APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Miss Primadona

Miss Primadona

Tisa selalu memanfaatkan kecantikannya demi memikat lelaki berharta demi hidup mewah. Sialnya, daya tarik fisik serta sikap materialistis itu sama sekali tak berguna saat badai masalah bertubi-tubi menghantam hidupnya. Di tengah himpitan kehancuran dan realitas yang menyakitkan, ia kini berada di persimpangan jalan krusial. Apakah cobaan berat ini akan menuntunnya menuju pertobatan, atau justru menyeretnya kian dalam ke jurang kehancuran?
Bab
Bagikan

Bab 2

Berparas cantik dan dikagumi banyak kaum adam di kampusnya. Ya, dia—Tisa, perempuan yang terkenal akan kecantikannya, bak model. Banyak laki-laki yang mengagumi kecantikannya, dan berusaha mendapatkan cintanya.

"Udah semester enam, apa kamu masih mau memendam perasaanmu itu, Ra?" tanya Tisa kepada Zara.

Zara sudah lama mengagumi sosok Ian, semenjak pertama masuk kuliah. Ian berparas tampan, berambut cepak dan beralis tebal. Mereka satu kelas, tapi Zara jarang mengobrol dengan cowok itu. Zara takut, sikapnya akan memperlihatkan kalau ia mempunyai rasa terhadap Ian.

Zara menggeleng. "Entahlah, aku nggak tahu dengan cara apa aku bisa dekat sama Ian, Tis. Kalau kamu kan enak, kamu cantik, banyak yang suka sama kamu. Kamu nunjuk salah satu cowok aja, mereka pasti mau. Sedangkan aku?" Ia menghela napas, hatinya gundah.

Tisa tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Zara. "Aku bisa kok bantuin kamu dekat sama Ian. Mau, nggak?" bisik Tisa.

Zara mengernyit bingung. Bagaimana Tisa bisa mendekatkannya dengan Ian? Zara saja ngobrol dengan Ian saja rasanya seperti jantungnya mau copot.

"Gimana caranya?" tanya Zara masih kebingungan.

"Ada, deh. Serahin semua sama aku, beres," gumam Tisa mengacungkan kedua jempolnya.

Zara hanya mengangguk pasrah dan menurut akan rencana Tisa yang akan mendekatkannya dengan Ian, pujaan hati yang selama ini dia idam-idamkan.

Tiba-tiba jantung Zara berdetak kencang, ia tahu kenapa. Setiap Ian mau lewat, pasti jantungnya langsung berdetak. "Pasti Ian mau lewat, aku deg-deg an, Tis."

Benar saja, beberapa menit kemudian, Ian lewat, tanpa menyapa sedikit pun.

Tisa langsung menyengol tubuh Zara. "Ian, tuh," ledek Tisa.

Wajah Zara tersipu malu dan langsung memerah.

"Malu cieee ... cieee, " ejek Tisa lagi.

Zara memutarkan bola matanya. "Nggak, kok."

Tisa hanya mengangguk, tanda mengiyakan.

***

"Ian, ke kantin bareng, yuk. Ada yang mau omongin sama kamu," gumam Tisa saat istirahat tiba.

"Kamu mau ngomong apa?" tanya Ian sambil berjalan menuju kantin menyejajarkan langkah dengan Tisa.

"Jadi, ada yang suka sama kamu. Udah lama," ucap Tisa seusai tiba di kantin.

"Siapa?" tanya Ian penasaran. Ian membenarkan posisi duduknya, menatap Tisa dengan serius.

"Zara," jawab Tisa to the point.

"Oh, Zara? Aku kira kamu yang suka sama aku." Ian tertawa lepas. "Kalau aku sukanya sama kamu bukan sama Zara, gimana?"

Deg

Spontan jantung Tisa berdegup kencang. Tisa menggeleng tak habis pikir dengan ucapan Ian. Pasti Ian cuma bercanda, pikirnya.

"Apaan, sih. Aku serius. Zara udah lama suka sama kamu," jelas Tisa seadanya.

Ian hanya mengangguk pelan. Cowok itu hanya terdiam, tak bicara sepatah katapun. Jujur, yang selama ini Ian sukai adalah Tisa, bukanlah Zara. Bagi Ian, Tisa itu cantik dan anggun. Berbeda dengan Zara yang penampilannya apa adanya.

"Kamu ngapain, Tis, berduaan sama Ian di sini?" tanya Keyla yang spontan membuat keduanya kaget.

"Mau comblangin Ian sama Zara," bisik Tisa pada Keyla.

Keyla mengangguk dan membulatkan mulutnya. "Yaudah, aku ke kelas dulu, ya," pamit Keyla.

Sebelum Keyla bergegas menuju kelas, Tisa menarik tangan Keyla. "Jangan bilang ke Zara, ya, kalau aku baru comblangin dia."

Keyla mengangguk dan berlalu menuju kelas.

"Plis balas cintanya Zara. Aku mohon." Tisa memohon pada Ian dengan penuh harap sembari mengenggam tangan Ian erat.

"Kamu disuruh sama Zara?" tanya Ian, menatap Tisa penuh curiga. Ya, bisa saja Tisa melakukan hal ini karena disuruh oleh Zara.

Tisa menggeleng cepat.

"Maaf, aku nggak bisa." Ian berlalu meninggalkan kantin. Padahal Ian tetap berharap Tisalah yang menyukai dirinya bukan Zara.

"Ian, tunggu!" Tisa berteriak menyusul Ian yang sudah keluar kantin lebih dulu.

"Aku nggak bisa. Nanti kita ketemuan di kafe Bintang jam tiga sore. Aku tunggu," ucap Ian. Tisa hanya bisa memandangi punggung cowok itu yang mulai jauh.

*

Sore telah tiba, Tisa sudah berada di kafe Bintang bersama Ian.

"Ada apa kamu nyuruh aku ke sini?" tanya Tisa penuh tanya.

Ian menatap Tisa serius lalu mengenggam tangan Tisa. "Tis, aku suka sama kamu. Mungkin, aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Kamu mau kan jadi pacarku?" Ian mengungkapkan perasaannya pada Tisa. Dan, berharap Tisa mau menerima cintanya. Cowok itu sudah tidak bisa menahan perasaaan yang selama ini dia pendam.

Tisa melepas genggaman Ian. Tisa menggeleng pelan.Dia tak mau dianggap sebagai perebut orang yang disukai temannya.

"Kenapa? Zara, ya? Kita bisa pacaran diam-diam tanpa Zara tahu. Plis, terima aku." Ian kembali menggengam tangan Tisa. Tatapannya penuh keseriusan.

"Tapi-" Tisa tak melanjutkan kata-katanya.

"Udah lah, Tis. Ngapain kamu mikirin Zara? Aku sukanya sama kamu, bukan Zara. Zara bukan tipe aku."

Tisa seolah terbuai dengan rayuan maut Ian. Dan, akhirnya Tisa menerima cinta Ian.

"Oke, sekarang kita pacaran. Kalau di kampus kita harus bersikap biasa. Kalau waktunya tepat, kita bakal kasih tahu Zara yang sebenarnya," gumam Ian senang. Akhirnya, ia bisa berpacaran dengan cewek yang ia idamkan.

"Apa itu nggak menyakiti Zara?" tanya Tisa sedikit ragu.

Ian menggeleng, "Apa kita kasih tahu Zara, besok? Biar dia nggak mengharapkan aku lagi?" Ian menaikkan sebelah alisnya.

Tisa memanyunkan bibirnya. "Jangan, kalau waktunya udah tepat aja. Kalau Zara benci sama aku, gimana?" Di lain sisi, Tisa merasa bersalah pada Zara. Ia sadar, ia sudah menghianati temannya sendiri. Tapi, di lain sisi, ia juga ingin punya pacar-- yang pengertian seperti Ian.

"Makasih kamu udah mau nerima aku jadi pacar kamu. Aku ada sesuatu buat kamu." Ian menyodorkan bunga mawar untuk Tisa. Tisa terharu dengan yang Ian berikan. Ia langsung menerima bunga mawar dari Ian.

"Thanks, Honey," gumam Tisa dengan tatapan berbunga-bunga.

Ian mengangguk dan mereka berdua hanyut dalam suasana kafe sore itu.

*

Tisa dan Ian berjalan beriringan dari parkiran menuju kelas. Tepat di taman kampus, ia melihat Zara menuju ke arah keduanya. Dengan sigap, keduanya menjauhkan langkah mereka.

"Hai," sapa Zara setelah sampai di taman kampus.

"Hai, juga, Ra." Tisa menyapa balik Zara. Ada perasaan takut dalam benaknya. Ya, takut ketahuan kalau sudah berpacaran dengan Ian.

"Kalian berangkatnya bareng?" tanya Zara yang spontan membuat keduanya sedikit shock.

Ian menggeleng pelan, "Nggak, Ra. Tadi nggak sengaja ketemu di parkiran. Jadi, sekalian bareng."

Zara hanya mengangguk. Tak ada kecurigaan dalam hatinya. Ia berpikir se-positif mungkin.

"Yuk, ke kelas," ajak Tisa kemudian mengandeng tangan Zara menuju kelas.

Sesampainya di kelas, Zara duduk di belakang Tisa. Dan, Tisa duduk di depan sendiri—sebelah Ian.

Selang beberapa menit kemudian, Zara menghampiri meja Tisa untuk menanyakan kejelasannya mendekatkannya dengan Ian.

"Tis, gimana udah ada cara buat ndeketin aku sama Ian?" tanyanya lirih.

Tisa mengancungkan dua jempolnya. "Beres," ucapnya berbohong.

Zara seketika tersenyum. Zara sudah membayangkan rencana Tisa akan berhasil. Dan, sebentar lagi ia akan dekat dengan Ian. Zara sedikit melirik ke arah Ian. Tanpa Zara tahu, bahwa Ian sudah jadian dengan Tisa. Ian yang sadar diperhatikan oleh Zara langsung menengok. Dengan cepat, Zara langsung mengalihkan pandangannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Segitiga Yang Rumit
9.6
Alana Putri Pratama menjalani pernikahan dingin bersama Raihan Wijaya. Bagi Raihan, Alana hanyalah alat untuk memicu kecemburuan mantan kekasihnya. Saat sang cinta pertama kembali hadir, Alana diabaikan sepenuhnya dalam kehampaan. Di masa sulit ini, muncullah Daniel Sanjaya, seorang CEO tampan yang mulai mendekati Alana. Akankah Raihan tersadar sebelum istrinya berpaling, ataukah obsesi masa lalu akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel FORBIDDEN INLAWS
9.1
Alexys selalu mendambakan cinta yang tulus dalam hidupnya. Namun, ia tidak pernah menduga bahwa kakak iparnya sendiri yang menyimpan rasa cinta mendalam kepadanya secara rahasia. Setelah sang kakak menikah, Alexys mengira segalanya akan berjalan biasa saja, tanpa menyadari ada sosok yang selalu memperhatikannya dalam diam. Ketika perasaan terlarang ini perlahan mulai terungkap, mampukah Alexys menyadarinya? Apa yang akan terjadi pada mereka jika ternyata Alexys membalas perasaan tersebut?
Sampul Novel Lelaki Kedua
9.5
Tepat sebelum pernikahan, Arimbi Maulida mendapati tunangannya, Seno, berselingkuh hingga sepupunya, Nina, hamil. Demi menjaga nama baik keluarga dari skandal ini, ayah Arimbi memaksa Ganesha, kakak Seno yang kaku dan gila kerja, untuk menjadi suami pengganti. Meski dilingkupi rasa benci dan takut pada Ganesha, Arimbi tak punya pilihan selain menerima pernikahan dingin ini. Keadaan kian rumit saat Seno yang menyesal mulai mengejar Arimbi kembali.
Sampul Novel Naluri Lelaki
8.5
Eric Damian sukses besar dalam karier berkat kerja kerasnya, tetapi kehidupan asmaranya justru berjalan rumit. Di balik gelimang harta dan pencapaiannya, hati Eric telah tertutup rapat bagi perempuan lain. Naluri cinta dan ketertarikan mendalamnya hanya tertuju pada satu sosok wanita, yakni Dewi Bela. Kisah ini mengikuti perjuangan gigih Eric demi menaklukkan hati sang pujaan dan meraih kebahagiaan sejati bersamanya.
Sampul Novel Sebentuk Hati untuk Jingga
7.8
Trauma masa lalu membuat Jingga menutup diri dan memilih melajang, meski harus menghadapi tekanan sosial untuk menikah. Namun, pertahanannya goyah saat ia bertemu Angkasa, pria yang juga memiliki luka serupa. Kini, Jingga dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menyendiri demi keamanan hatinya, atau berani melangkah bersama Angkasa untuk saling menyembuhkan. Kisah hangat tentang perjuangan berdamai dengan luka dan menemukan cinta sejati.
Sampul Novel Wanita Berhati Dingin
9.4
Victor Hubertus tega meninggalkan Elena Gunther demi mengejar kekayaan Nicole. Kekejaman Nicole memuncak saat ia mencoba melenyapkan Elena beserta bayi yang baru dilahirkannya. Dua puluh tiga tahun berlalu, sesosok gadis misterius bernama Alexandra hadir. Di balik kecerdasan dan paras menawannya, ia merancang taktik rapi demi meruntuhkan kehidupan Victor dan Nicole. Siapa sebetulnya Alexandra, dan apa yang mendasari pembalasan dendamnya?