APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Adorable CEO

My Adorable CEO

Yatim piatu sejak kecil, dua bersaudara Van Willem dibesarkan oleh pelayan setia mereka. Kini, sang kakak mengendalikan bisnis keluarga, sedangkan Irish bekerja di sebuah perusahaan raksasa. Takdir mempertemukan Irish dengan atasannya, CEO kaya raya yang populer di kalangan wanita. Hubungan mereka memicu konflik rumit saat deretan mantan kekasih sang bos hadir, memicu kesalahpahaman hebat antar-pimpinan perusahaan yang berujung pada ancaman nyawa.
Bab
Bagikan

Bab 3

Semilir angin berembus menusuk kulit. Daun-daun kering berguguran di buatnya. Brrr ... dingin sekali musim dingin kali ini. Seorang gadis berjalan terburu-buru sambil sesekali melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Mengancingkan Cardigan Rajutnya karna memang cuaca pagi itu sangat dingin.

"Taksi!" teriak Irish pada sebuah taksi. Ia bergegas masuk, namun ia terkejut karena pada saat bersamaan seorang pemuda masuk ke dalam taksi juga. "Eh kau siapa?" ucap Irish galak.

"Kau yang siapa? Aku yang masuk duluan. Keluar sana!" pemuda itu kesal.

"Enak saja. Sudah jelas aku duluan yang masuk ke dalam taksi ini. Kau yang keluar!" Irish mendorong pemuda itu.

"Maaf—Tuan dan Nona, kalian ingin pergi ke mana?" ujar pak sopir menyela.

"Diam!" Keduanya membentak si sopir, hingga sopir itu tersentak kaget dan terdiam. Ia tampak sangat ketakutan.

"Kau keluar!" Irish membuka pintu taksi dan mendorong pemuda itu. "Jalan pak!" Irish menutup pintu taksi. Dia menoleh ke belakang dan melihat pemuda itu tengah kesal.

"Perempuan gila!" teriaknya menyepak angin di atas aspal. Sementara taksi yang di naiki Irish berhenti di sebuah perusahaan.

❣❣❣

Benjamin van De Haan masuk ke dalam rumahnya, dia melangkah dengan begitu cepat tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Beberapa pelayan hanya memperhatikan tanpa berani menyapanya. Ben, begitulah panggilan akrabnya, masuk ke dalam kamar, dan melempar jaketnya ke sofa. Dia langsung menjatuhkan badannya di atas ranjang, ingatannya kembali pada kejadian pagi tadi.

"Hiissss ... wanita sialan!" gerutu Ben. "Awas saja kalau sampai aku bertemu dengannya lagi".

Tok ... tok ... tok!

Terdengar suara pintu diketok, seorang wanita masuk ke kamar.

"Kau sudah pulang, sayang?" wanita itu berjalan mendekati Ben dan duduk di samping Ben. "Kenapa mukamu terlihat kesal?" tanya wanita itu dengan lembut.

"Tidak ada apa-apa hanya sedikit letih. Apa aku harus melakukannya besok? Rasanya aku belum siap." Ben menghela napas.

"Ini hanya sementara, sayang." Mengusap lembut rambut Ben, kemudian beranjak meninggalkan Ben di kamar. "Ah—Ibu, masak masakan kesukaanmu. Turunlah jika kau lapar. Sudah lama kita tidak makan bersama sejak kau memilih tinggal di apartemen."

"Ya, nanti aku akan turun," jawab Benjamin. Pemuda itu menghela napas panjang dan mengembuskannya, dia berpikir apakah dia benar-benar sanggup melaksanakan amanah Ayahnya untuk menggantikannya sementara.

❣❣❣

Hujan rintik-rintik di sore hari, jalanan penuh dengan genangan air. Tampak seorang gadis masuk ke sebuah cafe dan memesan Chocolate Orange. Terlihat seorang pemuda yang sedang memperhatikannya terus. Ketika hendak membalikkan badan ....

Bruukkk ....

Irish bertabrakan dengan seorang pemuda dan minuman coklat orange yang dia bawa tumpah mengenai baju pemuda itu.

"Dasar ceroboh! Mana tumpah lagi dibajuku!" pemuda itu ngomel-ngomel.

"Maaf ... maaf!" Irish langsung mengambil tisu dan membersihkannya. Ketika mata mereka saling pandang. Irish pun sudah bisa menerka kalau pemuda ini adalah orang yang tempo hari dia usir dari taksi.

"Sepertinya wajahmu sangat familiar!" pemuda itu berusaha mengingat-ngingat. "Ah ... kau kan perempuan yang mengusirku dari taksi waktu itu, kan?" Ben menunjuk wajah gadis itu dengan jari telunjuknya.

"Hah? Maaf mungkin anda salah orang," ucap Irish langsung nyelonong pergi.

"Hei ... sopan sekali kau ini, apa orang tuamu tidak mengajari sopan santun!" Ben berjalan mengikuti Irish dan langsung menarik kasar tangan Irish.

"Apa seperti ini seorang laki-laki memperlakukan seorang perempuan di tempat umum?" Irish langsung menginjak kaki Ben dan langsung keluar cafe menyetop taksi.

"Auww!" teriak Ben ketika gadis itu menginjak kakinya. "Perempuan sialan! Baru kali ini ada perempuan yang berani melawanku!" seketika Ben sadar kalau pandangan semua pengunjung cafe tertuju ke arahnya. "Sial!" ucap Ben menahan malu dan bermaksud pergi dari cafe, tapi dicegah seseorang.

"Maaf Tuan, Anda belum membayar makanan anda!" ucap pelayan cafe itu dengan ramah. Ben kaget dan langsung memberi uang pas dan pergi menuju mobilnya.

❣❣❣

Bip ... bip ... bip ....

Pintu terbuka, Irish melepas sepatunya dan langsung masuk duduk di sofa.

"Oh ... kau sudah pulang?" suara Alex dari dapur mengagetkan Irish.

"Kak Alex sudah pulang? Tidak seperti biasanya ...." Irish mendongak ke arah dapur.

"Ditanya, kenapa malah balik bertanya!" Alex berjalan sambil membawa segelas teh. Irish masih mikir mencerna perkataan kakaknya.

"Itu kenapa mukamu dilipat-lipat seperti kertas kusut saja!" tanya Alex yang duduk di sebelah Irish.

"Lagi kesal sama orang, Kak!" Irish menarik napas panjang dan langsung mengembuskan lagi.

"Kenapa? Ada yang mengganggumu?" tanya Alex, "Biasanya kalau soal seperti ini langsung curhat sama Kakak."

"Yang jelas itu, aku benci dia. Waktu itu, aku usir dia dari taksi dan hari ini aku menumpahkan coklat ke bajunya." Bla ... bla ... bla ... Irish menjelaskan panjang kali lembar kali tinggi.

"Pasti kau tidak langsung minta maaf sama dia." Alex menghela napas dan meminum tehnya.

"Aku injak kakinya!" ceplos Irish dan Alex menggeleng-gelengkan kepala.

"Memangnya Kakak mengajarimu seperti itu, Irish?" Alex menggetok kepala adiknya. Alex sudah hafal betul dengan watak adiknya ini. "Lain kali kau tidak boleh seperti itu, sudah tahu salah, ya minta maaf. Wajar saja kalau dia marah-marah, orang kau sendiri tidak meminta maaf. Lain kali kalau bertemu dengan dia lagi langsung minta maaf." Alex menasehatinya.

"Jangankan minta maaf, ketemu saja sudah ogah, Kak!" Irish mengerucutkan mulutnya karena masih kesal.

"Jangan bilang seperti itu, pamali loh!" Alex berjalan menuju meja makan. "Apa kau sudah makan? Kakak membeli makanan kesukaanmu, bersihkan dirimu terlebih dahulu, baru kita makan."

Irish mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Alex menyiapkan piring dan segelas air putih untuk adik kesayangannya itu. Selepas mandi, Irish langsung menuju ke meja makan.

"Ceker pedas!" ucap Irish ketika membuka bungkusan di meja, dia pun langsung terdiam menatap makanan itu. Alex yang menyadarinya langsung mendekati Irish memegang pundak gadis itu.

"Kenapa?" tanya Alex. "Apa kau teringat Ayah dan Ibu?" tanyanya lagi. Irish hanya diam menunduk, mengingat Ibunya selalu membuatkannya ceker pedas dan dimakan bersama dengan Ayah, Ibu, dan Kakaknya ketika menonton TV.

"Ayah dan Ibu sudah tenang di alam sana, sudah jangan bersedih lagi. Ayo di makan," kata Alex mencium kepala Irish. Dia pun memakan dengan lahap bersama dengan Alex. Selesai makan malam Irish langsung mencuci piring dan gelas juga membersihkan meja makan. Setelah itu Irish berjalan menuju ke ruang kerja kakaknya dan melihat kakaknya sedang membaca buku.

"Kak, aku mau istirahat dulu," ucap Irish.

"Kakak tahu kau sangat merindukan mereka. Bagaimana kalau besok kita ke makam Ayah dan Ibu." Alex menutup buku dan melepas kacamatanya menatap Irish dan gadis itu hanya mengangguk, "Baiklah besok pulang kerja kakak akan menjemputmu."

"Baiklah Kak. Selamat malam, selamat beristirahat. Kak Alex juga jangan tidur terlalu malam," ujar Irish, kemudian berlalu dari ruang kerjanya.

Ayah ... Ibu ... Irish sudah tumbuh menjadi gadis yang ceria dan kuat sekarang. Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir lagi, aku berjanji akan menjaganya sampai Irish menemukan seseorang yang benar-benar bisa menjaganya, 'batin Alex, lalu berdiri kemudian mematikan lampu duduk dan beranjak menuju kamarnya.

TO BE CONTINUE

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Api Dendam di Masa Lalu
8.9
Hidupku berakhir tragis saat Arifin, suamiku, membiarkanku tewas dalam mobil yang terbakar demi menyelamatkan selingkuhannya. Tragisnya, itu adalah pembunuhan berencana demi menguasai warisanku. Namun, takdir berkata lain. Aku terbangun di masa kuliah dengan ingatan masa depan yang utuh. Menatap Arifin yang tampak tak berdosa, aku kini tahu kelicikan di balik wajah itu. Kesempatan kedua ini akan kugunakan untuk membalas dendam dan menghancurkan para pengkhianat.
Sampul Novel Berpura-pura Amnesia Membuatnya Kehilangan Segalanya
8.1
Pasangan beta-ku, Kyan, mendadak hilang ingatan usai diserang serigala liar. Dia melupakan kehamilanku dan justru berpaling pada Gamma Evelyn. Setelah dihina sebagai kasta rendah, aku memutuskan ikatan kami. Namun, saat aku bersiap mendampingi Raja Alpha, Kyan kembali dengan penyesalan mendalam dan menanyakan anak kami. Dengan dingin, aku menegaskan janin itu telah tiada lalu pergi memulai hidup baru.
Sampul Novel Rumah Tanggaku
9.0
Banyak pengantin baru mendambakan pernikahan yang sempurna, tetapi kenyataan yang aku jalani justru sebaliknya. Hidup bersama mertua menuntut kesabaran ekstra saat berbagai konflik mulai bermunculan. Selain harus memutar otak demi mengatur anggaran belanja yang melonjak, aku juga didera tekanan batin karena belum juga dikaruniai momongan. Saat ujian hidup datang silih berganti menghantam kami, mampukah aku tetap bertahan menjaga keutuhan pernikahan ini?
Sampul Novel Si Beta Mencampakkanku, Lalu Aku Merebut Rajanya.
9.5
Bram, seorang Beta, tega mencampakkanku di altar demi serigala liar bernama Marina. Pengkhianatan setelah enam tahun bersama ini mempermalukanku di depan Raja Alfa dan seluruh benua. Di tengah keputusasaan di sebuah bar, aku menawarkan diri kepada sang Raja Alfa yang juga paman Bram. Siapa sangka, takdir mengungkap bahwa sang Raja adalah pasangan sejatiku. Kini, peluang emas terbuka lebar bagiku untuk membalas rasa sakit hati atas pengkhianatan Bram.
Sampul Novel Tetap mencintaimu
9.6
Ketulusan Keyzia Khanza dalam mencintai Yahya Al-Zayyan begitu menguras energi. Bersama dukungan para sahabat, ia akhirnya menyadari bahwa berharap pada manusia hanya akan menggoreskan luka. Bagi mereka, pernikahan adalah ikatan suci yang jauh lebih tinggi daripada pacaran, dengan takdir Tuhan sebagai penentu akhir. Walau badai dan perpisahan mengintai, Keyzia dan Yahya memilih saling menjaga rasa lewat diam dan doa, berharap cinta mereka abadi hingga ke jannah tanpa melukai siapa pun.
Sampul Novel Yang Belum Terucap
8.1
Niat baik Mora menampung seseorang di apartemennya justru menjadi awal dari berbagai masalah rumit. Di tengah perjuangan menyelesaikan kekacauan itu, tantangan baru muncul saat benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Meski kini harus berjuang sendirian setelah ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya, Mora tidak pernah menyesali keputusannya. Ia terus bertahan dan berupaya keras demi memulihkan kembali kehidupannya yang sempat hancur seperti sediakala.