
Menukar Putri yang Ditukar
Bab 4
Begitu keluar dari kamar rawat, putriku pun menatapku meminta pujian.
"Aktingku hebat, 'kan, Bu!"
Aku mengangguk menyetujui, aktingnya memang sangat hebat.
"Ibu, Kakak 'kan sudah bilang Ibu nggak boleh merokok!" katanya dengan frustrasi sambil merebut rokok yang kupegang.
Jack dan Karen tidak jadi lapor polisi karena aku menyandera putri mereka.
Lucu sekali! Mereka mengaku-aku Cecilia sebagai putri mereka karena mereka ingin menikmati manfaatnya!
Manfaat itu akan hilang seandainya sesuatu terjadi pada mahasiswa dari universitas ternama ini.
Aku tahu betul cara menyandera orang!
Aku pun menyemburkan yogurt yang kumakan, lalu mengeluarkan penggaris dan mengayunkannya ke arah putriku.
"Cuih! Kenapa rasanya asam sekali! Kamu mau membunuhku, hah! Sini biar kuhajar kamu sampai mampus, dasar gadis sialan!"
Putriku sontak diam mematung, sementara ibu mertuaku bergegas mengadang dan berujung kutendang dengan kencang.
Wajahnya meringis kesakitan, tetapi dia menguatkan diri untuk menenangkan putriku.
Aku melayangkan pukulan apabila airnya terlalu panas.
Aku juga melayangkan pukulan apabila airnya terlalu dingin.
Di saat aku kesal karena beratku bertambah, aku melayangkan pukulan. Begitu pula saat berat badanku turun dan aku lapar.
Jika Karen mengambil daging, kupukul dia. Jika tidak, tetap saja dia kupukul.
Aku melayangkan pukulan saat langkah Jack berisik dan aku juga tetap melayangkan pukulan di saat Jack berjalan pelan-pelan.
Hanya dalam waktu satu bulan, Jack dan Karen tampak kurus kering kusiksa. Mereka saling berpegangan tangan sambil menangis.
"Jessica! Aku … aku mau ...."
Karen sontak menutup mulut Jack dengan takut. "Pelankan suaramu .... Dia bisa mendengarnya!"
Aku puas sekali menatap dua orang yang ketakutan itu melalui layar kamera pengawas.
Memang orang baru tahu rasa sakit apabila diperlakukan dengan cara yang sama!
Apa hebatnya menindas seorang anak? Coba sini tindas aku jika memang bisa!
Setelah berdiskusi dengan Jack harus bagaimana membalas, Karen akhirnya sengaja membeli seekor ayam hitam dan membuatkanku sup.
"Nak, kita ini keluarga!" katanya. "Semua ini salah Ibu, Ibu minta maaf! Mulai sekarang, kamu jangan menghukum Cecilia lagi, ya?"
Aku mengambil sup ayam itu dan menaruhnya lagi. Karen pun berkata dengan agak gelisah, "Ayo, cepat diminum! Ibu …. Cecilia!"
Aku menyeret putriku ke dapur dan pura-pura hendak memasukkan kepalanya ke dalam air mendidih.
"Ini semua salah Ibu!" pekik Karen dengan panik. "Kalau kamu mau marah, marah langsung saja dengan Ibu! Jangan sakiti Cecilia!"
Dia keibuan sekali terhadap putrinya.
Padahal dia sekejam dan setega itu dengan putri orang lain. Bukan hanya memukul dan memaki, tetapi juga menyiksa habis-habisan.
"Hmph! Kalian berencana membiusku dan mengurungku, 'kan! Nggak masalah, aku nggak akan mengurung kalian kok! Aku tinggal membunuhnya saja!"
Saat melihat wajah putrinya makin dekat ke air mendidih, Karen buru-buru mengulurkan tangannya untuk menghentikanku.
Air mendidih pun tersiram ke wajah Karen hingga melepuh.
Meskipun begitu, dia tetap menghibur putrinya dengan lembut, "Tenang saja, Cecilia, Ibu nggak apa-apa!"
Aku menggertakkan gigiku. Aku sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi Karen saat dia tahu yang sebenarnya.
Bahwa gadis bersahaja dan sempurna yang dia anggap sebagai putrinya itu bukanlah putri kandungnya.
Bahwa dia sudah menganiaya putri kandungnya selama bertahun-tahun sehingga akhirnya kabur.
Rasanya aku ingin tertawa membayangkan adegan konyol ini.
Karen pun dilarikan ke rumah sakit.
Jack berdiri di luar ruang operasi, lalu menamparku tanpa memedulikan hal lainnya.
Aku mencibir, lalu balas menendangnya hingga menubruk dinding.
Plak! Plak! Plak!
Aku beberapa kali menampar Jack hingga pria itu pingsan dan barulah amarahku sedikit mereda.
Beberapa saat kemudian, dokter bergegas keluar dan berkata, "Pasien mengalami pendarahan hebat! Cepat donorkan darah!"
Jack memaksakan tubuhnya untuk berdiri, lalu mengajak putriku tes darah.
Aku mengikuti mereka sambil bersenandung santai.
Begitu aku sampai di tempat tes, teriakan Jack pun terdengar. "Golongan darahmu A? Kok bisa A!"
"Dari dulu golongan darahku A!" jawab putriku dengan polos.
Jack sontak menjadi orang kesetanan. Ibunya sekarang dalam kondisi kritis di ruang operasi demi menyelamatkan putrinya.
Sekarang, Jack akhirnya tahu bahwa Cecilia bukanlah putri kandung ibunya.
"Kalian pasti salah!" serunya seperti orang gila. "Kalian pasti salah! Golongan darahnya nggak mungkin A!"
Kedua orangtua Jack sama-sama bergolongan darah B, jadi mana mungkin bisa memiliki anak bergolongan darah A?
Anda Mungkin Juga Suka





