
Menunggu Perceraian yang Dinantikan
Bab 3
"Ah? Bukannya bos menikah sama Kak Sasa?" bisik salah satu rekan kerja.
"Ssst, pelan-pelan, Kak Sasa masih di sini!" sahut yang lain dengan gugup.
"Sasa, kami cuma bercanda. Jangan terlalu dipikirkan ya," kata salah satu rekan mencoba menenangkanku.
Melihat meja penuh dengan teh susu rasa mangga dan kue cokelat, aku sudah tahu, semuanya untuk Miya. Navish merasa kasihan karena Miya diet dan tidak ingin dia diet terlalu ketat, jadi Navish memutuskan untuk mentraktir seluruh kantor.
Ingin sekali rasanya aku mencicipi simbol cinta mereka ini. Sayangnya, aku alergi mangga dan tidak terlalu suka produk berbahan cokelat.
Dulu, ketika Navish mengejarku, dia juga melakukan hal-hal seperti ini. Dia takut aku terlalu sibuk bekerja hingga lupa makan, dan sering menggunakan alasan "laporan pekerjaan" untuk mengajakku makan bersama.
Saat aku sakit tapi tetap bekerja, dia menyelipkan obat dalam sepotong kue kecil dan mengantarnya ke mejaku, hanya untuk melihat wajahku meringis karena rasa pahitnya.
Saat itu, suasana kantor menjadi ceria karena hubungan kami yang menjadi topik bahasan. Namun, sekarang, semua perhatian dan perhatiannya telah dialihkan ke orang lain.
Aku tidak punya waktu untuk terlalu memikirkannya. Pekerjaanku menumpuk dan sangat rumit. Demi proyek ini, aku sudah beberapa malam lembur. Seperti yang kuduga, malam ini pun aku harus melanjutkanya.
Langit mulai gelap dan aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Begitu sibuknya hingga aku tidak sadar ketika Navish tiba di sampingku.
"Sasa, kamu masih lembur?" tanyanya.
Aku menatapnya, tidak tahu apa yang dia inginkan. "Pak Navish, ada yang bisa saya bantu?"
Dia tampak tidak nyaman dengan nada formal yang kugunakan, tapi tetap langsung berkata terus terang, "Gimana kalau proyek ini diberikan ke Miya saja?"
Meskipun aku sudah menduga hal ini, hatiku tetap terasa perih mendengarnya.
"Belakangan ini, Miya banyak menerima gosip yang nggak menyenangkan. Kalau proyek ini dikerjakan atas namanya, kemampuan kerjanya nggak akan lagi dipertanyakan."
Dia tahu betapa keras usahaku untuk mendapatkan proyek ini. Aku bergadang selama beberapa malam, bahkan harus menghabiskan waktu berbicara dan meyakinkan banyak pihak. Namun sekarang, hanya dengan satu kalimat, dia memutuskan memberikannya kepada Miya.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah tentang melindungi Miya, takut dia jadi korban gosip. Namun, dia sama sekali tidak memikirkan betapa tidak adilnya ini bagiku. Aku tersenyum tipis, merasa ini benar-benar sebuah ironi.
"Baiklah, kasih saja ke dia. Suruh Miya temui saya besok untuk penyerahan," jawabku tanpa emosi.
Aku sudah memberikan segalanya untuk perusahaan ini. Sudah saatnya aku pergi. Jika Miya mau melanjutkan proyek ini, aku justru merasa lebih bebas.
Navish tampak terkejut dengan persetujuanku yang begitu cepat. Dari sakunya, dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berisi kalung.
"Bukankah dulu kamu bilang ingin sekali punya kalung dari merk ini? Waktu itu aku salah. Aku tahu gadis suka benda beginian, aku janji akan menebusnya perlahan-lahan."
Itu memang merk kalung yang aku suka. Aku pernah bilang padanya aku ingin membelinya. Namunsekarang, kalung ini sudah kehilangan artinya.
Navish tidak memberikannya saat aku paling menginginkannya. Selain itu, aku tidak suka konsep "menghukum dulu, lalu memberikan hadiah".
Aku menerima kalung itu dengan senyum datar. "Terima kasih."
Setelah aku menyetujui permintaannya, nada bicaranya menjadi jauh lebih lembut. Dia bahkan melepas jaketnya dan menyelimutkannya di bahuku.
"Jangan lawan aku lagi. Waktu itu memang salahku. Gimana kalau kita batalkan permohonan cerai minggu ini? Lagian, bukankah kamu selalu ingin pergi ke Dali? Nanti aku temani kamu ke sana."
Aku diam saja, tidak menanggapinya. Navish tampaknya menganggap diamku sebagai persetujuan. Dia terus berbicara panjang lebar tentang rencana-rencana yang dia pikir akan membuatku terkesan.
Di perjalanan pulang, aku membuka media sosial dan melihat postingan Miya. Di sana, dia memamerkan sebuah kalung dari merk yang sama, dengan kemasan yang sama. Namun, desain kalung Miya jauh lebih indah dan mewah dibandingkan dengan yang dia berikan padaku.
Baru aku sadari, kalung yang dia berikan padaku hanyalah hadiah bonus.
Menggelikan sekali. Dia tahu aku menyukai kalung ini, tapi bahkan untuk memilih sebuah kalung yang istimewa untukku saja dia tidak sudi.
Anda Mungkin Juga Suka





