APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahinya Mudah, Kehilangannya Adalah Neraka

Menikahinya Mudah, Kehilangannya Adalah Neraka

Stella hancur saat memergoki pengkhianatan Marc. Usai memberi tamparan keras, ia menghilang demi misi rahasia dan memalsukan kematiannya. Kepergian Stella membuat imperium bisnis Marc hancur total. Marc didera penyesalan mendalam hingga takdir mempertemukan mereka lagi di sebuah gala mewah. Saat Marc memohon pengampunan, Stella yang kini bersinar di sisi pria sukses lain hanya melempar senyum sinis dan menegaskan bahwa ia telah kehilangan haknya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Stella mengemudikan Volkswagen hitamnya yang sederhana, melintasi gerbang Institut Penelitian Hookwood.

Begitu melangkahkan kaki ke gedung kantor utama, Lainey Lewis, seniornya, bergegas menghampiri dan langsung menyambar pergelangan tangannya sambil berkata, "Apa kamu serius ingin mendaftarkan dirimu dalam proyek itu? Ada yang terjadi, Stella? Kamu bahkan tidak repot-repot menjelaskan saat aku mengirim pesan padamu. Ini bukan masalah sepele. Kamu tidak boleh membuat keputusan sepenting ini dengan gegabah. Proyek ini bukan sekadar eksperimen biasa, jadi setidaknya kamu harus membicarakannya dulu dengan Marc."

Rasa nyeri yang tajam menusuk dada Stella, tapi dia hanya diam.

Alih-alih menjawab, dia membuka kunci ponselnya, menggulir ke sebuah percakapan WhatsApp, lalu menyodorkannya ke hadapan Lainey.

Puluhan pesan provokatif dan gambar-gambar sensual, yang dikirim berulang kali, terpampang di layar. Salah satu foto itu terlihat sangat vulgar dan tanpa sensor sedikit pun.

Lainey melirik sekilas ke layar ponsel, lalu buru-buru mendorongnya kembali ke tangan Stella. Amarah berkilat di matanya saat dia memaki, "Bajingan! Kalau bukan karena patenmu, perusahaannya tidak akan pernah sebesar ini. Dan sekarang dia selingkuh? Ayo, kita pulang sekarang. Aku akan membuatnya berlutut dan memohon ampun padamu!"

Stella buru-buru menahan lengan Lainey dan berkata, "Tidak perlu."

"Apa maksudmu tidak perlu? Setelah semua yang dia lakukan, kamu mau diam saja dan melepaskannya begitu saja?" tanya Lainey dengan suara bergetar saking marahnya.

Nada bicara Stella terdengar dingin dan tanpa emosi saat dia berkata, "Melepaskannya? Tidak akan pernah."

Dia memasukkan kembali ponselnya ke saku mantel. Sorot matanya dingin dan setajam pisau saat dia melanjutkan, "Menghadapinya secara langsung akan terlalu mudah baginya. Aku ingin dia menderita. sampai dia benar-benar menyesali perbuatannya."

Lainey tidak berkomentar lebih jauh, dia tahu betul bagaimana sifat Stella.

Seorang jenius dalam laboratorium, tapi dia terlalu jujur sampai terkadang naif. Namun, kalau seseorang memperlakukannya dengan semena-mena, dia tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas di saat yang paling tidak terduga, dengan presisi dan kekuatan yang mematikan.

Mereka berjalan menuju kantor administrasi bersama-sama, dan proses pengisian formulir berjalan dengan lancar. Hanya butuh beberapa langkah dan stempel, semuanya hampir selesai dan tinggal menunggu persetujuan akhir.

Sebelum pergi, Stella menawarkan diri untuk mewakili institut dalam sebuah seminar akademik sekaligus mengambil materi yang diperlukan.

Pukul setengah empat sore, acara di Hotel Grace telah berakhir. Sambil mendekap map di dada, Stella melangkah keluar dari lobi menuju tempat parkir ketika tawa rendah yang tidak asing terdengar di telinganya.

"Sudah, jangan merajuk begitu."

Tubuh Stella seketika menegang. Begitu mengenali suara itu, dia perlahan berbalik. Perasaan dikhianati menghantamnya begitu keras, seolah tanah tempatnya berpijak retak seketika.

Marc sedang merangkul pinggang seorang wanita ramping berambut panjang dan menuntunnya masuk ke dalam hotel. Wanita itu terus menempel pada Marc dengan mesra sambil berkata dengan suara manis dan manja, "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu."

Bibirnya menelusuri cuping telinga sampai leher Marc, meninggalkan noda lipstik merah di kulit pria itu.

Marc tertawa rendah, suaranya lembut dan penuh kasih sayang saat dia menarik wanita itu lebih dekat. dan telapak tangannya menekan lekuk pinggang wanita itu dengan erat.

Pandangan Stella sempat kabur dan dadanya terasa sesak.

Ternyata, wanita itu mengikuti Marc ke sini. Mereka bahkan tidak bisa menunggu sampai malam untuk memadu kasih.

Melalui kaca pintu putar yang bergerak pelan, mata mereka bertemu.

Sorot mata Marc yang gelap dan penuh gairah beradu dengan mata Stella yang tenang dan dingin, diwarnai dengan sedikit ejekan.

Udara di antara mereka seketika terasa berat.

Wanita itu juga melihat Stella. Namun, alih-alih terkejut, dia hanya tersenyum angkuh, lalu berbalik dan mencium Marc lagi, kali ini lebih dalam dan provokatif, seolah-olah sedang menandai teritorinya.

Rasa pahit naik ke tenggorokan Stella, membuat perutnya mual seketika. Tidak sudi menyaksikan pemandangan itu lebih lama, dia buru-buru berbalik.

Dia bergegas meraih gagang pintu mobilnya, tapi sebelum dia sempat masuk ke dalam mobil, sebuah tangan menahannya dari belakang. Marc menyusulnya dengan napas terengah-engah. Aroma parfum wanita itu yang menyengat masih melekat di tubuhnya, cukup kuat untuk membuat Stella mual.

"Lepaskan!" bentak Stella sambil berusaha menarik tangannya, tapi cengkeraman Marc terlalu kuat.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Marc meraih pinggang Stella dan mendorongnya ke kursi belakang sebelum menyusul masuk ke dalam mobil. Wajahnya yang tegas tampak tegang, matanya berkilat dengan rasa cemas dan tidak sabar. "Stella, tolong dengarkan dulu penjelasanku."

Dalam keadaan terjepit, Stella hanya bisa bergeser menjauh dan berkata dengan suara dingin, "Hapus dulu noda lipstik di bibirmu sebelum bicara."

Raut wajah Marc langsung berubah. Tanpa sadar, tangannya terangkat ke bibir, matanya menyiratkan kepanikan saat dia berkata, "Proyek Marina Horizon sedang bermasalah. Aku stres karena masalah pendanaan, jadi aku menghubungi Nova Holdings. Haley Smith adalah putri salah satu dewan direksi di sana. Dia tidak begitu lancar bahasa kita dan tadi sempat minum. Aku hanya ingin memastikan dia sampai di hotel dengan selamat."

Dia mendekat seperti yang biasa dia lakukan saat ingin membujuk Stella dan berkata dengan suara yang semakin lembut, "Dia dari Negara Achury. Kamu tahu betapa terbukanya pikiran orang-orang di sana. Aku janji akan lebih berhati-hati. Tolong jangan marah, oke? Aku berjanji akan menebus kesalahanku."

Stella menatap Marc lekat-lekat dengan sorot mata yang dingin dan tajam sambil bertanya, "Jadi begitu caramu mendapatkan investasi? Dengan menjadi gigolo putri direksinya?"

Tidak ada teriakan, tidak ada air mata.

Stella berbicara dengan ketenangan yang membekukan, terlalu tenang untuk disebut marah. Kata-katanya yang lirih menelanjangi semua alasan Marc, membuatnya terdengar konyol dan tidak berarti.

Perasaan hampa yang menyesakkan kembali menghantam Marc. Merasa frustrasi, dia melonggarkan dasinya, seolah-olah berusaha mencari udara segar. "Stella, ayolah. Ini demi pekerjaan. Bisakah kamu tidak membesar-besarkan masalah?"

Stella nyaris tertawa.

Dia bahkan belum menaikkan nada bicaranya.

Apa Marc ingin dia melemparkan foto-foto yang memalukan itu ke wajahnya agar pria ini mengerti bahwa ini masalah serius?

Cinta yang selama ini dia pertahankan kini terasa seperti bilah pisau panas yang membakar dadanya.

"Marc, kalau kamu memang sudah bosan denganku, katakan saja terus terang. Aku tidak akan menahanmu, aku akan memberikan perceraian yang kamu inginkan."

Mengapa March harus memperlakukannya seperti orang bodoh dan menipunya?

Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Stella, Marc mencengkeram bahunya dengan kencang.

Sorot matanya sedingin es saat dia berkata, "Jangan pernah katakan itu. Kita sudah berjanji, apa pun yang terjadi, kita akan menyelesaikannya secara baik-baik. Cerai bukanlah pilihan. Jangan pernah menyebut kata itu lagi."

Menyelesaikannya secara baik-baik?

Marc sudah tidur dengan wanita lain. Apa lagi yang bisa diperbaiki sekarang?

Dia merasa seolah-olah terperangkap dalam jaring berduri, setiap tarikan napas dan gerakan hanya akan semakin melukainya.

Tiba-tiba, ponsel Marc berdering. Begitu melirik ponselnya, dia mengerutkan kening dan segera menolak panggilan telepon itu.

Namun, Stella sempat melihat nama yang terpampang di layar, yaitu 'Kucing Liar Manis'.

Sebelum Marc sempat menyimpan ponselnya, ponsel itu menyala lagi. Kali ini, notifikasi WhatsApp bermunculan dari kontak bernama 'Bayi Pemarah'.

"Sayang, aku sakit ...."

"Aku membutuhkanmu. Cepat ke sini."

"Aku berdarah ... apa aku akan mati?"

Tiga pesan itu muncul satu per satu di layar, semuanya dalam bahasa Achure.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Disisa Serpihan Hati
8.4
Niat baik Dania menyelamatkan Ilham dari kejaran orang asing berujung salah paham warga yang memaksa mereka menikah siri. Di tengah perjalanan menjelajahi berbagai daerah, benih cinta perlahan tumbuh di antara keduanya. Namun, nyawa Ilham terancam oleh konspirasi jahat ibu dan saudara tirinya yang mengincar warisan bisnis hotel sang ayah. Kini, Dania harus terus mendampingi sang pewaris dalam pelarian penuh bahaya untuk melindungi nyawa dan cinta mereka.
Sampul Novel Dominasi Yang Disengaja
8.1
Setelah tiga tahun menikah, Dahlia Nicholson memutuskan menceraikan Dustin Rhys. Merasa berada di puncak kesuksesan, Dahlia menganggap suaminya itu hanya beban yang tidak berguna. Namun, di balik keangkuhannya, Dahlia tidak menyadari sebuah kenyataan besar. Seluruh pencapaian luar biasa dan kekayaan melimpah yang ia nikmati saat ini sebenarnya merupakan hasil bantuan rahasia dari Dustin, sosok suami yang selama ini selalu ia remehkan tanpa tahu diri.
Sampul Novel Istri Kakakku Selalu Menangis
8.2
Pernikahan Kak Heru dan Mbak Rena menyimpan misteri besar yang membuatku curiga. Mengapa Mbak Rena selalu menangis tanpa sebab jelas? Berbagai kejanggalan pun mulai terkuak, seperti tabrakan misterius di depan toko beras hingga temuan kantong plastik penuh berisi test pack. Didorong rasa penasaran, aku memutuskan untuk menyelidiki semua petunjuk aneh ini. Aku harus mengungkap kebenaran gelap yang sesungguhnya disembunyikan rapat-rapat di dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel Menutup Pintu Masa Lalu
9.4
Setelah dikhianati oleh kekasihnya yang memilih melamar cinta pertama di hari ulang tahunnya, sang protagonis memutuskan untuk mengakhiri hubungan enam tahun mereka. Kecewa dan sadar akan kenyataan pahit, ia memilih pergi dan menerima perjodohan yang telah diatur oleh keluarganya. Kisah dalam novel modern ini berfokus pada keputusan berani untuk menutup lembaran lama dan memulai babak baru demi menemukan kebahagiaan sejati yang layak.
Sampul Novel SAMANTHA
8.7
Menjalin kasih sejak kelas sepuluh, hubungan Samuel dan Anantha mulai retak di tahun kedua. Kesibukan Samuel memimpin OSIS membuat jarak di antara mereka, sementara Anantha sibuk menyembunyikan kariernya sebagai novelis daring. Keadaan kian memburuk dengan kemunculan Viola, sahabat kecil Samuel yang kini menyita seluruh fokusnya. Merasa dikesampingkan dan dikhianati oleh prioritas baru sang kekasih, Anantha kini dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atau menyudahi asmara mereka.
Sampul Novel Saving My Two Sons Mentally
9.1
Seorang ibu mengambil langkah berani untuk bercerai demi melindungi masa depan kedua putranya. Kini, ia harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya realitas kehidupan. Tanpa kenal lelah, dirinya bekerja keras dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan harian serta biaya sekolah buah hatinya. Kisah menyentuh ini menyoroti perjuangan dan pengorbanan luar biasa seorang wanita yang rela melakukan apa saja demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak tercintanya.