APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menuntut Balas

Menuntut Balas

Hidup Xavier hancur seketika saat ia melihat ayahnya dibunuh secara kejam oleh sindikat mafia. Peristiwa tragis itu meninggalkan duka mendalam sekaligus memicu kemarahan besar dalam dirinya. Menolak tinggal diam melihat para pembunuh bebas, Xavier bersumpah untuk membalas dendam. Ia pun mulai melatih kemampuan bela dirinya dengan sangat keras demi bersiap menghadapi organisasi kriminal keji tersebut dan menuntaskan tuntutan balasnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Xaviera tampak gelisah di atas kasurnya. Berkali-kali ia mengganti posisi tidurnya. Rasa rindu terhadap ayah dan kakaknya pun datang menyerang.

Xaviera duduk di pinggir kasurnya dan menghadap jendela.

Semenjak ia lahir, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Tetapi tidak masalah baginya karena ayah dan kakaknya telah memberikan ia kasih sayang yang berlimpah tetapi kini ia harus jauh dari mereka.

Xaviera mengatur posisinya lagi. Ia duduk di tengah ranjangnya dengan posisi memeluk lututnya dan menunduk. Air matanya pun perlahan membasahi pipinya.

"Mengapa kalian membiarkanku berada di sini? Apakah kita tidak bisa seperti dahulu lagi?" Isak Xaviera.

Kemudian Xaviera turun dari ranjangnya dan berjalan menuju lemarinya. Ia mencari foto mereka bertiga. Saat menemukan foto itu air mata Xaviera tak juga berhenti. Jari mungilnya menyentuh foto ayah dan kakaknya.

"Aku belum terbiasa tinggal di sini. Aku ingin kita kembali berkumpul," gumam Xaviera.

Xaviera yang masih berusia tujuh tahun itu di tuntut untuk dewasa oleh keadaanya. Dimana kebanyakan anak seusianya masih bermanja pada orang tuanya.

Xaviera menegakkan kembali kepalanya dan menyeka air matanya. Saat menuju ranjangnya, tak sengaja ia melihat teman-teman sekamarnya yang masih berada di alam mimpi.

"Seharusnya aku bersyukur. Walaupun aku tidak tahu dimana keberadaan ibuku, aku masih sempat merasakan kasih sayang ayah dan kakakku. Sedangkan teman-temanku yang berada di sini tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga bahkan mereka tidak mengetahui siapa keluarga kandung mereka," Xaviera mencoba menghibur diri.

"Grizelle, mengapa kamu belum tidur?," tanya ibu panti yang pada saat itu sedang bertugas memeriksa setiap ruangan di panti.

"Aku tidak bisa tidur, bu." jawabnya.

"Ada yang bisa ibu bantu untukmu?," tanya ibu panti.

"Aku hanya belum mengantuk, bu."

"Segeralah tidur. Anak seusia kamu harus cukup tidurnya untuk memaksimalkan pertumbuhan kamu. Ketika kamu bertemu dengan ayah dan kakak kamu nanti, ia akan bangga padamu karena kamu akan tumbuh menjadi anak yang pintar dan cantik," ucap ibu panti.

Mendengar ucapan ibu panti yang menyinggung ayah dan kakaknya seketika Xaviera kembali bersemangat. Ia segera merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya. Tak lupa sebelum tidur ia pun berdoa.

Perlahan Xaviera mulai menutup matanya dan mulai memasuki alam mimpinya.

Di dalam mimpinya, Xaviera bertemu dengan seorang pria dengan memakai pakaian serba putih. Wajah pria itu mirip sekali dengan wajah ayahnya. Wajah cerah dan juga senyum yang mengembang menghiasi wajah pria itu. Kemudian ia menggerakkan lengannya agar Xaviera mendekat. Xaviera pun menuruti pria itu. Pria itu memeluk Xaviera. Pelukan pria itu seperti pelukan ayahnya.

"Ayah," panggil Xaviera.

Tak lama datanglah seorang wanita yang wajahnya tersamarkan. Ia memaksa agar ayah melepaskan pelukannya terhadap Xaviera. Wanita itu membawa Xaviera dengan paksa. Xaviera terus memanggil-manggil ayahnya. Dari arah belakang ayahnya, ada seorang pria yang membawa sebuah pistol dan suara pistol itu menggema. Ayahnya pun tersungkur.

"Ayah... Ayah!" teriak Xaviera sambil membuka matanya.

Sekujur tubuhnya basah bermandikan peluh. Ia pun tersadar jika peristiwa yang ia lihat hanyalah mimpi. Ia melihat jam yang berada di dinding sudah hampir subuh. Ia pun kembali terjaga.

Xaviera kembali duduk diatas ranjangnya. Ia mulai mengingat peristiwa dimana ayah ya meminta ia untuk bersembunyi di ruang bawah tanah dan kemudian ia mendengar suara letusan sebuah senjata. Sebelum letusan itu terjadi terdengar ayahnya sedang adu mulut dengan dua pria. Xaviera tidak tahu percis siapa mereka. Ia hanya menuruti perintah ayahnya agar ia bersembunyi dan keluar ketika ayahnya memanggil tetapi sudah lama ia menunggu, ayahnya tak juga datang memanggilnya. Ketika ia keluar dari ruang bawah tanah, ia melihat ayahnya sudah tergelatak di lantai dan di samping ayahnya ada kakaknya yang sedang menunduk.

Xaviera juga mulai curiga dengan ucapan kakaknya yang mengatakan jika ayahnya sedang tertidur dengan posisi telungkup. Setelah itu ia di titipkan ke tetangga dan ketika malam barulah kakaknya menjemput Xaviera. Saat berada di rumah tetangga, ia pun melihat banyak warga sekitar yang berjalan ke arah rumah mereka. Ketika ia hendak mencari tahu, tetangganya itu melarang ia untuk keluar.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa ayah pergi tanpa permisi padaku. Biasanya juga setiap kali pergi kerja, ayah selalu berpamitan. Bahkan aku selalu mencium punggung tangan ayah," gumam Xaviera.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Xaviera yang mungkin untuk saat ini ia tidak dapat menemukan jawabannya.

Terdengar suara pintu di buka. Ibu panti datang untuk membangunkan anak-anak yang masih tertidur.

Seketika panti kembali ramai dengan suara-suara penghuni panti. Ada yang sedang membersihkan ruangan, ada yang sedang mengantri di pintu kamar mandi, dan terdengar juga gelak tawa dari penghuni panti yang sedang mengobrol.

Xaviera mengamati teman-temannya. Wajah-wajah temannya yang sepertinya tidak memiliki beban hidup. Mereka tampak ceria dan menikmati hidup mereka.

"Aku yang seberuntung ini, masa kalah dengan mereka. Aku juga harus bisa sebahagia mereka. Mereka bisa masa aku tidak," Xaviera memotivasi dirinya sendiri.

"Hei Grizelle! Ayo gabung!," ajak Cika.

Awalnya Xaviera tidak peka dengan ajakan Cika. Karena ia masih asing dengan panggilan Grizelle.

"Grizelle. Ayo kita sarapan bareng!," Cika memanggil Xaviera kembali.

Xaviera menunjuk dirinya sendiri.

"Iya. Kamu, jadi siapa lagi? Hanya kamu seorang yang memiliki nama seperti orang bule. Grizelle.... Grizelle, aneh kamu." ucap Cika.

Segera Xaviera berjalan menuju Cika dan teman-teman.

"Sedari tadi aku lihat kamu bengong melulu di situ. Kamu kenapa sih?," tanya Cika.

"Aku belum paham betul kebiasaan di sini. Aku sepertinya perlu lebih banyak belajar," Xaviera mencari alasan.

Xaviera mengambil sarapan yang sudah tersedia di atas meja. Terlihat enak tetapi makanan itu tidak mampu membangkitkan rasa lapar Xaviera.

Xaviera hanya mengaduk-aduk makanannya saja tanpa memakannya sehingga Cika pun protes.

"Sepertinya hari ini kamu sedang tidak baik-baik saja," tebak Cika.

"Aku tidak lapar."

"Kamu harus makan. Kesehatan harus di jaga."

Xaviera hanya terdiam ketika Cika menegurnya sehingga membuat Cika penasaran.

"Sebenarnya kamu kenapa sih?" tanya Cika lagi.

"Aku rindu pada ayahku," jawab Xaviera lirih.

"Dengarkan aku! Kamu akan baik-baik saja di sini. Kami yang berada di sini tidak tahu siapa orang tua kami tapi kami di sini semuanya baik-baik saja. Simpan saja rindumu terhadap ayah kamu. Jika ia menyayangi kamu pasti ia akan datang menjemput kamu. Sudahi sedih kamu. Tetaplah bahagia bersama kami," Cika memberi nasihat pada Xaviera.

Usia Cika terpaut delapan tahun di atas Xaviera. Kisah hidup Cika hampir sama dengan Xaviera tetapi bedanya Cika mengetahui jika ayahnya meninggal sementara Xaviera tidak mengetahui jika ayahnya telah meninggal.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Devano Lauder
9.1
Dendam lama dari musuh masa lalu membayangi hidup Devano Lauder. Selama dua puluh tahun, ia berjuang keras menuntaskan perselisihan panjang yang penuh pertumpahan darah. Di tengah kekacauan itu, Devano sempat terjebak dalam cinta segitiga semasa remaja. Kini, setelah dewasa, ia rela mempertaruhkan nyawanya demi memikul tanggung jawab dan mengakhiri konflik. Meski bahaya terus mengintai, takdir akan menuntun perjuangannya menuju titik akhir yang adil.
Sampul Novel Dewa Alkemis
8.9
Tian Fan, pemuda berbakat dari keluarga bangsawan rendah, bercita-cita menjadi alkemis hebat. Namun, kejeniusannya memicu kebencian para tuan muda kelas atas yang terus menekannya. Di tengah intimidasi tersebut, sebuah peristiwa besar mengubah segalanya. Kejadian tak terduga ini membuka jalan baru yang memperbesar peluang Tian Fan untuk mewujudkan ambisinya menjadi Grandmaster Alkemis.
Sampul Novel I Choose The Villain Crown Prince
8.6
Seorang pembunuh bayaran terlahir kembali sebagai Athea Dominic, putri bangsawan klan Api yang dibenci. Usai tewas tragis akibat mencintai Pangeran Alexander di masa lalu, ia bangkit menjadi prajurit elite demi membalas dendam atas pembantaian keluarganya. Athea lalu bersekutu dengan Azrael, sosok misterius yang merupakan Putra Mahkota Klan Api. Bersama-sama, mereka berjuang merebut takhta dari pangeran kejam itu demi menuntut keadilan bagi klan mereka.
Sampul Novel Karma sang pelakor
8.2
Murka akibat pengkhianatan suami demi wanita muda, keluarga Christian bersaudara merancang aksi pembunuhan rahasia. Namun, tindakan nekat ini justru memicu kecurigaan mendalam dari Nathan bersaudara. Didorong rasa kehilangan, mereka mulai menyelidiki petunjuk misterius guna membongkar fakta sebenarnya di balik kematian tragis sang adik bungsu. Ketegangan pun meledak menjadi pertikaian sengit antar-keluarga yang penuh aksi dan teka-teki.
Sampul Novel Less Than Evil
9.6
Di dunia yang kejam ini, seni menjilat dan kepalsuan menjadi senjata utama demi meraih kekuasaan. Hubungan antarmanusia tak lebih dari alat untuk saling memanfaatkan demi ambisi pribadi, tanpa menyisakan ketulusan sedikit pun. Kehidupan bertransformasi menjadi arena pertempuran bagi mereka yang pandai bersandiwara dan berganti topeng. Pada akhirnya, hanya sosok paling licik yang mampu bertahan di tengah persaingan hidup yang penuh tipu daya ini.
Sampul Novel Pengorbanan Cinta Sang Letnan
9.6
Dua tentara elit Kopassus berlatar intelijen, Rey dan Alex, telah menjalin persahabatan sejak masa kecil. Namun, hubungan erat mereka kini diuji oleh perasaan cinta pada wanita yang sama. Di sela-sela perjuangan dan pengabdian besar mereka untuk negara, konflik batin yang sengit pun mulai membayangi. Takdir menuntut mereka menentukan pilihan sulit antara loyalitas pada tugas negara atau ego pribadi. Akankah cinta yang menang, atau justru persahabatan mereka yang hancur?