APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahlah Denganku, Pak!

Menikahlah Denganku, Pak!

Dua kali gagal menembus ujian masuk perguruan tinggi membuat Hanifa, seorang gadis dari keluarga terpandang, merasa sangat putus asa. Di tengah situasi sulit ini, ia mengambil langkah nekat dengan mengajak guru les privatnya menikah. Walau lamaran tak biasa itu langsung ditolak dan dianggap sebagai lelucon belaka, Hanifa tetap teguh pada pendiriannya. Akankah keputusan impulsif ini berujung manis, atau justru menjadi babak kegagalan baru dalam hidup Hanifa?
Bab
Bagikan

Bab 3

Baru saja keluar dari rumah yang sudah seperti istana itu, sebuah mobil sedan hitam mengkilap langsung melaju menghalangi jalan Saka. Itu adalah salah satu dari dua supir pribadi yang dimiliki oleh ibunya Hanifa. Supir yang satu ini memang dikhususkan untuk mengantar dan menjemput ke mana pun Hanifa pergi. 

Kaca mobil bagian depan yang tepat berada di samping kursi kemudi terbuka perlahan dengan begitu halus menampakkan sosok wajah pria muda yang usianya tidak terpaut jauh dengan Saka. 

“Biar saya antar, pak. Nyonya menyuruhku untuk mengantarmu, dan kali ini saya mohon terima saja tawarannya, sebab nyonya mengancam akan menggantiku dengan orang lain jika bapak menolak tawaranku lagi.”, katanya dengan tatapan memohon. 

Biasanya Saka memang selalu menolak tawaran itu karena tidak ingin diketahui oleh orang lain ke mana tujuannya pergi setelah dari sini, tetapi mendengar apa yang terjadi, membuat Saka harus mengalah kali ini. Tentu ia tidak ingin orang lain kehilangan mata pencahariannya hanya karena ego sesaatnya. 

“Baiklah. Aku akan menerima kebaikanmu kali ini.” , balas Saka, tak lupa diiringi dengan senyum ramah. 

Jawaban yang keluar dari mulut Saka benar-benar membuat raut wajah pria muda dengan setelan kemeja hitam itu berseri, “Terima kasih. Aku akan memberikanmu perjalanan yang damai.”, katanya. 

“Haha, tidak perlu. Santai saja.”

Sepanjang perjalanan, Saka sibuk membalas pesan-pesan yang belum sempat ia balas saat mengajar Hanifa tadi. Pekerjaan sebagai dosen juga membuatnya sibuk untuk mendampingi beberapa mahasiswa dalam menyusun skripsi. Kesibukan dari tiap mahasiswa yang berbeda-beda, terkadang menuntut Saka untuk bisa konsultasi meskipun pada jam-jam yang tidak masuk akal seperti saat dini hari. 

Saka adalah salah satu dosen langka yang mau memikirkan perasaan dan usaha dari para mahasiswa yang berjuang mati-matian untuk membuat dan merevisi skripsi mereka. Tidak seperti beberapa dosen lainnya yang menanggapi mahasiswanya dengan sesuka hati mereka, Saka akan berusaha untuk ‘selalu ada’ kapanpun para mahasiswanya membutuhkan bantuan dirinya. 

Supir yang menyetir dengan damai karena jalanan lancar hari ini, mengintip Saka yang duduk di kursi penumpang di belakangnya melalui spion yang tepat berada di atas dashboard mobil. Ia tersenyum melihat bagaimana Saka terlihat begitu serius melihat ponsel di tangannya. 

“Sepertinya bapak sibuk sekali hari ini, ya?” , tanya supir itu mencoba untuk membuat suara di dalam mobil. 

“Hm? Oh iya. Aku baru sempat membalas pesan dari anak-anak.” , jawab Saka mendengarkan sepenuhnya pertanyaan yang supir itu lontarkan meskipun pandangan dan tangannya tidak beralih dari ponselnya sedikitpun. 

“Apa kau sudah menikah?”, tanya pria di kursi kemudi mulai menyelidik saat melihat kilau cahaya yang terpantul dari cincin perak yang dikenakan oleh Saka. 

Ini adalah alasan lain mengapa Saka tidak ingin menerima tawaran untuk di antar. Wawancara spontan yang tidak ada kesepakatan sebelumnya, ditambah lagi semua pertanyaan yang sudah bisa diprediksi akan semakin lama akan semakin sensitif. 

Saka tersenyum kecil, “Belum, Mas.”

“Ooh, saya kira itu cincin nikah.”

Jari-jari tangan Saka berhenti bergerak dan ia mengangkat sedikit tangan kirinya untuk melihat cincin yang dimaksudkan oleh sang supir, “Tidak. Ini cincin pertunangan kami.”, katanya dengan senyum hangat menatap lekat cincin tersebut. 

Setelah 10 menit mereka melaju di jalanan besar, Saka meminta untuk diturunkan di salah satu tempat pemberhentian bus dengan alasan ada tempat yang harus ia kunjungi. Pada awalnya sang supir agak memaksa untuk mengantar sampai tempat tujuan, tetapi dengan sedikit bumbu keras kepala, akhirnya Saka diturunkan di pemberhentian bus. 

Tepat setelah sedan hitam itu berlalu pergi, sebuah bus besar berwarna merah terang datang, dan Saka masuk ke dalamnya bersama dengan beberapa orang lainnya. Sepanjang perjalanan di dalam bus, Saka dengan sengaja menyumpal telinganya dengan headset yang ia bawa dan lebih memilih untuk mengisolasikan dirinya pada musik orkestra yang terputar pada ponselnya dibandingkan memperhatikan keadaan sekitarnya. 

Setelah kurang lebih empat puluh menit lamanya bus melaju, Saka turun bersama dengan penumpang lainnya. Kemudian ia kembali berjalan kaki untuk meneruskan perjalanannya dan berhenti saat melihat toko bunga. Ia melepas headsetnya dan memutuskan untuk masuk ke dalam. Suara lonceng klasik terdengar saat Saka mendorong pintu kaca tersebut dan tak berselang lama ia sudah membawa satu buket bunga Aster berwarna ungu dan juga merah yang cerah. Saka menatap buket bunga di tangannya sambil tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanannya.

Destinasinya bukanlah rumah atau apartemen tempat tinggalnya, melainkan rumah sakit yang sudah sangat familiar baginya sejak setahun yang lalu. Sampai-sampai perawat-perawat dan juga beberapa dokter yang bekerja di sana sudah mengenal Saka.

“Kali ini bunga Aster, pak guru?” , tanya salah seorang perawat yang bertugas di meja administrasi dengan ramah. Ia menjadi orang pertama yang menyapa Saka setibanya Saka di rumah sakit.

Saka balas tersenyum padanya, “Iya, aku harap yang satu ini tidak akan membuatnya alergi lagi. Apa dia ada di kamarnya?”

Perawat itu mengangguk, “Tentu saja. Memangnya mau di mana lagi? Kkk.”

Saka terkekeh menanggapi jawaban ramah dari perawat yang merupakan perawat tertua di rumah sakit ini. Satu hal yang membuat Saka salut dari perawat tadi adalah sikapnya yang begitu ramah dan hangat, membuat siapapun merasa nyaman dan senang berbicara padanya, padahal umurnya tidak lagi muda seperti perawat-perawat lainnya yang justru terkadang bersikap kaku.

Pintu berwarna krem itu digeser dan langsung menampilkan seorang wanita tengah terduduk di atas tempat tidurnya, menonton televisi dengan suara kecil. Badannya kurus kecil sehingga membuatnya tenggelam dalam baju rumah sakit. Kepalanya mengenakan topi beanie untuk menutupi kepalanya yang kini sudah tidak ada rambut lagi yang tersisa karena kemoterapi yang ia jalani selama satu tahun terakhir ini.

“Hai, sayang~” , sapa Saka ramah dan mendapatkan sambutan senyum hangat dari kekasihnya itu.

Wanita tersebut langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar meminta sebuah pelukan dan Saka langsung menyambutnya dengan senang hati. Ia memeluk kekasihnya itu hati-hati agar tidak menyakitinya dan mengusap-usap punggungnya lembut.

“Bagaimana dengan harimu hari ini?” , tanya sang wanita dengan tak sabar menanti cerita menyenangkan tentang kejadian di sekolah hari ini dari Saka.

Pria berkacamata di hadapannya memberikan buket bunga yang ia beli saat di perjalanan tadi dan menarik tempat duduk yang ada agar lebih dekat pada ranjang tempat tidur pasien. 

“Biasa-biasa saja. Bagaimana denganmu, bu Vina? Apa kau memuntahkan makananmu lagi hari ini?” , tanya Saka lebih ingin mengetahui keadaan kekasihnya itu. Lebih tepatnya ia menanti kabar baik dari setiap kabar yang wanita itu katakan padanya.

Wanita yang akrab disapa Vina itu mengangguk dengan ragu. Ia tahu hari ini ia lagi-lagi memberikan jawaban yang kurang menyenangkan, sama seperti beberapa hari yang lalu. Saka berusaha keras untuk tersenyum, meskipun hatinya terluka melihat kondisi kekasihnya yang tengah berjuang keras melawan kanker kelenjar getah bening. Ia mendapatkan penyakit ganas itu dari ayahnya yang sudah lebih dulu kembali pada Yang Maha Kuasa karena penyakit ini. Dan kini ia sendiri yang harus merasakan perjuangan yang sama dengan yang ayahnya lalui dulu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
8.6
Raina, pembalap jalanan legendaris berjaket kulit hitam di Jakarta, baru saja menaklukkan Melia dalam adu balap. Namun, kemenangan itu hancur seketika saat sang ayah menelepon dan memberi ultimatum keras. Raina dipaksa pulang untuk dijodohkan dengan anak sahabat keluarganya. Sambil menangis dan bimbang, ia dengan tegas menolak dikendalikan oleh orang tuanya demi mempertahankan kebebasan yang sangat ia cintai.
Sampul Novel Di Atas Ranjang Tuan Nick
8.7
Keyla dituduh merusak hubungan orang lain secara sepihak. Tuduhan palsu ini membuatnya diculik oleh Nick, seorang CEO kuat, tepat saat hari pertunangannya. Setelah dilecehkan secara paksa oleh Nick, Keyla yang putus asa mencoba bunuh diri. Namun, Nick menyelamatkannya dan justru memaksa Keyla menikahinya. Kini, Keyla terjebak sebagai tawanan di rumah mewah milik pria yang telah menghancurkan hidup dan martabatnya tersebut.
Sampul Novel Ibu Meninggal, Suami Sibuk dengan Mantan
8.0
Saat ibu mertuanya terkena serangan jantung, Nova segera menghubungi suaminya yang merupakan dokter kardiologi. Namun, sang suami justru menuduh Nova berbohong dan memilih menemani mantan kekasihnya. Tragedi terjadi saat sang ibu wafat di meja operasi sementara suaminya pergi ke konser. Ketika pulang dan melihat Nova memeluk kotak abu, ia justru murka dan menuduh Nova bersandiwara demi menarik perhatiannya. Kisah novel modern bergenre misteri ini mengupas kehancuran rumah tangga yang tragis.
Sampul Novel Manis di Bibir, Pahit di Takdir
9.4
Devan Atmadja berulang kali mengkhianati Viona dengan dalih kesetiaan pada mendiang sahabatnya. Mulai dari pernikahan rahasia dengan Keira Maheswari, menjadikannya nyonya besar demi aliansi mafia, hingga kehamilan yang diklaim sebagai kecelakaan. Setelah berkali-kali mengalah dan memaafkan janji manis Devan, Viona akhirnya tersadar bahwa hubungan mereka tidak memiliki masa depan. Di tengah jaringan intrik dan dusta ini, Viona memilih untuk melepaskan diri dan pergi selamanya.
Sampul Novel Terjebak Gairah Terlarang
8.4
Julian, seorang pelajar SMA yang gemar bermain basket, memendam ketertarikan pada pemilik rental PS bernama Tante Namira. Hubungan mereka mendadak berubah intim setelah sebuah permintaan pijat biasa melanggar batas norma. Kejadian tersebut memicu hasrat Julian untuk mencari petualangan serupa dengan perempuan dewasa lain, mulai dari guru di sekolah hingga seorang perawat. Terjebak di antara rasa bersalah dan gairah, ia terus menantang moralitasnya tanpa tahu apakah ini akan menghancurkannya.
Sampul Novel Terpaksa Menjadi Istri Pengganti
8.2
Mikayla Audrien Gunawan, gadis manja berusia 18 tahun, harus menghadapi kenyataan pahit saat bisnis ayahnya bangkrut dan sang ayah jatuh sakit. Demi membiayai pengobatan, ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Di tengah kesulitan, seorang pria kaya menawarinya kesepakatan untuk menjadi istri pengganti bagi putranya. Mikayla menerima tawaran tersebut setelah calon pengantin wanita yang asli ketahuan berselingkuh tepat sebelum hari pernikahan dimulai.