APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikah Dengan CEO Posesif

Menikah Dengan CEO Posesif

Mimpi indah Sheila bersanding dengan Bryan hancur lebur. Kini, ia terpaksa menikahi Bara Alexander Rodriguez, pria berkuasa yang menjadikannya sebagai jaminan atas utang sang mantan kekasih. Sheila pun terjebak dalam kehidupan pernikahan yang rumit, menghadapi obsesi Bara yang sangat posesif dan mengklaim dirinya sepenuhnya. Di tengah badai kebencian dan kekecewaan, mampukah Sheila bertahan, atau justru menemukan kebahagiaan tak terduga?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sheila melirik ke arah jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Ia menatap Bryan.

"Yan, sepertinya aku harus pulang. Maaf, tidak bisa menunggu ibumu sadar. Aku ingat, masih ada pesanan yang belum selesai," ungkap Sheila.

"Iya, She," jawab Bryan.

"Semoga ibumu cepat pulih," kata Sheila.

"Amin. Hati-hati, She. Aku minta maaf tidak bisa mengantarmu pulang," balas Bryan. Sheila tersenyum sembari mengusap pundak Bryan.

"Aku tau kondisimu, Bryan. Secepatnya aku akan kembali nanti. Kalau begitu aku pamit, ya," pamit Sheila.

"Iya."

Sheila berada di pintu keluar rumah sakit. Namun, hujan turun dengan lebat. Sheila mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah agar pandangannya bisa melihat jelas ke depan. Terpaksa, Sheila berlari menerobos guyuran hujan deras dari pelataran demi menuju halte.

Napas Sheila memburu, ia mengusap wajahnya.

"Hey, kita bertemu lagi." Suara berat dan rendah itu membuat Sheila menoleh.

Bara menatap Sheila dengan pendar hangat. Bara memang sudah menduga, Sheila pasti akan kemari karena ia membuntuti Sheila dan bergerak cepat mendahului gadis itu.

Sheila tersenyum canggung, "Senang bertemu denganmu," balas Sheila memandang Bara sebentar lalu mengusap lengannya.

"Sepertinya, hujan yang mempertemukan kita," timpal Bara.

Kedua sudut bibir Bara terangkat, senyumannya yang jarang terlihat. Namun, Bara ingin Sheila melihat sisi manisnya. Menginginkan Sheila mengaguminya.

Sheila terpana, ia tidak menyangkal, Bara begitu karismatik di matanya.

Jatuhlah dalam pesonaku, Shei, batin Bara.

Sheila ingat! Kamu sudah punya Bryan! peringat hati kecil Sheila.

"Astaga!" seru Sheila menggeleng, sudah seharusnya ia menjaga pandangan.

"Kau kenapa, Shei?" Kening Bara mengerut karena Sheila berucap dengan nada terkejut.

"Hm, a-aku melamun tadi," jawab Sheila menunduk, melihat ke ujung sepatunya.

"Oh."

"Shei, saya ingin kita berkenalan secara resmi," pinta Bara seraya mengulurkan tangan.

Sheila tersenyum salah tingkah. Gaya bicara Bara terdengar unik.

Semakin sering melihatmu tersenyum, semakin dalam rasa ini padamu.

Entah sudah berapa kali Bara terus memuji Sheila. Seolah gadis itu adalah hal paling indah yang pernah ia temui di sepanjang hidupnya.

Sheila menjabat tangan Bara, kulit tangan Sheila terasa lembut dan begitu pas di genggaman Bara. Perasaan Bara bergejolak, denyut nadinya berpacu cepat. Bara jadi berpikir, apa Sheila merasakan hal sama?

"Sheila Annatasya," ucap Sheila dengan degup jantung menggila. Namun, Sheila pastikan, ini hanyalah debaran biasa karena Sheila gugup di dekat Bara. Ya, Sheila tak menyangkal pesona Bara sekuat itu.

"Bara," balas Bara singkat, kemudian tautan tangan mereka perlahan terlepas.

Sheila memeluk lengannya, angin berhembus dingin menerpa halus kulitnya.

Bara melepas jas hitamnya lalu menyampirkannya di belakang punggung Sheila.

Sheila menatap Bara tidak enak.

"Nanti jaketmu basah." Sheila hendak melepas, tapi tangan Bara menahannya.

"Jangan pedulikan itu, akulebih khawatir jika kau jatuh sakit karena kedinginan," ucap Bara berhasil membuat hati Sheila menghangat.

"Tapi ... bagaimana jika pacarmu melihat kita?" tanya Sheila panik. Ia tidak ingin dicap sebagai perebut kekasih orang.

Bara tergelak mendengarnya. Apa Sheila bilang? Pacar? Yang benar saja, asal Sheila tahu dialah perempuan yang Bara inginkan.

Dahi Sheila mengernyit, apa ada yang lucu dari pertanyaannya?

"Sheila kau ini ada-ada saja, aku belum memiliki pacar," aku Bara membuat Sheila melongo serta mulut yang sedikit menganga.

Sheila bertanya ragu dalam benaknya. Apa iya, pria sebaik dan setampan Bara belum memiliki pendamping?

"Aku sibuk mengurus bisnis, sampai aku masih belum memikirkan untuk memiliki pendamping hidup," jelas Bara seakan mampu membaca pertanyaan yang muncul di benak Sheila.

Sheila mengangguk paham. Di zaman sekarang memiliki uang banyak dan jabatan tinggi adalah keinginan semua orang.

Atensi keduanya teralih pada sebuah mobil hitam mewah yang berhenti tepat di depan halte.

"Sheila, jika kau tidak keberatan, ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu pulang," ajak Bara.

"Gak usah repot-repot. Aku naik taksi aja," tolak Sheila pelan.

"Shei," panggil Bara dengan tatapan yang penuh harap.

"Baiklah, aku ikut," jawab Sheila.

Bara menggulung lengan kemejanya sampai siku menampakkan otot-otot yang tercetak jelas di sana. Sheila tersipu merasakan pipinya memanas.

Bara memegang payung putih pemberian sopirnya. Bara memayungi Sheila bahkan tangannya memeluk lengan Sheila dari belakang. Bara membawa tubuh Sheila merapat padanya. Sheila sempat terkejut, ia mendongak melihat payung itu lebih banyak ke arahnya.

Bara melindunginya, kenapa Bara peduli padanya?

Degup jantung Sheila berdebar kencang. Tubuh Bara begitu kuat dan tinggi. Lengan kokoh Bara melingkupi erat tubuhnya.

"Perhatikan jalanmu, Shei! Jika tidak, kau bisa tersandung," peringat Bara padahal keduanya hanya berjalan pelan dan lurus.

Sheila mengalihkan pandangan kikuk, ia tertangkap basah karena terlalu lama mengamati Bara.

"Tapi, tak apa, jika kau jatuh. Saya yang akan menangkapnya," lirih Bara yang tak didengar Sheila karena suara gemercik hujan menyamarkannya.

**

Sheila telah sampai di rumahnya bahkan Bara sudah kembali masuk ke mobilnya. Namun, detik itu Sheila berbalik.

"Bara, tunggu sebentar," sergah Sheila membuat Bara tidak jadi menaikkan kaca jendelanya.

Sheila berlari masuk ke rumah membuat Bara menunggu kedatangan Sheila.

"Aku mau kasih ini," ucap Sheila.

Bara tersenyum kecut seraya meraihnya. "Undangan, ya," gumam Bara biasa, padahal hatinya panas, terbakar cemburu.

"Aku tunggu kedatanganmu," ucap Sheila dengan wajah berseri.

Aku akan datang, tapi bukan sebagai tamu, melainkan calon suamimu! jawab Bara dalam hati.

"Pasti, aku akan datang," pungkas Bara.

"Hati-hati." Sheila melambaikan tangan ketika mobil Bara mulai melaju.

Bara meremat kuat undangan berwarna pink berpadu warna putih itu. Sangat muak. Sayup-sayup, Bara mendengar suara dari heandsetnya.

"Sheila, kau sudah memiliki Bryan, jangan sampai hatimu berpaling."

"Iya, Ma. Itu tidak akan terjadi, Bryan adalah Lelaki yang baik. Dia satu-satunya lelaki yang aku cintai."

Bara mendengarnya karena ia memasukan penyadap suara ke dalam kantong kecil tas Sheila tanpa sepengetahuan Sheila.

Sontak emosi Bara langsung melesak naik. "Tidak ada Pria yang boleh kau puji selain aku, Sheila! Secepatnya, aku akan mengambilmu dari Bryan!" tekad Bara berapi-api.

**

Waktu terus bergulir, hari yang begitu dinanti Sheila dan Bryan telah tiba. Momen mendebarkan sekaligus bermakna bagi keduanya. Sheila duduk menghadap cermin memandang pantulan dirinya yang memakai kebaya putih dengan model kutu baru serta rambut yang disanggul, memancarkan aura kecantikannya.

Laras memegang pundak Sheila dengan wajah berseri-seri. "Shei, Mama sampai pangling loh," puji Laras, ibu Sheila.

"Ah, Mama," ucap Sheila tersipu malu. "Padahal Mama awet muda, masih cantikkan Mama daripada Sheila," goda Sheila diiringi kekehan geli.

"Kau ini bisa saja," balas Laras mencubit pipi Sheila gemas.

Pintu kamar Sheila kembali terbuka, Sheila dan Laras kompak menoleh. Perempuan dengan tinggi semampai dan senyum merekah berjalan ke arah mereka.

"Ya, ampun Shei. Kau cantik sekali!" puji Kayla histeris.

"Kayla bisa aja," ucap Sheila dengan paras yang merona.

Rasanya masih seperti mimpi bagi Laras, putri kecilnya telah tumbuh dewasa. Dan, kini akan memulai lembaran baru bersama Bryan. Laras menitikan air mata, terharu. Ia menyekanya cepat, tidak ingin Sheila mengetahuinya.

Semoga kau bahagia sayang, putri tercinta Mama dan Papa, batin Laras.

"Kita ke depan, semuanya sudah menunggu," kata Laras pelan.

Sheila menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan.

"Santai, Shei," ucap Kayla terkekeh. Sheila milirik kesal pada Kayla karena terus menertawakannya.

Laras dan Kayla berjalan bersisian menggiring Sheila menuju tempat akad nikah dilangsungkan. Tepatnya di ruang tamu rumah Sheila yang telah didekorasi sederhana tapi, mempesona.

Ketika Sheila menginjakkan kakinya kemari, semua perhatian berpusat padanya. Sheila gugup, ia berusaha mengumbar senyum. Sheila melihat Bryan yang tampak berwibawa dengan jas putih yang membalut tubuhnya.

Laras menarik kursi mempersilahkan Sheila duduk di samping Bryan. Senyum yang terpatri di wajah Bryan membuat Sheila bersemu. Pria itu memuji Sheila dari pancaran matanya. Tak terkecuali para tamu yang menatap Sheila terkesima.

Degup jantung Sheila berdebar kuat. Ada yang aneh, di balik rasa bahagia yang menggebu terselip keresahan di hatinya.

"Baik, mari kita mulai," kata Pak Penghulu.

Ayah Sheila mulai mengulurkan tangan dan Bryan dengan mantap menjabat uluran tangan itu.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Bryan Darmawan bin Hasan Darmawan Almarhum dengan anak saya bernama Sheila Annatasya binti Herman Kurniawan dengan mas kawin senilai delapan juta rupiah dibayar tunai."

"Saya ter──"

"Hentikan!"

Jantung Bryan serasa berhenti berdetak, wajahnya memucat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Cinta Sang Mafia
8.3
Demi melunasi utang sang ayah, Milea dipaksa menikah dengan putra sulung mafia yang mengalami gangguan mental. Enggan menerima nasib, ia memilih kabur. Tindakan ini memicu murka Elvan, sang adik, yang merasa martabat keluarganya diinjak-injak. Bertekad menuntut balas atas kepedihan kakaknya, Elvan memburu Milea demi menghancurkan hidupnya. Sanggupkah Milea lolos dari jerat murka Elvan, atau justru sang mafia muda yang akhirnya melepaskan cengkeramannya?
Sampul Novel Istri Kelima Sang Presdir
8.3
Bagi Cassandra, dinikahi Presdir kaya raya Bardolf Konstantino bukanlah berkah, melainkan mimpi buruk. Melalui rencana licik, ia terjebak kontrak pernikahan sebagai istri kelima yang penuh siksaan fisik dan batin. Cassandra bahkan dipaksa memberikan keturunan agar bisa bertahan. Demi menyelamatkan sang adik dari ancaman keluarga Konstantino, ia harus kuat. Cassandra kini bertekad menaklukkan hati suaminya yang sangat dingin dan tidak berperasaan itu.
Sampul Novel KAMU SINI DONG DEKETAN
8.3
Kepergian Wulan ke luar negeri demi pengobatan membuat hubungan asmaranya dengan Darwis, sang wartawan, menjadi rumit. Darwis akhirnya menikahi Marlenna yang tengah mengandung anak Marcel. Di sisi lain, sempat tumbuh rasa cinta antara Darwis dan Arini sebelum maut memisahkan mereka. Konflik memuncak saat Wulan sembuh dan Aldi kembali setelah kecelakaan. Di tengah ujian kesetiaan dan masa lalu, kehadiran bayi bernama Arini menjadi pemersatu pernikahan Darwis dan Marlenna.
Sampul Novel Pelaminan Tanpa Mempelai
9.3
Sebagai sekuel Enam Tahun Tanpa Malam Pertama, kisah ini menyoroti kepedihan seorang wanita akibat dosa masa lalu orang tuanya. Kehidupannya hancur saat sang kekasih pergi meninggalkannya di hari pernikahan. Takdir rumit kemudian menyeretnya ke dalam ikatan rumah tangga bersama putra dari musuh bebuyutan keluarganya. Mampukah ia bertahan menghadapi pernikahan yang penuh konflik dan dilema batin mendalam ini?
Sampul Novel Reuni & Perselingkuhan Liar
8.4
Acara reuni sekolah membawa babak baru dalam hidup Selina saat ia bersua kembali dengan Duke, mantan pacarnya. Pertemuan itu menyalakan lagi percik asmara masa lalu yang berisiko. Walau Selina berusaha menepisnya, Duke gencar mendekat dan merayunya. Duke bahkan tanpa ragu memintanya menceraikan sang suami agar mereka bisa membina rumah tangga bersama. Selina pun kini berada di persimpangan jalan, bimbang antara menjaga janji suci pernikahan atau menyerah pada hasrat lama.
Sampul Novel Sang Perempuan Duplikasi
9.2
Anne didera kebingungan akibat ingatan asing dan gejala aneh yang mengusik kesehariannya. Krisis identitas ini kian berat karena ia harus menghadapi Henry, suaminya yang merupakan CEO perhiasan arogan berwatak kasar serta terobsesi secara gelap. Di tengah keterasingan rumah tangganya, Anne hanya bisa menemukan kehangatan dari Ben, asisten pribadi yang selalu menghiburnya. Mampukah Anne mengungkap jati dirinya di antara kekejaman Henry dan kenyamanan yang ditawarkan Ben?