APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Messy LOSY

Messy LOSY

Dilara terjebak dalam hubungan toksik bersama Keenan, pria munafik yang tega menyiksanya secara fisik dan mental. Meski dikhianati dan diselingkuhi, ia sempat bertahan sebelum akhirnya lelah dan memutuskan pergi. Namun, Keenan menolak melepaskannya dan terus mengekang Dilara agar tidak bisa menjauh. Di tengah penderitaan yang menghancurkan impian indahnya tentang cinta, sanggupkah Dilara mengumpulkan kekuatan untuk melawan rasa sakit dan merebut kembali kebahagiaan sejatinya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Tak ada yang lebih melelahkan dari kata 'menunggu', tetapi kata 'Bertahan, walau tak diakui' itu rasanya lebih melelahkan." --- Dilara Atma Melisia.

***

Dilara mengulas senyum hangat memandang seorang laki-laki bersurai cokelat dengan gaya quiff tengah berlari di lapangan sambil membawa bola basket. Gayanya yang cool dan wajah tampan, membuat siapa saja yang memandang laki-laki itu akan jatuh hati. Terutama para gadis yang kini sedang memiliki kesempatan karena bisa menatap wajah tampan tersebut dengan lebih lama.

Sorakan terdengar bergemuruh di lapangan basket indoor milik Universitas Jawara. Poin terakhir didapatkan oleh Jawara saat Keenan si kapten basket berhasil memasukkan bola ke dalam ring sang lawan.

Hati Dilara merasa bahagia melihat kemenangan di tim basket kampusnya. Kakinya ingin melangkah menghampiri Keenan, tetapi ia urungkan saat para gadis mulai mengerumuni seraya memberi hadiah, minum, atau sekadar ingin foto bersama dengan laki-laki berpangkat kapten basket itu.

Jujur saja ia merasa cemburu melihat laki-laki itu selalu dekat dengan gadis lain. Tepukan di bahu membuat ia menoleh ke samping di mana sang sahabat berdiri.

"Enggak usah heran, Keenan emang gitu. Dia femes banget, sih. Sering dikerumuni sama cewek," ujar Jelita.

Dilara hanya mengulas senyum tipis. Ia sudah tahu kalau soal kepopularitasan Keenan di kampus, selain pintar dalam bidang olahraga. Laki-laki itu juga sangat pintar dalam bidang akademik, hingga membuatnya sangat popular.

Mata Dilara berbinar saat Keenan menatap ke arahnya. Namun, kebinaran tersebut meredup tatkala laki-laki itu membuang muka seolah-olah mereka tak saling kenal dan berlalu begitu saja.

"Lo kenapa, La? Setiap lo ngeliat Keenan, muka lo kayak yang sedih gitu," papar Jelita menyamakan langkahnya di samping Dilara.

Dilara tak menjawab. Wajar saja ia merasa sedih saat melihat laki-laki itu selalu dikerumuni oleh gadis lain. Apalagi kalau soal acuh tak acuh dengan sikapnya. Toh, ia merupakan kekasihnya tanpa diketahui oleh teman-teman kampus. Tak ada yang tahu mengenai hubungan ia dan Keenan. Laki-laki itu enggan mengumbar status resmi mereka di depan khalayak ramai.

Padahal ia ingin sekali memiliki hubungan yang indah dan penuh akan cinta. Akan tetapi, angannya hanyalah semata saja. Keenan berbeda dengan laki-laki lain, sangat berbeda.

"Lo kayak punya beban berat, La," tutur Jelita. Gadis bermata sipit itu tak henti-hentinya mengoceh demi bisa mendapatkan jawaban dari Dilara.

Dilara menghentikan langkahnya saat sampai di depan kelas. Lima belas menit lagi, mata kuliah tentang pembangunan yang ia ambil akan segera dimulai. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu, karena di mata kuliah inilah ia bisa mengejar berbagai tugas untuk wisuda dan mendapat beasiswa kembali.

"Aku ada kelas, kamu enggak masuk mata kuliah pembangunan?" tanya Dilara menatap Jelita.

Jelita memanyunkan bibirnya, ia merasa kesal karena pertanyaannya telah diabaikan. Kini malah Dilara mengalihkan pembicaraan.

"Gue enggak ngambil itu. Kalo lo ada kelas, yowes masuk, dah. Nanti kita ketemu di kantin aja."

"Oh ya, satu lagi. Dosen pembangunan sudah diganti, bukan Bu Herti lagi. Gue denger, sih, tuh dosen irit kali ngasih nilai."

Dilara mendelik tajam, lalu mencubit pelan lengan Jelita karena telah mmbicarakan orang lain yang belum tentu seperti itu faktanya.

Sebelum tangannya memerah, Jelita lebih dulu menghindar dan tertawa kecil saat berhasil kabur dari Dilara. Sementara Dilara ia hanya menatap punggung mungil milik Jelita yang sudah menjauh. Lalu berjalan memasuki kelasnya.

***

Setelah mata kuliah pembangunan telah usai. Dilara melangkah menelusuri koridor untuk sampai di perpustakaan, mengingat ada buku yang ingin ia baca. Rumor mengenai dosen pembangunan yang tegas dan pelit nilai memang ada benarnya. Semoga saja ia bisa menyelesaikan tugas dengan baik dan mendapatkan nilai yang lebih baik di mata kuliah tersebut. Langkahnya memelan saat sorot mata tak sengaja tertuju pada Keenan yang tengah berkumpul bersama teman-teman tongkrongan laki-laki itu.

Buru-buru Dilara kembali melangkah menjauh ketika tak sengaja Keenan juga tengah menatap dirinya. Ia tidak mau membuat sang kekasih kesal karena kehadirannya di depan teman-teman laki-laki itu.

"Gue udah pernah ngingetin sama lo, 'kan? Jangan mandang gue lama pas gue lagi kumpul."

Suara berat milik seorang laki-laki yang sedang dihindari kini menyapa di telinga. Membuat tubuh Dilara menegang bersamaan berbalik menghadap Keenan yang tengah berdiri sambil memasukkan tangan ke saku jaket.

"M--maaf," ucap Dilara terbata-bata.

Keenan menatap acuh tak acuh pada Dilara. Ekor matanya melirik ke kanan-kiri mengawasi keadaan sekitar takut ada yang melihatnya berbicara dengan Dilara. Ia enggan jika hubungannya dengan gadis itu diketahui oleh orang lain.

Keenan berdecak kesal. Ia menarik tangan Dilara menuju belokan kiri di mana jalan menuju gudang belakang. Gadis itu berusaha menepis cekalan di tangannya, menatap wajah Keenan dengan bingung.

"K--kamu kenapa, sih?"

"Gue nyesel nge-iyain lo kuliah di sini," ujar Keenan menatap Dilara tanpa ekspresi.

Dilara mengembuskan napas kasar mendengar kalimat itu. Waktu ia mendapatkan beasiswa, ia sama sekali tidak tahu bahwa ia akan satu kampus dengan Keenan. Jika ia tahu dari awal, mungkin ia akan menolak dan menunggu kesempatan kedua.

"Kamu takut kalo hubungan kita diketahui oleh orang lain?" Dilara bertanya seraya menunduk. Enggan menatap manik mata Keenan yang tampak dingin.

"Inget, Ra. Lo itu cuma pelampiasan gue, jangan mimpi yang tinggi-tinggi."

Dada Dilara terasa sesak mendengarnya. Padahal dulu, Keenanlah yang mengejar dirinya untuk dijadikan kekasih. Namun, lama kelamaan sikap laki-laki itu terendus; kasar, tempramen, dan tidak bisa ditebak.

Sudut bibir Dilara tertarik ke atas membentuk senyuman kecil. Wajahnya berseri menatap Keenan. Ia tidak boleh menyerah, sebelum mendapatkan hati laki-laki itu. Terutama ingin dicintai. Susah payah ia bersabar dan bertahan, kini ia hanya perlu berjuang agar mendapatkan cinta dari Keenan.

"Enggak apa-apa. Nanti juga kamu bakalan cinta sama aku," ucap Dilara mengulas senyum kecil. Ia sangat percaya diri bahwa ucapannya akan terkabul, berbeda kalau bagi Keenan.

"Lo jangan terlalu berharap, Ra. Nanti jatuhnya lo malah kecewa sama gue."

"Keen lupa? Aku kuat dan sabar, buktinya aku masih kuat menjalin hubungan sama kamu." Senyum Dilara memudar. "Ya ... walaupun ada hati yang terluka setiap harinya, Keen," lanjut Dilara melanjutkan dalam hati.

"Bodo amat! Gue enggak mau tahu. Satu lagi, gue enggak mau lo sok akrab sama senior atau teman satu kelas lo. Kalo sampe gue liat lo jalan bareng sama senior cowok atau temen kelas." Keenan mencodongkan tubuh ke depan, bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tipis. "Lo bakalan habis di tangan gue," desis Keenan.

"Kalo aku enggak boleh deket sama mereka. Seharusnya kamu juga harus bisa jaga jarak sama cewek lain," ujar Dilara mengemukakan kalimat yang selalu ia tahan saat tak sengaja melihat Keenan selalu berduaan dengan gadis lain.

"Lo siapa ngatur-ngatur? Yang cuma bisa ngatur di sini itu gue, bukan lo!"

Dilara mengembuskan napas kasar. Merasa sedih karena tak diakui sebagai kekasih oleh Keenan. Tidak ada kisah kasih yang membahagiakan, selalu saja menyesakkan. Terlebih lagi ia hanyalah bahan pelampiasan saja.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan, miliarder ramah namun ceroboh dalam asmara, kerap memicu pertikaian keluarga karena gemar merayu kekasih para sepupunya. Namun, hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan. Kini, sang bujangan kaya harus berjuang keras membuktikan ketulusan hatinya. Sanggupkah Erhan meyakinkan wanita tersebut bahwa ia telah sepenuhnya menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Gemintang
8.8
Hati Gemintang Farhana hancur setelah dicampakkan oleh Bachdim, cinta pertamanya. Demi memulihkan diri, ia beralih pekerjaan dan justru jatuh hati pada Amar Dwirangga, atasan sekaligus seniornya. Kehadiran Amar yang penuh perhatian perlahan memulihkan lukanya. Namun, takdir berkata lain saat restu semesta menghalangi hubungan indah mereka hingga harus berpisah. Kini, keduanya terjebak dalam kerinduan mendalam tanpa bisa bersama, menyisakan memori manis yang tidak berujung bahagia.
Sampul Novel Melupakan Pria Berengsek
8.6
Menjelang pernikahan, kecelakaan fatal yang direncanakan oleh teman masa kecil tunanganku hampir merenggut nyawaku. Tragisnya, tunanganku dan kekasih selebritas sahabatku mengabaikan panggilan darurat demi menemani wanita itu yang sedang flu. Setelah berhasil melewati masa kritis di rumah sakit, aku dan sahabatku sepakat untuk membatalkan rencana pernikahan kami. Keputusan sepihak ini seketika membuat kedua pria yang telah mengabaikan kami tersebut menjadi gila karena penyesalan.
Sampul Novel PAMANKU SUAMIKU
8.2
Demi wasiat terakhir orang tuanya yang tewas kecelakaan, Aruna terpaksa menikahi pamannya sendiri, seorang pria yang dirumorkan sebagai bos mafia kejam. Namun, ketangguhan Aruna setelah hidup menderita selama sembilan belas tahun justru mampu meluluhkan hati sang suami. Ujian berat pun datang saat rahasia besar terungkap, bersamaan dengan munculnya wanita yang mengaku calon istri sah serta bayang-bayang masa lalu sang paman. Sanggupkah Aruna menjaga pernikahannya di dunia gangster?
Sampul Novel Smith
9.6
Xerdan Leonald Smith, violinis sukses asal Italia yang kaya dan rupawan, ternyata menyimpan kekejaman tersembunyi di balik pesonanya. Saat ia melawat ke kampus lamanya di Indonesia bersama sang asisten, Jordan Aston Rodriguez, takdir mempertemukan mereka dengan dua wanita, Nurhidayah Sawira dan Inti Aisyiyah. Pertemuan ini menyeret mereka ke dalam pusaran asmara yang rumit, di mana rahasia kelam Xerdan perlahan mulai terkuak. Ikuti kisah cinta penuh misteri dari kedua pasangan ini.
Sampul Novel SWEET ESCAPE
9.5
Sebastian Winata dan Ayuna Larissa bertemu saat sama-sama melarikan diri dari keputusasaan. Sebastian, yang didera konflik rumah tangga, terkejut melihat siswinya sendiri keluar dari kelab malam. Di tengah pelarian emosional tersebut, Ayuna menyadari posisi sulit mereka. Ia pun menegaskan bahwa Sebastian tidak mungkin membagi hati, sebab dirinya hanyalah tempat persinggahan sementara yang tak akan pernah menjadi rumah bagi sang guru.