APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Miss Black Puteri CEO Yang Terbuang

Miss Black Puteri CEO Yang Terbuang

Rose hidup menderita sebagai anak yatim piatu sebelum Denzel mengungkap bahwa ia adalah putri kandung dari CEO Louis Brown. Untuk melindungi dirinya, Rose menyamar sebagai mahasiswi berprestasi bernama Rose Carter, yang diam-diam merupakan violinis misterius, Miss Black. Ketegangan memuncak saat putra angkat ayahnya, Luke, memaksanya menikah demi menguasai harta. Di tengah ancaman maut dari Peter dan Hendrick, kebencian Rose dan Luke berubah jadi cinta. Rose kini harus melawan pengkhianatan demi hidup bahagia bersama Luke.
Bab
Bagikan

Bab 3

Gwen kembali memperlihatkan video Miss Black kepada Rose.

"Miss Black tidak pernah memperlihatkan wajahnya di video. Yang terlihat hanya bagian pundak ke bawah. Tapi justru sisi misteriusnya ini yang membuat orang-orang semakin penasaran."

"Sepertinya kamu salah satu penggemar Miss Black, Gwen."

"Iya. Aku berharap suatu hari bisa menguak identitas Miss Black yang sebenarnya."

Dering ponsel Rose menghentikan obrolan mereka. Gwen melirik sebentar dan melihat nama "Daddy" muncul di layar ponsel Rose.

"Itu dari ayahmu, Rose?" tanya Gwen penuh selidik.

"Aku pulang duluan Gwen. Nanti aku akan menelponmu," kata Rose melambaikan tangannya.

Gwen mengerutkan kening melihat sikap aneh.Rose. Setiap kali ada panggilan dari "si Daddy", Rose selalu buru-buru pergi. Ia penasaran apakah ayahnya Rose seorang pria yang sangat galak sehingga putrinya sampai ketakutan.

Sembari memastikan tidak ada orang yang mengikutinya, Rose berjalan menuju ke parkiran. Ia membuka pintu mobil lalu menerima panggilan tersebut.

"Ada apa, Daddy?" tanya Rose.

"Nona, Anda ada dimana sekarang?"

Mendengar suara pria yang sudah akrab di telinganya membuat Rose tersenyum. Selama tujuh tahun terakhir, Denzel tak henti memperhatikannya. Pria itu tidak hanya bertindak sebagai wali tapi juga setia menjadi mentor dan pelindungnya.

Denzel sangat protektif terhadap Rose. Walaupun pelaku pembunuhan Louis Brown telah dipenjara, Denzel yakin jika supir pribadi Louis bukanlah pelaku sebenarnya. Kemungkinan besar sang dalang pembunuhan justru masih berkeliaran dengan bebas di luar.

Denzel juga mengajari Rose berbagai macam hal tentang dunia properti sekaligus menjalankan perusahaan dengan baik. Sedangkan Rose hanya diperbolehkan bekerja di belakang layar. Tidak ada satu pun karyawan maupun manajer yang mengenali Rose sebagai pemilik Brown Group.

Denzel adalah pengganti sosok ayah bagi Rose. Karena itu Rose memanggilnya dengan sebutan Daddy. Denzel pun tidak keberatan dipanggil seperti itu meskipun ia lebih pantas menjadi kakak Rose. Rose merasa sangat beruntung memiliki Denzel di sisinya. Apalagi pria itu mengabaikan kehidupan pribadinya sendiri demi melaksanakan amanat ayahnya. Hingga kini Denzel belum menikah maupun terlihat menggandeng seorang kekasih.

"Aku masih di kampus, sebentar lagi akan pulang."

"Jangan lupa makan siang, Nona. Sudah membaca proposal perumahan Lancewood?"

"Sudah. Aku menyukai konsepnya. Aku setuju jika kita memulai proyek pembangunannya bulan depan."

"Kalau begitu nanti malam saya akan ke rumah Nona untuk mengambil proposal. Sekalian mengantarkan dokumen kesepakatan dengan Grand Corp. Nona harus menandatanganinya sebelum hari Kamis."

"Tidak perlu. Besok aku akan datang ke kantor setelah mengikuti audisi biola. Aku merindukan suasana kantor."

Rose mengatakan itu dari lubuk hatinya. Terkadang ia sangat merindukan kantor Brown Group karena disitulah tersimpan banyak kenangan ayahnya. Di ruangan CEO, Rose bisa melihat foto-foto sang ayah dan beberapa benda kesayangannya. Meskipun Rose harus menyamar, itu tidak masalah baginya.

"Nona, Anda harus berhati-hati jangan sampai...."

"Iya, aku mengerti. Aku akan menyamar seperti biasanya. Jangan lembur lagi hari ini, Daddy. Sampai jumpa besok di kantor," ucap Rose menutup telponnya.

****

Kompleks pemakaman Saint Lorenz tampak lengang di sore hari. Seorang pria muda berjalan memasuki gerbang sambil membawa buket mawar merah. Ia sengaja memakai topi dan kacamata hitam untuk menyamarkan wajahnya. Yah, dia tidak ingin memancing pemberitaan di media jika sampai ada orang yang mengenalinya.

Pria itu berhenti di sebuah nisan berwarna putih. Pusara yang terbuat dari granit itu tampak bersih dan terawat. Di atas batu nisan tertulis sebuah nama dengan tinta emas, Jessica Brown. Pria itu bersimpuh lalu meletakkan bunga mawar yang dibawanya.

Sejenak ia diam tak bergerak, seolah merenungi sesuatu.

"Mama, besok aku akan kembali. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan kota ini, tapi aku sudah berjanji akan melaksanakan pesan terakhir Mama. Aku tidak akan membiarkan anak dari selingkuhan Papa menguasai harta keluarga Brown. Bila perlu aku akan membalas perbuatan ibunya yang sudah membuat Mama menderita."

Pria itu memanjatkan doa dengan tulus. Dengan berat hati, ia meninggalkan makam ibu angkatnya dan berjalan meninggalkan area pemakaman.

Setelah sampai di mobil, pria itu mengambil ponselnya. Ia menghubungi pelayan setianya sebelum kembali ke apartemen.

"Sam, apa semua baju dan barang-barangku sudah dimasukkan ke dalam koper?"

"Sudah, Tuan Muda."

"Bagus. Jam enam pagi aku harus berangkat ke bandara. Aku pergi dengan penerbangan pertama. Tolong persiapkan semua keperluanku. Jangan ada yang tertinggal."

"Baik, Tuan Muda."

Pria itu mengakhiri panggilannya. Berikutnya jari jemarinya berselancar dengan lincah di dunia maya. Ia sedang mengumpulkan berita dan artikel mengenai pewaris utama Brown Group. Pasalnya hingga kini ia tidak pernah muncul di publik. Para relasi bisnis pun belum pernah bertatap muka dengan wanita ini karena semua urusan diwakilkan kepada asistennya. Mereka hanya mengenalnya sebagai Miss Black.

Seulas senyum dingin tercetak di bibir pria itu. Memperlihatkan lesung pipit yang menghiasi paras tampannya.

"Mungkin kamu bisa bersembunyi dari dunia. Tapi kamu tidak akan lepas dari tanganku. Kita lihat sampai berapa lama kamu bisa bersembunyi dariku, Miss Black,"

gumam pria itu mengepalkan tangannya.

***

Ruang audisi sudah dipenuhi oleh para peserta. Rose memandang ke kiri dan ke kanan, mencari tempat duduk yang masih kosong.

"Rose sebelah sini," teriak seseorang memanggilnya.

Rose berpaling dan melihat gurunya, Mr. Robert, duduk di deretan bangku nomor tiga dari belakang. Di sebelah Mr. Robert ada seorang gadis berbaju merah. Gadis itu tak lain adalah Anneth. Entah mengapa Anneth muncul di acara audisi. Yang jelas kehadirannya pasti memiliki tujuan tertentu.

"Maaf, Mr. Robert, saya terjebak kemacetan," kata Rose meletakkan tas biolanya di bawah kursi.

"Aku kira kamu tidak akan datang, Rose," sindir Anneth.

"Audisinya baru dimulai sekitar lima menit lagi. Apa kamu sudah mempersiapkan diri, Rose? Aku yakin lagu Vivaldi tidak sulit untukmu."

"Iya, saya sudah berlatih semalam. Semoga penampilan saya tidak mengecewakan."

Tak berselang lama, dewan juri duduk di kursi masing-masing. Pembawa acara mulai memanggil peserta audisi untuk bersiap di belakang panggung. Anneth bisa menangkap bias kecemasan di wajah Rose dan itu membuatnya senang.

"Mr. Robert, saya harus ke belakang panggung sekarang. Saya mendapat nomor urut sepuluh," pamit Rose.

"Bersemangatlah, Rose," ucap Mr. Robert memberikan dukungan.

Anneth berdiri dan membisikkan sesuatu pada Rose.

"Hati-hati, Rose. Sainganmu adalah para senior. Jangan sampai kamu gugup dan melakukan kesalahan di atas panggung."

"Iya," jawab Rose singkat.

Berdiri sambil menantikan giliran, membuat detak jantung Rose naik turun bagai roller coaster. Ini adalah pengalaman pertamanya tampil di hadapan umum. Ditonton langsung oleh sekian pasang mata memberikan tekanan tersendiri bagi Rose. Tapi ia tidak bisa mundur. Bagaimanapun ia harus mampu mengatasi rasa gugupnya.

"Peserta nomor sepuluh, Nona Rose Carter."

Rose menarik nafas dalam-dalam. Bermodalkan keyakinan, Rose membawa biolanya ke atas panggung. Ia mengucapkan salam kepada dewan juri kemudian mulai menggesek senar biolanya.

Alunan Concerto in A Minor terdengar memenuhi seluruh ruangan. Dengan lincah jemari kiri Rose bergantian menahan senar, sementara tangan kanannya menggerakkan bow secara teratur. Sungguh lagu yang dimainkan Rose mengalun sempurna. Temponya juga sangat pas sehingga membuat penonton terhanyut dalam permainan biolanya.

Dari kursinya, Anneth membelalak tak percaya. Ia tidak mengira Rose memiliki kemampuan sehebat itu sebagai violinis pemula. Bahkan ia bisa menandingi keahlian para seniornya.

Tepuk tangan penonton membahana usai Rose menyelesaikan lagunya. Mr. Robert sampai berdiri dari duduknya karena bangga atas penampilan Rose.

Berbanding terbalik dengan yang dialami Anneth. Rencana yang telah disusunnya gagal total. Justru ia melakukan kesalahan besar dengan mendaftarkan Rose sebagai peserta audisi. Kini Rose malah mendapat apresiasi dari semua orang. Dan lebih parahnya lagi, ia bisa terpilih oleh dewan juri untuk mengikuti konser.

"Shit! Aku tidak akan membiarkan Rose berada di atas angin. Aku akan mencari cara lain untuk mempermalukannya," batin Anneth kesal.

****

Rose baru selesai mandi dan mengganti bajunya dengan setelan blazer. Ia butuh menyegarkan diri setelah melewati proses audisi yang menegangkan. Namun ia bersyukur karena semua usahanya tidak berakhir sia-sia. Impiannya mengikuti konser besar akan terwujud dalam waktu dekat.

"Rose, keluarlah. Tuan Denzel mencarimu," seru Lily mengetuk pintu kamar Rose.

"Iya, Auntie, aku segera turun."

Rose menyisir rambutnya lalu bergegas menuruni tangga. Tidak biasanya Denzel mengunjunginya di sore hari kecuali ada masalah kantor yang mendesak.

Setengah berlari, Rose menuju ke ruang tamu. Ingin sekali rasanya dia berbagi kebahagiaan dengan Denzel.

"Daddy, kenapa kesini? Aku baru saja akan berangkat ke kantor. Maaf jika aku terlambat karena aku menunggu pengumuman hasil audisi," jelas Rose.

"Saya ingin menjemput Nona. Saya pikir Nona pasti lelah jika harus menyetir sendiri sehabis mengikuti audisi."

"Aku tidak selemah itu, Daddy. Jangan meremehkanku. Sekarang aku sudah menjadi wanita dewasa, bukan anak-anak lagi."

"Bagaimana hasil audisinya, Nona?" tanya Denzel penuh perhatian.

"Aku lolos audisi dan terpilih mengikuti konser," ujar Rose kegirangan.

Tanpa sadar, Rose menghambur ke pelukan Denzel. Tindakan Rose yang tiba-tiba membuat Denzel terkesiap, namun ia membiarkan gadis cantik itu nyaman dalam dekapannya.

Rose yang menyadari kelakuannya menjadi malu. Ia melepaskan diri dari Denzel sambil meminta maaf.

"Maaf, Dad, aku terlalu gembira sehingga bersikap kekanak-kanakan."

"Tidak apa-apa, Nona. Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan Nona," tanya Denzel mencairkan suasana.

"Baiklah, aku setuju, Daddy," ucap Rose tersenyum.

Denzel mengalihkan pandangannya dari Rose. Menatap gadis itu terlalu lama tidak akan baik untuk dirinya.

"Mari Nona kita berangkat ke kantor," ujar Denzel mendahului Rose.

Rose keheranan dengan sikap Denzel yang mendadak berubah dingin.

"Apa dia marah karena aku memeluknya?" pikir Rose merasa tidak enak hati.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Awan Tenang, Angin Membawa Cinta
8.8
Setelah delapan tahun menjalin hubungan, Wulan mendapati kenyataan pahit saat keluar dari rumah sakit. Jordan, kekasihnya, ternyata telah membohonginya mengenai penyakit maag agar bisa mendonorkan sumsum tulang Wulan secara rahasia kepada Maya, cinta masa kecil Jordan. Alih-alih meluapkan kemarahan atas pengkhianatan kejam ini, Wulan memilih bersikap tenang. Ia segera menghubungi orang tuanya di luar negeri dan menyatakan kesediaannya untuk menikah dengan anggota keluarga Lunarman.
Sampul Novel Cinta Dibalik Dusta
7.8
Nia sangat terpukul saat menyadari pernikahan yang ia jalani selama delapan tahun dengan Arvan dipenuhi kebohongan. Statusnya ternyata hanyalah istri kedua. Di tengah niatnya untuk menuntut cerai, sebuah rahasia besar terungkap. Ayu, istri pertama Arvan, rupanya telah mengkhianati pernikahan mereka terlebih dahulu dan melahirkan anak dari lelaki lain. Kenyataan ini membuat Nia bimbang. Ia kini dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap pergi atau bertahan demi Arvan.
Sampul Novel La Tahzan, Miss Lemot
8.6
Vinessa, gadis periang yang rupawan, harus menghadapi kenyataan hidup yang begitu getir. Walau berhati mulia, ia kerap diremehkan dan kehadirannya tak pernah diinginkan oleh orang-orang di sekitarnya. Alih-alih mendendam atas perlakuan buruk dari keluarganya sendiri, ia memilih ikhlas menerima segala cemoohan sebagai takdir hidupnya. Ikuti kisah perjuangan Vinessa yang menyentuh hati dalam bertahan menghadapi kerasnya dunia yang tidak pernah berpihak padanya.
Sampul Novel MURIDKU KENIKMATAN KU
8.2
Pak Bowo, seorang duda yang juga seorang guru, menyembunyikan hasrat gelap di balik seragam dan wibawanya. Sesuatu dalam diri setiap murid cantik yang duduk di depan kelas selalu berhasil menggoda pikirannya. Perlahan, ia merancang rayuan berbahaya untuk menundukkan mereka. Setiap kata yang diucapkannya bukan lagi sekadar pelajaran, melainkan ajakan memasuki dunianya yang penuh kepatuhan. Di ruang tertutup, otoritasnya berubah menjadi alat untuk menyalurkan nafsu yang selama ini terpendam. Bagaimana seorang pendidik bisa menjelma menjadi penguasa atas kepolosan yang ia inginkan?
Sampul Novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua
9.2
Pasca kehilangan suami dan calon bayinya, Nadira Arsyad terpaksa menjadi ibu pengganti bagi anak bos mafia kejam, Rafhael Satrio. Di tengah rasa takut, benih cinta tumbuh meski terhalang dendam masa lalu. Terungkap bahwa mendiang suami Nadira terlibat kematian istri Rafhael, sementara Rafhael gagal menolong pria itu saat kritis akibat persaingan bisnis. Kini, Nadira terjebak di antara pengkhianatan masa lalu dan perasaan rumit. Akankah cinta menyatukan mereka atau justru memicu permusuhan abadi?
Sampul Novel Terjerat Pesona Sang Casanova
9.5
Bagi Regan, keputusan telah bulat dan penolakan bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru tertantang untuk terus mengikat wanita yang sangat dipujanya. Walau perasaannya bertepuk sebelah tangan dan sang wanita berulang kali mencoba kabur, Regan takkan membiarkannya lolos. Obsesinya begitu kuat untuk menahan wanita itu di sisinya selamanya. Tak peduli seberapa keras ia ditolak dan dihindari, Regan bersumpah akan terus mengejar dan menjadikannya milik pribadi.