APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mr. Quick

Mr. Quick

Pascapernikahan yang kandas, Bunga Humaira mengasingkan diri ke luar negeri untuk memulihkan hatinya. Namun, impiannya akan ketenangan terusik oleh Afrain Derson. Miliarder mapan tersebut hadir membawa kepribadian serba cepat yang penuh paksaan. Walau Bunga merasa sangat tertekan dengan segala tindakan impulsif Afrain, pria kaya itu tetap teguh meyakinkan bahwa dialah sosok pasangan terbaik yang tidak seharusnya ditolak oleh Bunga.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku melangkah dengan angin yang membawaku maju.

Kamu melangkah dengan dia yang sudah kamu tuju.

Tanpa aku tahu, takdir kita akan saling beradu.

Kau dengannya...

Dan aku dengan langkah ku untuk meninggalkan kamu.

*****

Bunga duduk menyilangkan kakinya dengan sangat anggun. Wajah tenang miliknya itu menatap lurus pasangan suami istri yang menikmati dentuman musik keras di dalam club.

Bunga hanya bisa menatap dari jauh dan sesakali melempar senyuman untuk Sandra__sahabatnya.

"Boleh aku duduk disini?" suara itu mengalihkan perhatian Bunga. Dia tidak menjawab. Mengamati wajah Pria yang tidak asing baginya. Namun dimana dia pernah bertemu dengan Pria ini.

Hal yang sama juga dilakukan Pria itu, dia menatap Bunga dengan intens, mata elang itu menghipnotis Bunga tanpa dia sadari.

"Mr.Derson?" tanya Bunga tak yakin. Lalu suara itu langsung mengingatkan si Pria siapa wanita cantik nan menarik di hadapannya ini. "Ah kamu Bung_a." Bunga mengangguk dan seketika Afrain duduk tanpa dipersilahkan.

Tidak ada percakapan antara Bunga dan Afrain setelahnya. Mereka hanya saling memandang lantai dansa.

"Membosankan," ucap Afrain yang dapat didengar Bunga. Dia menoleh lalu menemukan Afrain memainkan ponsel. Bunga tidak tahu harus berkata apa sampai Afrain menarik tangannya. "Ikut aku jika kamu bosan disini." Bunga yang masih bingung menjawab apa tidak sempat mengeluarkan jawabannya karena Afrain sudah menarik tangannya cepat.

Melewati kerumunan manusia dan juga sorotan lampu lampu club.

"Mr. Kita kemana?"

"Mencari tempat yang indah untuk dilihat."

Bunga hanya diam saat mobil mulai di jalankan Afrain. Secepat itu Bunga mengikuti kemauan Afrain. Dan secepat itu Afrain mau mengajaknya menikmati hembusan angin yang menenangkan Bunga.

Mereka sekarang berada di Bondi Beach . Duduk di salah satu bangku yang tersedia. Jaket yang dipakai Bunga ternyata tidak mampu menahan dinginnya angin. Maklum saja dia biasa tinggal di Jakarta, dan sekarang dia berada di tempat yang berbeda benua.

Dia memeluk tubuhnya sendiri.

"Mau ku peluk?" pertanyaan Afrain membuat Bunga tidak bisa berkata-kata. Dia heran kenapa sikap Afrain seolah telah berteman lama dengannya. Bunga hanya diam tidak ingin menjawab pertanyaan konyol itu.

Sudah lima belas menita tapi mereka tidak berbicara hal lainnya. Tebakan Bunga adalah kalau Afrain sedang patah hati atau sejenisnya. Bunga melirik Afrain yang sepertinya memejamkan mata sudah sedari tadi dengan menyunggingkan sedikit senyuman.

"Mr.Derson," panggil Bunga hati-hati. Karena tidak ada jawaban Bunga berusaha menyentuh lengan Afrain dan dia benar-benar terkejut saat Afrain menggenggam tangannya lalu tiba-tiba tubuhnya melayang berpindah tempat.

Seringai Afrain membuat darah Bunga mengalir. Apa Afrain pikir dia wanita penghibur. Bunga bangkit dari pangkuan Afrain dan satu tamparan yang cukup keras diberikan Bunga.

"Kau benar-benar pria idiot !"

Bunga berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Afrain ternyata sama sekali tidak mengejar atau hanya memanggil namanya.

"Idiot, dia pikir dia siapa. Ketampanan mu sayangnya tidak bisa membuatku terpesona dengan sekejap. Uang sayangnya tidak bisa menghipnotis ku untuk menjadi jalang mu meski hanya untuk satu malam saja."

####

Dentingan garpu dan sendok beradu di meja makan, Afrain mendadak pusing dengan kesunyian yang dia hadapi. Sudah sebulan dia tidak memiliki pacar, tidak memiliki tempat menyalurkan hasratnya yang paling penting.

Ya ! Dia sebejat itu. Namun Afrain tidak pernah menjanjikan apapun pada wanita yang dia kencani. Sebulan ini dia merasa di awasi oleh Claire___Mama nya. Mamanya sibuk menyuruh dia menikah. Menakutinya yang kelak akan tidak bisa punya anak jika sudah tua baru menikah. Dan bagi Afrain itu hal konyol. Tapi tetap saja sebulan ini dia terus diawasi oleh Mamanya dan dia gerah. Ingin berkencan semalam saja pun tidak bisa, karna Mamanya akan dengan senang hati segera menikahkan dia.

Afrain mengangkat ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan singkat dari sekertarisnya masuk.

Jam sepuluh kita akan memulai rapat direksi Sir.

Afrain menyudahi sarapan lalu bergegas mandi. Dia ada rapat penting hari ini. Saat dia melewati pintu kamar dia kembali berjalan mundur. Melihat Bunga mawar putih yang menghiasi vas bunga. Wajah seorang wanita membuatnya tersenyum.

Sudah dua bulan dari kejadian malam di Sydney itu dan Afrain masih mengingat jelas wajah wanita bernama Bunga itu. Raut amarahnya semakin membuat Afrain mengingatnya.

****

Gedung besar menjulang tinggi diantara gedung lainnya. Derson Group itulah nama gedung yang selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang melihat.

Dua tower berwarna emas yang berdiri kokoh mempertegas akan gaya para pemiliknya.

Dan Pimpinan utama Perusahaan ternama di Dunia itu tak lain adalah Afrain Derson George. Anak dari___ Gio Derson George dan tentunya cucu dari Dion Derson George. Cicit dari Denish Albi George serta Mawar Cantika Derson. Lengkap bukan?

Afrain sangat terlihat dominan dari semua sepupunya yang juga menjadi pemimpin perusahaan ternama. Karisma sebagai pemimpin tidak bisa di elak kan lagi. Tidak ada yang berani menolak kerjasama denganya. Meski dia baru memimpin perusahaan setelah Ayah nya pensiun lima tahun lalu.

Langkah Afrain menuju ke ruang meeting di ikuti oleh beberapa staff membuatnya terlihat jelas sebagai bos besar.

Membaca serta mengamati berkas yang akan dibahas wajah Afrain sangat serius. Sampai dia tidak melihat wanita yang sangat tidak ingin bertemu dengannya.

Bunga. Dia berada di dalam lift yang sama dengan Afrain. Nafasnya baru bisa normal saat rombongan Afrain keluar dari dalam lift dan dia melanjutkan ke ruangannya.

Bunga baru bekerja dua hari di perusahaan Afrain itu, dan dia sudah tahu kalau Afrain adalah pimpinannya. Menolak kerja tidak mungkin, dia memimpikan bekerja di perusahaan bergengsi ini.

Apalagi bagian yang dia dapatkan adalah menjadi sekertaris dari manager keuangan perusahaan itu.

"Bunga what are you doing there?" Suara Clara bos nya mengejutkan dirinya. Clara sudah berumur dua puluh delapan tahun dan dia juga baru diangkat menjadi kepala manager keuangan satu tahun yang lalu menggantikan posisi karyawan yang harus pensiun. "Oh sorry Miss." Clara tersenyum ramah padanya lalu Bunga masuk kedalam ruangan Clara mengambil beberapa berkas yang harus dia kerjakan. Untungnya Clara sangat baik serta ramah. Clara terlihat sama sekali tidak memiliki sifat bossy.

"Bunga aku ada rapat direksi pagi ini, jadi aku minta kamu selesaikan ini secepat mungkin ya. Karna setelah rapat pasti Sir. Derson akan meminta perincian biaya tahap awal yang harus kita keluarkan untuk proyek mall ini." Bunga mengangguk mengerti. Mudah baginya mengerjakan hal semacam ini, apalagi Clara sudah menjelaskan dengan detail bagian perincian dana nya semalam.

Clara berjalan anggun menuruni lift dimana ruang meeting berada. Karena di lantai itu hanya terdapat ruangan devisi keuangan, head marketing, juga bagian personalia perusahaan.

Mereka berada di tower A atau tower utama , sementara tower B itu digunakan untuk komersil. Seperti cafe, juga ada beberapa toko baju. Disana juga terdapat fasilitas tempat tinggal milik karyawan. Dan betapa beruntungnya Bunga karena dia juga tinggal disana.

Posisinya sekarang membuatnya mendapatkan fasilitas kantor itu. Gaji Bunga juga dibilang cukup besar jauh dari dulu dia bekerja di perusahaan Adam.

Mengingat pria itu rasanya kerinduan menguar begitu saja dalam tubuh Bunga. Senyuman miris membuat aura-nya mendung. Tidak secerah mentari.

Bunga bergegas mengerjakan pekerjaannya dan setelah selesai Bunga turun dengan lift untuk keruang fotocopy yang berada satu lantai dengan ruang meeting.

Bunga menunggu mesin fotocopy bekerja lalu dia segera memeriksa hasilnya. "Hai Bunga."

"Oh hai Nick," balas Bunga kepada teman barunya yang bernama Nick itu. "Sepertinya pekerjaan mu banyak."

"Kau juga." Bunga tersenyum lalu berpamitan dengan Nick. Tepat saat dia keluar dari pintu ruangan dia menabrak tubuh Afrain membuatnya terhuyung kebelakang dan kertas-kertas itu berterbangan dengan indah menutup wajahnya. "Shit," makinya pelan lalu mengambil kertas yang berada di wajahnya. Bunga terkejut saat melihat sosok tampan dengan mata tajam melihatnya bagaikan daging segar yang siap disantap.

"Bunga," ucapnya sehingga Bunga tersenyum sopan. Walau dalam hati Bunga enggan melakukan hal itu untuk si idiot Afrain. Tanpa Bunga duga Afrain berjongkok dihadapannya mengamati wajah Bunga sehingga para staff direksi lain melihat mereka dengan bingung. Bisik-bisik pun mulai terdengar. Afrain mengulurkan tangannya ingin membantu Bunga berdiri. Bunga tidak menanggapi uluran tangan itu, dia malah sibuk memunguti kertas fotocopy nya.

Afrain tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Sir Antoni jadikan dia sekertarisku menggantikan Jane." Jane bersorak riang dalam hatinya karena terlepas dari Afrain si perfecsionist. Beda dengan Jane, Bunga melebarkan matanya tidak menyangka akan seperti ini nasib nya.

T

B

C

💞

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Putri Konglomerat
8.2
Kehidupan Aluna hancur saat memergoki suaminya, Dian, mendampingi Ratnasari di rumah sakit ketika ia tengah berjuang menjalani program bayi tabung. Penderitaan Aluna memuncak saat ia dikurung dan dipaksa menggugurkan kandungannya lewat sabotase obat. Usai kehilangan bayinya dan diusir, identitas asli Aluna sebagai putri konglomerat media yang hilang akhirnya terungkap. Sang pewaris kini kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
9.1
Pernikahan aliansi kaum elite mengizinkan perselingkuhan asal istri sah mendapat kompensasi setara. Dean Ramosh memegang erat aturan ini. Meski keluarga Calista Syahrina bangkrut, Dean tetap memanjakannya dengan kemewahan berlipat ganda dibanding selingkuhannya. Saat orang lain memintanya bersyukur, Calista memang sangat bersyukur. Namun, tepat ketika Dean memberinya Vila Northcoast No. 1 demi mengimbangi hadiah rumah untuk selingkuhannya, Calista justru meminta cerai karena merasa bosan.
Sampul Novel Gadis Terbuang vs Raja Bisnis
8.7
Sambil memegang map lamaran, Olivia menelusuri jalan dengan letih demi mencari pekerjaan. Ketika ia berbicara dengan seorang satpam, perhatiannya teralihkan oleh kehadiran Alexander Drake. Pengusaha sukses nan karismatik itu baru saja turun dari mobil mewahnya. Pandangan mereka pun bertemu, memicu ketegangan instan di antara keduanya. Walau Olivia merasa tidak percaya diri dan Alexander bergeming dingin, benih ketertarikan mulai tumbuh. Pertemuan di depan kantor ini akan mengubah takdir Olivia.
Sampul Novel Menikahinya Mudah, Kehilangannya Adalah Neraka
8.8
Stella hancur saat memergoki pengkhianatan Marc. Usai memberi tamparan keras, ia menghilang demi misi rahasia dan memalsukan kematiannya. Kepergian Stella membuat imperium bisnis Marc hancur total. Marc didera penyesalan mendalam hingga takdir mempertemukan mereka lagi di sebuah gala mewah. Saat Marc memohon pengampunan, Stella yang kini bersinar di sisi pria sukses lain hanya melempar senyum sinis dan menegaskan bahwa ia telah kehilangan haknya.
Sampul Novel My Lovely CEO
8.4
Sebelum pernikahan resmi mereka, Ellen berteriak histeris begitu menyadari tindakan Reyhan Saputra. Sambil menutupi badannya, ia memaki pria itu. Bukannya marah, Reyhan malah tertawa gemas. Setelah mematikan kompor, ia mendekat hingga membuat Ellen terdesak ke dinding. Ellen merasa geli sekaligus tegang saat Reyhan memegang tengkuknya. Dengan seringai nakal, Reyhan pun menawarkan diri untuk mempraktikkan langsung contoh perbuatan tersebut.
Sampul Novel Pembantuku Menjadi Pendampingku
8.0
Pasutri konglomerat, Danil dan Karin, sama-sama sibuk bekerja. Demi mengurus kebutuhan sang suami di rumah, Karin memutuskan merekrut asisten rumah tangga baru. Sayangnya, keputusan yang semula berniat baik ini justru menjadi bumerang bagi pernikahan mereka. Kehadiran sang asisten perlahan merusak keharmonisan rumah tangga dan menjadi ancaman besar bagi hubungan keduanya. Mampukah ikatan pernikahan mereka bertahan menghadapi ujian ini?