APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Devil Bodyguard

My Devil Bodyguard

Vello, seorang mahasiswi yang sering dirundung, mengira hidupnya akan aman saat Dexter datang sebagai pengawalnya. Namun, sang pelindung justru berubah menjadi sosok kejam yang menjebloskannya ke dalam siksaan dan penderitaan batin. Anehnya, meski terjebak dalam neraka yang diciptakan oleh Dexter, Vello enggan pergi. Walaupun peluang untuk meloloskan diri selalu terbuka lebar, ia secara sadar memilih bertahan dan tidak mau selangkah pun menjauh dari sisi sang bodyguard.
Bab
Bagikan

Bab 2

DOR!! DOR!! DOR!!

Suara tembakan saling bersahutan dalam dinginnya dinding gedung terbengkalai di sudut kota Virginia.

“Ia hanya membawa dua puluh orang untuk menyambutku? Apakah ia sedang mencoba meremehkanku?” gumam seorang pria dengan balutan jaket kulit berwarna hitam serta celana senada yang tengah bersembunyi di balik pilar untuk sementara waktu, sedang tangannya sibuk mengisi kembali pelurunya.

Bibirnya berdecap dan sesaat kemudian seringai kejinya terbit seiring peluru kembali melesat dari desert eagle miliknya. Menumbangkan satu persatu pria berjas hitam bersenjata yang terlambat menekan trigger pistolnya.

Tak ada peluru yang terbuang percuma. Semua tembakannya tepat mengenai sasaran dada ataupun kepala para musuhnya hingga menyisakan satu pria paruh baya yang saat ini tengah berjalan mundur ketakutan menatap seringai bengis pria di depannya.

“To-tolong, ja-jangan bunuh aku.”

“Maaf kau bicara apa? Aku tidak bisa mendengar jelas suara gagapmu itu,” tanyanya berpura-pura mendekatkan telinga.

“Ja-jangan bunuh aku. Tolong.”

Kucuran keringat dingin sudah membasahi wajah yang kini tampak semakin pucat seiring dengan langkah pria di depannya yang kian dekat.

Pria bermata hijau kecokelatan itu terkekeh yang justru terdengar seperti nyanyian iblis di bawah pendengaran pria paruh baya itu.

“Kalau begitu memohonlah lagi padaku.”

“Tolong jangan bunuh aku.”

Pria itu berlutut dengan penuh rasa takut berharap ada sedikit iba yang menyentuh pria muda di depannya.

DOR!

Teriakan kesakitan memecah kegelapan malam. Pria paruh baya itu terduduk seraya menahan sakit di pahanya.

“Oh, maafkan aku. Pistolku tak sengaja menembakmu,” ujarnya dengan nada menyesal yang sangat berbeda dengan senyuman kebahagiaan yang terbit sesudahnya.

“A-aku akan berikan apa pun padamu. To-tolong jangan bunuh aku,” katanya terbata menahan luka.

Pria muda itu memiringkan wajahnya, menikmati setiap inci ketakutan yang tergambar di wajah pria di depannya. Ia menyalakan rokok yang baru diambilnya dari saku celana.

“Benarkah? Apa yang bisa kau tawarkan padaku?” Dihisapnya rokok itu sekali kemudian dipandangnya sesaat.

Ia sedikit berjongkok. Menekan puntung rokok yang menyala itu kepada luka tembak di paha yang baru tadi ia ciptakan. Segera saja teriakan kesakitan kembali terdengar dan itu sangat merdu di telinga pria berjaket hitam itu.

Belum merasa puas, ia kembali berdiri tegak. Membuang puntung rokoknya asal. Dengan sengaja ia menekan luka tembak di paha pria itu dengan sepatu hitamnya dan teriakan kembali menyambut pendengarannya yang mungkin menyayat hati pada setiap orang yang mendengar namun tidak baginya. Sangat menyenangkan.

Ia selalu menyukai teriakan dan kesakitan dari setiap orang yang menjadi targetnya. Sedikit bermain-main dengan mereka sebelum ia melangkahi tangan Tuhan untuk mempercepat ajal para targetnya adalah hiburan tersendiri baginya.

“Uang? Aku memiliki banyak uang untukmu.”

“Bagaimana bila aku meminta yang lain saja?” tanyanya santai tak berminat dengan melirik jam di pergelangan tangannya seakan perbincangan mereka hanya sebuah obrolan ringan di sore hari.

“Apa yang kau minta?” Udara serasa tercekat di dadanya seiring sakit pada luka yang terus menguar di sekujur pahanya.

Pria berambut brunette itu berjongkok, menyetarakan tinggi dengan pria berbadan tambun yang sudah terduduk lemah. Ia menyeringai. Sangat menyukai wajah korbannya yang semakin memucat seiring darah yang terus mengucur pada luka tembaknya.

Ia mengeluarkan sebuah pisau dari balik celananya. Memperlihatkan benda tajam itu di depan wajah korban yang kini terbelalak tak sanggup bila benda itu turut mengoyak tubuhnya.

“Aku ingin kau menyampaikan salam pada kawan lamaku. Lucifer di neraka.”

Ia menyeringai lebar dan seiring dengan itu pisau langsung menancap dalam menembus rahang hingga dinding mulut pria paruh baya itu. Darah memercik ke sekitar termasuk pakaian pria muda tersebut.

“Terima kasih sudah menghiburku, Pak Tua.”

***

“Mr. Quinton sudah menunggumu di dalam.”

Pria berjaket kulit hitam itu hanya mengangguk sekilas pada salah satu rekan berjas hitam yang tengah berjaga di sisi pintu.

“Mr. Quinton.” Sapanya setelah memasuki ruangan dengan furnitur kayu klasik mewah yang dapat dengan jelas menyuarakan seberapa berkuasanya pemilik ruangan tersebut.

Kursi dengan punggung tinggi itu tengah menghadap kaca lebar yang menyuguhkan pemandangan kota New York, kini berputar, menampilkan pria tua berambut dan jenggot putih yang menghiasi wajah yang berangsur keriput. Namun, tubuh gagah dengan lekukan otot di tubuhnya masih jelas tercetak di kemeja putih dengan tiga kancing teratas yang dibiarkan terbuka, hingga menampakkan bulu halus dadanya serta lengan baju yang ia gulung hingga siku, menunjukkan hiasan tato di sepanjang lengan berototnya.

“Duduklah, Dexter.” Jemari yang tengah mengapit cerutu itu memberi kode untuk mempersilakan pria muda di depannya untuk duduk.

“Terima kasih, Sir.”

Ia mengibaskan tangan di depan wajah dengan malas. “Sudah berulang kali kubilang, panggil aku Vernon jika hanya kita berdua.”

Dexter menarik ujung bibirnya hampir tak terlihat. “Maafkan aku.”

“Kudengar kau sudah menyelesaikan tugas dari klien kita kemarin?”

“Ya, aku sudah melenyapkannya,” jawabnya datar.

Vernon tertawa bangga. “Kau memang selalu bergerak rapi dan cepat.”

Dexter hanya memandang datar atasannya. Ia menunggu basa basi yang sedang berlangsung ini untuk segera berakhir. Tidak mungkin ia dipanggil hanya untuk mendengar pujian dari seorang Vernon Quinton.

“Kau adalah salah satu senjata andalanku. Apakah kau tahu itu?” Vernon menyesap cerutunya penuh nikmat.

“Terima kasih, Vernon.”

“Kau berhak mendapatkan cuti. Tenang saja kau tetap mendapat bayaranmu.”

“Apa maksudmu?”

“Kau bukan benda. Meskipun kau adalah senjata unggulanku, tetapi kau tetap manusia. Kau butuh merenggangkan ototmu untuk siap menerima misi dari klien selanjutnya.”

Vernon Quinton merupakan pemilik dari perusahaan swasta terbesar di Amerika Serikat yang menyediakan jasa keamanan berupa alat hingga bodyguard untuk lingkup pribadi maupun corporate dan juga beberapa perusahaan dalam bidang pertambangan serta perhotelan.

Namun, tidak banyak pihak yang tahu jika perusahaan milik Vernon juga bergerak di bawah tanah dalam menyediakan jasa pembunuh bayaran. Pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh Dexter dan beberapa rekannya.

Vernon mengeluarkan sebuah paspor dari laci mejanya. Meletakan di atas meja dan mendorongnya dengan kedua jari ke arah Dexter. Terdapat tiket pesawat yang terselip di dalam paspor tersebut.

“Lusa, kau akan menjalankan tugas sebagai bodyguard di London. Kau hanya akan menjaga seorang nona muda di sana. Pergunakan waktumu dengan baik,” ujar Vernon setelah kembali menyesap cerutunya dan menopang siku pada bagian tangan kursi.

“Aku akan menghubungimu saat misi selanjutnya telah dating,” imbuhnya mengakhiri pembicaraan dengan memberi kode dengan dagunya.

Dexter berdiri mengangguk hormat setelah mengambil paspornya. Ia segera berlalu meninggalkan ruangan Vernon dengan langkah tegap tanpa ada yang tahu bahwa terdapat gemuruh di dadanya ketika mendapatkan kabar tersebut.

Ia mengumpat seiring dengan langkah lebarnya meninggalkan gedung perusahaan Vernon. Cuti? Menjadi seorang bodyguard? Apakah Vernon mulai meragukan kemampuan kerjanya sehingga ia menurunkan job desc untuknya dan harus menerima pekerjaan rendahan seperti itu?

Ia kembali mengumpat karena tak ada yang bisa ia lakukan selain menjalankan perintah itu. Ia terlalu menyegani Vernon untuk sekadar membantah perintahnya.

Dexter mendesah pasrah. Ia kembali menekankan dalam dirinya untuk sabar menunggu misi selanjutnya sesuai janji Vernon.

...To Be Continued...

Makasi banyak sudah baca chapter ini. Jangan lupa tinggalkan komentarmu ya. Segala info tentang karya dan visual bisa cek di IG @saltedcaramely_

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Neraka dalam Pernikahanku
9.0
Pernikahan impian Diane berubah menjadi mimpi buruk yang menyiksa. Alexavier Caspian, sang suami, memperlakukannya dengan sangat kejam dan hanya memanfaatkannya demi pemuasan hasrat seksual semata. Saat berhubungan intim, Alex justru membayangkan perempuan lain dan menolak memiliki anak. Di tengah tangisan dan tekanan batin yang mendalam, Diane dipaksa melayani nafsu suaminya. Apa sebenarnya alasan di balik kekejaman Alex yang sengaja menghancurkan hidup istrinya?
Sampul Novel Rahasia Sang CEO
8.5
Trauma masa lalu membuat Chris tumbuh menjadi pria sinis. Ia menyaksikan bagaimana sang ayah, Howard, menolak bercerai dari ibunya, Jane, demi melampiaskan dendam akibat perselingkuhan. Di tengah kehancuran rumah tangga tersebut, Jane sangat berharap putra tunggalnya itu bisa segera menikah. Namun, Chris justru bersumpah hanya akan membina rumah tangga setelah ia berhasil menyakiti dan menghancurkan hati banyak wanita sebagai bentuk pelampiasan rasa sakitnya.
Sampul Novel Simpanan Om Tampan
9.1
Leonora Cheryl tidak mampu menghalau ketertarikan terlarang pada Gavin, suami dari Diandra yang merupakan tantenya sendiri. Karena tinggal serumah, hubungan mereka kian dekat hingga melewati batas moral. Hubungan rahasia penuh risiko pun terjalin di antara keduanya. Di balik dinding pengkhianatan terhadap keluarga sendiri, Leonora dan Gavin kini terhanyut dalam asmara gelap yang menentang logika serta norma sosial yang berlaku.
Sampul Novel Stay With Me (Gaza dan Clara)
9.5
Pernikahan paksa akibat insiden tak terduga menyatukan Gaza dan Clara dalam ikatan tanpa cinta. Seiring waktu, rasa terpaksa itu terkikis saat mereka menyadari perasaan tulus yang rupanya telah lama terpendam. Namun, kebahagiaan mereka langsung diuji begitu pengakuan cinta terucap. Berbagai rintangan berat kini datang bertubi-tubi mengancam komitmen baru mereka. Mampukah hubungan yang berawal dari ketidaksengajaan ini bertahan melewati badai ujian?
Sampul Novel Tarian Aksara
8.5
Sambil menangis di atas kursi roda, Ara meratapi kepedihan hidupnya di bawah langit senja. Ia merasa takdir begitu tidak adil padanya. Namun, Aksa hadir sebagai sahabat setia yang berjanji untuk selalu mendampingi gadis bermata hazel tersebut. Di tengah keputusasaan Ara yang mendalam, Aksa memohon agar ia tetap bertahan. Kisah ini menyoroti perjuangan berat menerima kenyataan hidup yang pahit dengan dukungan tulus dari orang terdekat.
Sampul Novel Terjebak Gairah Cinta Abang Tiri
9.1
Setelah ibunya menikah lagi, Winona harus tinggal satu atap dengan Arthur, kakak tirinya yang terkenal nakal dan dingin. Arthur menolak pernikahan ayahnya, menganggap Winona dan Rosalie hanya mengejar harta. Namun, sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Saat Winona merawatnya, pesona adik tiri kecilnya mulai menggoyahkan hati Arthur. Sang Casanova berjuang menahan hasratnya terhadap gadis berusia 15 tahun itu. Akankah Winona menyerah pada pesona kakak tirinya, atau bisakah ia melawan api yang perlahan membakarnya?