APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Merah Hitam Cinta #bukuke-1 womenpowerseries

Merah Hitam Cinta #bukuke-1 womenpowerseries

Kanaya Prameswari sangat terpukul saat memergoki perselingkuhan suaminya, Ghifari, dengan sahabatnya sendiri. Padahal, saat itu ia hendak memberikan kabar gembira tentang kehamilannya. Kecewa berat, Kanaya memutuskan pergi membawa calon bayinya ke perkebunan kopi milik keluarga Safa. Di tempat baru ini, ia justru dihadapkan pada sikap dingin Haikal Baihaqi, kakak Safa. Di tengah keraguan bahwa cinta mampu menjamin kesetiaan, sanggupkah Kanaya mengobati lukanya dan kembali membuka hati?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Jadi saya beneran hamil ini, Dok?" Kanaya Prameswari nyaris tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Kedua tangannya bergetar saat membaca hasil urine dari laboratorium RSIA. Lima tahun penantiannya berakhir sudah. Selama lima tahun pernikahannya ini, Ghifari Albani, suaminya, sangat mengharapkan kehadiran seorang buah hati. Wajar saja, suaminya adalah seorang anak tunggal. Kehadiran generasi penerus pasti sudah pasti sangat dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga besarnya. Dalam dua tahun terakhir ini suaminya sangat stress karena tekanan dari berbagai pihak. Baik itu dari keluarga besar Albani atau pun dari kedua orang tuanya. Mereka semua kerap menyindir-nyindir kehidupan rumah tangga mereka yang dianggap belum sempurna karena ketiadaan buah hati. Dengan kehamilannya ini pasti akan membuat suaminya bahagia luar biasa. Memikirkan hal itu rasa syukur tidak henti-henti diucapkan Kanaya pada yang Maha Kuasa.

"Benar, Bu. Saat ini kandungan Ibu telah berusia dua minggu. Selamat ya, Bu?" Dokter Rasyid Rasyidi ikut berbahagia melihat senyum yang terus terkembang di wajah pasien mudanya. Ia adalah dokter kandungan keluarga besar Albani. Jadi ia sangat memahami posisi Kanaya di dalam keluarga besar terpandang itu. Kedua mertua Kanaya juga kerap mengeluhkan soal menantu mereka yang tidak kunjung hamil. Padahal usia pernikahan anak menantunya telah memasuki tahun ke lima.

"Tapi harap diingat. Kandungan Ibu ini masih sangat muda. Rahim Ibu masih rentan terhadap segala bentuk guncangan. Selain itu, kondisi fisik dan psikis Ibu juga harus selalu terjaga. Ibu tidak boleh terlalu capek dan banyak pikiran ya, Bu?" Nasehat dokter Rasyid lagi. Kanaya mengangguk takzim.

"Tentu saja, dokter. Saya akan menjaga kandungan saya ini sebaik mungkin. Saya juga akan selalu mengingat pesan-pesan, dokter. Saya permisi dulu ya, dok? Terima kasih atas semuanya." Kanaya menyalami dokter Rasyid sebelum keluar dari ruangan praktek.

Kanaya melangkahkan kaki menuju parkiran dengan senyum yang terus terkembang. Di dekapnya surat hasil dari laboratorium rumah sakit di dada. Ia masih seperti tidak percaya kalau ia sekarang sedang mengandung anak Ghifari. Pak Rustam, sang supir pribadi, buru-buru membuka pintu mobil saat melihat kehadiran nyonya mudanya. Melihat senyum yang terus tersungging di bibir sang nyonya muda, maka tau lah ia akan hasil laboratorium yang sedari dua hari lalu dinanti-nantikan oleh nyonya mudanya. Pak Rustam tersenyum. Ia ikut berbahagia untuk kebahagiaan seluruh keluarga besar Albani.

"Kita ke kantor Mas Fari dulu ya, Pak? Ada yang ingin saya sampaikan padanya," ujar Kanaya.

"Baik, Bu." Pak Rustam dengan sigap menjalankan kendaraan. Selama berkendara, Pak Rustam bersikap sangat hati-hati. Ia menghindari jalan yang rusak dan berkendara dengan kecepatan sedang. Sebisa mungkin ia menghindari guncangan. Ia tidak ingin kandungan nyonya mudanya terganggu.

Pak Rustam melirik kaca spion depan. Nyonya mudanya kembali membaca selembar surat dengan ekspresi gembira. Kebahagian terus terpancar di wajah lembutnya. Syukurlah, penantian panjang keluarga besar majikannya, berakhir bahagia. Dengan begitu segala pertikaian terkait masalah keturunan di masa lalu, tidak akan terulang lagi. Sebagai seorang pekerja, ia ikut lega.

Selama dalam perjalanan, Kanaya terus membayangkan bagaimana ekspresi suaminya saat membaca surat dari laboratorium rumah sakit ini. Pasti suami tercintanya itu tidak kuasa menahan rasa haru dan bahagia. Penantian siang malam selama lima tahun pernikahan mereka akhirnya berbuah bahagia. Membayangkan hal itu Kanaya semakin tidak sabar untuk memberitahukan kabar baik ini pada suaminya.

Empat puluh lima menit kemudian, mereka telah tiba di sebuah gedung perkantoran elit. Suaminya memang berkantor di sini. Dengan tidak sabar Kanaya keluar dari mobil dengan surat hasil dari laboratorium di tangan. Kalau menuruti kata hati, Kanaya ingin berlari secepat mungkin ke ruangan suaminya. Ia ingin suaminya membaca sendiri surat dari laboratorium rumah sakit ini.

Setiba di lobby kantor, Kanaya bergegas masuk ke dalam lift dan menekan angka 4. Ghifari memang berkantor di lantai empat. Saat pintu lift terbuka, Kanaya keluar dari lift dengan senyum yang kian lebar. Langkah kaki ia percepat karena ingin segera menemui suaminya. Saat tiba di depan pintu ruang kerja suaminya, langkahnya dihadang oleh Sanny, sekretaris suaminya.

"Bapak ada di dalam 'kan, San?" Tanya Kanaya pada sekretaris suaminya.

"A--ada, Bu." Sahut Sanny gugup. "Sebentar, saya akan memberitahu Bapak kalau Ibu ada di sini." Ujar Sanny kian gugup. Kanaya mengerutkan kening. Tumben Sanny gelisah seperti ini. Biasanya Sanny gembira-gembira saja saat ia mengunjungi suaminya.

"Tidak perlu, San. Saya ingin memberi kejutan pada, Bapak." Tukas Kanaya seraya memutar handle pintu.

"Ja--jangan dulu, Bu!" Seru Sanny ketakutan.

Begitu pintu ruang kerja suaminya terbuka, Kanayalah yang mendapat kejutan alih-alih suaminya. Di sana, di kursi direktur suaminya, Dina, sahabat baiknya sedang beradu mulut panas dengan suaminya. Akibat panasnya ciuman mereka berdua, mereka bahkan tidak sadar kalau pintu sudah terbuka, dan ada orang lain yang tengah menonton aksi mereka berdua.

"Astaghfirulahaladzim!" Kanaya berulang kali mengucapkan beristighfar. Ia nyaris tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Dua orang yang paling ia sayangi dan ia percayai, sampai hati menghianati seperti ini. Langit seperti runtuh tepat di depan matanya. Jeritan pedihnya membuat dua kepala yang sebelumnya saling bertukar saliva itu menjauh dengan tiba-tiba. Wajah keduanya pucat pasi saat melihat kehadirannya. Namun ada sesuatu yang sempat Kanaya tangkap sebelum tautan bibir keduanya terlepas. Rasa puas di mata Dina! Kanaya berteman cukup lama dengan Dina. Ia sangat mengenali air muka sahabatnya ini.

"Astaga, Naya. Ini... ini... tidak seperti yang kamu pikirkan, sayang. Mas bisa menjelaskan soal semua ini ini. Mas... Mas..."

Melihat suaminya kebingungan tidak tau harus mengatakan apa, Kanaya sudah tau apa yang sesungguhnya telah terjadi. Suami dan sahabatnya telah berselingkuh di belakangnya. Dina yang mengaku sebagai sahabatnya, baru sebulan bercerai dari Reyhan. Menurut Dina, Reyhan menceraikannya karena ia mandul. Selama kurang lebih sebulan ini, ia sibuk membesarkan hati Dina. Menghiburnya pagi, siang, malam agar sahabatnya ini tidak depresi. Ia bahkan menandai media sosial Dina dengan hashtag woman supporting woman. Kala itu mereka saling berpegangan tangan. Tertawa dan menangis bersama karena merasa sama-sama tidak bisa mempunyai keturunan. Namun siapa nyana kalau balasan yang Dina berikan malah woman hurting woman. Betapa kejamnya!

"Mas tidak perlu menjelaskan apapun. Naya bukan anak kecil, Mas. Jangan berbohong untuk menutupi kebohongan yang lainnya. Bersikap jantanlah, Mas." Desis Kanaya dengan suara di hidung.

"Aku... aku juga minta maaf, Na. Aku juga tidak tau sejak kapan rasa ini tumbuh. Hanya saja, aku tidak kuasa untuk melawan perasaan ini. Sekali lagi, aku minta maaf, Na." Akhirnya Dina bersuara juga.

"Oh, jadi permintaan maafmu ini hanya untuk mengakui ketidakberdayaanmu melawan perasaan terlarang terhadap suamiku?" Desis Kanaya geram. "Itu namanya bukan permintaan maaf, Din. Tapi pengakuan maaf. Kamu pasti lega sekali karena akhirnya perselingkuhan kalian kupergoki 'kan? Karena kamu sangat tau bahwa aku sangat intoleran terhadap perselingkuhan."

Kanaya tersenyum pahit. Kediaman Dina mengartikan satu hal. Bahwasannya semua dugaannya benar. Dina ingin menggantikan tempatnya. Menjadi pemilik hati suaminya satu-satunya. Karena Dina sudah memprediksi kalau ia pasti akan pergi. Dina memang benar soal ia pasti akan pergi. Hanya saja yang lainnya salah. Dina bodoh. Ia tidak belajar dari kesalahan-kesalahannya. Dia sendiri diceraikan Reyhan karena divonis mandul. Jadi bagaimana mungkin ia bisa menjadi pusat hidup Ghifari kalau ia tidak bisa memberikan keturunan? Toh permasalahan rumah tangga mereka sama. Sama-sama diharapkan bisa memberikan keturunan. Dina terjatuh di lubang yang sama dua kali.

"Naya pamit, Mas. Lanjutkan saja kemesraan kalian yang sempat terputus tadi. Santai saja. Toh tidak ada yang perlu kalian khawatirkan lagi," guman Kanaya seraya menjejalkan surat dari rumah sakit ke dalam tas tangannya. Mulai hari ini, kehadiran bayi di dalam rahimnya adalah miliknya sendiri. Ia tidak perlu membagi kabar bahagia ini kepada ayah bejat seperti suaminya.

"Tunggu dulu, Naya. Jangan pergi begitu saja. Mari, kita bertiga duduk bersama menyelesaikan kesalahpahaman ini," Ghifari menghela pergelangan tangannya. Wajah kalut penuh penyesalannya terlihat begitu nyata. Seperti ini tampang seorang penyelingkuh. Pias oleh seribu penyesalan apabila tertangkap basah. Type orang-orang yang tidak berpikir panjang.

"Bertiga? Maaf Mas, Naya tidak ada hubungannya dengan masalah kalian berdua. Sewaktu kalian menjalin affairs kan Naya tidak diajak berembuk. Mengapa setelah ketahuan Naya dibawa-bawa?" Sahut Kanaya ketus. Tanpa banyak bicara lagi, Kanaya berjalan ke arah pintu. Urusannya di sini usai sudah.

"Jangan mengejar Naya, Mas. Naya tidak sudi menjadi tontonan ala sinetron azab Indosia*." Ancam Kanaya.

"Tunggu dulu, Na. Kamu tadi ke sini ada urusan apa? Biasanya kalau kamu ke kantor pasti ada hal penting yang ingin kamu sampaikan langsung pada, Mas." Ghifari masih berupaya menahan kepergiannya.

Diingatkan pada tujuan utamanya ke sini, air mata Kanaya mengalir bagai air bah. Sedari tadi, walau sakit hati, tidak setetes pun air matanya jatuh. Rasa marah dan kecewa lebih mendominasi dari pada sakit hati. Tapi saat diingatkan pada bayi yang saat ini menghuni rahimnya, perasaannya lah yang berbicara. Bukan hatinya saja yang sakit. Tapi seluruh jiwa raganya serasa luluh lantak! Kanaya teringat pada kegembiraan luar biasanya saat di rumah sakit dan di sepanjang perjalanan menuju kantor. Ternyata semua kebahagiannya hancur dalam hitungan detik saja. Alangkah ironisnya!

Astaghfirullahaladzim..

Astaghfirullahaladzim... 

Astaghfirullahaladzim...

Kanaya tidak henti-hentinya mengucapkan istighfar dalam hati. Memohon kesabaran dari Yang Maha Kuasa agar lebih dikuatkan dalam menghadapi badai terbesar dalam rumah tangganya ini. Selama ini ia kuat dalam diam karena ada Ghifari yang menjadi tempat bersandarnya. Tidak masalah jika semua orang mengejeknya, menyindirkan bahkan mengolok-olok kemandulannya. Ia telan semuanya selama Ghifari tidak berada di kubu mereka. Namun kini, setelah ia tau bahwa Dina menusuknya dari belakang dan Ghifari menaburi garam di sepanjang lukanya, ia tidak kuat lagi. Kesabaran dan kekuatannya telah tiba di titik nadir. Raungan kesedihannya menggema di seluruh penjuru ruangan.

"Astaga, Naya. Maafkan Mas, Naya. Maaf... maaf... maaf, Naya. Mas tidak bermaksud menyakiti kamu sampai seperti ini," guman Ghifari kalut. Ia ingin mendekati Kanaya, tapi ia takut kalau tindakannya malah membuat istrinya semakin histeris. Saat ini, Kanaya bukan seperti dirinya yang biasanya. Selama tiga tahun berpacaran dan lima tahun menikah, Ghifari tidak pernah melihat Kanaya kehilangan kendali seperti ini. Kanaya ini lembut namun kuat. Kanaya tidak pernah mengadu atau pun berkeluh kesah walau diserang kanan kiri oleh keluarga besarnya. Kanaya selalu mengatakan kalau semua orang berhak menyuarakan pendapatnya. Selama ia tidak terluka dan berdarah-darah, ia ikhlas menerima semuanya. Kebesaran hati Kanaya menghangatkan dirinya. Kini, melihat Kanaya hancur seperti ini, penyesalannya tidak terucapkan. Ghifari tau, tidak akan mudah baginya untuk mendapatkan maaf dari Kanaya. Ia sangat mengenal sifat istrinya.

Ia hanya tidak menyangka kalau keisengannya menyambut undangan terang-terangan Dina akan berakibat sefatal ini. Ia laki-laki. Diberi makanan gratis tanpa embel-embel tanggung jawab membuatnya lupa diri. Pikirnya toh Dina memang mandul. Janda lagi. Jadi tidak akan ada drama-drama kehamilan dan minta dinikahi. Hubungan mereka adalah senang sama senang. Ia dan Dina sepakat untuk tidak membawa-bawa masalah hati dalam affairs mereka ini. Hubungan mereka murni soal nafsu birahi. Titik.

Kalau terhadap Kanaya, ia memang cinta. Makanya ia tetap mempertahankan rumah tangganya meskipun kedua orang tuanya menginginkan agar ia bercerai dari dari Kanaya. Mereka menganggap kalau istrinya ini mandul. Namun ia bertekad akan terus mempertahankan Kanaya mau Kanaya itu mandul atau pun tidak. Misalkan Kanaya benar-benar mandul pun, ia tidak akan pernah menceraikannya. Mungkin ia akan menikah lagi untuk memperoleh keturunan. Tapi ia akan tetap mempertahankan Kanaya.

Setelah berulang kali beristighfar, Kanaya berusaha menenangkan dirinya. Cukup sudah ia membuang-buang air mata untuk seseorang yang mulai hari ini bukan lagi siapa-siapanya. Kanaya membuka tas tangan. Mengeluarkan sapu tangan dan membersit hidung. Berusaha menghilangkan sisa-sisa kesedihannya. Kesadaran dirinya telah kembali.

"Masalah itu sudah tidak penting lagi sekarang. Apa yang tadi ingin Naya sampaikan, tidak akan pernah lagi Naya katakan. Naya pulang dulu, Mas. Dan kalau Mas memang punya hati, tolong biarkan Naya sendiri dulu. Nana butuh waktu untuk memikirkan semua ini." Guman Kanaya lirih. Tanpa menunggu jawaban Ghifari, Kanaya menegakkan kepala. Melangkah keluar ruangan dengan anggun. Ia tidak ingin seorang pun tau tentang badai yang memporakporandakan hatinya. Setibanya di parkiran Kanaya menengadahkan kepala. Cuaca di sore hari ini sungguh cerah. Sinar matahari sore terang benderang tanpa tertutup sepotong pun awan. Namun di hatinya, seperti sedang terjadi hujan badai yang meruntuhkan langit dan akan menimpa bumi. Masalahnya, Kanaya merasa hanya kepalanya saja yang tertimpa.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel  Aku sangat menginginkanmu
8.7
Sebuah kecelakaan tragis menyeret Ana ke dalam ingatan masa lalu yang rumit bersama suaminya, Sebastián, dan cinta lamanya, Gabriel. Alur waktu yang berliku mengungkap kebohongan pernikahan serta perselingkuhan berbahaya yang selama ini tertutupi. Di tengah konspirasi keluarga dan pengkhianatan yang menyakitkan, Ana kini harus memilih antara cinta masa lalu atau menuntut balas dendam. Akankah ia meraih penebusan, atau justru hancur oleh rahasia gelap yang tersingkap?
Sampul Novel Desire of Love CEO
8.0
Kehidupan Alana Handoko berubah menjadi mimpi buruk setelah ia dinyatakan bersalah atas kecelakaan maut yang merenggut nyawa seorang anak perempuan. Insiden tragis tersebut menyulut murka Reynar Adiwangsa, seorang CEO tampan yang kehilangan figur tercinta. Terbakar oleh hasrat membalas dendam, Reynar bersumpah membuat hidup Alana menderita. Ia merancang berbagai rencana kejam untuk menyiksa Alana dan mengubah dunianya bagai neraka demi menuntaskan rasa sakit hatinya.
Sampul Novel Penjara Cinta Sang CEO
9.6
Rumor ceroboh tentang kondisi kesehatan Trey Vallois memaksa dr. Shan menandatangani kontrak dengan CEO arogan tersebut demi menyelamatkan nama baiknya. Namun, menjadi kekasih pura-pura bagi sang pewaris tunggal justru membawa kekacauan besar dalam hidup Shan. Walau telah berusaha menjauh, ia malah terjebak dalam hubungan benci jadi cinta yang rumit. Di tengah benturan ego dan perasaan, mampukah keduanya bertahan tanpa saling melukai satu sama lain?
Sampul Novel Sebenarnya Dia Mesum Ma!
9.0
Sejak ayahnya tiada, Lunar tinggal bersama orang tua tiri dan mengenal tetangga aneh bernama Serafin. Secara mengejutkan, Serafin langsung menyatakan cinta dan melamar Lunar, sembari mengaku jujur bahwa dirinya gampang terangsang. Di balik kelakuan mesum itu, Lunar curiga Serafin adalah kaki tangan tantenya yang berniat merebut warisan. Apakah perasaan Serafin tulus, atau ada niat terselubung? Bisakah Lunar bertahan dari pesona pria misterius ini?
Sampul Novel Target Cinta Sang Pewaris
9.7
Demi wasiat orang tua dan tekanan paman serta bibinya, Ardila terpaksa menikahi pria asing. Setelah menikah, ia mendapati suaminya sudah beristri. Meski dikhianati, Ardila bertahan demi amanah mendiang orang tuanya. Namun, keluarga suaminya malah bertindak semena-mena demi merebut hartanya. Curiga dengan motif mereka, Ardila mulai menyelidiki hingga berhasil membongkar sebuah rahasia gelap yang ternyata melibatkan keluarganya sendiri.
Sampul Novel Tukang Pijat Tampan
8.3
Kehidupan Aditya sebagai pemijat biasa berubah drastis setelah mewarisi sebuah cincin misterius. Pusaka itu memberinya kekuatan fisik luar biasa dan sentuhan pemikat wanita. Dalam sekejap, ia menjelma menjadi pengusaha kaya raya yang dikelilingi para pemuja. Namun, di balik kehidupan barunya yang dipenuhi hubungan ambigu dan intrik harem, bahaya besar mulai mengintai seiring dengan perlahan terkuaknya rahasia kuno di balik cincin tersebut.