APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mimpi Kelam Lilian

Mimpi Kelam Lilian

Lilian Audrey Grey memendam rahasia kelam serta kekuatan unik yang mengubah takdirnya. Hidupnya kian rumit saat terjebak perseteruan dengan Jaden, pria kasar yang mendendam padanya akibat perebutan warisan sang nenek. Menuduh Lilian sebagai penipu licik, Jaden memaksanya tunduk dalam kontrak mesum sepihak yang penuh intimidasi. Akankah Lilian menyerah pada paksaan berbahaya ini? Mampukah Jaden menyadari kebenaran saat rahasia Lilian terungkap, atau ia justru akan terus menyiksanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Lilian duduk di samping Greg selama meeting berlangsung. Setelah ia menyiapkan ruangan dan materi yang sekiranya sesuai dengan profil Jaden, ia berfokus pada laptopnya dan bersiap untuk mencatat poin-poin penting.

"Selamat siang, maaf saya sedikit terlambat."

Seth, sekretaris Jaden sendiri ikut bergabung beberapa menit sebelum meeting dimulai.

Para peserta meeting lainnya juga telah bersiap di tempatnya masing-masing untuk pertemuan kali ini. Selain dirinya, perwakilan dari divisi Media Planner, Creative Director, serta seorang Account Executive senior kepercayaan Greg juga turut serta di dalam meeting.

"Tak apa, silakan bergabung, Tuan." Greg tersenyum santai dan ramah.

Klien yang agensi dapatkan kali ini adalah seorang selebriti chef terkenal yang sedang naik daun. Greg tentu saja akan memberikan pelayanan maksimal untuk memenuhi kebutuhan klien penting tersebut.

Jaden yang memiliki begitu banyak penggemar sudah pasti akan menjadi magnet yang bagus untuk perusahaan agensi periklanan milik Greg. Ia pasti akan membawa keuntungan yang baik bagi perusahaannya.

"Baik, terima kasih untuk kepercayaan Anda pada agensi kami, Tuan Jaden. Akan kami pastikan, semua yang Anda inginkan akan kami sediakan dan siapkan semaksimal mungkin." Greg menutup meeting dengan wajah ceria.

Ia optimis dengan kepercayaan dan pilihan Jaden yang bekerjasama pada perusahaannya, nantinya akan menarik lebih banyak lagi selebriti lain untuk mengikuti jejaknya.

"Kami akan segera mulai bekerja secepat dan sebaik mungkin. Jika ada sesuatu yang mungkin Anda inginkan untuk proyek iklan komersial atau apa pun itu, Account Executive kami, William, akan dengan senang hati membantu Anda."

"Ia nanti akan menerusakan keinginan Anda pada perusahaan melalui Lilian. Dan Lilian yang kemudian akan mengurus segala kebutuhan dan semua permintaan Anda." Greg menjelaskan lebih lanjut.

"Terima kasih Tuan Greg. Aku tidak sabar ingin segera memulai proyek dengan kalian." Balas Jaden formal.

"Dengan kecakapan para karyawan Starry, aku rasa aku pasti puas dengan hasilnya nanti. Ditambah, Anda memiliki begitu banyak karyawan muda yang energik dan cantik-cantik." Jaden tersenyum lebar dan mengedipkan matanya dengan gaya kasual.

Greg tergelak menanggapi lelucon Jaden. "Benar! Bukan hanya kecantikan, tetapi juga kemampuan mereka semua layak untuk diperhitungkan. Aku dengar Anda begitu kewalahan menghadapi mereka?" Giliran Greg mengedipkan matanya untuk membalas lelucon Jaden.

"Woah! Anda benar, bukan hanya bahu, jari tangan, bahkan tubuhku tak sanggup untuk melayani mereka semua, Tuan!" Jaden memutar-mutar bahunya seolah ia telah melakukan pekerjaan yang berat.

"Haha! ... jangan biarkan orang lain salah paham dengan maksud Anda! Terima kasih sudah melayani karyawan kami yang merupakan penggemar Anda. Terima kasih juga untuk acara sesi foto dan tanda tangan yang tak terduga. Berkat Anda, karyawan kami kembali bersemangat. Haha! ..." Greg kembali tergelak.

"Anda salah satu klien kami yang berharga. Kami pastikan akan memuaskan keinginan Anda, Tuan." Greg menjabat tangan Jaden untuk menutup kesepakatan kerjasama mereka.

"Please, Jaden saja. Jangan terlalu formal padaku." Jaden menerima uluran tangan Greg dengan senyum lebar.

"Baiklah, kalau begitu, kau juga dapat melakukan hal yang sama padaku, Jaden."

"Tentu, Greg! Terima kasih."

Rombongan meeting mulai bergerak keluar untuk mengikuti Greg dari belakang. Jaden dan sekretarisnya Seth pun ikut keluar.

"Baiklah, kalian bisa mulai mengerjakan proyek untuk Tuan Jaden. Ingat untuk menyerahkan segala hasil pekerjaan kalian pada Lilian, agar ia dapat memeriksanya." Greg memerintahkan para karyawan dibidangnya untuk mulai bekerja. Setelah mengangguk, mereka undur diri untuk kembali ke tempatnya masing-masing.

"Baiklah Jaden, masih ada jadwal yang harus aku penuhi. Silakan kau bicarakan dan utarakan hal-hal yang mungkin belum tersampaikan pada meeting kita tadi pada Lilian." Greg merujuk pada Lilian yang kemudian mengangguk padanya.

"Tak masalah, terima kasih Greg," balas Jaden lagi.

Greg berbalik ke arah Lilian," Lilian, aku serahkan padamu." Greg menepuk ringan bahu Lilian, dan ia mengangguk tanda mengerti.

"Baik Tuan, Silvia yang selanjutnya akan menemani Anda. Semua jadwal Anda hari ini sudah saya sampaikan padanya."

Greg mengangguk dan kemudian berlalu meninggalkan Lilian dengan kedua pria itu.

"Tuan-Tuan mari silakan mengikuti saya. Saya akan menyiapkan kontrak dan menjelaskan isinya agar dapat segera Anda tanda tangani" Lilian memberi isyarat pada Seth dan Jaden agar segera mengikutinya.

"Baik Nona Lilian, terima kasih." Seth menjawab Lilian dengan formal. Lilian hanya mengangguk dan berjalan di depan untuk mengarahkan Jaden dan Seth.

Jaden mengamati Lilian dari belakang. Gadis yang berjalan di depannya itu tampak begitu ramping dan terlihat sangat profesional. Kekurangannya adalah tak ada sedikit pun senyum darinya. Semua gerak-gerik dan ekspresinya yang terlalu formal dan kaku itu tampak begitu mengganggunya.

Lilian membawa Jaden dan Seth ke dalam ruangannya. Sepanjang perjalanan mereka, banyak mata yang begitu berbinar dan terpesona oleh ketampanan Jaden saat ia melewati banyak meja kerja para karyawan perusahaan tersebut. Bahkan tak sedikit karyawan wanita yang refleks terpekik kecil dan berjingkrak penuh antusias saat idolanya melewati meja mereka.

"Oh My God! Lihatlah, itu Jaden! Aakh! ..."

Kikikan dan pekikan kecil yang tertahan terdengar samar-samar di sana-sini saat mereka menyusuri selasar yang penuh dengan meja para karyawan, terutama para pekerja wanita.

Jaden yang tersenyum dan melambai secara natural tampak begitu menikmati momen-momen itu. Ia telah terbiasa menerima tatapan kagum dan histeris dari para penggemar wanitanya.

Tatapan memuja dan penuh harap dari mereka membuat Jaden berbangga hati. Sudah jelas kemana pun ia pergi, para wanita pasti akan selalu mengerumuninya. Bahkan ia yakin seluruh wanita di kantor ini tak mungkin akan bisa menolak pesonanya.

Yah, kecuali mungkin hanya satu orang itu. Satu orang wanita yang tampak tak terpengaruh dengan kehadirannya sejak ia datang tadi. Wanita yang sedang berjalan di depannya itu membuatnya begitu penasaran.

"Apa ini kantor Tuan Greg?"

Seth membuka pembicaraan saat Lilian mempersilakan mereka masuk ke dalam ruangannya.

"Tidak, ini ruangan kerja saya. Saya akan mengantar kalian ke ruang tunggu jika kurang nyaman."

"Tidak, di sini saja. Aku rasa ruangan ini cukup nyaman." Jaden mulai berkeliling dan melihat-lihat isi ruangan Lilian.

"Baik, silakan duduk agar lebih nyaman Tuan-Tuan. Saya akan mempersiapkan kontrak kalian." Lilian mempersilakan para tamunya agar duduk di sofa nyaman untuk menunggunya.

Lilian bergerak menuju meja kerjanya dan bergegas memeriksa tumpukan berkas yang ada di atasnya.

"Ruanganmu sangat nyaman, Lilian." Jaden berkomentar santai.

Bukannya duduk, ia malah berjalan ringan sembari mendekati meja Lilian. Dengan natural ia mulai melihat-lihat apa saja yang menarik perhatiannya di sana.

Seth mulai menggigit bibir bawahnya. Ia hapal dengan sikap dan gerak-gerik Jaden. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan yang mungkin akan terjadi, Seth segera bangkit dari duduknya untuk mengikuti Jaden.

"Terima kasih, Tuan." Lilian menatap Jaden sejenak dan hanya menjawab dengan formal.

Ia sebenarnya sedikit canggung dengan situasinya saat ini. Lilian masih sibuk mencari berkas yang ia butuhkan saat Jaden akhirnya membuka suara lagi.

"Apa kau akan menikah dalam waktu dekat ini? Aku melihat ada buket pernikahan di sini. Aku penasaran seperti apa calonmu nanti." Jaden mulai usil dengan mengambil buket bunga milik Lilian yang tergeletak di sudut meja.

Lilian sejenak mengerjap. Ia merasa sedikit menyesal karena belum sempat membuang buket itu.

"Jaden, bagaimana jika kita duduk saja dan menunggu Nona Lilian untuk mempersiapkan kontrak kita?" Seth mulai waspada dan memberikan tatapan serius pada Jaden.

"Kenapa? Aku hanya mencoba bersikap ramah." Jaden tersenyum lebar sembari meletakkan buket milik Lilian ke tempat asalnya.

"Mari, silakan Tuan-Tuan." Lilian mengarahkan kembali Jaden dan Seth untuk duduk setelah ia mendapatkan berkas yang diperlukannya.

"Ini kontrak yang akan kalian tanda tangani, saya akan membacakan isinya untuk kalian." Lilian membuka berkas-berkas tersebut di atas meja agar dapat dibaca dengan mudah.

"Tidak perlu! Seth bisa memeriksa itu nanti," potong Jaden.

"Baiklah jika begitu. Silakan, Anda bisa menandatanganinya sekarang," Lilian menyodorkan berkas kontrak dan pena untuk Jaden tanda tangani.

"Bagaimana dengan kemejamu yang terciprat noda kopi tadi?" tanya Jaden tiba-tiba. Ia mengungkit lagi kejadian yang Lilian alami tadi.

"Aku lihat kau sudah mengganti kemejamu Lilian?" Jaden tersenyum sembari memperhatikan kemeja Lilian yang telah bersih.

Lilian sedikit terkejut dan sejenak mengalihkan tatapannya karena teringat kejadian yang kurang mengenakkan tadi. "Benar, saya telah menggantinya, Tuan."

Jaden menghembuskan napasnya sejenak, ia kemudian bersedekap. Melipat kedua tangannya di dadanya. "Lilian, bisakah kau tak terlalu formal dan kaku padaku? Kau lihat sendiri tadi, bahkan Greg pun dapat bersikap santai padaku."

"Jaden ..." Seth mulai memperingatkan. "Haha! Maaf, Nona, Jaden memang suka bercanda, mungkin maksudnya adalah ia tak terlalu suka dengan keadaan yang terlalu kaku dan formal, agar suasana lebih menyenangkan."

"Seth, taukah kau? Ia bahkan tak pernah tersenyum atau menatapku semenjak aku datang ke kantor ini," keluh Jaden tiba-tiba. Seth yang terkejut dengan ucapan Jaden, mulai memperingati lagi dengan tatapan matanya.

Lilian bergeming, "Maaf, Tuan, saya hanya berusaha bersikap profesional," ia menjawab Jaden dengan tenang dan sesopan mungkin.

"Ck! Aku rasa hanya kau yang bersikap terlalu profesional di sini. Bukankah karyawan periklanan seharusnya tampak cerah, ceria dan menyenangkan?"

"Jaden!" Seth membelalak gemas dengan kelakuan Jaden.

"Aku akan menandatangani kontrak jika kau tak berbicara formal padaku." Jaden menatap Lilian seolah menantangnya.

Disampingnya, Seth sibuk memijit keningnya. Ia seperti pasrah dengan kelakuan Jaden yang tampak jelas sedang mencari gara-gara dengan Lilian. Ia tak tahu mengapa Jaden bersikap seperti itu.

Lilian sejenak menghembuskan napasnya perlahan sebelum berkata, "Baiklah Jaden, silakan menandatangani kontraknya, aku akan mempersiapkan minuman untuk kalian." Kali ini ia tersenyum simpul dan singkat, sebelum kemudian bangkit untuk keluar dari ruangannya.

Jaden dan Seth membeku di tempatnya. Entah mengapa senyum Lilian yang seharusnya tampak ramah tadi terkesan begitu menyeramkan di mata mereka. Mereka hanya menatap kepergian Lilian dengan tatapan seolah tak percaya. Mereka benar-benar tak menyangka dengan reaksi yang Lilian berikan.

"Waah! Ia wanita yang mengerikan!" Gumam Jaden sambil bergidik tak percaya.

____****____

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After Marriage
9.5
Bagi Denisa, menikahi pria yang ia puja sejak SMA adalah impian yang jadi nyata. Namun, biduk rumah tangga mereka rupanya tak seindah dongeng. Hubungan pernikahan yang semula diharapkan harmonis kini perlahan hancur akibat bayang-bayang kelam dari masa lalu yang terus menghantui. Di tengah badai konflik yang tiada henti, Denisa kini dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan memperjuangkan cintanya atau menyerah dan menyudahi pernikahan ini.
Sampul Novel BUKAN FILOSOFI
8.1
Alaska menolak keras perjodohan yang diatur orang tuanya demi mempertahankan hak menentukan jalan hidup sendiri. Padahal, ia adalah lelaki pelindung yang sangat tulus mencintai kekasihnya. Malangnya, kesetiaan dan keberanian Alaska justru dibalas pengkhianatan yang amat perih. Di tengah rasa sakit itu, tuntutan dari keluarganya terus datang mendesak. Kini, sanggupkah Alaska bertahan ketika komitmen serta ketulusan cintanya diuji begitu hebat?
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia, seorang Wedding Organizer sukses, harus menelan pil pahit saat memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya tepat di malam sebelum pernikahan mereka. Terpukul oleh penghinaan itu, Sefia yang kalap nekat menawarkan diri kepada seorang pria asing di lift. Siapa sangka, pria bertubuh jangkung itu menanggapi serius dan membawanya ke ranjang. Kini, konsekuensi dari satu malam tersebut mengancam masa depannya tepat di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya.
Sampul Novel Suami Wasiat Dari Suamiku
9.5
Kebahagiaan Lina atas kehamilannya hancur saat sang suami, Arief, tewas akibat kecelakaan yang disebabkan oleh Andi yang mengemudi dalam kondisi mabuk. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Arief meninggalkan wasiat tak terduga: ia meminta Lina untuk menikah dengan Andi demi menjamin masa depannya. Kini Lina didera dilema batin karena harus hidup bersama pembunuh suaminya. Apakah pernikahan paksa ini akan berujung pada penebusan dosa Andi atau justru penderitaan baru?
Sampul Novel Terbelenggu Obsesi Sang CEO
9.1
Lima tahun berlalu, dendam Xavier pada Clara akibat patah hati masa lalu belum juga padam. Namun, krisis keluarga justru memaksa sang CEO menjadi pelindung bagi wanita yang dibencinya itu. Di tengah berbagai ancaman berbahaya, kebencian Xavier bergeser menjadi obsesi yang begitu kuat. Terjebak dalam situasi rumit, hubungan keduanya kian intens hingga batas antara rasa benci dan cinta yang membara perlahan-lahan mulai memudar.
Sampul Novel Wanita Incaran Sang Billionaire
9.2
Kehidupan Dylan Cassanova, miliarder berumur 27 tahun, selalu bergelimang kemewahan dan dikelilingi banyak wanita. Meski piawai memikat lawan jenis, hatinya tetap tak tersentuh oleh siapa pun. Segalanya berubah saat Serena Tanaya hadir. Serena tidak peduli pada kekayaan melimpah milik Dylan. Wanita ini justru mendambakan ketulusan di balik ambisi besar sang pria. Akankah Serena berhasil meluluhkan dinginnya hati Dylan yang selama ini membentenginya?