APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mundur Setelah Dipoligami

Mundur Setelah Dipoligami

Sembilan tahun lebih menikah, Khanza Almira dikhianati oleh Bram Radita yang melakukan poligami secara rahasia dengan gadis yang lebih muda. Enggan berbagi suami dan demi mempertahankan kehormatannya, Khanza memilih berpisah dan melayangkan gugatan cerai. Setelah resmi menjalani hidup masing-masing, apakah perpisahan ini akan menjadi titik akhir hubungan mereka, ataukah takdir justru akan mempertemukan mereka kembali di masa depan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tak terasa, malam telah menyapa. Khanza yang sudah mengetahui kebenaran tentang poligami yang dilakukan Bram dibelakangnya kini hanya bisa termenung pasrah, sedih saat mengingat semuanya.

Setelah berbicara empat mata tadi siang dengan Bram, kini Khanza memilih berdiam diri di kamar untuk sementara waktu. Yang biasanya di saat malam hari tiba dia selalu menyiapkan makan malam untuk Bram, kali ini sengaja tidak ia lakukan.

Hatinya masih sakit dan teramat kecewa dengan pernyataan yang tadi siang Bram ucapkan. Dia akui memang belun bisa memberikan keturunan untuk Bram. Tapi, dia juga tidak mandul.

Begitupun sebaliknya. Hanya saja, kehidupan dalam rumah tangga mereka memang belum dikaruniai seorang anak saja. Namun apalah daya, Bram tidak sabar akan hal itu.

Dan Khanza, tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Semua sudah terjadi, tak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Hanya bisa pasrah menerima takdir yang Bram lakukan saat ini.

Jika dia mampu bertahan, maka dia akan bertahan. Jika tidak bisa, jalan terakhir adalah PERPISAHAN.

***

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu terdengar. Khanza yang saat ini baru saja menyelesaikan ibadah shalat Isya' seketika diam sejenak di tempat. Sebab, dari dirinya tak ada keinginan untuk membuka pintu.

Namun setelah mendengar suara siapa dibalik pintu kamarnya, barulah Khanza bangkit dan bergegas ingin segera membukanya.

"Bibik?"sapanya setelah pintu terbuka.

"Ada apa, bibik?"sambungnya bertanya.

"Non, Khanza?"ucapnya pelan, langsung memeluk Khanza.

"Ada apa, bik? Bibik kenapa?"tanya Khanza sedikit bingung. Namun, dia tetap membalas pelukan bik Marni.

"Nona yang sabar, ya. Bibik sudah tahu semuanya. Bibik ikut prihatin, non."ucapnya.

"Maksudnya gimana, Bik?"tanya Khanza bingung.

"Bapak non, bapak. Bapak itu tidak bisa bersyukur memiliki wanita shalihah, cantik, masih muda seperti nona. Speak istri idaman, masih aja di duakan."ujarnya.

"Bapak memang kurang bersyukur, non."sambung bik Marni kesal sendiri.

Mengusap punggung wanita paruh baya itu, Khanza menjawab, "Khanza tidak apa-apa, bik. Khanza ikhlas menerimanya."jawabnya.

"Toh semua sudah terjadi, 'kan?"tanya Khanza, membuat bik Marni angguk kepala.

"Sekarang Khanza sadar, kalau mas Bram itu bukan sepenuhnya milik, Khanza."

"Tapi milik kedua orang tuanya dan pastinya milik, Allah SWT."sambung Khanza.

"Mungkin untuk sekarang ini, ujian yang kami terima adalah kesetiaan. Khanza minta do'anya, semoga Khanza tetap sehat serta diberi umur panjang."ucapnya.

"Pasti, non. Bibik selalu mendo'akan yang terbaik buat, nona."jawabnya.

"Tanpa non Khanza minta, bibik terus mendo'akan."sambungnya.

"Terimakasih bibik,"jawab Khanza tersenyum. Senyum yang hampir tak terlihat.

Melepas pelukannya, bik Marni berkata, "Dari tadi siang, nona tidak keluar kamar untuk makan. Sekarang, biar bibik ambilkan makan malam untuk nona, ya."ucapnya.

Tersenyum, Khanza berkata, "Kebetulan, Khanza sedang tidak pengen makan apa-apa, bik."jawabnya.

"Jangan menyiksa diri seperti ini, non. Nanti bisa sakit. Makan sedikit tidak apa-apa asal perut ke isi."ucap bik Marni menasehati.

"Sekarang non Khanza masuk, biar bibik bawa makanannya kemari!"sambungnya berkata.

"Eee,... Jangan!"cegah Khanza.

"Tidak apa-apa, non."

"Lagian, bapak juga sedang pergi sama selingkuhannya. Non Khanza tenang saja, rumah ini sepi gak ada orang."ungkapnya memberitahu.

"Pergi?"ulang Khanza bertanya.

"Iya. Katanya tadi si pelakor minta dibeliin roti apa gitu non, bibik lupa namanya."jawab bik Marni.

"Dia bukan pelakor, bik."ucap Khanza mengingatkan.

"Ah, orang macam itu jangan dibela, non. Nanti ngelunjak."

"Jelas-jelas dia itu pelakor. Perebut suami orang."

"Mana ada perempuan baik yang mau dijadiin istri kedua, gak ada, non. Maka dari itu, pantaslah dia disebut si pelakor."kekeh bik Marni menjelaskan.

"Katanya mas Bram, bukan dia yang merayu. Tapi mas Bram sendiri yang justru menawarkan pernikahan pada dia."ungkap Khanza.

"Astaghfirullah. Bibik gak salah dengar ini, non?"kaget bik Marni membelalakkan matanya.

"Tidak. Mas Bram sendiri yang bicara semuanya pada Khanza tadi."jawabnya.

"Bagaimana bisa ini terjadi, non? Apa sedikitpun bapak tidak memikirkan perasaan non, Khanza?"tanyanya tak habis pikir.

Tersenyum, Khanza berkata, "Semua ada ditangan mas Bram dan takdir, bik."jawabnya.

"Aneh betul bapak kali ini, non. Bisa-bisanya menawarkan pernikahan jika di rumah saja, dia sudah memiliki istri?"

"Benar-benar aneh."geram bik Marni.

"Terlepas benar atau tidaknya, beliau mengatakan sendiri kalau semua ini terjadi karena beliau ingin segera memiliki momongan, Bik."

"Alhamdulillahnya, lewat istri kedua ini, do'a mas Bram diijabah. Wanita itu sedang mengandung empat bulan anak mas, Bram."ungkap Khanza.

"Bibik gak bisa berkata, non. Tega sekali pak Bram, ini. Padahal sudah jelas, jika non Khanza maupun bapak tidak mandul."

"Tapi kenapa, kenapa, ...... Ah sudahlah, non. Gak usah diteruskan! Bikin sakit tambah hati."ujarnya.

"Tapi bibik yakin, suatu saat bapak pasti menyesal dengan perbuatannya ini."

Tersenyum tipis, Khanza berkata, "Menyesal atau tidak, semua tergantung diri masing-masing, bik. Dan itu, ada di diri mas, Bram."ucapnya.

"Kasihan sekali kamu, nona."lirihnya.

"Padahal, kalian ini pasangan sempurna. Cantik dan tampan. Cuma sayangnya, memang belum dikasih momongan saja. Dan pak Bram, lelaki yang tidak sabaran."sambungnya pelan.

"Tidak apa-apa. Semua sudah terjadi. Semoga Khanza ikhlas menerimanya."balasnya.

"Menurut bibik, emang bapak yang sangat keterlaluan kok, non. Tidak tahu bersyukur."ucapnya masih menyalahkan Bram.

"Tapi apapun yang terjadi, bibik akan terus dukung non, Khanza."

"Terimakasih ya, bik. Terimakasih untuk semua kebaikan bibik selama ini."ucap Khanza.

"Sama-sama, non."jawabnya.

Dengan tangan terbuka, Khanza dengan senang hati menganggap bik Marni seperti orang tua sendiri.

Karena sejak kecil, dia hanya hidup sebatang kara. Tinggal hanya dengan neneknya dan kini neneknya sudah meninggal setelah dua tahun pernikahannya dengan Bram.

Begitupun dengan orang tuanya, yang sudah lebih dulu pergi setelah kecelakaan saat dia masih kelas 1 SD.

"Nona yang sabar, ya. Bibik ambilkan makan untuk, nona."pamitnya.

"Kebetulan, bibik masak makanan kesukaan nona. Cumi balado."ungkapnya.

"Tidak usah repot antar kemari, bik. Biar Khanza sendiri yang ke meja makan."balasnya.

"Kebetulan, Khanza mau ke dapur buat ambil minum."

"Oh gitu? Syukurlah. Ayo, non!"jawabnya mengajak.

Sebenarnya Khanza tidak ingin makan malam. Perutnya belum terasa lapar sama sekali. Bawaannya juga malas tak berselera.

Tapi mendengar penuturan bik Marni yang sudah bersusah payah membuat lauk kesukaannya, membuatnya tak enak hati.

***

Di dalam mobil perjalanan pulang.

Luna bergelayut manja dibahu Bram yang sedang mengemudi. Dia sangat senang karena hari-harinya merasa selalu di manja oleh Bram. Walaupun, Bram sedikit kaku padanya.

Kadang baik kadang acuh dan tak jarang juga permintaannya selalu ada yang ditolak. Tapi tak membuat Luna putus asa. Dia terus mendekati Bram sampai Bram mau menerimanya dengan senang hati.

Padahal tanpa sepengetahuan Luna, Bram baik dan mengalah semua ada tujuannya. Bukan semata dia ingin dibodohi.

"Mas Bram, apa mbak Khanza masih belum nerima Luna jadi madunya?"tanyanya sok manja.

"Dia wanita baik. Saya yakin, dia bisa nerima kamu dengan senang hati."jawabnya berbohong.

"Syukurlah. Luna senang mendengarnya,"jawabnya tersenyum palsu.

"Luna sempat takut mbak Khanza tidak bisa nerima tapi justru menyerang, Luna."sambungnya.

"Itu tidak akan terjadi!"tegaskan Bram.

"Semoga aja begitu ya, mas."balasnya.

"Ya."

Kenyataannya, Luna sangat membenci istri sah Bram, Khanza. Bahkan dia emang berniat menyingkirkan Khanza dari pernikahannya.

Luna ingin jadi istri sah satu-satunya milik Bram. Dan,.... Pewaris tunggal semua harta kekayaan yang dimiliki Bram tersebut.

***

Suara bel berbunyi, menandakan seseorang datang untuk bertamu di rumah mereka. Bik Marni dan Khanza saling berpandangan.

Kemudian, "Biar bibik lihat dulu ya, non."pamitnya pergi.

Setelah dibuka, nampaklah wajah-wajah orang yang membuatnya kesal hari ini. Dialah Bram dan Luna. Namun karena tuntutan pekerjaan, membuat bik Marni harus profesional.

"Silahkan masuk pak Bram, nona."ucapnya beramah-tamah.

"Terimakasih, bibik?"balas Luna sok ramah.

"Khanza, ada?"sahut Bram bertanya.

"Ada, pak. Nona sedang makan."jawabnya.

Tidak berkata apapun, Bram langsung melangkah masuk menuju dapur. Bahkan, Luna hampir saja ia abaikan.

*

"Khanza?"panggil Bram lembut.

Tak menjawab, Khanza hanya menoleh sedikit untuk melihatnya. Tapi setelah dia merasakan kedatangan Luna, Khanza langsung menghadap lurus ke depan.

"Aku bawakan martabak telur untukmu,"ucap Bram meletakkan kantong kresek putih yang dibawanya di depan piring makan Khanza.

"Aku beli di Abang langganan kita."ucapnya memberitahu.

"Terimakasih."ucap Khanza datar.

"Aku tinggal ke kamar dulu, ya. Nanti agak malaman, aku pergi menemui mu."pungkasnya.

"Ya."

Setelah mendengar jawaban Khanza, Bram langsung mengajak Luna pergi ke kamar mereka.

Membuat Khanza semakin sakit hati dibuatnya. Apalagi, melihat Luna yang terus menempel di lengan Bram, membuatnya muak.

Kepergian keduanya, Khanza berkata, "Bibik, bawa pergi makanan ini!"perintahnya.

"Non Khanza tidak ingin memakannya?"

"Tidak!"

"Baik, non."jawab bik Marni patuh.

Meletakkan garpu dan sendoknya, Khanza, "Aku tidak sudi memakan makanan yang kau beli dengan wanita itu, mas. Aku tidak sudi!"gumamnya marah.

***

Bersambung,....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Es Batu
8.1
Relva Arilia, gadis tulus yang jenaka, menaruh hati pada Steven Grellyn. Sayangnya, pemuda sedingin es itu terus mengabaikannya. Walau kerap menghadapi penolakan, keuletan Relva lambat laun mengikis sikap kaku Steven yang semula enggan membuka diri. Perjalanan cinta mereka tidaklah mudah, melainkan sebuah perjuangan emosional yang sarat rintangan serta air mata. Demi masa depan bersama, keduanya harus meredam ego agar kehangatan kasih dapat mencairkan kebekuan hati dan mengubah takdir mereka.
Sampul Novel Gadis Tak Terlihat dan Sang Jutawan
9.7
Demi menyelamatkan sang adik di Villa Esperanza yang kejam, Beatriz Sosa terpaksa menerima tawaran rahasia dari Eduardo Moura. Pewaris kaya yang angkuh itu menjadikannya mata-mata di kediamannya dengan imbalan dana serta perlindungan. Kini, Beatriz terjebak dalam intrik kekuasaan yang mengancam harga dirinya. Di balik kemewahan dan rahasia kelam, tumbuh gairah terlarang yang menguji batas kelas sosial serta kesetiaan hatinya.
Sampul Novel KETUA OSIS
8.6
Di sekolah elit Taruna Bangsa, Eva Nur Shafaah selaku ketua OSIS harus kehilangan harga diri akibat maraknya diskriminasi terhadap murid penerima beasiswa. Keadaan Eva kian memburuk setelah berkonflik dengan Artanabil Hibrizi, bos geng Kompeni sekaligus cucu pemilik yayasan sekolah. Memanfaatkan kuasanya, Arta memaksa Eva menjadi babu pribadinya. Hubungan toxic ini pun menguji ketulusan hati Eva dalam menghadapi kebengisan Arta di tengah kerasnya dunia remaja.
Sampul Novel Mahligai yang Ternodai
8.3
Pernikahan Nazwa yang awalnya indah seketika runtuh setelah ia memergoki suaminya bermain api. Demi baktinya pada Allah, Nazwa berlapang dada dan mencoba bertahan walau hatinya terluka. Sayangnya, ketabahan itu diuji kembali saat sang suami mengulangi pengkhianatan yang sama. Di tengah kepedihan yang kian menyiksa, sanggupkah Nazwa terus memperjuangkan rumah tangganya, ataukah ini saatnya ia merelakan segalanya berakhir?
Sampul Novel Mysterious CEO
9.1
Dean Bernardus kehilangan segalanya setelah ayah tirinya merebut seluruh harta dan mengusirnya. Berkat pertolongan seorang wanita misterius, ia berhasil bangkit menjadi CEO yang sangat sukses. Kini, misi balas dendam membawanya mendekati Kensky Revina Oxley, putri kandung dari pria yang telah menghancurkan hidupnya. Dean nekat memaksa Kensky menjadi kekasihnya, walau gadis itu sudah dijodohkan. Akankah hubungan ini murni demi pembalasan, atau justru menumbuhkan cinta tulus?
Sampul Novel Takdir Cinta Berondong Tampan
7.9
Pernikahan Via hancur akibat pengkhianatan sang suami. Di tengah badai emosi tersebut, sosok pemuda bernama Kelan datang membawa kehangatan baru. Walau sempat menepisnya, Via mulai goyah oleh perhatian tulus dan sikap dewasa Kelan yang gigih memikat hatinya. Diuji oleh kepura-puraan dan hasrat akan tantangan, sanggupkah Via tetap bertahan ketika Kelan tanpa ragu berusaha merebut dirinya dari sisa-sisa rumah tangga yang sedang runtuh?