APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren

Mengejar Dosen Duren

Jelita terbangun dengan tragis setelah tubuhnya dipinjam oleh Elizabeth, hantu istri dosennya, Daniel Danuarja. Elizabeth ternyata memanfaatkan raga Jelita untuk bercinta dengan Daniel hingga merenggut kesuciannya. Saat sadar, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir musnah. Di tengah amarah besar akibat dikhianati, kini Jelita harus terjebak dalam pusaran skandal yang rumit bersama dosennya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Ah …. Lebih cepat Sayanghh!" kata seorang wanita yang berada di bawah kuasa tubuh seorang pria muda nan tampan. Netra gadis ini merem melek keenakan menikmati setiap hentakan dari pria yang sedang menggaulinya, dia bahkan meminta gerakannya lebih dipercepat.

Gerakan mereka awalnya lembut, lama kelamaan kelembutan itu tidak berarti lagi, lebih seru yang lebih aktif, cepat dan kasar. 

Tubuh pria dengan kulit yang putih dada bidang dan perut dadu itu sungguh energic dan punya andil besar dalam permainan ini.  

Mereka bermain bukan saat malam hari melainkan sore hari, saat di mana orang-orang sedang sibuk bekerja atau pulang kerja, sibuk membeli makanan untuk makan malam dan siap-siap beristirahat di rumah. 

“Kamu begitu nikmat!” jawab si pria sambil mempercepat gerakan pinggulnya. 

Kedua tubuh manusia ini berkeringat hingga membasahi sprei. Gerakan tubuh mereka semakin aktif hingga tidak terasa sudah dua puluh menit mereka melakukan kegiatan panas ini, dua puluh menit itu tidak termasuk dalam sesi foreplay. 

Saat kenikmatan sudah di ubun-ubun, saat cacing berurat itu sudah siap menyemburkan lava hangat yang akan memenuhi rongga kenikmatan si gadis, ada suara dering telepon yang sangat mengganggu sekali. Tidak hanya sekali, benda pipih dengan logo apel digigit itu berbunyi beberapa kali, sungguh mengganggu, tau begitu tadi disilent saja agar tidak mengganggu.

“Sialan, siapa yang menelpon? Ganggu saja.” Kegiatan panas ini jadi terjeda gara-gara ada yang menelpon.

“Angkat dulu saja,” kata sang gadis sambil mengusap dada bidang pasangannya.

Pria ini menurut, dia raih ponsel pintarnya lalu melihat yang menghubunginya itu siapa. Alis hitam lebat itu mengkerut, dia membaca nama orang yang menghubunginya. Telepon ini sepertinya penting, dia segera mengangkat dan menjeda kegiatannya bersama sang gadis.

Rupanya yang menghubungi pria ini adalah abangnya sendiri, setelah disapa, ditanyakan tujuannya apa. Pria yang disapa David ini menjawab,  

“Enggak deh kayaknya. Ini aku sama papah mau pergi jalan-jalan ke luar, Bang.” Padahal dia sedang tidak bersama dengan sang ayah, malah bersama dengan seorang gadis, membuat keringat bersama bukannya pergi jalan-jalan seperti yang disebutkan.

Setelah itu telepon terputus, kegiatan panas kembali berlangsung lagi hingga mereka mencapai klimaksnya masing-masing.

Bukan David jika cukup hanya sekali, pria ini menambah satu ronde lagi, dia benar-benar tidak ingin menyudahi kegiatan penuh kenikmatan ini, padahal David benar-benar memiliki janji dengan sang ayah. 

Setelah ronde ke dua, mereka benar-benar menyudahinya. Sebatang rokok dan satu gelas vodka menjadi penutup kegiatan ini. Kepala sang gadis bersandar di paha David, satu tangannya bergerak meraih remote televisi, gadis ini pun tertarik untuk menonton berita.

"Astaga …. Kasihan sekali korban kecelakaannya seorang wanita." Dia melihat kantung jenazah yang sedang dibawa oleh tim sar. Kata pembawa acara berita tersebut, korbannya adalah seorang wanita dewasa.

"Lihat apa?" tanya David sambil melirik ke arah gadisnya. Rupanya televisi lebih menarik daripada tubuh David yang sixpack dan atletis ini.

"Itu!" Pandangannya tak lepas dari layar seluas lima puluh inci itu.

"Itu mobil Elizabeth," kata David setelah melihat tayangan mobil yang berusaha diangkat oleh alat-alat berat, ada plat nomor dan ciri-ciri mobil seperti yang sering dikendarai oleh Elizabeth- istri dari kakak laki-lakinya. Evakuasi korban dan kendaraan sungguh sulit karena masuk jurang.

"Kamu mengenalnya?" Gadis ini otomatis bertanya karena David menyebutkan nama korbannya. 

"Sangat. Dia istri kakakku, orang yang menelpon tadi."

Mendengar kabar buruk ini, gadis bersurai hitam langsung bangun. "Kalau begitu, segeralah pulang." Dia menarik lengan David agak kencang.

"Kalau aku pulang, kau pulangnya bagaimana?" David mengkhawatirkan gadis pemuas napsunya, takut pulang kenapa-napa di jalan jika tidak diantar, masa datang ke sini dijemput, pulang tidak diantarkan. 

"Nanti biar aku naik taksi saja. Tenanglah, jangan mengkhawatirkanku!" jawab gadis manis ini sambil mengusap lengan David.

David bergegas pulang, sampai di rumah dia melihat ayahnya sedang duduk lemas di ruang TV sambil mengusap dadanya yang terasa sesak.

Ayah David punya penyakit jantung, kata dokter umurnya sudah tidak lama lagi. Pria tua itu tidak bisa mendengar kabar buruk, nanti langsung syok dan biasanya pingsan.

David melirik tangan ayahnya yang sedang menunjuk televisi sambil melirik ke arahnya.

"El- Eli, Div! It- itu bukan Elizabeth, kan?"

*****

Beberapa hari kemudian….

Ah! Akh! 

Eh, uww, ikh, ikh, aaaaaaaa, eung, ah, emmmm, hmmm. 

Aih, aih, yaaaaah … iaaahhh iaaahhh wakai aaaah….

Getaran ponsel di atas nakas disertai suara nyaring desahan bintang film bokep Jepang membuat Jelita lompat dari tidurnya. Wanita muda yang masih menggunakan kaos oblong dan celana pendek khusus untuk tidur itu berguling, lalu menggapai-gapai handphone dengan satu tangannya. 

“Sialan nih Luna!” gerutu Jelita karena temannya telah mengubah bunyi alarmnya dengan desahan syaiton yang membuatnya panas dingin. Tidak merinding bagaimana? Ini lebih menyeramkan dari pada setan. Jelita kira di sampingnya benar-benar ada sepasang orang yang tengah bercinta, syukurlah setelah melek tidak ada, cuma suaranya doang.

Jelita berhasil mematikan alarm yang sengaja dipasang Luna semalam untuk mencegah terjadinya keterlambatan. Pasalnya, mata kuliah mereka pagi ini mengharuskannya untuk datang tepat pada pukul delapan. Atau, nilai D lah yang akan diberikan dosen untuk Jelita. Luna tidak mau Jelita bahan ledekan atau sampai mengulang SKS, sehingga ia dengan usil memasang suara yang direkam dari salah satu adegan koleksi bokep Jepang miliknya. Suara desahan yang nyaring jelas akan membuat Jelita mau tidak mau, wanita itu bangun agar tak disalah pahami tetangga kosnya. 

Wanita dengan rambut panjang itu pun bergegas untuk mandi, lalu mempersiapkan dirinya. Butuh sekitar lima belas menit sampai akhirnya Jelita benar-benar siap untuk berangkat ke kampusnya di daerah pusat kota Bandung. Menggunakan jasa ojek online langganan, wanita bernama lengkap Jelita Jeanette itu akhirnya tiba tepat waktu di kampus. 

"Nih, Pak. Kembaliannya biarin aja," kata Jelita pada bapak-bapak tukang ojek. 

Namun pria bertubuh gempal dengan kumisnya yang mirip dengan karakter Pak Raden itu justru mengernyitkan kening. Sembari mengibas-ngibaskan uang sepuluh ribuan yang baru saja diberikan oleh Jelita, pria itu berkata, "Apanya yang kembalian, Neng. Ini mah pas pisan atuh uangnya, eleuh." 

Jelita menyengir, memamerkan deretan giginya yang rapih. "Hehe, yaudah, Pak. Diterima aja atuh ya. Nuhun."

Meski agak kesal, Jelita sama sekali tidak ambil hati soal sikap tukang ojek tersebut. Gadis dengan kaus polos berwarna putih yang melengkapi penampilannya dengan jaket denim dan ripped jeans semata kaki itu segera melangkah masuk ke dalam gerbang kampusnya. Bayang-bayang ancaman dosen killer masih menghantui, sehingga Jelita pun enggan berbasa-basi yang membuat waktunya tersita habis. 

"Woy, Jenita janet!" 

Suara tak asing di belakangnya, membuat Jelita menoleh. Ada Luna di sana, teman semasa SMA yang naik jabatan menjadi bestie di kampus. Luna dan Jelita kebetulan diterima di fakultas dan jurusan yang sama. Entah semua itu benar-benar kebetulan, atau orang tua Luna yang super kaya lah yang sengaja mengaturnya. 

"Tumben nggak telat, Bestie?"

Jelita memutar kedua bola matanya malas, lalu melanjutkan langkah. "Semua berkat jasa ibu Luna yang sudah memasang alarm biadab itu di hape hamba.”

“Wuahahaha, bisa aja nih Jenita Janet.” Luna tertawa puas, tidak salah idenya kali ini emang mujarab.

“Jangan panggil aku Jenita Janet terus napa, Lun. Emang mau kalau aku beneran jadi penyanyi dangdut?" Wajahnya yang imut memang mirip Jenita Janet, tak heran jika nama Jelita diplesetkan menjadi Jenita oleh sang sahabat.

"Bah, jangan! Serius, jangan, Lit!" sergah Luna dengan wajah panik yang dibuat-buat. "Napasmu aja kedengarannya fals, apalagi nyanyi. Kasian telinga pemirsa, bisa penuh klinik THT ntar." 

"Ih nyebelin banget sih," keluh Jelita. 

Mereka berdua kemudian berjalan menuju kelas yang sudah diumumkan oleh sang dosen melalui grup whatsapp. Orang-orang di kampus juga sudah tahu jika Jelita dan Luna adalah sahabat dekat, kemana-mana selalu bersama bagaikan upin dan ipin yang berbeda orang tua. Jika Jelita adalah mahasiswi super mager, maka Luna adalah kebalikannya. Namun semua orang nyatanya lebih mengenal Jelita daripada Luna. 

"Eh tapi kamu tahu nggak sih, katanya ada dosen baru yang bakal gantiin Pak Tatang mulai lusa," kata Luna memberi tahu. 

Jelita menoleh, lalu menaikkan satu alisnya penasaran. "Masa? Emang ada yang bisa ngegulingin tahtanya Pak Tatang di sini?" 

"Anjir pakai tahta segala udah kaya lord Rangga," cibir Luna, wanita berambut pendek itu lantas tertawa. "Tapi katanya, Pak Tatang itu emang mau diganti sama dosen baru ini. Katanya sih dosen baru kita ini duren sawit." 

"Hah? Buah-buahan bukan sejenis orang?" Otak Jelita masih loading, dikira duren beneran.

"Ish. Duren sawit tuh duda keren sarang duit, Janet." Lah si Luna pake sebutan asing saja, bikin otak Jelita jadi traveling mencerna lalu menelaah artinya apa.

"Jelita," koreksi Jelita.

Luna menarik salah satu kursi yang ada di dalam ruangan dan duduk begitu saja. "Ya pokoknya gitulah. Katanya dosen kita ini baru ditinggal meninggal sama istrinya." 

Mengikuti gerakan sahabatnya, Jelita pun duduk dan menyimpan tote bag hitamnya. Ia menyilang kedua tangannya di depan dada dan menggumam panjang. "Tapi kok kamu tahu banget sih soal dosen baru kita? Kelihatan batang hidungnya aja belum, lho." 

Wanita berambut pendek itu mengedikkan kedua bahunya, lalu dengan penuh percaya diri mengangkat dagunya ke atas. "Plis deh, Janet. Kalau gosip terbaru udah sampai ke ibu kantin, artinya gosip itu udah menyebar sampai ke penjuru kampus."

Satu alis hitam yang ditebalkan menggunakan pensil alis milik Jelita terangkat naik. Ia mulai menatap Luna penuh minat. "Bu kantin udah tahu juga?" 

"Udahlah, malah ikutan ngincer juga, ck!" Tak habis pikir, ternyata ibu kantin kampus biang gosip dan genitnya sangat luar binasa.

"Dasar emak-emak ganjen." 

"Ya gitu deh," timpal Luna, yang lalu diakhiri dengan tawa mereka berdua. 

Tak lama setelah perbincangan itu selesai, mahasiswa yang ada di kelas mereka pun segera memenuhi ruangan. Selain itu, dosen yang dibicarakan oleh Luna turut muncul dari balik pintu. 

Kebanyakan mahasiswi terkejut dengan sosok tampan milik pria bernama Daniel yang berjalan penuh percaya diri ke dalam ruangan. Sementara Jelita justru mengernyitkan kening karena sosok yang muncul di sana bukanlah dosen yang ditunggu olehnya. 

"Yaampun, Ta. Ganteng banget, 'kan?" bisik Luna ketika Daniel mulai memperkenalkan dirinya di depan kelas. Sikapnya yang tegas dan tampak cool, berhasil menarik perhatian mahasiswi-mahasiswi, tapi tidak dengan Jelita. "Jangankan bu kantin, aku juga mau atuh sama dosen yang ini mah. Nggak apa-apa duda juga, yang pentingmah mantap euy." 

Jelita ikut berbisik. "Ih, apaan sih. Ini kok malah dosen baru yang masuk kelas? Bukannya kita mau kuis ya pagi ini?" 

Alih-alih setuju dengan perkataan Jelita, Luna justru memberengut dan menyenggol tangan wanita berambut panjang itu dengan lengannya. "Siapa yang peduli sama kuis kalau kita punya pemandangan bagus di sini?" 

Luna memalingkan wajahnya dari Jelita. Sementara Jelita masih mengamati sosok Daniel di depan sana. Tidak, sebenarnya bukan Daniel yang mengusik perhatiannya, melainkan sosok wanita berambut panjang dengan gaun putih selutut di belakangnya. Sejak awal kedatangannya, sosok itu telah mencuri perhatian. Bukan hanya karena penampilannya yang sedikit 'gotik' tapi juga karena hanya Jelita lah yang bisa melihat wanita itu di sana. Dari aroma dan auranya, Jelita bisa menebak kalau hantu itu baru saja meninggal beberapa hari yang lalu.

Tanpa menggunakan alas kaki, wanita itu terus mengikuti Daniel ke sana dan kemari. Dari gesturnya, Jelita menebak bahwa wanita itu ingin Daniel melihatnya, meski pada akhirnya hasilnya tetap sia-sia. 

Kedua mata hitam milik Jelita menyipit, diperhatikannya dengan baik sosok yang berdiri di sudut ruangan. Ekspresi wanita itu tampak sedih dan Jelita mulai menebak-nebak, alasan kesedihan yang dirasakan oleh wanita itu. Ia sama sekali tidak bergeming, sampai akhirnya wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan bertemu pandang dengan netra hitam milik Jelita. Jelita terkesiap, lalu buru-buru membuang wajah. Perasaan wanita itu pun berubah menjadi tidak nyaman. Kemudian, Jelita pun menoleh ke sisi kanannya secara perlahan. 

"AHHHH!" 

Semua orang di kelas kini menatapnya bingung, karena hanya Jelita lah yang bisa melihat sosok wanita yang muncul tiba-tiba di depan muka Jelita. Barulah beberapa saat kemudian mahasiswi muda itu menyadari bahwa kemampuan lamanya telah kembali; kemampuannya untuk melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus seperti wanita yang kini berdiri di hadapannya. 

‘Sial, kenapa aku bisa lihat yang beginian lagi sih? Susah payah minta nenek nutup mata batinku biar nggak bisa lihat mereka, eh masih aja kebuka sendiri.’

“Dek, kamu bisa melihat dan mendengar suaraku kan?” tanya Elizabeth, si hantu bergaun putih sambil mengulas senyum tipis.

Bulu kuduk Jelita semuanya berdiri, atmosfer di sini semakin berubah. Jelita acuh, tak mau menoleh sama sekali. 

"Dek jawab, jangan pura-pura!"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 30 Days With Mr. Vague
8.1
Rose tak menyangka bahwa penculiknya adalah Louton Vague, seorang pewaris takhta kaya raya yang terkenal berwibawa. Di balik ketampanannya, Louton menyimpan kekejaman dan misteri besar. Namun, kebersamaan mereka selama penyekapan justru mengungkap luka batin mendalam yang menyiksa pria itu. Rasa iba pun tumbuh di hati Rose, memicu hasrat untuk menyembuhkan sisi gelap sang miliarder. Kini, ia didera dilema hebat: melaporkan kejahatannya atau mengikuti kata hati untuk menolongnya.
Sampul Novel KENIKMATAN SELINGKUH
8.7
Arsyla, wanita 23 tahun, menjalani pernikahan harmonis bersama Edi yang berusia tiga tahun lebih tua. Meski belum dikaruniai anak setelah dua tahun menikah, mereka tetap tenang demi fokus menata keuangan. Edi bekerja keras sebagai OB berpenghasilan minim demi membiayai adik-adik yatimnya. Arsyla menerima kondisi ini dengan tulus. Suatu sore, Edi pulang ke kontrakan sederhana mereka dengan tubuh lelah demi menyambung hidup keluarga.
Sampul Novel Mengejar Cinta Istri
9.4
Ayla Pramudita sangat terluka karena ditinggal pergi saat pernikahan bisnisnya. Setengah tahun kemudian, ia menerima dana misterius dari N.H Group. Rahasia terungkap saat adiknya, Ferdi, magang di sana; pemilik grup itu adalah Wibbi, sang suami. Ayla pun ke Jakarta untuk meminta cerai. Namun, Wibbi menolak dan justru mulai jatuh hati padanya. Di saat yang sama, Abram selaku cinta pertama Ayla datang kembali dan siap membantunya lepas dari cengkeraman Wibbi.
Sampul Novel Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga
8.8
Demi menyelamatkan Pramudita Global dari kebangkrutan, Anya Pramudita bersedia menikahi pewaris Wijaya Corp, Reza Wijaya. Di balik perjodohan ini, orang tua Reza memanfaatkan masalah keuangan tersebut demi kepentingan mereka. Sementara itu, Reza sebenarnya masih mencintai Kirana secara rahasia. Tanpa adanya rasa cinta, Anya yang bersikap dingin harus bertahan dalam pernikahan sandiwara ini. Akankah tumbuh cinta sejati di antara mereka, atau justru pengkhianatan yang akan mengakhirinya?
Sampul Novel Pria Yang Disimpan
9.7
Nadia menderita dalam pernikahan dengan Robin, yang merahasiakan penyakitnya hingga Nadia terus disalahkan oleh mertua. Sementara itu, Riska merasa kesepian karena Alvin, suaminya yang berprofesi sebagai kapten kapal, jarang pulang ke rumah, ditambah tekanan dari ibu mertuanya yang terus membayangi. Di tengah badai konflik ini, hadir Arfan, sosok pria penuh trauma yang perlahan mulai membuka hati. Takdir pun kini mempertemukan dan menguji kesetiaan serta cinta mereka.
Sampul Novel Skandal Panas Presdir Tampan
8.0
Damien D'Arcy, pemilik hotel mewah yang kerap mempermainkan wanita, mengalami perubahan hidup total setelah bertemu Chiara, seorang resepsionis di Italia. Tujuh tahun pasca-hilangnya Chiara, Damien hidup menderita akibat masalah kesuburan dan kehilangan harta demi kompensasi cerai. Saat kembali ke Italia, sebuah prosedur donor darah mengungkap rahasia besar: ia bertemu anak yang sangat mirip dengannya dan Chiara yang kini bersikap dingin.