APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mr. Tatto Wants Me

Mr. Tatto Wants Me

Trauma masa kecil akibat kekejaman ibunya membuat Denis membenci wanita. Ia melampiaskan dendam dengan menjebak dan mempermainkan hati mereka demi kepuasan semu. Terbiasa berganti pasangan tanpa cinta, hidupnya yang dingin mulai terusik saat ia bertemu seorang DJ di kelab malam. Akankah takdir baru ini menghentikan obsesi gelap dan misi balas dendamnya? Sebuah romansa dewasa yang mengupas luka masa lalu dan pencarian jati diri.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Apa semua baik-baik saja?"

Marra memasang helm seraya menoleh,  pertanyaan tadi berasal dari Luke yang baru memasukan beberapa dus pizza pada box besar di sekuter pegawainya, karena tak kunjung menjawab—Luke ikut menatap intens gadis berjaket merah muda itu.

"Kenapa? Kau diam? Bagaimana keadaanmu di tempat kerja? Maksudku sudah beberapa malam di 24Night," ucap Luke lagi, ia memang dikenal sebagai bos yang penuh perhatian dan loyalitas.

"Oh itu, semua baik-baik saja."

"Matthew tidak menyusahkanmu, kan?"

Marra menggeleng. "Tidak sama sekali, sudah tiga malam aku berada di sana, dia pria yang profesional, dan kekasihnya sangat ramah."

"Kekasih?" Luke berpikir. "Ah, maksudmu Celine?"

"Benar, kami sempat berinteraksi, dia begitu cantik." Marra tersenyum. "Kalau begitu, aku akan mengantar semua pizza itu sekarang. Langit siap menangis lagi." Keduanya menengadah—menemukan angkasa siang ini memang mulai tidak ramah, sudah abu-abu dan sebentar lagi mungkin berkelakar sesuka hati.

"Hati-hati di jalan, ingat untuk tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas."

"Aku paham." Marra duduk di jok motor, menyalakan mesin sebelum melaju membawa semangatnya pergi. Luke masih bertahan di sana, bersidekap menatap kepergian Marra hingga gadis itu berbelok di sebuah pertigaan dan lenyap dari pandangan Luke.

Pria berapron cokelat yang memiliki cita-cita sebagai sous-chef atau menjadi pastry chef di Paris itu memang berkharisma, tubuhnya tegak berisi setinggi 170centi yang membuat Marra acapkali menengadah jika berkomunikasi dengannya—menjadi idola tersendiri bagi sebagian pelanggan bahkan karyawan di kedai pizza nan sudah ia kelola dua tahun ini.

Sejak lulus kuliah Luke benar-benar ingin menyingkir ke Paris, ia mendambakan dunia pastry dengan keharuman gula-gula yang manis, tapi mimpi itu terpaksa Luke kubur setelah sang ayah mengalami kecelakaan dan menderita struk yang membuatnya hanya bisa duduk di kursi roda, untuk berbicara saja kesulitan.

Luke memiliki beberapa saudara, tapi hanya ia yang belum berumahtangga di sini, sementara dari mereka tidak tinggal di Manila dan berpencar di Cebu, Boracay serta lokasi lain. Alhasil, hanya Luke yang bisa mengurus sang ayah meski sekarang ia sudah menugaskan perawat 24jam di rumah karena ia sendiri mengurus kedai pizza nan menjadi peralihan rasa kecewa akibat gagal mengejar mimpi ke Paris.

Nasib pria itu hampir seperti Marra, mengurus orangtua sendiri sekaligus bekerja keras, tapi Luke jelas lebih beruntung dari Marra yang bahkan tak memiliki saudara lain untuk diandalkan, gadis itu benar-benar banting tulang siang malam demi mengurus pengobatan serta biaya hidupnya bersama Laura.

***

"Bukankah dia sangat manis?" Tangan-tangan Celine sibuk menata beberapa aster berbeda warna ke sebuah vas kaca di meja kerja Matthew, wanita itu adalah kekasih Matt sejak mereka masih SMA, sebut saja siap menjadi calon istri di kemudian hari. Ia duduk di kursi Matthew, sementara kekasihnya memangku laptop di sudut sofa, mengerjakan tabel pengeluaran bulan ini.

"Siapa?"

"Gadis kecilmu." Celine tersenyum dan berkedip saat Matthew menatapnya penuh tanda tanya. "Marra."

"Lalu, kau cemburu?" Giliran Matt tersenyum miring.

Celine menggeleng, ia menggunting batang bunga yang terlalu panjang. "Tidak, gadis itu terlihat tak memiliki ketertarikan terhadap siapa pun, kurasa segala hal yang ada di pikirannya sebatas tentang bagaimana bekerja dengan baik dan membuat atasan senang, lalu besoknya lagi dia akan bertingkah seperti itu tanpa memusingkan hal lain."

"Itu pola pikir yang bagus." Matthew kembali fokus pada laptop. "Jadi, kau juga menyukainya?"

Celine mengangguk. "Bagaimana mungkin gadis semanis itu diabaikan, aku ingin berteman dengannya, tapi kurasa Marra terlalu sibuk untuk sebatas duduk bersama di kedai kopi. Aku yakin dia memiliki hal lain untuk dikerjakan."

"Karakter baik itulah yang membuatku bersedia menerima Marra, terlebih Luke sendiri yang mengajukannya. Aku dengar ibunya menderita skizofrenia."

Gerak tangan Celine terhenti saat hendak memasukan sebatang aster hijau ke dalam vas, ia memicing. "Separah itu? Pasti hidupnya berat, tapi dia terlihat ceria saja, atau mungkin hanya mengeluh saat sendiri." Celine menopang dagu. "Ini terlalu keras untuknya." Ia mendengkus.

"Lebih baik jangan bertanya jika Marra memang tak mengungkapkan semua sendiri, dia pasti tak suka menjadi beban untuk orang lain. Dia terlalu dewasa."

"Benar, Matt. Kapan lagi kautemukan pekerja yang loyalitas, bahkan kau hanya bisa menemukan para wanita penghambur uang di sini." Meski Celine juga sadar tentang kemungkinan Matthew dirayu banyak wanita malam di tempat kerjanya sendiri, tapi ia meyakini Matt takkan bertindak lebih dan menjaga perasaan kekasihnya. Alasan mereka masih bersama sejauh ini adalah saling percaya, ketika banyak gadis di sekolah menggilai sosok Denis, hanya Celine yang bertingkah tak acuh dan membuatnya seperti sinar matahari di mata Matthew.

Juga, ketika banyak laki-laki melihat seseorang melalui tubuhnya, bagi Celine hanya Matt yang terlihat seperti manusia normal, ia yakin memiliki masa depan yang menyenangkan jika terus berada di sisi pria itu sebab saling melengkapi.

Tok-tok-tok!

"Masuklah."

Pintu ruang kerja Matthew terbuka dan memperlihatkan sosok mungil Marra tersenyum di sana, Celine lantas bangkit seraya membalas semringah lengkung di wajah gadis itu.

"Kau sudah datang," ucap Matt.

"Ya, aku langsung mulai sekarang."

"Tunggu sebentar." Celine meraih buket aster lain yang dibungkusnya menggunakan koran, jelas bukan bunga yang ia acak-acak tadi. Ia bergerak menghampiri Marra. "Apa kau sudah makan?"

Marra mengangguk. "Iya."

"Baguslah, kau harus mengisi energimu sebelum beraksi, dan ini untukmu." Celine memberikan buketnya. "Aku memetik setiap aster dengan warna berbeda dari perkebunan, sebagian untuk mengisi vas di ruangan ini, dan sebagian lagi untukmu. Kau harus menghias rumahmu agar berwarna."

"Terima kasih banyak."

"Okey, bekerjalah dengan baik." Celine mengusap lembut puncak kepala Marra, melihatnya seperti menemukan seorang adik.

"Aku permisi."

***

Ini malam keempat Marra beraksi sebagai disk jockey di 24Night, sebagian orang mulai mengenalnya, bahkan meminta nomor ponsel serta menawarkan tumpangan jika gadis itu pulang, tapi ini Marra dan ia akan menolak halus karena tak ingin terpaut hal selain pekerjaan selama berada di 24Night.

Menjalin sebuah hubungan atau bermain dengan laki-laki sepertinya tak terpikir dalam benak gadis 23 tahun tersebut, ia tak ingin beralih fokus dari mengurus Laura, ia hanya memikirkan cara mendapat uang yang banyak agar kehidupannya kelak menjadi lebih baik, itu terasa adil, bukan?

Marra kembali beraksi, speaker memperdengarkan musik yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ia sibuk mengusai controller yang berperan ganda sebagai turntable sekaligus mixer untuk mengatur nada, volume serta panning FX. Menguasai audience di area dance floor menjadi kepuasan seorang disk jockey, dan ia piawai melakukan hal itu.

Denis serta beberapa temannya baru datang, jam sepuluh kurang, Jose bahkan tak pernah melewatkan satu malam pun aksi Marra selama berada di 24Night. Gadis itu cukup membius perhatian Jose seperti cahaya lilin di ruang gulita, menjadi fokus yang teramat diinginkan.

Malam ini Denis bersama Selena, tapi mereka tetap bergabung dengan teman-teman Denis dan menikmati whisky serta keriuhan yang menggema di ruangan tersebut.

"Bukankah ini membosankan?" ucap Jamie, ia menggoyangkan gelas sloki berisi sedikit cairan whisky di depan wajahnya. "Benar-benar membosankan."

"Kau membenci whisky?" tanya Jose.

"Bukan, tapi suasananya."

"Lalu, kau akan merobek pakaianmu dan menari di atas meja? Itu pasti seru." Jose tersenyum geli.

Jamie mendengkus kesal, ia meletakan gelas slokinya sedikit keras hingga menimbulkan suara akibat bersentuhan dengan permukaan meja. "Apa itu lucu? Kenapa tidak minta orang lain saja yang melakukannya."

"Siapa? Siapa?" Jose menatap sekitar. "Apa Matthew memiliki penari striptis di sini?"

"Dia takkan melakukannya, ada Celine di atas," sahut Denis.

"Oh, si gadis baik. Apa kau mau melakukannya, Selena?" Jose tersenyum nakal.

"Enyahlah, aku hanya memiliki waktu bersenang-senang dengan Denis." Selena sampai mendorong lengan Jose, tapi pria itu hanya terpingkal.

"Mari kita bertaruh," ucap Jamie, ia mulai bersemangat.

"Bertaruh apa? Aku tak memiliki uang, bos Racher Art belum membagi gaji." Jose menyindir Denis.

"Apa sekarang akhir bulan?" Si bos Racher Art berkomentar.

"Tidak, itu terlalu mudah. Maksudku adalah ... dia." Jamie menunjuk disk jockey seraya mengedipkan kelopak kirinya.

"Marra?" Jose terhenyak. "Apa yang ingin kau lakukan, bertaruh apa, bodoh!"

"Kenapa tiba-tiba emosi, aku bahkan tak membahas masalah uang, apa kau sudah membaca isi kepalaku, hm?"

"Lalu apa? Jangan macam-macam pada gadis itu, dia terlalu polos." Jose kentara tak terima jika hal buruk terjadi pada Marra.

"Polos?" Tiba-tiba Selena terbahak. "Apa benar ada perempuan polos di tempat seperti ini? Jose masih mempercayai hal itu?"

Rahang Jose mengeras, ia menatap tak suka pada Selena. "Dia tak sepertimu."

"Tentu saja, bukankah banyak orang berbicara jika gadis itu menolak tumpangan pulang serta enggan membagi nomor ponselnya. Apa itu strategi tarik ulur atau jual mahal?" Jamie menimpali.

"Bisakah kau diam?" Jose semakin kesal.

"Lakukan saja." Denis angkat bicara, ia menatap intens si DJ. "Apa yang ingin kau lakukan, Jamie?" Ia memberi peluang besar menyetujui keinginan Jamie.

"Sangat mudah, minta nomor ponselnya, jika salah satu dari kita mendapatkannya maka—"

"Aku akan mentraktirnya minum selama satu minggu di sini," sela Selena, ia tersenyum menatap ketiga pria itu. "Setuju?"

"Setuju!" Jamie berseru penuh semangat, Jose diam dan pasrah, sementara Denis mengangguk saja. "Kalau begitu sebaiknya aku yang memulai lebih dulu. Jose, lihatlah tingkahku." Jamie merasa percaya diri, ia beranjak menghampiri altar disk jockey, beberapa orang memperhatikan gerak-gerik pria itu.

Terlihat Jamie mengajak Marra bersalaman, tapi gadis itu menolaknya, entah apa yang ia katakan, Marra sebatas menggeleng sebelum Jamie kembali bersama wajah kusut. "Dia berkata tak memiliki ponsel, bukankah itu kebohongan kuno?"

Jose terbahak mendengar penolakan tersebut. "Aku sudah mengatakannya padamu, dia takkan mudah."

"Kalau begitu sekarang giliranmu."

Jose menggeleng. "Aku tak menyetujuinya, bukan? Jadi, ini antara kau dan Denis."

"Giliranmu, Denis. Takkan ada wanita yang menolakmu, jadi santai saja. Berikan padaku jika kau menerima nomor gadis itu."

Sekarang, giliran Denis beranjak membawa langkah lebarnya menghampiri Marra.

***

Bagaimana kesanmu setelah 3 chapter?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belang si Janda Kembang
8.5
Pernikahan Amy dan Tesla yang berjalan lima tahun kini di ambang kehancuran karena belum hadirnya buah hati. Meski Amy telah mencoba berbagai pengobatan medis dan terapi spiritual, tekanan besar justru datang dari Dialin. Sang ibu mertua yang menuntut kehadiran cucu nekat menjodohkan Tesla dengan janda muda bernama Arem. Situasi ini memaksa Amy menghadapi pilihan pelik antara mengizinkan suaminya berpoligami atau mengakhiri rumah tangga mereka lewat perceraian.
Sampul Novel Cinta Untuk dr. Saka
7.9
Kehidupan Dokter Saka hancur setelah perempuan yang sangat ia cintai memutuskan menikah dengan abang kandungnya sendiri. Pengkhianatan menyakitkan itu seketika meremukkan kesetiaan serta komitmen yang selama ini ia pertahankan. Walau ia sangat andal dan genius dalam memulihkan kesehatan para pasien di rumah sakit, Saka kini justru tak berdaya menyembuhkan kepedihan batinnya sendiri. Sanggupkah sang dokter memulihkan kembali hatinya yang telah hancur lebur?
Sampul Novel Gairah Liar Pembantu Lugu
7.9
Pasca-perceraian akibat hasrat yang tak terpenuhi, Valdi menjalani hidup yang terasa kosong. Kehadiran Mayang, gadis lugu anak mendiang pelayannya, menjadi celah bagi muslihat Valdi. Dengan memanfaatkan kepolosan Mayang, pria berpengalaman ini berniat memuaskan gairah terpendamnya. Mayang yang naif kini terjebak dalam manipulasi dan permainan dewasa yang penuh risiko. Akankah ia sanggup menyelamatkan diri, atau justru selamanya terbelenggu dalam jerat kendali Valdi?
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta, Ini Hanya Kontrak
7.9
Arga Satria Wicaksana terpaksa mencari istri sewaan demi menutupi kelemahan rahasianya. Namun, pernikahan kontrak ini justru membawa keajaiban yang tak terduga. Kehadiran wanita sewaan tersebut perlahan menyembuhkan penyakit kronis yang diderita Arga selama bertahun-tahun. Hubungan formal yang awalnya murni demi bisnis ini kini menjadi satu-satunya kunci kesembuhan Arga, sesuatu yang mustahil ia dapatkan dari pengobatan medis mana pun.
Sampul Novel Menaklukan CEO tampan
9.6
Sejak kepergian sang ayah, Clara harus membanting tulang sebagai admin demi menghidupi ibu dan kakaknya sembari tetap kuliah. Beban hidupnya kian berat akibat tekanan dari CEO yang arogan serta kepedihan mendalam setelah dikhianati oleh kekasihnya yang playboy. Bertekad mengubah takdir keuangan keluarga, Clara iseng mendaftar ke biro jodoh untuk mencari pria mapan. Mengejutkan, sosok yang ia temui di sana justru bosnya sendiri. Clara pun kini bertekad memikat hati sang CEO tampan.
Sampul Novel Misi; Mengandung Benih Tuan Vince
9.3
Qiara Selena Odelia sangat mendambakan sebuah pernikahan yang tulus dan bahagia. Sayangnya, impian itu harus tertunda saat ia terikat kontrak dengan Vincenzo Nick Emyr. Pria dingin tersebut telah menutup rapat hatinya akibat luka mendalam dari cinta pertamanya di masa lalu. Berawal dari sebuah misi rahasia, takdir justru menjebak mereka dalam komitmen formal yang disepakati bersama. Di tengah trauma masa lalu Vince, mampukah hubungan sandiwara ini berubah menjadi cinta yang nyata?