APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Merebutmu Kembali

Merebutmu Kembali

Sebagian orang berusaha pulih dari trauma, sedangkan yang lain memilih menghindar. Chandani kini berada di persimpangan jalan ketika kenangan masa lalu yang menyakitkan mendadak kembali membayanginya. Ironisnya, pria yang menjadi penyebab luka batinnya justru datang membawa lamaran pernikahan. Haruskah ia menerima pinangan tersebut atau kabur demi kedamaiannya? Di tengah situasi pelik ini, kegelapan justru tampak menjadi satu-satunya penentu arah takdirnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah mengantarkan para tamunya keluar, Chandani pun segera kembali ke ruangan. Dia berjalan sembari terus tersenyum dan mengucap syukur setiap kali teringat presentasinya tadi. 'Aku berhasil ya Allah.' Monolognya.

Inilah buah dari usaha Chandani selama ini. Dia merasa ini pertanda baik bagi keberlangsungan karir dan hidupnya. Chandani kerap kali menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Hingga tak ayal dia akan pulang larut malam hampir setiap hari. 'Alhamdulillah.' Chandani tak kuasa menahan luapan kegembiraan

Sepertinya Chandani mulai menyukai pekerjaan ini. Karena sebab pekerjaan inilah insomnianya sembuh. Chandani tidak lagi kesulitan tidur atau memerlukan obat tidur setiap malam, sebab dia selalu pulang dalam keadaan kelelahan.

Sesampainya di ruangan, Chandani langsung disambut pertanyaan penasaran para temannya.

"Canda, gimana?" Alisia.

"Gimana, Kak?" Mirna.

Mimik wajah keduanya tampak tegang.

Chandani mendongak menatap Mirna dan Alisia dengan tatapan serius lalu seulas senyum perlahan tersungging di kedua sisi bibir cantiknya. "Berhasil!" serunya memecahkan keheningan.

Alisia dan Mirna sontak saling menatap keheranan lalu beberapa detik kemudian terkinjat kegirangan.

"Benarkah?!" tanya Alisia dengan roman wajah sumringah.

"Hmm." Chandani menganggukan kepala dengan tak melepaskan senyumannya. Hingga sepersekian detik seterusnya dia pun ikut melompat-lompat kegirangan bersama Alisia dan Mirna.

"Yee!!" seru ketiganya bersamaan.

***

"Presentasi tadi sungguh mengagumkan. Dia benar-benar fasih dan luwes dalam menyampaikan isi proposalnya," puji seorang pria yang tengah duduk di kursi keagungannya-Muhammad Aldebaran Prawiro, dua puluh empat tahun. Dia adalah pemilik King's Palace Group serta hati para karyawatinya. Bagaimana Aldebaran tidak akan menjadi idaman para kaum hawa, saat kesempurnaan fisik dan akhlak yang nyaris sempurna, dia miliki.

Pria keturunan bule itu terlihat tampan dengan bentuk wajah oval, hidung flesly, up-turned eyes, dan bibir tipis. Tinggi badannya seratus delapan puluh lima sentimeter dengan berat delapan puluh delapan kilogram. Para pegawai wanitanya yang semula berpakaian minim, kini satu persatu mulai menutup aurat. Semua itu tak lepas dari daya tarik Aldebaran yang begitu memikat. Pesonanya mampu memberikan perubahan besar pada sebagian besar karyawati di kantornya.

"Tuan benar. Selain cantik dan santun, Nona Chandani juga cerdas." Andy.

"Dia memang wanita yang sempurna." Aldebaran tersenyum simpul kepada lawan bicaranya.

"Kenapa, Tuan, nggak menghadiri sendiri rapat tadi? Padahal jadwal pertemuan dengan Pak Menteri nggak berbenturan dengan rapat proyek Istana Tekstil?" tanya Andy. Pria yang lebih tua tujuh tahun dari Aldebaran itu tampak penasaran.

Sebelumnya Andy merasa penasaran kepada sang majikan. Sebab tuannya itu bersikeras ingin membeli sejumlah saham dari Istana Tekstil. Padahal IT tidaklah memberikan keuntungan berarti, bahkan perusahaan itu juga sedang tidak stabil. Istana Tekstil hanyalah sebuah perusahaan tekstil kecil yang baru memiliki dua cabang di negara ini dan hampir bangkrut pada tujuh bulan yang lalu. Sangat berbeda jauh dengan KPG yang merupakan salah satu perusahaan multinasional besar dan kuat.

Namun, setelah Andy bertemu langsung dengan Direktur Utama dari perusahaan itu, dia mulai berasumsi. Mungkin tujuan sang tuan besar ingin menjalin kerjasama dengan IT bukan sebab untung rugi, tetapi karena jatuh cinta. Namun, segera Andy menepis pikiran itu. Tuannya bukanlah tipe pria sederhana yang akan rela menjadi seorang bucin "budak cinta" karena itu sangat bertolak belakang dengan kepribadian Aldebaran.

"Masih belum saatnya." Aldebaran tersenyum ramah.

Aldebaran sudah menyukai Chandani sejak dia masih duduk di bangku kelas enam SD. Gadis itu merupakan adik kelasnya. Namun, karena sikap egois dan kebodohannya dulu. Dia malah melakukan suatu kesalahan yang takkan termaafkan oleh gadis pujaannya tersebut.

Dulu usia Aldebaran masih belasan dan dia masih terlalu impulsif dalam mengambil keputusan. Dia mengira dengan melakukan hal bodoh itu, Chandani akan menjadi miliknya seutuhnya.

Namun, siapa sangka? Hal itu justru membuat Aldebaran kehilangan kesempatan bahkan hanya untuk sekedar mendekatinya. Beruntung keluarga Bahuraksa tidak melaporkannya ke polisi kala itu. Semuanya menggantung begitu saja.

Sudah lima tahun lamanya Aldebaran memendam rasa bersalah terhadap Chandani. Dia merasa menjadi laki-laki terbodoh di dunia, karena perempuan yang seharusnya dia lindungi, justru malah dia sakiti. Pria macam apa dia?

Aldebar mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang. [Assalamualaikum] Terdengar suara Daniel-ayahnya, dari sambungan telepon.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aldebaran. "Dad, aku rasa malam ini waktu yang tepat untuk kita datang ke sana."

[Apa kamu yakin?]

"Iya, Dad, Insyaallah aku sudah siap menerima segala kemungkinan buruknya." Nada bicara Aldebaran penuh keyakinan.

Daniel menghela napas lelah. [Baiklah] Dia merasa tak habis pikir dengan apa yang diinginkan anak semata wayangnya itu.

"Terima kasih, Dad." Aldebatan tersenyum puas saat mendengar persetujuan dari sang ayah.

[Hmm, pulanglah ke rumah hari ini, kita berangkat ke sana bersama-sama nanti]

"Baik."

[Daddy tunggu, Assalamualaikum]

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Aldebaran lekas menutup sambungan telepon.

Kemudian Aldebaran menyandar malas sembari menengadah menatap langit-langit kantornya dengan seulas senyum mengembang di wajah. Dia merasa sangat bahagia karena hari yang selalu dia tunggu pun akhirnya tiba. Malam nanti Aldebaran akan berjumpa dengan Chandani-gadis pujaan. Dia akan melamarnya dan menjadikan Chandani pendamping hidup dunia akhirat, Insyaallah.

***

Kring! Dering ponsel Chandani.

"Assalamualaikum, Dek."

[Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Teh. Ini Papa pengin ngomong] Suara Alia dari sambungan teleponnya.

[Hallo, Teh] Suara Darma-ayahnya, dari sambungan telepon.

"Iya, Pa, ada apa?"

[Kamu pulang jam berapa?]

"Emmm." Chandani mengangkat tangannya sedada untuk melihat jam di pergelangan tangan. "Pukul lima, Pa. Kebetulan kerajaan aku nggak banyak hari ini."

[Baiklah]

"Memangnya ada apa, Pa?"

[Ada yang ingin bertemu denganmu]

Chandani mengerutkan kening. "Siapa?"

[Nanti juga kamu akan tau]

"Laki-laki?" tanya Chandani memastikan.

Ayahnya tak menjawab.

Sudahlah, yang ingin bertemu dengannya pasti seorang laki-laki. Chandani menghela napas lelah. Dia sudah malas menghadapi setiap pria yang melamarnya. Tidak bisakah para pria itu mengerti, kalau Chandani tidak ingin menikah? "Pa, Teteh kan, udah pernah bilang. Teteh nggak mau nikah, Pa," ucapnya lemas.

[Huss ... kamu itu ngomongnya jangan ke mana saja] ujar ayahnya memperingatkan dari sambungan telepon.

"Papa kan, tau sendiri alasannya." Chandani menyandarkan punggungnya malas di sofa.

"Teteh, hidup Papa mungkin nggak akan lama lagi. Papa, udah sakit-sakitan sekarang. Papa hanya ingin, saat Papa meninggalkanmu dan Alia nanti, kamu sudah memiliki seseorang yang bisa melindungi kalian, melindungimu dan adikmu," tutur Darma lirih dengan suara bergetar. Dia selalu merasa sedih setiap kali mendengar ucapan putrinya tersebut. Rasa bersalah kian menggerayangi. Sikap Chandani kini tak lepas dari kesalahannya dahulu.

"Papa ngomongnya jangan ke mana saja. Papa itu mau hidup sampai aku tua. Kita akan meninggalkan dunia ini bersama, Pa." Perlahan cairan bening mulai menggenang di telaga mata Chandani. Hanya membutuhkan sekali kedutan saja, maka benih bening itu akan meluncur.

Hati Chandani terasa nyeri saat mendengar kata-kata putus asa dari sang ayah. Dia belum siap untuk kehilangannya. Chandani sangat menyayangi Darma, dunia terasa gelap setiap kali dia membayangkan hari itu tiba. Dia takkan sanggup, dia tak mau jika harus kehilangan ayahnya, Chandani sangat mencintainya.

***

Chandani tengah membereskan meja kerjanya. Dia merasa malas untuk pulang. Namun, sebagai seorang anak yang baik, dia tidak boleh mempermalukan ayahnya. Dia takkan sanggup melihat wajah sedih kecewa sang ayah.

Entah anak siapa lagi yang akan ayahnya perkenalkan kali ini. Sudahlah, seperti biasa, Chandani hanya cukup menemui pria itu lalu semua keputusan ada di tangannya. Entah sudah berapa lamaran yang ditolaknya. Bukan Chandani sombong atau mempunyai selera tinggi terhadap laki-laki. Chandani hanya belum memiliki niatan untuk menikah. Dia masih ingin menikmati hidupnya yang sudah dirasa sempurna. Chandani merasa belum membutuhkan pendamping.

Chandani tahu kalau menikah merupakan salah satu sunnah para Rasul yang dianjurkan. Namun, menikah juga bukan hal mudah baginya. Karena setelah Chandani menikah, dia takkan bisa tinggal bersama ayahnya, dan takkan bisa lagi mengurusinya. Belum lagi trauma Chandani dulu yang membuatnya kesulitan menerima sosok orang baru di dalam hidupnya, terlebih laki-laki.

"Canda, lo kenapa?" Alisia heran kala melihat temannya menggeleng-gelengkan kepala seperti orang ayan.

"Nggak, aku gapapa," jawab Chandani singkat padat dan jelas.

"Hati-hati kesambet, lo. Gue perhatiin dari pagi lo ngelamun terus."

"Ya nggak lah." Chandani terkekeh pelan.

Alisia tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu bertanya, "Em lo mau balik? Balik bareng, yuk? Tenang, gue anterin sampe rumah kok, Sistah."

"Emang nggak ngerepotin?"

"Ya elah, nggak kali. Masa nganterin lo doang ngerepotin, sih?"

"Ya udah deh, aku mau." Chandani setuju.

Alisia dan Chandani pun pulang bersama. Alisia merupakan salah satu karyawan di kantor ayahnya yang kebetulan seumuran dengan Chandani. Mereka baru saling mengenal sekitar enam bulan lamanya. Namun, karena Alisia yang mudah bergaul serta rendah hati, Chandani pun bisa dengan mudah akrab dengannya.

"Gimana kabar, Tuan Darma? Apa dia sudah membaik?" tanya Alisia dengan mata yang masih fokus melihat ke depan karena tengah menyetir.

"Alhamdulillah, kondisi papa sudah lebih baik sekarang.".

"Syukurlah. Kejadian waktu itu sungguh membuat semua orang kantor terkejut. Kami semua selalu mendoakan untuk kesehatan Tuan Darma, dia boss yang baik. Kami berharap, dia akan sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala."

"Amin! Terima kasih untuk kepeduliannya. Papa pasti senang kalau tau para karyawannya nggak pernah melupakannya, bahkan peduli dengan kesehatannya."

Alisia menoleh lalu tersenyum. "Canda, lo tuh perempuan yang baik, kenapa lo masih belum married? Jangan bilang kalo nggak ada yang mau sama lo, that's impossible." Dia kembali fokus menatap ke depan.

Chandani tersenyum ramah. "Mungkin belum sampai jodohnya, Lis."

Alisia hanya tersenyum lalu mengangguk.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan gerbang rumah Chandani. Wanita cantik itu pun turun dari mobil dengan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Alisia. Chandani berjalan sekitar dua menit sebelum sampai di depan pintu rumahnya. Pelataran tempat tinggalnya kini cukup luas dengan dihiasi berbagai macam jenis bunga dan dua pohon cemara kecil.

Saat memasuki rumah, Chandani mendapati ayahnya tengah menonton tv sebari duduk di kursi roda. "Papa, udah berseka?" tanya Chandani kepada sang ayah.

"Sudah tadi sama, Alia."

"Kalo makan?"

"Sudah tadi sama, Alia."

Chandani mengecup tangan dan pipi sang ayah. "Maaf, yah, Pa. Teteh nggak bisa lagi jagain, Papa."

"Gapapa, Teh. Papa ngerti. Teteh sekarang sibuk ngurusin perusahaan. Papa yang harusnya minta maaf sama Teteh dan Alia. Papa sudah banyak ngerepotin kalian."

"Ish Papa, jangan ngomong gitu, ah. Sudah kewajiban bagi seorang untuk ngurusin orang tuanya, apalagi kalo sakit."

Darma hanya tersenyum saat mendengar ucapan anaknya. "Teh."

"Ya, Pa." Mata Chandani menatap langsung sang ayah sambil tersenyum lebar.

"Sudah merupakan kewajiban juga bagi setiap manusia yang berakal untuk saling memaafkan dan menjalin silaturahmi yang baik dengan sesama umat Nabi. Papa mau Teteh untuk selalu menjaga hubungan baik dengan sesama dan memaafkan kesalahan mereka sekalipun yang mereka perbuat sangat buruk terhadapmu."

"Iya, Pa. Teteh paham. Insyaallah aku akan selalu mengingat nasihat Papa ini." Chandani tersenyum dengan riang.

"Alhamdulillah." Darma mengucap syukur. Dia pun mengelus lembut kepala anak kesayangannya. "Papa sayang sama Teteh. Papa ingin kelak yang menjadi pendampingmu seorang pria yang baik dan bertanggung jawab."

Chandani menggapai tangan Darma lalu mengecupnya. "Teteh juga sayang sama Papa. Papa, cepet sembuh, yah." Dia tersenyum manis kepada sang ayah.

"Insyaallah."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DIHAMILI SUAMIKU
8.0
Hidup Alexa Banderas hancur di hari kelulusan akibat pembunuhan orang tuanya oleh sang paman yang mengincar dokumen Taurus Corps. Di tengah duka, ia dipaksa menikah dengan Martin Snowden, pria kasar yang membencinya. Kini, Alexa harus memimpin perusahaan besar sekaligus melindungi sang suami dari kekasihnya yang licik demi mengamankan aset keluarga. Mampukah ia membalas dendam, mengelola bisnis, dan meluluhkan hati Martin yang begitu keras?
Sampul Novel Aku Dikira Selingkuhan Kakakku
8.3
Akibat panggilan sayang dan kiriman uang dari kakaknya, seorang gadis dituduh sebagai wanita simpanan oleh calon kakak iparnya. Kelompok perundung mendatangi rumah barunya, merusak bangunan tersebut, merobek pakaiannya, dan memotretnya dengan kartu pelajar untuk mempermalukannya di forum kampus. Namun, situasi berbalik menegangkan ketika sang kakak tiba. Menatap adiknya yang ditindas, amarahnya meledak dan ia siap membalas siapa saja yang mengusik keluarganya.
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Tugas negara adalah prioritas Letnan Imam, tetapi pengkhianatan Serda Resti merusak janji suci mereka. Walau Resti kini milik pria lain, bayangnya belum hilang. Usai kecelakaan, Imam menemukan cinta baru dalam diri Dokter Utami. Namun, misi di Lampung mempertemukannya dengan Lita, siswi yang sangat mirip dengan Resti. Saat kesetiaan Imam diuji, Utami memilih mundur, sementara Lita sendiri sudah punya kekasih. Siapa yang akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel Dokter Sakti Penguasa Dunia
9.0
Ewan Aditya bukanlah tabib biasa yang bisa diremehkan. Di dunia modern yang penuh intrik dan perebutan kekuasaan, dia berdiri sebagai sosok tangguh yang menentukan takdir. Baik penguasa tertinggi maupun miliarder terkaya tidak memiliki arti di hadapannya. Melalui keahlian medis yang luar biasa dan kekuatan aksi yang mematikan, Ewan siap menyelamatkan nyawa yang pantas ditolong atau merenggutnya dari mereka yang berani bersikap sombong kepadanya.
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Jahatnya Pacar Kakakku
9.5
Rencana menghadiri festival musik bersama sahabat berubah menjadi mimpi buruk mengerikan dalam novel horor ini. Akibat salah paham, kekasih Calvin mengunci sang protagonis di toilet, menuduhnya menggoda pacar orang, lalu menyiksanya secara sadis. Korban disiram air pel, ditampar, dilucuti, hingga kulitnya disolder dengan tulisan hinaan. Saat Calvin tiba, adiknya sudah tidak dikenali lagi, sementara pelaku berdalih mengira korban hanyalah adik angkat, bukan adik kandung Calvin.