APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahi Ayah Sahabatku

Menikahi Ayah Sahabatku

Demi melunasi utang sang ayah, Almira Devara hampir dinikahkan dengan juragan desa. Tersentuh oleh nasib malang tersebut, Selina membujuk ayahnya sendiri, seorang duda kaya raya bernama Diran Mahendra, untuk menikahi sahabatnya itu. Diran akhirnya setuju menolong Almira meski sempat ragu. Kini, Almira harus mengarungi biduk rumah tangga bersama pria yang jauh lebih dewasa, sementara Diran masih menutup rapat hatinya akibat trauma masa lalu. Akankah pernikahan ini menumbuhkan benih cinta?
Bab
Bagikan

Bab 2

Almira duduk di ruang tamu rumah mewah keluarga Mahendra, jari-jarinya saling menggenggam erat di pangkuannya. Wajahnya pucat, pikirannya penuh dengan kekhawatiran yang tak kunjung reda. Malam itu, setelah Selina mengajukan rencana gilanya, ia tidak bisa tidur. Bagaimana mungkin ia menikah dengan ayah sahabatnya sendiri?

Diran Mahendra, pria itu, adalah sosok yang dihormati di kota ini. Ia kaya, berwibawa, dan tidak pernah terlihat menggandeng wanita lain sejak kematian istrinya sepuluh tahun lalu. Meski begitu, ia tetap pria yang jauh lebih tua darinya.

Almira menoleh saat suara langkah kaki terdengar. Sosok tinggi tegap muncul di ambang pintu, mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung hingga siku. Tatapan mata tajamnya segera tertuju padanya, dan untuk pertama kalinya, Almira merasa sangat kecil di hadapan seorang pria.

Diran Mahendra.

"Selina bilang kau ingin bertemu denganku." Suaranya dalam dan dingin, tanpa emosi sedikit pun.

Almira menelan ludah, mengumpulkan keberaniannya. Ia berdiri, menundukkan kepalanya sedikit. "Ya, Pak... Saya ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting."

Diran berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di depannya, menyilangkan kaki dengan sikap tenang namun penuh intimidasi. "Duduklah."

Dengan gugup, Almira menurut. Jantungnya berdetak kencang, begitu keras hingga ia yakin Diran bisa mendengarnya.

"Selina sudah menjelaskan semuanya padaku," ujar Diran akhirnya. Tatapannya tajam, menusuk langsung ke dalam jiwa Almira. "Dan aku ingin mendengarnya langsung darimu. Apakah kau benar-benar setuju dengan pernikahan ini?"

Almira terdiam. Apakah ia benar-benar setuju? Tidak. Ia hanya tidak punya pilihan lain. Jika ia menolak, maka dalam waktu dekat ia akan menjadi istri ketiga seorang pria tua yang bahkan tak ia kenal baik.

"Aku..." suaranya hampir tak terdengar. Ia mengepalkan tangannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Aku tidak ingin menikah dengan Pak Darmawan. Aku tidak ingin hidup seperti itu. Aku... aku hanya ingin bebas."

Diran mengangkat alis, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Dan kau berpikir menikah denganku adalah solusi terbaik?"

Almira mengangkat wajahnya, menatap mata pria itu dengan penuh harap. "Anda orang yang baik, Pak Diran. Anda berbeda. Jika saya harus memilih di antara dua hal yang buruk, saya lebih memilih Anda."

Hening.

Diran menatapnya lama, ekspresinya sulit ditebak. Hingga akhirnya ia menarik napas panjang dan berdiri. "Baiklah."

Almira menatapnya dengan mata melebar. "Anda... setuju?"

Diran mengangguk. "Aku akan menikahimu. Tapi ada syarat."

Almira mengangguk cepat. "Syarat apa pun, saya akan menerimanya!"

"Jangan berharap pernikahan ini akan seperti pernikahan normal." Tatapannya dingin. "Aku tidak membutuhkan istri. Aku hanya melakukan ini untuk membantumu dan karena Selina memintaku. Jangan berharap lebih dari itu."

Dada Almira sesak mendengar kata-kata itu. Ia tahu sejak awal bahwa pernikahan ini tidak akan didasarkan pada cinta. Tapi mendengar pria itu mengatakannya dengan begitu tegas... rasanya tetap menyakitkan.

"Saya mengerti," jawabnya dengan suara lirih.

Diran menatapnya sejenak, lalu berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Meninggalkan Almira dengan perasaan yang bercampur aduk-antara lega, ketakutan, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa ia pahami.

Pernikahannya sudah ditentukan.

Tapi... bisakah ia benar-benar menjalani kehidupan seperti ini?

Dua minggu kemudian, pernikahan itu terjadi.

Tanpa pesta mewah. Tanpa tamu undangan dalam jumlah besar. Hanya akad sederhana di rumah keluarga Mahendra, dihadiri keluarga terdekat dan beberapa kolega bisnis Diran.

Almira berdiri di samping Diran dengan gaun putih sederhana yang dipinjamkan Selina. Tangannya gemetar saat menggenggam buket bunga di depannya.

Sementara itu, Diran tetap tenang seperti biasa. Pria itu tampak begitu berwibawa dalam setelan jas hitamnya, wajahnya tanpa ekspresi. Ia tidak menunjukkan sedikit pun emosi saat prosesi berlangsung. Bahkan ketika ijab kabul selesai dan mereka resmi menjadi suami istri, ekspresinya tetap dingin.

Saat acara selesai, tamu mulai berpamitan. Selina menatap Almira dengan senyum lembut, menggenggam tangannya.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.

Almira mengangguk, meskipun hatinya terasa begitu hampa. "Aku baik-baik saja..."

Tapi benarkah begitu?

Diran tidak mengatakan sepatah kata pun padanya sejak mereka dinyatakan sah sebagai suami istri. Ia hanya mengucapkan beberapa kata sopan kepada tamu undangan, lalu menghilang ke dalam ruang kerjanya.

Dan kini, Almira berdiri sendirian di ruang tamu, merasa seperti orang asing di rumah yang kini seharusnya menjadi tempat tinggalnya.

Sebuah pernikahan yang seharusnya menjadi awal baru bagi seseorang, tapi bagi Almira... ini lebih terasa seperti akhir dari kebebasannya.

Malam itu, Almira duduk di kamar barunya-kamar tamu di lantai dua yang diberikan khusus untuknya. Ia tidak tidur di kamar yang sama dengan Diran, dan ia bersyukur untuk itu.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Jantungnya hampir berhenti saat melihat Diran berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak.

"Kita perlu bicara," ujar pria itu dingin.

Almira menelan ludah. "Tentang apa?"

Diran melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Tentang aturan dalam pernikahan ini."

Perasaan cemas langsung melanda Almira. Ia mengangkat wajahnya, menatap pria itu dengan hati-hati. "Aturan?"

Diran berjalan mendekat, berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. "Kita memang menikah, tapi aku tidak ingin ada yang berubah dalam kehidupanku. Aku tetap pria yang sama, dengan kehidupan yang sama. Kau tidak akan mencampuri urusanku, dan aku tidak akan mencampuri urusanmu."

Almira merasakan hatinya mencelos. Ia sudah tahu pernikahan ini tidak akan menjadi pernikahan yang ideal, tapi mendengar pria itu mengatakannya dengan begitu dingin... tetap menyakitkan.

"Aku mengerti," jawabnya lirih.

Diran mengangguk. "Dan satu hal lagi."

Almira mengangkat kepalanya, menunggu pria itu melanjutkan.

"Jangan pernah jatuh cinta padaku."

Kata-kata itu menusuk hatinya lebih dalam daripada yang ia duga.

Dan saat Diran berbalik meninggalkannya, Almira hanya bisa duduk diam, menatap punggung pria itu menghilang di balik pintu.

Takdir macam apa yang baru saja ia jalani?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Cinta Terlarang
8.0
Arsitek sukses bernama Maya merasakan kehampaan hidup walau telah bertunangan dengan Daniel. Pertemuannya dengan Ethan, seorang pengusaha penuh karisma, seketika menyalakan gairah baru yang berujung pada perselingkuhan berisiko. Saat kecurigaan Daniel kian tajam, Maya didera rasa bersalah yang mendalam. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dalam zona nyaman masa lalunya atau mempertaruhkan segalanya demi cinta terlarang yang mengancam kehancuran dunianya.
Sampul Novel Dendam Anak Tiri
9.1
Kemiskinan dan hinaan masa kecil mengubah Alena menjadi sosok ambisius yang haus balas dendam. Ia bertekad menghancurkan keluarga ayah kandungnya yang kaya raya karena telah menelantarkannya. Di sisi lain, Alyssa, adik tirinya yang manja, tidak menyadari bahwa kehidupan mewahnya akan segera terusik. Pertemuan mereka memicu konflik besar saat rahasia persaudaraan terungkap. Akankah misi Alena berhasil atau justru berakhir duka bagi keduanya?
Sampul Novel Derita Cinta Sang Pelakor
8.7
Via tega meninggalkan Jason demi mengejar kemewahan bersama Dimas, seorang miliarder yang telah beristri. Meski Dimas berdalih pernikahannya tanpa cinta, ia tetap panik saat Via menuntut kejelasan hubungan. Rumitnya jalinan asmara terlarang ini kian memuncak ketika sebuah rahasia besar terbongkar: Dimas ternyata kakak ipar Via sendiri. Kenyataan pahit ini memicu pergolakan batin hebat yang siap menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel Harga Diriku 10 Juta Per Malam
9.4
Demi melunasi utang miliaran dan membiayai kuliahnya, Arabella Alexandro, seorang mahasiswi yatim piatu, terpaksa bekerja ganda sebagai wanita penghibur di diskotek. Tanpa dukungan keluarga, ia harus berjuang bertahan hidup sendirian. Kehidupannya yang keras menemui babak baru saat ia bertemu dengan Arkan Stevanno Orlando, seorang CEO kaya raya yang menyewa jasanya. Akankah takdir ini menjadi jalan penyelamatnya atau justru menyeret Arabella ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih rumit?
Sampul Novel Karma Untuk Istri Durhaka
9.5
Demi mengamankan proyek besar, Melissa melakukan perjalanan bisnis selama setengah tahun. Namun saat pulang, ia justru menggandeng mesra klien utama mereka dalam kondisi hamil tiga bulan. Di hadapan sang suami, Edwin, klien tersebut menyombongkan pengorbanan Melissa sambil menyodorkan kontrak kerja sama. Melissa yang bangga dengan kehamilannya menuntut perceraian sebagai syarat tanda tangan. Tanpa ragu, Edwin merobek kontrak kotor itu dan menyetujui perceraian demi harga dirinya.
Sampul Novel KUBALAS KAU DENGAN ELEGAN
8.2
Kehidupan tenang Sahira seketika hancur setelah memergoki suaminya berselingkuh dengan sahabat dekatnya sendiri. Di tengah kepedihan mendalam akibat pengkhianatan ganda tersebut, secercah harapan tiba-tiba datang dari masa lalunya. Kehadiran kembali seorang miliarder menawarkan perlindungan sekaligus mengajak Sahira menyembuhkan luka hati bersama. Akankah ini menjadi awal dari babak baru yang bahagia bagi Sahira setelah melewati pengkhianatan yang begitu menyakitkan?