
Menukar Putri yang Ditukar
Bab 2
Ekspresi ibu mertuaku dan suamiku sontak menjadi kaku, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Naraya Viron kabur dari rumah tiga tahun lalu hanya karena masalah dia memakan sepotong daging rebus.
Ibu mertuaku memukulinya habis-habisan sambil mencacinya.
"Kamu dulunya hantu kelaparan, hah! Daging rebus itu buat keponakanmu! Masa iya kamu yang lebih tua berani-beraninya memakannya!"
"Sini, biar kuhajar kamu sampai mati hari ini! Dasar gadis sialan!"
Ibu mertuaku kasar dan kejam sekali. Naraya pasti sudah mati dia pukuli jika bukan karena para tetangga menghentikannya.
Padahal hari itu dingin sekali, tetapi Naraya hanya mengenakan baju lengan pendek dan celana pendek. Tubuhnya dipenuhi bekas luka.
Ada yang bekas dipukuli dengan batang bambu, ada yang bekas disundut puntung rokok, bahkan ada pula bekas luka bakar yang besar di bagian wajahnya.
Naraya yang tidak tahan lagi pun akhirnya memberanikan diri untuk pertama kalinya menyahuti ibu mertuaku, "Ternyata Ibu sebegitunya membenciku, ya!"
"Harusnya Ibu nggak pernah melahirkanku supaya Ibu bisa menikah lagi! Kalau Ayah tahu Ibu menganiaya putrinya seperti ini, Ayah pasti akan mencekik Ibu sampai mati!"
Naraya tidak mengerti kenapa ibu mertuaku begitu kejam kepadanya, padahal orangtuanya begitu saling menyayangi.
Ibu mertuaku yang tersulut emosi pun akhirnya mengusir Naraya.
Naraya juga tidak kalah keras kepalanya. Sudah tiga tahun ini dia tidak pernah pulang.
"Dia … dia … bukan putri Ibu, mana Ibu tahu dia di mana? Kamu 'kan ibunya, cari saja dia sendiri!"
Ibu mertuaku menggendong Cecilia dan duduk di sofa dengan perasaan bersalah.
"Sudahlah! Kamu nggak usah mempermalukan Ibu! Ibu sudah berusaha keras untuk Naraya. Ibu memang memukuli dan memarahinya, tapi sayangnya Naraya terlahir sebagai orang jahat! Untung saja Ibu membuatnya putus sekolah, kalau nggak, entah berapa banyak murid laki-laki di sekolah yang termakan godaannya! Ingat, ya, Ibu nggak akan mengakuinya sekalipun dia kembali!"
Jack menyalakan sebatang rokok dan menatap ekspresi maluku dengan sangat puas.
Aku tahu dia akan selalu menyundut rokok ke tubuh Naraya setiap kali merasa frustrasi dipermalukan olehku.
Kukira aku sudah lama mati rasa semenjak tahu sifatnya yang sebenarnya.
Ternyata, amarahku masih membara. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku tidak menukar putriku.
Bisa-bisa dia hidup di bawah aniaya neneknya dan perlakuan tidak adil dari ayahnya.
Akankah dia bertemu dengan orang-orang yang baik hati setelah kabur di usia yang belia?
Tidak, malah mungkin dia sudah keburu mati sebelum sempat bertemu.
Ibu mertuaku dan Jack memang sama-sama manusia tidak berakhlak.
Aku pun memejamkan mata dan mengeluarkan seutas kabel data dari tasku, lalu mengayunkannya ke arah Cecilia.
"Padahal kalian tahu yang sebenarnya, tapi malah berani-beraninya menganiaya putriku! Kalian sudah menyiksa putriku!"
"Jadi, sekarang giliranku menganiaya putri kalian! Kehidupan yang Naraya jalani dulu adalah kehidupan yang akan Cecilia jalani sekarang! "
Ekspresiku terlihat sangat berang, seolah-olah aku adalah seorang ibu yang patah hati setelah mengetahui yang sebenarnya.
Tentu saja ibu mertuaku dan Jack sangat kaget.
Mereka pasti sudah menduga aku akan bereaksi, tetapi aku yakin mereka tidak menyangka aku bisa setega ini dengan putriku.
Putriku pun berseru, "Nenek, Ibu … Ibu gila! Tolong aku!"
Ibu mertuaku pun menindih putriku dengan sigap untuk melindunginya.
Ctaas!
Sebuah luka yang panjang dan tipis segera muncul di wajah ibu mertuaku, darahnya mengalir keluar.
"Aaah! Nak … Nak! Cepat selamatkan Ibu! Istrimu gila!"
Aku menendang Jack menjauh, lalu meraih Cecilia yang berada di belakang ibu mertuaku.
Saat ini, ibu mertuaku benar-benar berperan sebagai ibu yang sangat baik. Dia berdiri mengadang untuk melindungi putriku dengan tegas.
"Jessica! Kalau kamu nggak sudak dengan Ibu, langsung hadapi Ibu! Kamu sendiri yang bodoh karena nggak mengenali putri kandungmu!"
"Ibu nggak sepayah kamu! Pokoknya, nggak akan Ibu biarkan kamu menyakiti Cecilia sedikit pun hari ini!"
Aku bodoh karena tidak bisa mengenali putrikku sendiri?
Aku pun menjambak rambut ibu mertuaku dan mendorongnya ke balkon. "Iya! Aku bodoh, sedangkan kamu pintar!"
"Padahal kamu tahu yang sebenarnya, tapi kamu malah menganiaya putriku! Akan kubalaskan dendam putriku hari ini!"
Anda Mungkin Juga Suka





