APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku

Silla terperangah ketika Elsa, sahabat karibnya, memohon agar ia bersedia menjadi istri kedua Nathan. Karena divonis mandul, Elsa mendesak Silla demi mendapatkan keturunan. Walau awalnya menolak, desakan itu akhirnya membuat Silla menyerah dan setuju. Keadaan kian pelik lantaran Silla rupanya masih menyimpan rasa cinta rahasia pada Nathan. Sanggupkah ia mundur setelah melahirkan nanti, atau justru terjerat selamanya dalam pernikahan itu?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sesampainya di sana, Elsa dengan penuh keceriaan mengantar mereka ke salah satu kamar yang sudah dia pesan khusus untuk keduanya. Dia dengan teliti mempersiapkan segala hal demi membuat Nathan merasa nyaman dan segera dapat memiliki anak.

"Semoga kamu suka dengan kamarnya, Sil. Begitu pun dengan Mas Nathan," ucap Elsa dengan penuh harap dan kehangatan dalam suaranya, sambil tersenyum lembut membukakan pintu untuk mereka masuk.

Kamar hotel khusus untuk pengantin baru itu terlihat begitu indah dan romantis. Silla merasakan getaran kebahagiaan dan haru melihat dekorasinya yang menakjubkan. Dia bisa merasakan betapa Elsa telah berusaha keras untuk menciptakan momen untuknya, supaya segera memberikannya anak.

Tempat tidur yang besar dan nyaman, dekorasi dengan bunga-bunga segar, lukisan-lukisan indah, dan balkon pribadi menghadap pemandangan kota. Semua detail dirancang dengan cermat untuk menciptakan pengalaman yang aman dan nyaman.

"Kita keluar dulu sebentar yuk, Mas," ajak Elsa menarik suaminya untuk keluar dari kamar, membiarkan Silla mencermati ruangan itu sendirian. "Ambil ini dan jangan lupa diminum sebelum mandi. Mas pasti habis ini mau mandi, kan?"

"Apa ini, Sayang?" Nathan mengambil sebuah botol obat polosan berwarna putih, yang baru saja diberikan Elsa. Terlihat dia bingung karena memang tidak tahu apa itu.

"Ini cara yang aku katakan itu lho, Mas. Mas harus minum ini, satu kapsul saja. Biar nanti Mas bisa menyentuh Silla tanpa rasa benci."

"Jangan bilang ini obat per*ngsang, Yang?" tebak Nathan, lalu menggeleng cepat. "Ah enggak, Yang! Aku nggak mau minum obat beginian!" tolaknya cepat dan memberikan benda itu kembali ke tangan Elsa. Tetapi, perempuan itu menolak.

"Dih, Mas. Cuma cara ini lho yang bisa membuat kamu menyentuh Silla. Kan katanya kamu nggak sudi menyentuhnya."

"Iya, aku memang nggak sudi, Yang. Tapi ya nggak perlu pakai cara ini juga kali. Aku nggak mau!"

Degh!

Silla tak sengaja mendengar percakapan mereka, dan dia merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu terdengar menyakitkan, tapi seharusnya, Silla tak perlu merasa sesakit ini.

'Wajar juga kalau Kak Nathan nggak mau menyentuhku, karena dia pasti sangat mencintai dan menghargai Elsa. Tapi memangnya harus, ya, sampai dengan kata nggak sudi seperti itu?' batin Silla penuh tanya. Sampai detik ini, pertanyaan dalam benaknya tentang Nathan tetap sama, yakni. 'Sebenarnya apa sih yang membuat Kak Nathan membenciku selama ini?'

"Nggak ada cara lain, Mas. Cuma ini." Elsa terdengar berusaha untuk merayu suaminya, bahkan kini memberikannya sebuah kecupan mesra dibibir demi bisa meluluhkan hatinya. "Kalau kamu sudah menyentuh Silla, peluang untuk kita segera punya anak akan cepat terlaksana. Dan kamu juga bisa segera bercerai dengannya."

"Tapi—"

"Sstttt ...." Jari telunjuk Elsa mendarat ke bibir Nathan. Menghalanginya untuk bicara. "Mas nurut aja sama aku. Ini buat kebaikan bersama. Mas mencintaiku, kan?"

Nathan mengangguk, lalu menarik tangan Elsa dari bibirnya lalu kecupan bibir itu kembali terjadi. "Tentu saja, aku mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu."

"Ya udah, mangkanya nurut. Sekarang aku pulang ya, Mas. Kamu masuk, baju ganti untuk kalian biar kukirim nyusul."

"Lho, kok kamu pulang? Kenapa nggak ikut menginap juga?" Nathan menarik tangan Elsa, menghalanginya yang hendak melangkah pergi. Ada perasaan berat ditinggalkan, Nathan tak ingin jauh darinya.

"Mas ini gimana? Masa iya aku ikut menginap bareng kalian? Yang ada ganggu dong." Elsa tertawa.

"Enggak lah. Mana ada kamu ganggu." Nathan mengeratkan tangannya, tak ingin membiarkan perempuan itu pergi.

"Tetap saja aku nggak mau, Mas." Elsa menggeleng, lalu perlahan menarik tangan sang suami. "Nggak etis juga kali, Mas. Ya udah, ya, aku pamit pulang. Assalamualaikum." Kembali Elsa mengecup bibir Nathan, selanjutnya dia melangkah cepat pergi darinya.

"Akh kamu ini!!" kesal Nathan, tapi segera dia lambaian tangan, menatap sang istri yang sudah masuk ke dalam lift. "Hati-hati dijalan, Sayang!"

Walau begitu berat, tapi pada akhirnya Nathan harus rela ditinggal Elsa.

Setelah pintu lift itu tertutup, dia menghela napasnya dengan panjang dan berat. Nathan juga menyentuh dadanya yang terasa sesak.

Meskipun istrinya terus menampilkan wajah senang dan penuh kebahagiaan, tapi Nathan yakin—jika dihati perempuan itu tersimpan banyak sekali luka yang mendalam.

'Aku akan terus mencintaimu sampai kapan pun. Dan nggak akan ada perempuan mana pun yang bisa menggantikan posisimu, Elsa,' batin Nathan penuh tekad.

Cukup lama dia berdiri di sana, sampai akhirnya dengan langkah berat dia masuk ke dalam kamar hotel yang sedari tadi pintunya terbuka, lalu menutup pintu.

Terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, dan tak lama setelah mati pintunya pun perlahan dibuka.

Silla keluar dari kamar mandi itu dengan menggenakan handuk kimono dan menatap sang suami. Rambutnya terlihat basah dan berantakan.

Sesegera mungkin Nathan mengalihkan pandangan. Membuang muka ke arah lain.

"Maaf, Kak. Tapi tadi Elsa sempat menitipkan baju ganti nggak, ya? Soalnya aku lupa nggak bawa baju ganti," tanya Silla dengan lembut dan hati-hati.

Namun, bukannya menjawab, pria itu justru berlalu begitu saja dengan wajah dingin, masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk yang dia ambil dalam lemari.

Brak!!

Sebuah pintu langsung dia tutup secara paksa, hingga suara sontak mengagetkan Silla. Perempuan itu sampai terjingkat dan menyentuh dada.

"Astaghfirullah ... apa aku salah bicara? Kenapa dia justru terlihat marah?" gumam Silla, dan tak lama kemudian terdengar suara bel yang kembali mengagetkannya.

Ting, Tong!

Ting, Tong!

"Oh ya, tunggu sebentar!!" seru Silla, lalu cepat-cepat membuka pintu kamar.

Seorang petugas hotel berdiri di depan pintu, sembari memegang sebuah koper besar di tangannya. "Selamat malam, Nona. Saya diminta oleh Nona Elsa untuk mengirimkan koper ini."

"Oh, selamat malam juga, Pak. Terima kasih, ya?" Silla langsung menarik benda itu kepadanya.

"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi."

"Iya." Silla mengangguk, lalu menutup pintu dan mendorong koper itu membawanya masuk. Silla berpikir bahwa koper itu pasti berisi baju ganti untuknya dan Nathan, jadi segera dia membukanya.

Ternyata benar, itu baju ganti untuk dan Nathan. Hanya saja yang membuat Silla heran, mengapa tak ada baju tidur untuknya. Tapi banyak sekali lingerie.

"Apa-apaan ini Elsa? Kenapa dia mengirimku baju ganti sama semua dan kurang bahan? Apa dia sengaja?"

Ingin rasanya Silla bertanya kepada Elsa, tapi sayang dia lupa tak membawa ponsel. Alhasil, mau tidak mau Silla memakai salah satunya dan segera naik ke atas kasur menyelimuti tubuh lantaran malu sendiri.

Tak lama kemudian, Nathan keluar dari kamar mandi dengan menggenakan handuk kimono. Seluruh wajahnya dan rambutnya tampak basah.

"Kak, itu baju gantinya dikoper. Tadi Elsa mengirimkannya menyuruh petugas hotel," ucap Silla memberitahu, meski pria itu tak bertanya. Sebab terlihat dia seperti orang kebingungan.

Tanpa menjawab lagi, Nathan langsung menuju koper yang Silla tunjukkan lalu mengambil baju ganti untuknya dan menggantinya di dalam kamar mandi.

*

*

Sampai larut malam, Nathan sama sekali tak berbicara. Dia sejak selesai mandi langsung duduk di sofa dan bermain ponsel.

Ruangan itu terasa sunyi meskipun ada dua orang di dalamnya. Silla merasa canggung untuk mengajaknya berbicara, khawatir bahwa tidak akan ada tanggapan.

"Eemm, Kak. Aku tidur duluan deh kalau begitu. Maaf kalau aku ada salah. Selamat malam." Silla mencoba mencairkan suasana dengan mengajukan permintaan maaf dan memberikan salam selamat malam. Dia merasa lebih baik tidur daripada menunggu Nathan untuk memulai percakapan yang mungkin tidak akan terjadi.

"CK!" Nathan menghela nafas dengan sinis, masih terpaku pada layar ponselnya. 'Tidur tinggal tidur, ngapain pakai izin segala. Nggak penting banget!' batinnya sebal.

Namun, beberapa saat kemudian, Nathan teringat dengan obat yang Elsa berikan. Tanpa ragu, dia mengambil obat tersebut dari kantong celananya.

'Apa aku harus meminumnya sekarang? Lalu menyentuh Silla?' pikir Nathan penuh tanda tanya. Dia melihat ke arah Silla yang sudah terlelap di tempat tidur.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akhir Cerita Terapis Di Playgroup Anakku
8.8
Saat mendaftarkan sang anak ke sebuah playgroup, seorang ibu tidak pernah menduga akan mendapatkan kartu pijat bonus untuk spa yang berada tepat di sebelah lembaga tersebut. Kejutan sebenarnya baru dimulai ketika ia memutuskan untuk menggunakan kartu itu. Begitu melangkah masuk ke dalam ruang terapi, ia ditangani oleh terapis terbaik di sana. Namun, tindakan tidak terduga dari sang terapis di tengah sesi pijat langsung membuatnya terkejut dan mengubah seluruh situasi yang ada.
Sampul Novel (bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
9.6
Kehidupan mapan Davina Hadinata runtuh usai menjalin kasih dengan Aria Wardana yang ternyata telah beristri. Tak cukup difitnah Aria hingga kehilangan pekerjaan, bisnis ayah Vina pun hancur akibat skandal kakaknya. Petaka kian memuncak ketika istri Aria nekat mengakhiri hidup. Hal ini memicu murka Rajata Bagaskara yang ingin membalas dendam atas kematian keponakannya. Rajata menodai Vina hingga hamil. Di tengah kemiskinan dan penderitaan mendalam, Vina harus berjuang bertahan hidup.
Sampul Novel Gadis Imigran
8.8
Demi membiayai ayah dan adiknya, Iris Barcova terpaksa menempuh jalan kelam sebagai PSK. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius dari kalangan mafia menawarkan pernikahan kontrak demi pengobatan ayahnya. Di sisi lain, ada seorang dokter tulus yang mencintainya, membuat Iris terjebak dilema. Namun, kenyataan pahit perlahan terungkap bahwa pria penyelamatnya itu diduga merupakan dalang utama di balik segala tragedi yang menimpa hidupnya.
Sampul Novel Mengungkap Istriku yang Dijauhi: Dia Menyembunyikan Seribu Identitas
9.4
Kehilangan orang tua akibat pembunuhan, Kathryn kembali untuk menuntut hak warisnya. Dia kerap dicaci sebagai anak haram yang tak layak bersanding dengan Evan. Namun, sang suami justru sangat mencintai wanita misterius ini. Di balik keanggunannya, Kathryn menyimpan rahasia sebagai peretas andal, dukun legendaris, dan peracik parfum istana. Saat Evan memanjakannya di hadapan publik, satu per satu topeng Kathryn terbuka, memaksa para pembencinya tunduk.
Sampul Novel Sepupu Dan Suami: Cinta atau Dosa?
8.1
Kehidupan Nindy hancur saat Bastian, suaminya, tega berselingkuh dengan Dini yang merupakan sepupunya sendiri. Pengkhianatan keji ini terjadi tepat ketika Nindy tengah berjuang keras melawan penyakitnya, menyisakan trauma mendalam akan komitmen. Di masa sulit itu, Rangga hadir. Sahabat kuliah Nindy tersebut membawa ketulusan yang perlahan memulihkan hatinya. Saat Nindy mulai bangkit, Bastian dan Dini justru harus menghadapi karma buruk akibat perbuatan mereka.
Sampul Novel Terjebak Cinta Ketua Preman
8.9
Malam kelulusan Amelia berakhir tak terduga setelah ia tidak sengaja tidur bersama Handoko, pria misterius yang selalu melajang. Tak disangka, Amelia hamil dan memilih menyembunyikan kandungannya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sosok Handoko adalah ketua organisasi preman yang paling ditakuti. Apakah rahasia besar ini akan menyeret Amelia ke dalam penderitaan, atau justru berujung pada takdir manis yang membuat semua orang iri?