APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MUSIM DI ANTARA KITA

MUSIM DI ANTARA KITA

Pertemuan dua orang berusia empat puluh tahun terjadi saat keduanya masih dibayangi trauma perceraian masa lalu. Menjalani fase hidup yang baru, mereka menyadari bahwa merajut asmara di usia dewasa menyajikan rintangan yang jauh lebih kompleks. Konflik keluarga dari kehadiran anak-anak, bayang-bayang mantan pasangan, hingga benturan ambisi pribadi terus menguji hubungan mereka. Kisah perjuangan mencari arti cinta sejati di tengah rumitnya dinamika kehidupan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari-hari setelah makan malam itu berlalu dengan cepat, dan Alyssa serta Adrian saling berkirim pesan dengan semakin sering. Meskipun mereka berdua masih berjuang dengan luka masa lalu, komunikasi mereka menjadi jembatan yang menghubungkan kedekatan mereka yang baru ditemukan.

Alyssa duduk di mejanya di apartemen, membaca pesan-pesan dari Adrian yang masuk secara berkala. Pesan-pesan itu penuh dengan perhatian dan rasa ingin tahu, dan setiap kali dia membacanya, dia merasa hatinya bergetar dengan kegembiraan dan keraguan yang sama.

Adrian: "Selamat pagi! Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku terus memikirkan percakapan kita. Bagaimana harimu sejauh ini?"

Alyssa tersenyum saat membalas pesan tersebut.

Alyssa: "Selamat pagi, Adrian! Hariku cukup baik, terima kasih. Aku juga memikirkan percakapan kita. Rasanya menyenangkan bisa berbagi denganmu."

Beberapa saat kemudian, Adrian membalas dengan cepat.

Adrian: "Aku senang mendengarnya. Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk makan malam minggu ini?

Aku tahu tempat baru yang menurutku kamu akan suka."

Alyssa merasa hatinya berdebar. Dia sudah mulai merasa nyaman dengan kehadiran Adrian dan tertarik untuk melihat ke mana hubungan ini akan berkembang.

Alyssa: "Tentu, itu terdengar bagus. Kapan dan di mana?"

Adrian mengirimkan detail tentang tempat makan malam yang elegan dan tenang, dengan suasana yang nyaman dan romantis. Mereka setuju untuk bertemu pada hari Jumat malam, dan Alyssa tidak sabar untuk melihat Adrian lagi.

Hari Jumat akhirnya tiba, dan Alyssa merasa sedikit gugup tetapi bersemangat saat bersiap-siap untuk pertemuan tersebut. Dia mengenakan gaun merah anggur yang elegan, menata rambutnya dengan lembut, dan merias wajahnya dengan sentuhan alami. Meskipun dia merasa lebih percaya diri, dia tidak bisa menghilangkan sedikit rasa cemas yang tersisa.

Ketika Alyssa tiba di restoran, Adrian sudah menunggu di meja yang telah mereka reservasi. Restoran itu memiliki pencahayaan lembut, dengan lilin-lilin kecil di atas meja, menciptakan suasana yang intim dan romantis. Adrian berdiri menyambut Alyssa dengan senyum lebar dan tatapan hangat.

"Hai, Alyssa. Kamu terlihat cantik malam ini," kata Adrian dengan nada lembut.

Alyssa merasa wajahnya memerah. "Terima kasih, Adrian. Kamu juga terlihat sangat baik."

Mereka duduk, dan pelayan datang untuk mengantarkan menu. Selama makan malam, mereka berbicara tentang berbagai topik-hobi mereka, kenangan masa lalu, dan impian masa depan. Adrian merasa semakin tertarik dengan Alyssa, bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena kedalaman perasaannya dan kekuatan karakternya.

Adrian mengangkat gelas anggurnya. "Aku ingin bersulang untuk malam ini. Untuk kesempatan kedua yang kita miliki untuk saling mengenal."

Alyssa tersenyum dan mengangkat gelasnya juga. "Untuk kesempatan kedua dan hubungan yang mungkin baru dimulai."

Mereka bersulang dan minum, merasakan suasana malam yang semakin menyenangkan. Namun, di balik senyum dan tawa mereka, Adrian masih merasa tertekan oleh kehadiran mantan istrinya, Laura, yang masih sering menghubunginya terkait urusan anak-anak mereka.

Ketika makanan disajikan, Adrian memutuskan untuk membuka topik yang lebih pribadi. "Alyssa, aku ingin jujur denganmu. Meskipun aku sangat senang bisa menghabiskan waktu bersamamu, aku masih berjuang dengan beberapa hal dari masa lalu-terutama tentang mantan istriku."

Alyssa menatap Adrian dengan penuh perhatian. "Aku mengerti. Aku juga masih berjuang dengan kenangan masa laluku sendiri. Apa yang membuatmu merasa tertekan?"

Adrian menghela napas. "Laura, mantan istriku, masih sering menghubungiku, terutama mengenai anak-anak kami. Meskipun kami sudah berpisah, dia sepertinya belum sepenuhnya menerima keputusan kami untuk berpisah. Kadang-kadang aku merasa terjebak di antara tanggung jawab sebagai ayah dan keinginan untuk bergerak maju."

Alyssa merasa empati yang mendalam terhadap Adrian. "Itu pasti sangat sulit. Aku bisa mengerti mengapa kamu merasa seperti itu. Tapi aku berharap kamu bisa menemukan cara untuk mengatasi perasaan tersebut dan menemukan kebahagiaan untuk dirimu sendiri."

Adrian tersenyum lembut. "Terima kasih. Itu berarti banyak bagiku. Aku tahu aku harus menghadapinya dengan cara yang sehat dan tidak membiarkan masa lalu mengendalikan hidupku."

Mereka melanjutkan makan malam dengan percakapan yang penuh pengertian dan dukungan. Di akhir malam, setelah menyelesaikan hidangan penutup, Adrian berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Alyssa.

"Terima kasih telah menghabiskan malam ini bersamaku, Alyssa. Aku sangat menghargainya."

Alyssa menggenggam tangan Adrian, merasakan kehangatan dari sentuhannya. "Aku juga menghargainya. Ini malam yang sangat menyenangkan."

Mereka keluar dari restoran bersama, berjalan bersebelahan menuju mobil Adrian. Saat mereka mencapai mobil, Adrian menoleh ke Alyssa, memandangnya dengan tatapan penuh harapan.

"Alyssa, aku ingin kita terus menjalin hubungan ini. Aku merasa ada sesuatu yang istimewa di antara kita, meskipun kita masih harus menghadapi banyak hal."

Alyssa tersenyum, hatinya penuh dengan perasaan campur aduk namun penuh harapan. "Aku juga merasa begitu. Aku siap untuk melanjutkan hubungan ini dan melihat ke mana akan membawa kita."

Adrian memeluk Alyssa dengan lembut, merasakan kedekatan yang mendalam di dalam pelukan itu. "Aku sangat bersyukur memiliki kamu dalam hidupku."

Mereka saling melepaskan dengan senyum, dan Adrian melambaikan tangan saat Alyssa masuk ke mobilnya. Saat Alyssa mengemudikan mobilnya pulang, dia merasa lebih optimis tentang masa depan, meskipun dia tahu masih ada banyak tantangan yang harus dihadapi.

Setelah malam yang penuh kedekatan dan perasaan campur aduk, Alyssa dan Adrian mulai merasa lebih nyaman satu sama lain. Namun, meskipun mereka merasa saling menarik, mereka masih harus menghadapi berbagai tantangan dari masa lalu. Adrian merasa tertekan oleh kehadiran mantan istrinya, Laura, yang masih sering menghubunginya terkait urusan anak-anak mereka.

Beberapa hari setelah makan malam, Alyssa menerima pesan dari Adrian yang mengajaknya untuk bertemu lagi. Kali ini, Adrian menyarankan mereka untuk berjalan-jalan di taman kota, tempat yang sederhana namun memberikan kesempatan untuk berbicara dalam suasana yang santai. Alyssa dengan senang hati menyetujuinya, ingin sekali melanjutkan percakapan mereka yang belum selesai.

Malam itu, taman kota dipenuhi dengan cahaya lampu jalanan yang lembut dan suasana tenang yang menyenangkan. Adrian menunggu di pintu masuk taman, mengenakan pakaian santai namun tetap tampan. Ketika Alyssa tiba, Adrian tersenyum lebar dan menyambutnya dengan pelukan hangat.

"Hai, Alyssa. Senang melihatmu lagi," kata Adrian dengan nada penuh kehangatan.

"Hai, Adrian. Aku juga senang bisa bertemu lagi," balas Alyssa, tersenyum sambil merasakan kebahagiaan sederhana dari pertemuan mereka.

Mereka mulai berjalan menyusuri jalur setapak di taman, menikmati udara malam yang segar. Di tengah percakapan ringan tentang kehidupan sehari-hari, Adrian memutuskan untuk berbicara tentang perasaannya yang lebih dalam.

"Jadi, Alyssa, aku ingin bertanya. Apa yang sebenarnya membuatmu merasa tertarik untuk melanjutkan hubungan ini setelah semua yang terjadi dalam hidupmu?" tanya Adrian dengan nada penuh perhatian.

Alyssa memandang Adrian dengan tatapan serius. "Itu pertanyaan yang bagus. Setelah perceraian, aku merasa seolah-olah aku kehilangan bagian dari diriku. Tapi malam lalu, saat kita berbicara dan menghabiskan waktu bersama, aku merasa seperti ada bagian dari diriku yang mulai kembali hidup. Kamu memberi aku perasaan yang sudah lama tidak aku rasakan-kebahagiaan dan keinginan untuk membuka hati lagi."

Adrian tersenyum lembut, merasakan kedalaman perasaan Alyssa. "Aku juga merasakannya. Meskipun aku masih terjebak dalam beberapa hal dari masa lalu, aku merasa lebih hidup ketika aku bersamamu. Kamu memberikan aku harapan untuk masa depan yang lebih baik."

Mereka berhenti sejenak di dekat sebuah bangku, menikmati pemandangan dan suasana malam. Adrian menatap Alyssa dengan tatapan yang penuh harapan. "Tapi aku harus jujur, aku masih merasa tertekan dengan situasi aku dengan Laura. Dia sering menghubungiku, terutama tentang anak-anak. Kadang-kadang, rasanya seperti aku tidak bisa sepenuhnya bergerak maju."

Alyssa memegang tangan Adrian dengan lembut, memberikan dukungan yang tulus. "Aku bisa membayangkan betapa sulitnya itu. Menghadapi masa lalu sambil mencoba membangun masa depan baru pasti tidak mudah. Tapi aku percaya kamu bisa melewati ini, dan aku akan ada di sini untuk mendukungmu."

Adrian menatap Alyssa dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih, Alyssa. Dukunganmu berarti banyak bagiku. Aku tahu aku perlu mengatasi perasaan ini dan mencari cara untuk berdamai dengan masa lalu."

Mereka melanjutkan berjalan, merasakan kehangatan dari kedekatan mereka. Selama percakapan, Alyssa merasa semakin yakin tentang perasaannya terhadap Adrian. Namun, ia juga tahu bahwa hubungan mereka memerlukan waktu dan usaha untuk berkembang dengan sehat.

Ketika mereka mencapai ujung taman, Adrian berhenti dan menoleh ke Alyssa. "Aku tahu kita baru saja mulai menjalin hubungan ini, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku merasa sangat beruntung bisa mengenalmu. Kamu telah membawa sesuatu yang istimewa ke dalam hidupku."

Alyssa tersenyum, merasakan kehangatan dari kata-kata Adrian. "Aku merasa sama. Ini adalah awal yang baru dan aku merasa siap untuk menghadapi tantangan bersama-sama."

Adrian mengangguk, merasa lega dan bahagia. "Mari kita terus melanjutkan ini dan melihat ke mana perjalanan ini membawa kita."

Mereka saling berpelukan, merasakan kedekatan yang mendalam di bawah sinar bulan. Saat mereka berjalan keluar dari taman, tangan mereka saling menggenggam, dan mereka merasa semakin yakin bahwa mereka memiliki sesuatu yang istimewa.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU
9.7
Nasib Tara berbalik total setelah dirinya terpaksa menjadi istri kedua dari teman dekat almarhum suaminya. Pernikahan ini menyeretnya ke dalam pusaran konflik domestik yang rumit dan menyiksa batin. Di tengah badai perasaan yang tiada habisnya, Tara dihadapkan pada persimpangan jalan yang krusial. Haruskah ia tetap tegar mempertahankan ikatan tersebut, ataukah ia akan melangkah pergi karena tak sanggup lagi memikul penderitaan yang kian menumpuk?
Sampul Novel Cinta Untuk Nadia
9.3
Hari pernikahan Nadia berubah menjadi mimpi buruk saat calon suaminya mendadak batal hadir. Demi menyelamatkan nasib sang putri di tengah situasi kacau tersebut, Abah Yai mengambil langkah nekat. Beliau memohon kepada seorang pria lain untuk bersedia menggantikan posisi mempelai lelaki yang kabur. Keputusan darurat ini tidak hanya mengubah garis hidup mereka seketika, tetapi juga memicu pergulatan batin yang hebat antara tanggung jawab dan perasaan cinta.
Sampul Novel Musuh Bebuyutanku yang Berdarah Dingin Tiba-tiba Terobsesi Denganku
9.4
Tujuh tahun kebersamaan Daniela sirna seketika saat ia memergoki perselingkuhan Yosua menjelang pernikahan mereka. Di hari sakral tersebut, Daniela mantap membatalkan pernikahan dan membuang cincinnya. Saat keluarga Clark menghina tindakannya, tiga kakak laki-laki Daniela dari keluarga Stewart hadir membela. Mereka bertekad meruntuhkan dinasti Clark demi adik mereka. Di tengah kekacauan itu, Daniela justru menemukan dekapan hangat dari pria tak terduga yang mengajaknya pulang.
Sampul Novel Jodohku Soulmateku
9.5
Dita dan Bagas dijodohkan sejak kecil oleh Fahri dan Damar. Akibat kondisi Fahri yang memburuk dan krisis keuangan di bisnis Damar, mereka terpaksa menikah muda saat Dita berumur 16 tahun. Setelah akad, keduanya langsung berpisah tanpa komunikasi. Bertahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Dita hampir menjadi dokter spesialis dan Bagas telah sukses sebagai CEO. Akankah pernikahan dingin masa lalu mereka kini berubah menjadi cinta sejati?
Sampul Novel Kecanduan Ciumanmu
8.6
Liburan Midori, gadis 18 tahun bermata biru, berubah drastis setelah kecupan tak sengaja dengan Kenzo Watanabe di pemandian air panas Jepang. Kejadian itu memicu obsesi kuat dalam diri Kenzo, meski dirinya telah terikat pertunangan dengan bangsawan bernama Ayumi Tokugawa. Cinta mereka pun diuji oleh benturan tradisi serta jarak jauh antara Tokyo dan Perth. Akankah takdir menyatukan Midori dan Kenzo? Simak kelanjutan kisah emosional sang miliarder ini.
Sampul Novel Magnet Cinta Sang Penguasa
9.5
Evelyn, desainer berbakat yang terhalang modal, bertemu Alexander di pameran New York. Miliarder ambisius ini menawarkan bantuan karier untuknya. Di balik sikap kakunya, sifat humoris dan penyayang Alexander sukses memikat hati Evelyn. Namun, saat asmara mereka mulai tumbuh, perbedaan status sosial serta kecemburuan dari pihak luar hadir mengancam. Kini, keduanya harus bersatu dan berjuang keras demi mempertahankan hubungan mereka dari berbagai rintangan yang menghadang.