
Menukar Putri yang Ditukar
Bab 3
Separuh tubuh ibu mertuaku terayun ke luar. Kedua tangan dan kakinya bergerak meronta, wajahnya tampak merah padam.
Para tetangga yang menonton kehebohan ini pun bergegas menghampiri. Mereka memintaku untuk jangan berbuat bodoh.
Aku menoleh menatap mereka dan balas memaki, "Kenapa sekarang kalian sok benar? Tadi kalian nggak bilang apa-apa waktu aku disuruh tukar anak! Sekarang?"
"Kalian pura-pura membela kebenaran mentang-mentang sesuatu sudah terjadi! Kuberi tahu, ya, masalah ini belum selesai!"
Ucapanku ini menyulut kekesalan semua orang. Mereka menganggap ini bukanlah urusan mereka.
Salah seorang gadis yang berada di antara kerumunan pun menyahut, "Kak, nggak usah takut sama orang-orang sok suci ini! Aku di pihak Kakak!"
"Jangan lakukan hal bodoh! Putrimu masih menunggumu!"
Ekspresi Jack sontak berubah. Bisa gawat apabila masalah ini menjadi terlalu besar.
"Jessica! Cepat lepaskan ibuku!"
Dia bergegas menghampiriku sambil memegang sebuah tongkat.
Aku tidak sempat menghindar dan terkena hantaman tongkat itu.
Rasa sakit yang hebat membuatku sontak menangis, hampir saja cengkeraman tanganku terlepas.
Jack pun bergegas ke arahku dengan postur hendak mendorongku ke bawah!
Aku berpura-pura kaget. Saat dia bergegas, aku sontak membungkuk dan menangis dengan pilu.
Bruk!
Jack yang tidak sempat berhenti pun terjatuh bersama ibu mertuaku.
Setiap rumah pasti punya kanopi di balkonnya. Mereka berdua terjatuh lebih dulu ke atas kanopi.
"Tolong!"
Namun, tangan mereka berdua kehilangan tenaga dan mereka akhirnya terjatuh ke atas lantai.
Mereka berdua pun muntah darah, lalu pingsan dalam beberapa detik kemudian.
"Aaaah!"
"Cepat telepon 112! Tolong!"
"Astaga! Ini sih namanya tindak pidana!"
Semua orang sontak menjadi ricuh.
Aku juga tidak kuat menahan pukulan sekencang tadi, jadi aku hanya melirik sebentar sebelum jatuh pingsan.
Jack dan aku menjalin hubungan di mana kami bebas mau memilih menikah dengan siapa.
Sebelum menikah, aku tidak tahu-menahu soal Jack yang tidak ingin punya anak.
Waktu itu, aku menyaksikan ibu mertuaku diam-diam menukar anakku.
Firasat buruk pun menjalari benakku. Aku akhirnya diam-diam menukar anakku kembali.
Sayangnya, aku tidak sempat kembali ke kamar. Pada akhirnya, aku bersembunyi di kamar mandi dengan putus asa.
Aku bisa mendengar nada bangga ibu mertuaku.
"Nak, coba lihat foto anak perempuan yang Jessica lahirkan. Jelek sekali!"
Jack mencubit Naraya dengan kencang dan anak itu langsung menangis.
"Hmph, kamu sama menyebalkannya dengan ibu sialanmu! Memangnya kenapa sih kalau mengesahkan properti sebelum menikah? Aku yakin dia berusaha menghalangiku! Dia nggak menganggap kita ini sebagai keluarganya!"
Ibu mertuaku mengangguk dan berujar dengan penuh kebencian, "Dia nggak mau memberi Ibu uang untuk membesarkan putri Ibu, jadi biarkan saja dia yang besarkan sendiri!"
Sebagai seorang yatim piatu, uang adalah satu-satunya hal yang dapat membuatku merasa aman.
Aku tahu betul karakter Jack. Aku yakin Jack tidak akan rela.
Namun, tidak kusangka dia akan menyetujui rencana ibunya.
Anak yang kulahirkan itu juga adalah darah dagingnya!
Masalahnya, aku tidak mungkin tidak memercayai fakta yang ada di depan mata.
Aku berpikir keras sepanjang malam sambil menggendong putriku. Aku hanyut dalam lamunan sampai-sampai matahari akhirnya terbit.
Karena aku tidak terima dengan semua ini, aku akan dengan senang hati membunuh mereka!
Jack dan ibu mertuaku terjatuh dari lantai tiga.
Sayangnya, rumah mereka tidak begitu tinggi dan momentum jatuh mereka sempat ditahan oleh kanopi.
Mereka berdua hanya muntah darah sedikit dan mengalami patah beberapa tulang rusuk.
Namun, operasi membuat ibu mertuaku yang sudah menderita kanker jadi tampak sepuluh tahun lebih tua.
Setelah pengaruh obat bius hilang, ibu mertuaku, Karen Viron, dan Jack hanya bisa terbaring di atas ranjang rumah sakit sambil menangis tersedu-sedu.
Mereka terus menggaruk-garuk bagian dada dengan kesakitan, rasanya seperti ada serangga yang menggerogoti mereka dari dalam.
Di sisi lain, putriku yang selalu penurut dan peka itu sepertinya sudah bisa menerima kenyataan ini.
Dia merawat mereka di rumah sakit dengan sepenuh hati. Saat putriku keluar, hubungan mereka bertiga tampak lebih akrab.
Itu sebabnya mereka merasa begitu sedih dan tertekan saat aku datang bersama putriku yang hidung dan wajahnya memar.
"Cecilia, wajahmu!" pekik Karen.
Cecilia pun menutupi wajahnya yang babak belur sambil menangis dengan sedih. Dia bahkan secara tidak sengaja memperlihatkan bekas luka di lengannya.
Lengannya dipenuhi dengan bekas luka bakar yang mengerikan, sama seperti yang Naraya alami.
Dia pun berlutut di pinggir ranjang rumah sakit. "Huhuhu …. Tolong aku! Tolong aku!"
Karen marah sekali sampai-sampai tekanan darahnya meningkat. Mesin yang berada di samping ranjang rumah sakitnya terus berbunyi.
Dia menunjuk ke arahku dengan jari yang gemetar, wajahnya tampak merah padam.
"Dasar wanita jahat! Kamu …."
Namun, Cecilia merasa penampilannya masih belum cukup. Dia berkata lagi sambil menangis, "Dia … dia juga ingin menjodohkanku dengan orang lain! Aku nggak mau hidup lagi!"
Mata Karen sontak terbelalak lebar, napasnya sampai terengah-engah. Dia langsung dibawa ke UGD tanpa sempat menarik napas terakhirnya.
Jack pun bangkit berdiri dan hendak melapor polisi.
"Boleh!" sahutku sambil tersenyum mencengkeram leher putriku. "Nanti aku tinggal memukulinya habis-habisan!"
Anda Mungkin Juga Suka





