APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mr. Right

Mr. Right

Kehadiran Dean Carter dalam hidup Angelina Bale memicu dilema besar yang mengancam kedekatannya dengan Raquel Scott. Walau tahu persahabatan mereka dipertaruhkan, Angie tak kuasa membendung perasaan cintanya. Kini, ia berada di persimpangan jalan yang rumit, harus memilih antara loyalitas pada sang sahabat atau memperjuangkan belahan jiwanya. Langkah apa pun yang ia ambil kelak dipastikan akan menggoreskan luka mendalam bagi mereka bertiga.
Bab
Bagikan

Bab 3

Raquel membelokkan mobilnya memasuki area parkir restoran pizza yang sering mereka datangi ketika ingin menonton film di rumah. Dan tiba-tiba perut Angie berbunyi saat kepalanya membayangkan irisan tuna dan parutan keju yang tidak lama lagi akan memasuki mulutnya. Ternyata lapar bisa mengalahkan kelelahan dan rasa kantuknya.

“Kapan terakhir kali kau makan?” tanya Raquel mendengar bunyi gemuruh yang berasal dari perut Angie.

“Aku sempat menghabiskan semangkuk sereal dan beberapa potong biskuit jam tiga sore kemarin,” jawab Angie sambil lalu.

Kedua alis Raquel hampir saling menempel, namun kulit dahinya sama sekali tidak berkerut berkat perawatan wajah yang dilakukannya beberapa tahun belakangan ini.

“Itu sudah lebih dari dua puluh jam. Apa kau bermaksud menyiksa perutmu?” nada bicaranya tidak terdengar senang.

“Oh, jangan mulai mengomel lagi, Raquel.”

“Aku tidak suka dengan pola makanmu. Itu tidak sehat.”

Angie memutar mata lagi. “Apa kita akan tetap di sini dan membahasnya? Atau masuk, kemudian memanjakan perut?”

Ekspresi wajah Raquel menyiratkan perdebatan batin. Angie merasa yakin bibir Raquel yang tampak mengerucut ingin sekali menceramahinya. Namun, di sisi lain ada Mr. Right yang barangkali telah menunggu untuk ditemui olehnya.

Kebimbangan Raquel dirusak oleh bunyi geraman tertahan di perut Angie yang sekali lagi meminta diperhatikan.

Raquel menghela napas pendek. “Kita perlu mengurus perutmu lebih dulu.”

Angie menyeringai lebar, lalu mengikuti Raquel yang lebih dulu beranjak keluar dari mobil.

“Apakah dia sudah datang?” bisik Angie merasakan dingin AC menyambut kedatangannya ketika Raquel membuka pintu restoran. Sudut matanya mengitari ruangan seluas tujuh puluh meter persegi yang nyaris penuh pengunjung tersebut tanpa kentara.

“Dia di sana,” kata Raquel dengan napas tertahan. Angie tidak akan heran seandainya saja gadis itu mulai melompat-lompat penuh semangat, walaupun dia sangat berharap Raquel tidak akan melakukannya. Dan memang tidak, baguslah. “Ayo.”

Angie mengekor di belakang Raquel. Mereka menuju meja persegi paling ujung di sisi kanan, tepat di samping dinding kaca yang menghadap ke jalan raya.

“Halo.” Raquel berhenti di samping meja, di mana terdapat dua orang pria sedang duduk berhadapan. “Kau sudah menunggu lama?” dia bertanya pada pria berkemeja biru lengan panjang yang digulung hingga ke siku.

Pria itu duduk membelakangi Angie. Melihat bagaimana Raquel memandangnya seakan-akan dia seloyang pizza yang ingin segera dinikmati, Angie menduga dialah si Mr. Right. Bukan temannya, si rambut pirang dengan dahi lebar dan hidung bengkok, di seberang meja.

“Tidak—”

Angie tertegun mendengar Mr. Right menjawab. Suara bassnya terdengar dalam dan maskulin.

“—Kami baru saja tiba,” kata Mr. Right melanjutkan. “Kenalkan, ini Sam Grownfield, manajer humas di kantor kami.” Dia memperkenalkan temannya.

“Raquel Scott.” Raquel menjabat tangan Sam dengan sangat singkat seakan-akan tidak sabar menarik lengan Angie agar berdiri lebih dekat. “Dan teman terbaikku, Angelina Bale.”

Sedikit kikuk, Angie bersalaman dengan Sam yang, bisa ditebak, tampak tidak begitu senang harus mengalihkan tatapannya dari sosok Raquel. Bisa maklum, Angie memperlihatkan senyum seadanya dengan makna yeah, aku memang si itik buruk rupa jika disandingkan dengan Raquel.

“Dan kau harus berkenalan dengan Dean Carter.” Suara Raquel meninggi karena bersemangat.

Angie memutar badan dan merasa seolah-olah terkena aliran listrik statis. Nah, mungkin ungkapan itu agak berlebihan, namun napas Angie tertahan di paru-paru ketika memandang Dean Carter.

Laki-laki itu tampan dengan senyum menawan dari bibir tebal di atas dagu belahnya. Rambut sewarna tembaga bergelombang miliknya sedikit bergoyang saat dia bergerak mengulurkan tangan. Dan mata biru tua yang menatapnya mengingatkan Angie akan kedalaman laut.

Angie kini paham mengapa Raquel tidak berniat menyerah untuk mengejar cinta pria itu meskipun selama tiga bulan dia sering mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan perhatian dari sang Mr. Right. Dean Carter merupakan sosok sempurna tokoh utama novel fiksi tentang percintaan yang muncul dalam wujud nyata.

Sejujurnya, Angie pun merasa sedikit terpikat oleh pesona fisiknya. Meskipun, selama ini dia tidak pernah mempercayai ungkapan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tersadar akan pikiran melanturnya, Angie langsung menggelengkan kepala.

Dia tidak akan jatuh cinta pada Dean Carter, batinnya mengingatkan dirinya sendiri, dia tidak boleh jatuh cinta pada Dean Carter.

Namun, duduk di samping Sam Grownfield lebih terasa sebagai cobaan sekaligus keberuntungan. Di posisi itu dia bisa melirik ke arah Dean Carter dengan lebih baik daripada jika dia berada di sampingnya. Dan pria itu benar-benar tampan, meskipun ada kesan susah didekati. Dia terlihat kurang responsif dengan usaha Raquel mengajaknya bicara. Entah bagaimana, Angie merasa sedikit kasihan pada sahabatnya. Pasti sangat sulit untuk bisa mendapatkan hati si Mr. Right.

Pria berwajah seperti Dean Carter pasti memiliki banyak wanita di sekitarnya. Mengapa dia mengabaikan Raquel? Sahabatnya bagaikan pizza dengan toping lengkap; memiliki wajah cantik, karir mapan, sifatnya supel dan mandiri. Mungkinkah dia bukanlah tipe wanita yang akan disukai Dean Carter? Jika Raquel saja tidak, apalagi dirinya.

Terkesiap, Angie menahan erangan di dalam kerongkongannya. Sungguh jahat benaknya memikirkan Mr. Right idaman Raquel, sahabatnya sendiri.

“Aku harus menurunkanmu di flat atau kafe?” tanya Raquel membuat Angie sedikit tersentak. Untuk sesaat lupa akan dirinya yang sudah berada di dalam mobil, duduk tepat di samping Raquel.

“Angie? Kafe atau flat?” kata Raquel mengulangi pertanyaannya.

Entah mengapa Angie merasa mendengar nada kesal dalam suara Raquel, namun dia meyakinkan diri telinganya salah dengar dan menjawab, “flat.”

“Ohya, bagaimana dengan rencana perjalanan akhir tahun kita?” tanya Angie untuk menghalau keheningan. Jika hanya berdiam diri, mungkin isi pikirannya akan kembali berkelanana pada sosok Dean Carter.

“Kau saja yang urus.” Raquel menjawabnya dengan nada dingin.

Tidak lagi berpura-pura tidak mendengar perubahan suara Raquel, Angie bertanya, “Apa kau marah padaku, Raquel?”

“Tidak.” Jawaban yang terlalu cepat itu membuat Angie meragukannya.

“Mungkinkah kau merasa kesal karena batal nonton film?”

“Tidak.”

Tak bisa dipungkiri, Angie merasa tidak nyaman dengan sikap Raquel. “Apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah padamu?”

“Tidak.”

Angie melirik orang di sebelahnya. Sikap Raquel sama sekali tidak menunjukkan sikap seseorang yang tidak sedang marah.

“Hei, kenapa tidak kita pergi nonton besok siang saja? Kurasa Dean dan Sam tidak ada kesibukan di akhir pekan,” kata Angie menyarankan. Dalam hati dia berharap idenya bisa membuat perasaan Raquel lebih baik.

“Akhir pekan Dean hanya untuk Jessica.”

Nama itu disebut lagi oleh Raquel. Angie membuka mulut untuk bertanya siapa itu Jessica, namun segera mengurungkan niatnya. Barangkali pertanyaan itu tidak bisa membantu Raquel merasa lebih baik. Atau justru jawabannya membuat suasana hati Angie sendiri ikut-ikutan memburuk.

Tidak bisa menemukan topik lain untuk dibicarakan, Angie menghela napas panjang. Pandangannya berpaling ke bagian luar jendela. Dan sisa perjalanan mereka terisi oleh keheningan.

“Kau mau masuk?” tanya Angie setelah keempat roda mobil Raquel berhenti berputar.

“Tidak. Aku harus kembali ke kantor.”

“Well, oke.” Angie melepas sabuk pengaman sebelum membuka pintu. “Terima kasih atas traktiran hari ini.”

“Dean yang membayarnya.”

“Aku tahu. Tetapi, tanpa kau, aku tidak akan ditraktir oleh dia.” Angie menyeringai, namun Raquel menanggapinya dengan sikap diam. Angie langsung menghapus senyum di wajahnya. “Bye.”

Begitu dirinya turun dari mobil, Raquel langsung menginjak gas dalam-dalam. Hal itu sangat mengejutkan Angie. Dengan pemikiran pastilah Raquel benar-benar kecewa karena gagal nonton film bersama Dean, Angie masuk ke dalam flat. Masih ada waktu dua setengah jam sampai jam kerjanya dimulai, jadi setelah melepas sweter dan menyisakan tanktop ungu muda, dia membuka laptop.

Perfect Boyfriend sudah mencapai bab ke-lima puluh tujuh. Awalnya Angie hanya ingin menulis sebanyak empat puluh bab, namun sang editor memaksanya untuk memperpanjang ceritanya. Setelah negosiasi alot dan persetujuan kenaikan gaji sebesar tiga puluh lima persen, akhirnya dia setuju untuk meneruskan tulisannya. Sejujurnya, dia memang masih menikmati membagi kisah gadis SMA berpenampilan culun yang menjalin persahabatan dengan laki-laki populer bernama Dylan.

Jari-jari Angie mulai mengetik. Seketika tokoh Dylan mengingatkannya pada sosok Dean. Mereka memiliki mata biru, rambut bergelombang, serta senyum menawan yang sama. Kali ini Angie hanya perlu membayangkan Dean saat mendeskripsikan Dylan. Perawakan keduanya sangat mirip dan... oh, mereka pun sama-sama memiliki nama berawalan huruf D. Bahkan nama Dylan Parker yang digunakannya terdengar mirip Dean Carter.

“Tunggu.” Angie terdiam sejenak sebelum bergumam,“ Apakah itu takdir?”

Dia segera menggelengkan kepala untuk menghapus lamunannya. “Astaga, apa yang sudah kupikirkan?”

Dering panggilan masuk yang terdengar secara tiba-tiba membuat Angie terlonjak di atas kursinya. Setelah mengambil ponsel dari dalam tas, dia melihat nama Alan tertera di layar.

“Halo, ada apa?” kata Angie setelah menggeser tanda jawab.

“Apa kau sibuk?” Suara Alan terdengar mendesak dan sepertinya ada bunyi tawa lebih dari satu orang di latar belakangnya. “Kami butuh bantuan di sini. Sangat kewalahan.”

“Oke. Aku akan sampai dalam dua pul—setengah jam.”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair
8.8
Dinginnya hubungan pernikahan saat ini membuat kenangan manis bersama Hany, sang mantan kekasih, kembali membayangi hari-hariku. Nostalgia masa lalu itu terus hadir hingga menjadi beban berat yang mengancam keutuhan rumah tangga yang sedang kujalani. Di tengah godaan memori indah yang tak kunjung sirna, mampukah pernikahan ini bertahan dari kehancuran?
Sampul Novel Balas Dendamnya Adalah Kecerdasannya
9.4
Evelin kerap dikucilkan keluarganya bagai itik buruk rupa. Namun, takdir berbalik saat CEO Carlos justru memilih menikahinya, bukan sang saudari tiri yang sempurna, Paramita. Di balik cemoohan khalayak, Evelin membuktikan dirinya bukan gadis biasa dengan mengungkap rahasia besar bahwa ia adalah pakar keuangan, genius AI, sekaligus penyembuh ajaib. Saat para pembenci berlutut meminta maaf, Carlos pun menunjukkan pesona sejati Evelin yang memikat dunia.
Sampul Novel BOS! JATUH CINTA LAGI
7.8
Nayana Previtha dan Regan Maxwell dipersatukan oleh kepedihan yang sama akibat dikhianati pasangan mereka. Demi membalas dendam kepada para mantan, Regan menawarkan sebuah kesepakatan kerja sama kepada Nayana. Siapa sangka, kolaborasi tersebut justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga di antara keduanya. Hubungan mereka pun kian dalam hingga saling bergantung. Akankah ikatan baru ini membawa kebahagiaan sejati, atau justru menorehkan luka yang lebih dalam?
Sampul Novel Cinta Bersemi Setelah Perceraian
8.0
Lima tahun berbakti pada Darius, Cornelia justru diceraikan saat mengandung. Ia lalu menghilang setelah nyaris tewas dibunuh di hari melahirkan. Kini, Cornelia kembali sebagai pengusaha sukses yang mandiri. Saat para rivalnya bertumbangan, kebenaran kelam masa lalu pun terbongkar. Darius yang terpikat mencoba memenangkan kembali hati sang mantan istri. Walau Darius memohon atas nama anak mereka, Cornelia tidak lagi peduli pada pria yang pernah membuangnya.
Sampul Novel Dihina Miskin, Aku Istri Konglomerat
8.5
Ziva mengakhiri hubungan lima tahunnya setelah Luis Loren memberikan hadiah murah sementara membelikan kapal pesiar mewah untuk cinta pertamanya, Paula. Lima tahun kemudian, mereka bertemu kembali di sebuah konferensi bisnis. Luis yang kini sukses menggandeng Paula, mengejek Ziva yang berpenampilan berantakan di dekat air mancur hotel mewah. Luis mengira Ziva hidup menderita dan mengemis belas kasihan. Padahal, Ziva hanya sedang mencari berlian biru milik putranya yang tidak sengaja terjatuh ke air.
Sampul Novel Gairah Jantan Mafia Kampus
8.3
Kisah romansa modern ini dirancang bagi pembaca yang pernah menjalin asmara dengan lawan jenis. Meski demikian, mereka yang menyukai hubungan sesama jenis juga tetap dapat menikmati alurnya. Siapa tahu, narasi di dalamnya mampu menghadirkan perspektif baru atau bahkan mengubah ketertarikan Anda pada lawan jenis. Mari selami jalinan kasih penuh gairah yang menantang dan memikat di tengah kerasnya dunia mafia kampus.