
Menjaga Jodoh Orang
Bab 10
Semua orang terkejut. Mereka melihat darah di dahi Vivian menodai gaun pengantinnya yang putih bersih.
"Vivian!" Hal ini membuat keraguan dan rasa bersalah Terry sirna. Dia memeluk Vivian, bertanya dengan sedih, "Untuk apa kamu begitu?"
"Terry, kamu tahu harapan terbesarku di kehidupan ini adalah menikah denganmu. Kak Candice nggak merestui hubungan kita, jadi lebih baik aku mati. Tenang saja, aku nggak menyalahkanmu atau Kak Candice. Ini salah nasibku yang terlalu buruk."
Usai berbicara, Vivian bahkan muntah darah. Hal ini membuat tatapan Terry kepada Candice menjadi semakin dingin. "Candice, kamu mau melihatnya bunuh diri? Sejak kapan kamu menjadi sekejam ini?"
Candice merasakan sakit di hatinya mendengar pertanyaan itu. Ternyata di mata Terry, dia adalah orang seperti itu. Namun, tidak masalah lagi karena dia sudah muak dengan permainan ini.
"Terry, upacara pernikahan sudah mau dimulai. Sebaiknya kalian cepat masuk," ujar seseorang. Terry lantas menggendong Vivian, lalu melirik Candice dan pergi tanpa menoleh.
Seseorang maju untuk menasihati Candice, "Candice, Terry bilang Vivian nggak bisa hidup lama lagi. Kamu jangan buat keributan lagi. Pulang saja. Ada banyak yang melihat di sini."
"Sudah kubilang, hari ini aku datang bukan untuk Terry. Hari ini aku nikah di aula di samping Terry. Kalau ada waktu, kalian mampir saja nanti." Usai berbicara, Candice melangkah masuk ke aula.
Semua orang bertatapan, tidak tahu harus bagaimana membujuk Candice. "Terry ini hebat sekali ya. Dua wanita memakai gaun pengantin untuk mendapatkan perhatiannya."
Ketika Candice masuk, kerabat sudah datang, tetapi mempelai prianya belum terlihat. Ibunya pun agak cemas. "Gian pasti datang, 'kan?"
"Jangan bodoh. Keluarga Jaufar saja datang, mana mungkin Gian nggak datang? Dengar-dengar semalam dia sudah dalam perjalanan pulang. Mungkin sebentar lagi sampai."
Orang tua Candice tampak gelisah, tetapi Candice hanya duduk di tempatnya dengan wajah datar. Faktanya, Candice juga cemas. Dia akan menikah dengan pria asing yang tidak pernah ditemuinya. Candice bahkan tidak tahu Gian tampan atau tidak, pendek atau tinggi.
Menyesal tidak? Tentu tidak. Lagian, dia sudah tidak muda lagi dan sudah waktunya menikah. Jika pria itu bukan orang yang dicintainya, menikah dengan siapa pun sama saja.
Di aula samping, terdengar suara pembawa acara. Candice mendongak untuk melihat ke arah itu. Saat ini, Terry berdiri di depan pembawa acara, tetapi tampak tidak fokus. Seluruh pikirannya ada pada Candice. Entah Candice sudah pulang atau belum, entah Candice bisa memaafkannya atau tidak.
"Vivian, apa kamu bersedia menikah dengan Terry? Baik itu kaya, miskin, sehat, atau sakit, kamu akan terus mencintai dan menjaganya?"
Vivian menyahut dengan tidak sabar, "Aku bersedia!"
"Terry, apa kamu bersedia menikahi Vivian? Kamu akan menjaganya seumur hidup dan hanya punya dia di dalam hatimu?"
Terry sedang memikirkan Candice. Karena terlalu fokus, dia tidak mendengar pertanyaan pembawa acara.
"Terry, apa kamu bersedia menikahi Vivian?" tanya pembawa acara sekali lagi, tetapi tidak ada tanggapan dari Terry.
Vivian lantas mengernyit, sementara orang-orang di bawah mulai bergosip.
"Terry!" Vivian menjulurkan tangan untuk menarik pakaian Terry.
"Ada apa?"
"Pembawa acara tanya kamu sesuatu."
"Oh, maaf."
Terry tersadar dari lamunannya. Dia hendak bertanya pertanyaan apa itu, tetapi orang di bawah tiba-tiba berseru, "Ternyata Candice nggak bercanda. Dia benaran nikah hari ini, di aula sebelah!"
"Serius? Kamu nggak bohong?"
"Kita pergi lihat saja. Apa yang dilakukan pasangan ini sih? Mereka pacaran selama 5 tahun, tapi nikahnya malah sama orang yang berbeda. Nggak masuk akal sekali."
Usai berbicara, beberapa orang pun pergi. Entah mengapa, Terry yakin Candice hanya membuat onar, tetapi dia tetap panik.
Anda Mungkin Juga Suka





