
Merelakan Suamiku Untuk Adik Tiriku
Bab 2
Gavin tampaknya baru mengingat hal itu. Tidak ada suara di ujung telepon untuk sesaat. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi Harlan tiba-tiba merebut ponselnya.
"Mayra, apa kamu bisa berhenti bertingkah rendahan seperti ini? Kamu pikir semua orang sepertimu yang suka bersaing?"
"Aku sarankan kamu berhenti membuat drama! Kalau sampai mengganggu pekerjaan Kak Gavin, apa kamu bisa tanggung jawab? Berhenti bertingkah bodoh dan membuat orang lain membereskan kekacauanmu!"
Setelah mengatakan itu, Harlan langsung mengakhiri panggilan.
June yang bersandar di pelukan Gavin, tersenyum lembut sambil mengusap kepala Harlan. Setelah itu, dia membujuk dengan suara lembut, "Sudahlah, kalian tahu seperti apa sikap Mayra. Hari ini adalah hari terpenting dalam hidupku. Jangan marah ya? Senyum dong."
Hanya dengan satu kalimat, Harlan langsung luluh.
Mereka semua berjalan dengan riang menuju kamar pengantin.
Saat keramaian menghilang, aku sendirian di bawah gelapnya malam, seperti badut yang tidak dipedulikan siapa pun.
Aku membuka ponsel dan menjadwalkan operasi aborsi, lalu berbalik dan pergi. Kini, aku tidak menginginkan lagi cinta yang telah kunantikan selama 15 tahun.
Saat kembali ke kota, waktu sudah larut malam. Aku memesan hotel, lalu mandi dan tertidur dalam keadaan linglung.
Di tengah malam, aku terbangun oleh dering telepon yang nyaring. Suara pemimpin stasiun TV terdengar panik sekaligus bersemangat. "Mayra! Kudengar desa tempatmu berada mengalami gempa bumi 5.3 SR kemarin! Cepat ambil liputannya!"
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menutup telepon. Aku merasa semua ini sangat ironis. Jika tahu begini, aku tidak akan datang.
Dengan pasrah, aku bangkit dan membuka layar ponsel. Tanpa sengaja, aku melihat unggahan terbaru June di media sosialnya.
Hanya ada satu foto. Di dalamnya, tangan kecil dan putih milik June digenggam oleh tangan Gavin yang besar dan kekar. Di jari manis mereka, cincin pasangan melingkar sempurna.
Mataku tertuju pada bekas luka samar di punggung tangan Gavin. Hatiku yang sudah mati rasa, masih saja terasa sakit.
Luka itu karena ditusuk pecahan botol bir saat Gavin melindungiku dari ayahku yang mencoba menyerangku. Saat itu, aku berusia 18 tahun. Aku mengira itu adalah bukti bahwa dia peduli padaku, tetapi ternyata semua itu hanya ilusiku.
Perasaan terakhir dalam hatiku telah padam sepenuhnya.
Aku menyalakan laptop, menyelesaikan materi wawancara secepat mungkin, lalu meminta temanku yang seorang pengacara untuk membuatkan surat cerai.
Saat kembali ke desa, tempat itu telah porak-poranda. Aku menekan emosiku, lalu menghubungi tim penyelamat untuk membantu para warga yang terkena dampak bencana.
Entah kenapa, dampak gempa kali ini terasa jauh lebih parah dari perkiraan. Mataku tertuju pada bahan peledak yang digunakan untuk menggali gunung di dekat desa yang baru dibangun. Sebuah firasat buruk muncul dalam hatiku.
Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, seseorang menendangku dengan keras dari belakang. Aku yang lengah pun terjerembap ke tanah berkerikil yang hancur akibat gempa. Kulit tanganku dan wajahku langsung terkoyak, menimbulkan luka yang perih.
Suara Harlan terdengar dari belakang, penuh amarah. "Mayra! Kamu itu kayak lintah ya? Kamu kemari cuma buat menangkap basah mereka? Kamu sakit jiwa ya?"
Entah sejak kapan, Harlan telah melupakan bagaimana ibu kami dipaksa mati oleh ibu June. Kini, dia hanya menjadi anjing penjaga June. Aku tidak membutuhkan adik seperti ini.
Tanpa berkata apa pun, aku bangkit dan menepuk debu dari bajuku. Dengan ekspresi datar, aku berjalan ke arahnya dan menamparnya dengan keras.
Tamparan itu membuat kepalanya menoleh ke samping. Harlan menatapku dengan terkejut, tidak menyangka aku akan melawan kali ini.
Tanpa memberinya kesempatan berbicara, aku menatapnya dengan jijik dan berkata, "Jangan terlalu percaya diri. Kalau kamu memang begitu menyukai June, silakan menjadi anjingnya."
"Tamparan ini untuk membayar semua yang kamu lakukan. Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan lagi."
Mengabaikan tatapannya yang penuh amarah, aku berbalik dan melanjutkan wawancaraku.
Tidak jauh dari sana, Gavin mendekat sambil memeluk June yang wajahnya tampak pucat. Kilatan rasa bersalah melintas di wajahnya. Dia menjelaskan, "Mayra, semalam aku lupa mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Setelah penggalian ini selesai, aku akan pulang dan merayakannya bersamamu ...."
Anda Mungkin Juga Suka





