APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahi Mayat Palsu CEO

Menikahi Mayat Palsu CEO

Demi melunasi utang budi dan mendapatkan imbalan dua miliar rupiah untuk keluarganya, Angel terpaksa menyetujui pernikahan tidak lazim dengan jasad CEO muda yang tampan. Namun, situasi mengerikan itu berubah menjadi kejutan besar saat ia mendapati bahwa pria di dalam peti mati tersebut ternyata masih hidup. Bagaimana kelanjutan takdir Angel setelah rahasia besar ini terungkap? Simak lika-liku kisah romansa penuh misteri dalam Menikahi Mayat Palsu CEO.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kulirik sekilas jenazah di sampingku dalam kegelapan, sinar rembulan samar-samar masuk dari balik tirai.

Pria kaku itu sudah diangkat keluar dari peti mati dan mereka membaringkannya di ranjang.

Masih dengan kain putih menutup wajahnya. Ingin rasanya membuka penutup kain putih itu, setidaknya aku bisa melihat wajah suamiku sekali saja. Tapi sungguh aku tidak berani.

Dengan takut aku duduk satu ranjang dengan mayat. Kecewa, sungguh kecewa dengan kedua orangtuaku yang meninggalkanku di sini.

"Gila, mereka semua kehilangan otaknya," bathinku. "Apa yang mereka harapkan dengan menidurkan mayat di sini?"

"J-jangan katakan, mereka benar-benar ingin aku hamil dari mayat ini?"

Aku membulatkan mataku dan memandang pria yang terbujur kaku itu dengan bulu kuduk berdiri.

Degh! Lampu hidup kembali. Aku bernafas dengan lega. Ac pendingin di kamar yang luas itu malah membuatku berkeringat jagung.

Aku pasrah. Harus tahan duduk sampai acara di luar selesai. Baru aku bisa pulang ke rumah.

"Ya, harapanku selesai acara  aku akan dibebaskan."

Tik tik tik tik ... Jam terus berdetik. Tak berani aku beranjak dari ranjang walau sudah sesak pipis dari tadi.

Perutku terasa sungguh lapar dan kepalaku sakit. Aku tidak cukup tidur semalaman.

"Mereka sungguh kejam sekali karena tidak memberikan makanan yang layak kepada pengantin!" Aku mengumpat dengan kesal.

"Suami mati ini-kan memang tidak perlu makan lagi, tapi aku masih hidup dan aku butuh makan!"

Kedua mataku mulai marah. Tidak menangis lagi karena bukan sedih tapi lapar!

Degh … tiba–tiba mati lampu lagi.

Badanku mematung karena ketakutan. "Ohh Sh*t, apalagi ini?" Sekujur tubuhku mematung. Merinding dan bulu kudukku mulai berdiri. Leherku tiba - tiba dingin seperti ada yang meniup dengan halus.

"Paa ... paa. Papa ... Tolong aku." teriakku kecil dengan tubuh yang sudah kaku total.

Tiba - tiba lampu hidup. Bergegas aku menoleh ke samping. Mayat itu masih disana. Dengan kain putih yang masih tertutup di wajahnya.

"Ups, sedikit  lega rasanya," ucapku sambil mengelus dadaku sendiri.

Samar-samar aku melihat bayangan yang berjalan bolak-balik di bawah celah daun pintu.

"Sepertinya ada yang berjaga di luar. Apakah lampu dimatikan dari luar?"

"Kurang ajar! Siapapun yang bermain-main disini!" gumamku dengan marah.

"Mama, Papa!" teriakku dengan marah.

"Aku sudah mau pulang!" Kugedor pintu kamar dengan gelisah.

Kesabaranku sudah melewati batas. Aku ingin pulang sekarang. Pikirku dengan mantap.

"Aku lapar!" teriakku masih dengan kemarahan yang tinggi sambil mengedor pintu.

"Barbar". Terdengar suara kecil dari arah belakangku yang membuatku membujur kaku kembali. Bulu kudukku berdiri lagi.

"Siapa?" Aku memutar tubuhku dan menoleh ke belakang. Masih tidak ada kejadian apapun. Gelap sekali dan aku semakin panik.

Apakah aku berhalusinasi? Sepertinya aku mendengar suara seorang pria memanggilku "Barbar."

Lampu sial itu hidup kembali, aku melirik ke arah ranjang. Tidak ada yang terjadi.

Tak lama kemudian terdengar kunci pintu diputar dari luar. Bundaku menampakkan wajahnya

"Mama!" Aku berseru dan menangis dalam pelukannya.

Beberapa pelayan masuk dan membawa mampan berisi makanan.

Aku melirik mereka dengan malas, mereka juga sedikit gemetaran karena ada mayat di ranjang.

"Nak, kamu belum bisa keluar. Sebentar lagi ya," ucap mama kemudian mendorongku masuk dan menguncinya kembali dari luar.

Aku ingin berontak tapi bundaku sudah menutup pintu dengan cepat.

"Mama!" Aku kembali mengedor pintu. Namun sepertinya usaha ini hanya akan membuatku kelelahan.

Dengan kecewa, aku duduk di ranjang. Menghentakkan pantatku dengan kasar sehingga si mayat ikut terguncang tanpa kusadari.

Kain putih yang menutup wajahnya terbang ke samping.

Aku menoleh dan terkejut. Dengan singgap aku berdiri dan mematung di tempatku. Kututup mulutku dengan kedua tanganku.

Pria itu sangat pucat. Tapi, "Ia sangat ganteng!"

Aku memberanikan diri mendekati mayat itu. Kuperhatikan dengan jelas.

Pria itu seperti seorang bintang film pria yang biasa kulihat.

"Eh, bukan bintang film." Aku mengernyitkan alisku berusaha mengingat.

"D-dia, bukankah dia adalah seorang milyuner muda. Betul! Aku pernah melihat wajahnya. Ia bukan artis tapi wajahnya ada di majalah F*rbes, majalah orang kaya!" seruku karena berhasil mengingat dengan baik.

"Astaga, ganteng dan masih muda, sudah meninggal. Kasihan," ucapku tanpa sadar.

"Kasihan sekali kamu. Seandainya kamu masih hidup, pasti tidak akan ada wanita yang menolak untuk menjadi pasanganmu!" gumamku dengan sedih.

Bermonolog, mengapa hidup terasa begitu kejam bagi sebagian manusia.

Pria ini sudah memiliki segalanya, seorang pewaris dari keluarga yang memiliki kekayaan tanpa nominal. Tapi sudah harus direnggut nyawanya dan berakhir dengan tragis, harus menikah dalam kondisi sebagai mayat.

"Kamu lebih kasihan daripadaku," gumamku masih memperhatikan sosok kekar milik pria yang terbaring kaku itu.

Aku termenung cukup lama sebelum terdengar suara memalukan dari perutku.

"Ahh, aku lapar. Kamu tidak butuh makan tapi, aku butuh!"

Aku bergerak menuju ke meja kecil dimana berbagai makanan lezat disajikan.

"Setidaknya mereka memberiku makanan," gumamku.

Kubuka handphoneku sambil menikmati makanan itu. Kedua mataku melotot saat melihat layar berita di sebuah media sosial.

Dengan sengaja kunaikkan volumenya sehingga bisa didengar mayat itu juga. Karena aku kesal harus menanggung penderitaan sendirian.

"Dengar hei! Kalian dianggap aneh. Aku dianggap bodoh dan materialistis. Oh, hidup kacau ini sungguh nikmat!" ucapku dengan nyaring sambil menertawakan diri.

Terdengar suara pembawa acara televisi dalam berita terkini.

"Sebuah pernikahan yang aneh dilakukan di perumahan elit Tandean hari ini. Sang pengantin pria dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan satu hari sebelumnya."

"Sebelumnya pria itu sudah ditunangkan dengan seorang wanita berinisial A. Wanita tunangannya itu menuntut sebuah pernikahan karena ia sudah lebih dulu hamil satu bulan."

"Benih dalam kandungan wanita berinisial A itu akan mewarisi semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Sanjaya sebagai pewaris tunggal."

"Pernikahan aneh pun dilakukan hanya demi mendapatkan kejayaan, warisan dan kekuasaan. Demikian sekilas informasi hari ini."

Aku menertawakan diri sendiri sambil menyuap makanan ke dalam mulutku, "Hancurlah, aku tidak mungkin bisa berada di kampus lagi. Mereka mengedar fotoku, ha ha ha."

"Suka-suka mereka sajalah, mau menganggap apa. Aku yang dibilang menuntut sebuah pernikahan padahal keluarga kalian yang memaksaku dengan melemparkan uang dua milyar itu!"

Tak sengaja aku melirik pria yang sudah kaku dan pucat itu. Entah mengapa aku melihat ia mengernyitkan alisnya. Aku menggelengkan kepalaku.

"Apakah Aku sudah mulai berhalusinasi?" Kukulum sendokku dan memandang tanpa henti. Aku tidak merasa setakut tadi. Apakah karena sangat kelaparan sehingga takut? Tak hentinya aku bermonolog.

"Eh, bagaimana mereka bisa mengambil foto untuk dipublikasikan?" Aku bertanya dengan bingung karena sepanjang acara berlangsung, aku sama sekali tidak melihat keberadaan juru foto pengantin.

Tidak ada wartawan ataupun dari media sosial yang meliput. Dari keluarga kerabat juga, mereka terkesan kaku dan hanya beberapa dari mereka yang menghapus airmatanya. Aku menebak dua wanita itu adalah ibunda dan nenek dari pria ini.

Aku kembali menikmati makananku dan segera menghabiskannya. Aku butuh tenaga," ucapku lantang dan berusaha menyemangati diri.

"Hufft." Terdengar suara tawa tertahan.

Aku kembali mendelikkan kedua mataku, menatap ke arah pria itu.

"Kok sepertinya aku mendengar suara tawa yang tertahan ya?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Segitiga Yang Rumit
9.6
Alana Putri Pratama menjalani pernikahan dingin bersama Raihan Wijaya. Bagi Raihan, Alana hanyalah alat untuk memicu kecemburuan mantan kekasihnya. Saat sang cinta pertama kembali hadir, Alana diabaikan sepenuhnya dalam kehampaan. Di masa sulit ini, muncullah Daniel Sanjaya, seorang CEO tampan yang mulai mendekati Alana. Akankah Raihan tersadar sebelum istrinya berpaling, ataukah obsesi masa lalu akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Ilusi Cinta: Mengungkap Topeng Kekasihku yang Licik
8.9
Karlee dikhianati oleh sang tunangan. Di tengah rasa hancur, ia bertemu Brian Olson yang memikat. Pertemuan semalam membawa mereka pada pernikahan kontrak yang terburu-buru. Brian terlihat sangat tulus, tetapi itu semua hanyalah tipu muslihat yang direncanakan. Begitu tahu dirinya mengandung, Karlee yang murka menuntut perceraian. Brian kini didera penyesalan mendalam dan memohon kesempatan kedua agar mereka tidak terpisahkan selamanya.
Sampul Novel Istri Palsu Miliarder
8.7
Setelah berselingkuh, Vivienne mencoba menghabisi Soren Blackwood. Namun, anak buah sang miliarder justru salah menculik Kira, kembaran identik Vivienne. Kira terpaksa berpura-pura menjadi istri dari CEO kejam yang kini lumpuh tersebut. Di tengah dendam membara, Soren perlahan jatuh cinta pada Kira yang bersikap sangat berbeda. Bisakah rahasia ini terus tersimpan rapat? Bahaya mengintai saat Vivienne yang asli bersiap kembali merebut posisinya.
Sampul Novel Istri Tomboy Sang CEO
8.8
Zella Polly, gadis tomboy yang tidak tahan dengan diskriminasi di rumahnya, harus menikah demi mendapatkan izin keluar dari sang ayah. Pada saat yang sama, CEO muda bernama Hugo Chavez terpaksa mencari istri untuk mengatasi rasa sakit hati setelah dikhianati kekasihnya. Demi kepentingan masing-masing, keduanya sepakat melakukan pernikahan kontrak. Akankah mereka berhasil menghadapi berbagai rintangan dan dinamika baru dalam kehidupan rumah tangga ini?
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Ayahnya, Tuan Anggoro, adalah sosok yang sangat baik, namun kesibukan bisnis membuatnya jarang berada di rumah. Praktis, Naldo hanya dirawat oleh asisten rumah tangganya sejak bayi. Ketika sang ayah memintanya memilih ibu baru, Naldo justru teringat sosok wanita misterius dari mimpinya. Begitu takdir mempertemukan mereka di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski terhalang perbedaan usia.
Sampul Novel Mati Satu Tumbuh Seribu
8.6
Sehari sebelum pernikahan megahnya, Kiara mendapati aula acaranya dirusak oleh seorang wanita asing yang menuduhnya sebagai pelakor dan perebut suami orang. Fitnah kejam tersebut membuat kerumunan massa dan pihak hotel menghakimi Kiara hingga ia mengalami keguguran. Namun, fakta sebenarnya justru sebaliknya. Galang, sang tunangan, ternyata menggunakan kekayaan Kiara untuk berselingkuh di belakangnya. Menyadari pengkhianatan ini, sang miliarder wanita langsung membatalkan pernikahan dan bersiap menghancurkan hidup Galang beserta selingkuhannya tanpa ampun.