APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MUSIM DI ANTARA KITA

MUSIM DI ANTARA KITA

Pertemuan dua orang berusia empat puluh tahun terjadi saat keduanya masih dibayangi trauma perceraian masa lalu. Menjalani fase hidup yang baru, mereka menyadari bahwa merajut asmara di usia dewasa menyajikan rintangan yang jauh lebih kompleks. Konflik keluarga dari kehadiran anak-anak, bayang-bayang mantan pasangan, hingga benturan ambisi pribadi terus menguji hubungan mereka. Kisah perjuangan mencari arti cinta sejati di tengah rumitnya dinamika kehidupan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi hari setelah malam yang penuh gairah di teras hotel, Alyssa bangun dengan perasaan campur aduk. Udara pagi yang sejuk menyapu wajahnya melalui jendela kamar, tetapi pikirannya masih terjebak dalam keruwetan kemarin malam. Dia mengingat ciuman dan sentuhan Adrian dengan jelas, namun rasa bahagia itu disertai dengan kilasan memori yang mulai muncul kembali.

Dengan sedikit rasa berat, Alyssa bangkit dari tempat tidur dan memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk dirinya sendiri. Dia berjalan ke dapur kecil di apartemennya dan membuat secangkir kopi, mencoba menghilangkan keraguan yang mengganggu pikirannya. Saat kopi mengalir di dalam cangkirnya, Alyssa melihat ke luar jendela, menatap langit pagi yang cerah, berusaha menghilangkan bayangan malam sebelumnya.

Sambil menunggu kopi siap, Alyssa duduk di kursi dekat meja makan dan membuka album foto lama yang tersimpan di laci meja. Album itu adalah kumpulan kenangan dari masa lalu-foto-foto pernikahan, liburan, dan momen-momen bahagia dengan suami pertamanya, David. Saat matanya menyusuri foto-foto tersebut, ia merasakan campur aduk emosi yang sulit diungkapkan.

Di salah satu foto, ia dan David tampak bahagia di hari pernikahan mereka. Senyum mereka tampak tulus, namun Alyssa tahu betul bahwa itu hanyalah fasad dari kenyataan yang lebih rumit. Perceraian mereka, yang awalnya dimulai dengan ketidakcocokan kecil, semakin membesar hingga mengoyak semua harapan yang pernah mereka miliki.

Dia berusaha keras untuk melupakan, untuk menyembunyikan rasa sakit dari masa lalu dan melanjutkan hidupnya. Namun, malam bersama Adrian telah menggugah kembali kenangan yang seharusnya sudah lama terkubur.

Alyssa memandangi foto-foto pernikahan dan memikirkan semua impian dan janji yang pernah dia buat. Dia mengingat saat-saat bahagia ketika mereka baru saja menikah, saat semuanya terasa mungkin dan penuh harapan. Namun, lambat laun, kebahagiaan itu memudar, digantikan oleh rutinitas yang monoton dan ketidakpuasan yang terus membesar hingga akhirnya meledak menjadi perceraian.

Malam bersama Adrian bukan hanya membangkitkan gairah yang telah lama hilang, tetapi juga menyoroti betapa lama dia merasa hidup. Sentuhan dan ciuman Adrian memberi Alyssa rasa hidup kembali-sesuatu yang dia rasakan sudah lama tidak ia miliki. Namun, perasaan itu disertai dengan keraguan. Apakah dia hanya melarikan diri dari kenyataan dengan terjun ke dalam hubungan baru, ataukah ini adalah kesempatan untuk sesuatu yang lebih baik?

Di tengah kekacauan emosional ini, Alyssa memutuskan untuk menjauh dari album foto dan berfokus pada hidupnya saat ini. Dia mengambil ponselnya dan melihat pesan-pesan dari Adrian. Pesan terakhirnya penuh dengan kerinduan dan harapan untuk bertemu lagi. Membaca pesan itu, Alyssa merasa dilema. Dia merindukan kehadiran Adrian, tetapi di saat yang sama, dia takut mengulangi kesalahan masa lalu.

Alyssa memutuskan untuk pergi keluar, mencari cara untuk mengalihkan pikirannya dari kenangan yang membebani dirinya. Dia mengenakan pakaian santai dan keluar dari apartemennya menuju taman kota. Dengan setiap langkah yang diambilnya, dia berusaha untuk merenung dan memberi ruang bagi dirinya untuk berpikir secara jernih.

Di taman, dia duduk di bangku dan memandang anak-anak yang bermain, pasangan-pasangan muda yang berjalan bergandengan tangan, dan orang-orang yang tampak menikmati hari mereka. Dia merasakan rasa kesepian dan kerinduan yang mendalam, namun juga ada sedikit harapan yang tumbuh.

Alyssa menyadari bahwa meskipun dia mungkin belum siap untuk sepenuhnya membuka hati kepada Adrian, dia tidak bisa menolak kenyataan bahwa dia merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Mungkin inilah waktunya untuk menghadapi ketakutannya dan memberi kesempatan pada dirinya untuk merasakan kebahagiaan lagi.

Saat matahari mulai tenggelam dan langit berwarna oranye kemerahan, Alyssa memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Dia meresapi momen-momen tersebut dengan harapan baru. Dia tahu bahwa perjalanan ke depan tidak akan mudah dan penuh dengan tantangan, tetapi malam kemarin dengan Adrian telah memberi dia keberanian untuk melangkah maju dan menghadapi ketidakpastian dengan lebih terbuka.

Dengan perasaan campur aduk yang lebih teratur, Alyssa mengirimkan pesan singkat kepada Adrian, mengatakan betapa dia menghargai malam mereka bersama dan berharap mereka bisa melanjutkan percakapan mereka. Meskipun dia masih harus menghadapi banyak hal dari masa lalu, dia merasa lebih siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.

Alyssa kembali ke apartemennya dengan langkah yang lebih ringan. Meskipun pikirannya masih berputar tentang kenangan masa lalu, dia merasa sedikit lebih tenang. Dia duduk di meja makan, memandangi ponselnya yang bergetar. Pesan dari Adrian kembali muncul di layarnya.

Adrian: "Aku sangat ingin bertemu lagi. Bagaimana kalau kita makan malam besok malam? Aku tahu tempat yang bagus."

Alyssa menarik napas dalam-dalam sebelum membalas pesan itu.

Alyssa: "Aku juga ingin bertemu lagi. Bagaimana kalau kita bertemu di kafe yang kita kunjungi malam itu? Pukul 7 malam?"

Dia mengirimkan pesan tersebut dan menunggu balasan. Saat itu, dia merasa gelisah tapi juga bersemangat. Dia ingin melihat Adrian lagi, namun ia tahu bahwa perasaannya masih campur aduk.

Keesokan harinya, setelah seharian bekerja, Alyssa menuju kafe yang mereka kunjungi sebelumnya. Kafe itu terletak di sudut jalan yang tenang, dihiasi dengan lampu-lampu lembut dan suasana yang hangat. Ketika dia tiba, Adrian sudah duduk di meja yang sama, menunggu dengan secangkir kopi di depannya.

Adrian melihat Alyssa masuk dan tersenyum lebar. "Hei, Alyssa. Aku senang kamu datang."

Alyssa membalas senyum itu, meskipun ada rasa gugup di dalam hatinya. "Hai, Adrian. Terima kasih sudah mengundangku lagi."

Adrian berdiri dan menarik kursi untuk Alyssa. "Silakan duduk. Aku sudah memesan untuk kita berdua."

Alyssa duduk, merasakan tatapan Adrian yang penuh perhatian. Mereka memesan makanan dan memulai percakapan.

"Bagaimana harimu?" tanya Adrian dengan nada penuh minat.

"Cukup sibuk," jawab Alyssa sambil menyesap kopi. "Tapi aku senang bisa meluangkan waktu untuk ini."

Adrian mengangguk. "Aku juga. Aku terus berpikir tentang malam lalu. Aku merasa ada sesuatu yang benar-benar istimewa di antara kita."

Alyssa menatap Adrian, merasakan rasa hangat di hatinya. "Aku merasakannya juga. Tapi aku juga masih berpikir tentang apa yang kita lakukan dan apa artinya ini untuk kita."

Adrian menghela napas. "Aku tahu. Kita berdua membawa banyak luka dari masa lalu. Tapi mungkin itu yang membuat kita lebih memahami satu sama lain."

Alyssa mengangguk. "Itu mungkin benar. Namun, aku merasa seperti harus menjaga jarak, setidaknya sampai aku bisa benar-benar memahami perasaanku."

Adrian menatapnya dengan penuh perhatian. "Aku mengerti. Aku tidak ingin membuatmu merasa terburu-buru. Aku hanya ingin kita bisa saling mengenal lebih dalam, tanpa tekanan."

Makanan datang, dan mereka melanjutkan percakapan sambil makan. Ada kehangatan yang tumbuh di antara mereka, dan Alyssa merasa lebih nyaman seiring berjalannya waktu. Namun, meskipun suasana semakin santai, perasaan keraguan masih ada di benaknya.

Saat makan malam hampir selesai, Adrian memutuskan untuk membuka topik yang lebih pribadi. "Alyssa, bagaimana kamu bisa menghadapi masa lalu setelah perceraianmu? Aku merasa seperti aku masih berjuang dengan banyak hal."

Alyssa menatap Adrian, merasakan empati yang dalam. "Aku juga merasa sama. Kadang-kadang, aku merasa seperti aku harus terus melawan bayangan masa lalu. Tapi aku tahu bahwa aku harus memberi diri aku kesempatan untuk sembuh."

Adrian mengangguk. "Kita berdua tampaknya memiliki banyak hal yang harus dihadapi. Tapi aku merasa, dengan adanya satu sama lain, mungkin kita bisa saling membantu."

Alyssa tersenyum lembut. "Mungkin. Aku hanya perlu waktu untuk benar-benar terbuka lagi. Tapi malam lalu... itu membuatku merasa lebih hidup daripada yang aku rasakan dalam waktu yang lama."

Adrian meraih tangan Alyssa dengan lembut. "Aku senang mendengarnya. Aku juga merasa begitu. Dan aku siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang bersama kamu."

Mereka saling memandang, dan Alyssa merasakan kedekatan yang lebih dalam dari sebelumnya. Meskipun masih ada banyak yang harus mereka hadapi, malam ini memberikan mereka harapan baru.

Setelah makan malam, mereka berjalan keluar dari kafe, berpegangan tangan, dan melanjutkan percakapan ringan. Mereka merasa lebih dekat satu sama lain, dan kehangatan malam itu memberikan mereka rasa kenyamanan yang baru ditemukan.

Saat mereka berpisah di luar kafe, Adrian menarik Alyssa dalam pelukan lembut. "Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untukku. Aku berharap kita bisa terus melanjutkan percakapan ini."

Alyssa membalas pelukan itu dengan rasa hangat di hati. "Aku juga berharap begitu. Ini terasa seperti langkah awal yang baik."

Dengan senyum penuh harapan, mereka saling melepaskan dan berjalan menuju arah masing-masing, mengetahui bahwa meskipun masa depan tidak pasti, mereka telah menemukan sesuatu yang berharga dalam satu sama lain.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU
9.7
Nasib Tara berbalik total setelah dirinya terpaksa menjadi istri kedua dari teman dekat almarhum suaminya. Pernikahan ini menyeretnya ke dalam pusaran konflik domestik yang rumit dan menyiksa batin. Di tengah badai perasaan yang tiada habisnya, Tara dihadapkan pada persimpangan jalan yang krusial. Haruskah ia tetap tegar mempertahankan ikatan tersebut, ataukah ia akan melangkah pergi karena tak sanggup lagi memikul penderitaan yang kian menumpuk?
Sampul Novel Cinta Untuk Nadia
9.3
Hari pernikahan Nadia berubah menjadi mimpi buruk saat calon suaminya mendadak batal hadir. Demi menyelamatkan nasib sang putri di tengah situasi kacau tersebut, Abah Yai mengambil langkah nekat. Beliau memohon kepada seorang pria lain untuk bersedia menggantikan posisi mempelai lelaki yang kabur. Keputusan darurat ini tidak hanya mengubah garis hidup mereka seketika, tetapi juga memicu pergulatan batin yang hebat antara tanggung jawab dan perasaan cinta.
Sampul Novel Musuh Bebuyutanku yang Berdarah Dingin Tiba-tiba Terobsesi Denganku
9.4
Tujuh tahun kebersamaan Daniela sirna seketika saat ia memergoki perselingkuhan Yosua menjelang pernikahan mereka. Di hari sakral tersebut, Daniela mantap membatalkan pernikahan dan membuang cincinnya. Saat keluarga Clark menghina tindakannya, tiga kakak laki-laki Daniela dari keluarga Stewart hadir membela. Mereka bertekad meruntuhkan dinasti Clark demi adik mereka. Di tengah kekacauan itu, Daniela justru menemukan dekapan hangat dari pria tak terduga yang mengajaknya pulang.
Sampul Novel Jodohku Soulmateku
9.5
Dita dan Bagas dijodohkan sejak kecil oleh Fahri dan Damar. Akibat kondisi Fahri yang memburuk dan krisis keuangan di bisnis Damar, mereka terpaksa menikah muda saat Dita berumur 16 tahun. Setelah akad, keduanya langsung berpisah tanpa komunikasi. Bertahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Dita hampir menjadi dokter spesialis dan Bagas telah sukses sebagai CEO. Akankah pernikahan dingin masa lalu mereka kini berubah menjadi cinta sejati?
Sampul Novel Kecanduan Ciumanmu
8.6
Liburan Midori, gadis 18 tahun bermata biru, berubah drastis setelah kecupan tak sengaja dengan Kenzo Watanabe di pemandian air panas Jepang. Kejadian itu memicu obsesi kuat dalam diri Kenzo, meski dirinya telah terikat pertunangan dengan bangsawan bernama Ayumi Tokugawa. Cinta mereka pun diuji oleh benturan tradisi serta jarak jauh antara Tokyo dan Perth. Akankah takdir menyatukan Midori dan Kenzo? Simak kelanjutan kisah emosional sang miliarder ini.
Sampul Novel Magnet Cinta Sang Penguasa
9.5
Evelyn, desainer berbakat yang terhalang modal, bertemu Alexander di pameran New York. Miliarder ambisius ini menawarkan bantuan karier untuknya. Di balik sikap kakunya, sifat humoris dan penyayang Alexander sukses memikat hati Evelyn. Namun, saat asmara mereka mulai tumbuh, perbedaan status sosial serta kecemburuan dari pihak luar hadir mengancam. Kini, keduanya harus bersatu dan berjuang keras demi mempertahankan hubungan mereka dari berbagai rintangan yang menghadang.