APKDock Logo
Sampul Novel Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya

Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya

8.8 / 10.0
Saat memergoki suaminya berselingkuh, Maura tidak menangis. Ia justru membawa warga untuk melakukan penggerebekan dan mendesak kedua perusak rumah tangganya itu segera menikah. Pasangan ilegal tersebut sangat senang karena bisa bersatu tanpa hambatan. Namun, di balik kemudahan itu, mereka tidak sadar telah masuk dalam perangkap licik Maura. Ini adalah awal dari skenario balas dendam yang sangat mematikan untuk menghancurkan hidup mereka.

Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya Bab 1

[Mas sudah pulang, nanti malam kamu ke rumah. Mas rindu, jam seperti biasa. Setelah Mas memberikan memberikan susu pada Maura.] - Hamdan

[Lebih cepatlah memberikannya obat tidur ke dalam susu itu, aku sangat merindukanmu Mas.] - My Love

Mata Maura memerah dan berkaca-kaca, kala membaca deretan pesan dari ponsel sang suami. Lelaki yang tertidur pulas di kasur, tidak terusik karena notifikasi handphone sangat pelan. Dia mengetahui karena benda pipih tersebut berkedip, saat hendak membangunkan Hamdan. Netranya menangkap barisan huruf menjadi kata lalu kalimat.

"Apa maksudnya ini?" gumam Maura pelan, ia berusaha membuka layar ponsel tetapi memakai sandi.

"Kenapa memakai sandi, biasanya, kan enggak," gumam Maura parau. Ia masih berusaha menangkal semua rasa curiga. Tetapi saat mengetahui layar ponsel sang suami memakai sandi, hatinya menduga-duga.

"Apa Mas Hamdan selingkuh? Aku harus mencari tau. Jika benar, aku harus membalasnya dan mengambil apa hak anakku," batin Maura berseru, lalu cepat dia meletakkan ponsel di tempatnya dan melangkah keluar dengan perasaan campur aduk.

"Jangan sampai aku meminum susu pemberian Mas Hamdan," cicit Maura pelan. Ia berusaha tegar untuk sang buah hati yang menginap di rumah ibu mertuanya.

"Kenapa Mas Hamdan tega menduakanku? Setidaknya dia memikirkan Delia." Air mata Maura akhirnya berjatuhan juga. Seberapa pun kuat menahan, dia hanya wanita yang gampang menangis.

"Kamu jahat, Mas!" pekik Maura lirih. Ia mendongak saat mendengar suara bel berbunyi.

"Assalamualaikum, Mbak."

Saat membuka pintu, terlihat seorang gadis tersenyum dan memamerkan rantang yang dibawa.

"Mawar? Ada perlu apa ke sini?" selidik Maura seraya mengeryitkan alis. Masalahnya, dia selalu datang saat ada Hamdan di rumah.

"Denger-dengar Mas Hamdan baru pulang, aku bawain makanan buat kalian," ujar Mawar dengan nada ceria.

"Kenapa kamu selalu membawakan makanan untuk kami? Kamu, kan, perantau, harusnya uangnya dihemat," nasehat Maura yang merasa aneh dengan kelakuan gadis yang berusia sekitar sembilan belas tahun itu.

"Gak papa, Mbak. Gak boleh lho menolak rezeki," balas Mawar tak patah semangat.

"Hmmm, makasih. Ayo masuk! Kamu mau minum apa?" tanya Maura mempersilakan Mawar masuk untuk memberikan minuman.

"Makasih, Mbak. Mas Hamdannya mana?" tanya Mawar celingak-celinguk mencari Hamdan.

"Dia lagi tidur, War. Ada urusan apa emang?" tanya Maura menjatuhkan tubuhnya di sofa berhadapan dengan Mawar.

"Ehhh, itu. Aku mau nebeng, kan, searah tuh ke kampusku," ucap Mawar seraya cengengesan.

"Hmmmm, nanti Mbak kasih tau ke Mas Hamdan," sahut Maura.

"Ya sudah, Mbak. Mawar pamit pulang dulu," seloroh Mawar dibalas anggukan Maura.

***

Malam berikutnya.

"Sayang, ini minum susunya. Habiskan ya," pinta Hamdan menyodorkan susu saat Maura bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponsel.

"Iya, Mas." Maura mengambil gelas berisi susu itu, bimbang menatap secangkir minuman yang selalu ia teguk setiap malam.

Suara dering ponsel membuat Maura tersenyum, terlihat Hamdan pamit untuk mengangkat telepon. Dia juga memberikan wejangan bahwa susu itu harus habis saat ia balik lagi. Dengan langkah cepat, Maura bergegas ke kamar mandi buat menumpahkan isi gelas tersebut hingga tandas.

"Susunya sudah habis?" tanya Hamdan saat masuk ke kamar, melihat gelas telah kosong.

"Bagus, ayo kita tidur sekarang!" ajak Hamdan beranjak ke ranjang dan berbaring di samping Maura.

"Iya, Mas. Maura juga sudah mengantuk," sahut Maura pura-pura menguap dan menutup matanya.

Setengah jam berlalu akhirnya Hamdan beranjak dari tempat tidur. Ia tersenyum senang saat melihat Maura sudah terlelap. Dengan langkah pelan, dia melangkah keluar menyambut perempuan yang telah menunggu di pintu rahasia.

"Mas kenapa lama sekali," keluh Mawar berhamburan memeluk tubuh Hamdan.

"Maaf, Sayang, ayo kita ke ruang tengah," ajak Hamdan memeluk pinggang ramping Mawar.

Mawar dan Hamdan lantas melakukan pergumulan terlarang. Mereka bahkan tak segan memutar film dewasa seraya melakukannya.

Maura yang belum tertidur, melangkah keluar untuk mengambil air minum. Matanya membulat saat melihat adegan di hadapannya.

"Astagfirullah, ternyata Mawar yang menjadi duri dalam rumah tanggaku," pekik Maura tak percaya.

Setelah menetralkan diri dan hati yang terluka, Maura bangkit dan berjalan tergopoh-gopoh keluar rumah. Dirinya segera berlari ke rumah ketua RT untuk meminta bantuan. Pak RT lantas mengerahkan warga dan memanggil serta seorang penghulu yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

Setelah semua terkumpul, Maura mengerahkan mereka untuk mengendap-endap masuk ke rumah. Ternyata, Hamdan dan Mawar yang tadinya bergumul di ruang keluarga, sudah berpindah ke kamar tamu. Tanpa pikir panjang, Mawar meminta Pak RT dan beberapa warga mendobrak pintu kamar itu.

Saat pintu kamar terbuka, terlihat Hamdan dan Mawar yang masih asik bercumbu. Mereka tampak terkejut karenanya.

"Cepat pakai pakaian kalian!" perintah Pak RT dengan nada tinggi.

Dengan tergesa-gesa mereka menyembunyikan tubuhnya dalam selimut. Hamdan menatap nanar Maura. Terlihat wajah wanita itu masih sembab dan hidung merah.

Dengan langkah besar, Maura mendekat dan menampar kedua pasangan mesum tersebut.

"Teganya kamu, War." Maura menjambak rambut Mawar, karena perempuan itu menunduk sambil terisak.

"Dasar jalang! Apa kamu tidak memikirkan perasaanku, kamu juga wanita, bukan?" Maura menampar pipi perempuan tersebut.

Tatapan Maura beralih pada Hamdan, pandangan terluka ia layangkan.

"Kamu jahat, Mas! Setidaknya kamu pikirkan anakmu saat hendak melakukan sejauh ini," ucap Maura pelan.

Hamdan terus berucap maaf, membuat Maura mengembuskan napasnya.

"Cepat pakai pakaian kalian! Lalu keluar. Kami akan menunggu di ruang tengah, kalian harus segera menikah."

Mata Hamdan membulat saat mendengar perkataan Maura, pria itu tidak percaya bahwa sang istri memerintahkan dirinya untuk menikahi Mawar.

Mawar langsung mendongak mendengar itu, senyuman terbit di bibirnya. "Mbak serius? Terimakasih Mbak," pekiknya senang.

"Kalian hanya bisa menikah siri," tutur Maura lalu keluar mengajak semua orang untuk meninggalkan kamar itu.

"Mas ... akhirnya kita akan menikah. Aku sangat bahagia," pekik Mawar. Dia langsung berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan memakai pakaian.

"Kenapa Maura bicara seperti itu, tapi ya sudahlah. Mungkin ini rezekiku," ucap Hamdan mengikuti Mawar yang tengah membersihkan diri.

Maura yang masih bisa mendengar perkataan pasangan mesum itu tersenyum sinis. "Kalian pikir, aku akan membiarkan kalian bahagia? Tunggu saja ... ini baru permulaan. Kalian harus mendapat balasan!"

Lanjut Membaca

Daftar Isi Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Dipaksa Memberi Keturunan
8.1
Risa terpaksa menikahi Dhimas demi melunasi biaya medis ayahnya. Namun, pernikahan ini menjadi mimpi buruk saat ia menemukan kepribadian ganda suaminya yang tersembunyi dari sang ibu, serta kehadiran wanita lain. Di bawah tekanan mertua yang menuntut ahli waris, Risa terjebak dalam misteri dan pengkhianatan. Akankah ia berhasil bertahan hidup dan menemukan kebahagiaannya sendiri?
Sampul Novel Lentera Rindu
8.6
Menikah di usia 18 tahun, Rima harus menghadapi kenyataan pahit bersama suaminya, Bary. Di usianya yang tiga tahun lebih muda dari Rima, Bary menolak mentah-mentah saat sang istri mengajaknya tidur bersama. Penolakan dingin ini menyisakan tanda tanya besar mengenai perasaan serta komitmen pernikahan mereka. Pembaca akan diajak menyelami makna mendalam dari rasa rindu dan cinta sejati yang melampaui batas duniawi melalui lentera hati mereka.
Sampul Novel PETUALANGAN KE KOTA PARIS
8.8
Pasca-bercerai, seorang wanita muda memilih pergi ke Paris untuk memulihkan jati dirinya. Di sana, ia bertemu dengan pelukis menawan yang mengubah cara pandangnya tentang kehidupan secara mendalam. Kisah mereka tumbuh menjadi jalinan cinta yang membara, diwarnai penjelajahan dunia seni yang memikat. Petualangan ini menjadi momen krusial baginya untuk membangkitkan kembali gairah dan semangat hidup yang dahulu sempat padam.
Sampul Novel Putra Rahasia Sang Alfa, Penawarku yang Dicuri
9.6
Tiga tahun aku bertahan melawan racun, hanya untuk dikhianati oleh suamiku sendiri, Alpha Yudha. Demi Elara, ibu dari anak rahasianya, dia memberikan satu-satunya obat penawar yang bisa menyelamatkanku. Yudha menginginkan kematianku demi kebahagiaan keluarga gelapnya, bahkan tega mempermalukanku di rumah orang tuaku. Menggunakan sisa kekuatanku, kuputuskan ikatan batin kami. Aku pergi membawa dendam, bersumpah untuk tetap hidup dan menghancurkan seluruh dunianya.
Sampul Novel Rahim Penebus Hutang
9.7
Demi membiayai pengobatan sang nenek, Detta, seorang mahasiswi miskin, terpaksa bekerja di sebuah kelab malam. Di sana, ia bertemu dengan Aleandro, pewaris kaya raya keluarga Smith yang sedang menghindari perjodohan dari ibunya. Aleandro menawarkan uang satu miliar rupiah kepada Detta dengan syarat wanita itu bersedia mengandung anaknya. Kini, di tengah tekanan finansial, Detta dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan harga diri atau menjual rahimnya demi nenek tercinta.
Sampul Novel Sekar
8.0
Sekar menjalani hidup yang sepenuhnya disetir oleh ramalan. Bagi pengusaha di ibu kota ini, prediksi masa depan adalah segalanya, hingga ia mengabaikan takdir Tuhan dan menganggap ibadah hanya kedok tanpa makna. Namun, obsesi tersebut justru membawanya pada pusaran keputusasaan. Di tengah ambisi bisnis dan pencarian tanpa ujung, Sekar kini kehilangan arah. Mampukah ia mengubah garis hidup yang telah digariskan oleh Sang Pencipta, atau justru selamanya terjebak dalam kesia-siaan?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan