tenangnya membuat Damien dan Selene Marquette, wanita baru yang menghinanya, terkejut. Usai empat tahun terjebak dalam pernikahan dingin, Amara memilih pergi ke apartemen kecil demi merasakan kebebasan yang nyata.
Sampul Novel Ibu Susu Anak Hot Duda
8.4
Sejak pubertas, Lisa kerap mengalami pelecehan akibat kondisi fisiknya yang kelebihan hormon. Demi mengatasi produksi ASI yang melimpah, ia rutin memompa dan menyumbangkannya. Saat mulai lelah dengan rutinitas tersebut, sebuah tawaran datang dari utusan seorang konglomerat yang mencari ibu susu untuk bayi telantar. Lisa menerima pekerjaan itu tanpa menyadari bahwa keputusan ini akan menyeretnya ke dalam pusaran hidup sang ayah bayi, seorang duda yang siap mengancam kesuciannya dengan pesona yang berbahaya.
Sampul Novel Istri Kedua
7.9
Indira begitu bersemangat memulai pekerjaan barunya sebagai sekretaris pengganti di sebuah perusahaan raksasa. Namun, situasi menjadi canggung ketika ia tidak sengaja memergoki sang bos, Edbert, sedang bermesraan dengan istrinya, Merry. Tak disangka, Merry tidak marah dan malah meminta Indira untuk menikah dengan Edbert. Usulan poligami ini tentu membuat Edbert terkejut setengah mati. Akankah Indira bersedia menerima tawaran gila tersebut dan menjadi istri kedua?