APKDock Logo
Sampul Novel 30 Days With Mr. Vague

30 Days With Mr. Vague

8.1 / 10.0
Rose tak menyangka bahwa penculiknya adalah Louton Vague, seorang pewaris takhta kaya raya yang terkenal berwibawa. Di balik ketampanannya, Louton menyimpan kekejaman dan misteri besar. Namun, kebersamaan mereka selama penyekapan justru mengungkap luka batin mendalam yang menyiksa pria itu. Rasa iba pun tumbuh di hati Rose, memicu hasrat untuk menyembuhkan sisi gelap sang miliarder. Kini, ia didera dilema hebat: melaporkan kejahatannya atau mengikuti kata hati untuk menolongnya.

30 Days With Mr. Vague Bab 1

Aku diculik.

Setidaknya itu yang aku tahu ketika terbangun sudah berada di sebuah ruangan berukuran kurang lebih dua belas meter persegi. Memang tidak jauh berbeda dengan ukuran ruang kamarku, tapi meminum dua teguk sampanye untungnya tidak terlalu membuatku mabuk hingga lupa bagaimana rupa dari kamar yang telah aku tempati selama hampir dua puluh tahun. Terlebih tidak ada apa-apa di dalam ruangan ini selain tempat tidur, meja, juga shower box.

"Halo?" panggilku pada siapa pun yang mungkin saja mendengar. Sayangnya, tidak ada jawaban.

Sial. Aku tidak bisa bersikap biasa saja seperti ini. Aku sedang diculik. Aku tidak tahu apa yang akan penculik itu lakukan padaku jika aku hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun. Aku harus melakukan sesuatu untuk bisa membebaskan diri.

Belum juga kakiku mencapai pintu, pintu yang dimaksud tiba-tiba mengeluarkan bunyi desis. Bersamaan dengan itu pula pintu bergeser ke samping seperti halnya sebuah pintu lift ketika terbuka.

Dari balik pintu yang telah terbuka tersebut, seorang pria muda berwajah tampan, berpostur tinggi, tegap, proporsional, model rambut buzz cut, muncul dan berdiri di ambang pintu. Tangan kanannya menjinjing sebuah paper bag, sementara tangan kirinya disembunyikan dalam saku jaket bomber berwarna hijau army yang ia pakai.

Aku mematung di tempat. Menatap seseorang yang aku sendiri tidak menyangka bahwa ialah orang yang telah menculikku.

"Mr. Vague?" tanyaku bernada tak percaya. "I-ini benar kau?"

Mata Mr. Vague memicing sedetik setelah aku menyebut namanya.

"Rupanya kau mengenalku," ujarnya datar dan terkesan tidak terlalu senang.

"Ya—eh, tidak," ralatku segera. "Maksudku, tidak terlalu kenal, tapi aku tahu kau tentu saja."

"Rasa-rasanya aku tidak berencana untuk mengekspos diriku sendiri agar diketahui orang banyak."

Mr. Vague melangkah lebih ke dalam ruangan. Tadinya aku pikir ia akan membiarkan pintu tetap terbuka, tapi tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang ada pada salah satu sisi tembok dan pintu kembali tertutup. Mungkin ada semacam pemindai telapak tangan di sana. Dan, itu tampak tidak bagus untukku.

"Kau … mungkin begitu, tapi tidak dengan orang lain. Mereka dengan senang hati membuatmu terekspos," jawabku tanpa sadar bergerak mundur secara perlahan saat Mr. Vague mendekat.

“Jadi apa yang kau tahu dariku?” tanya Mr. Vague sudah berdiri tepat di depanku.

"Kau?"

"Siapa lagi?"

Meskipun masih berjarak satu langkah, aku sudah bisa melihat mata birunya yang jernih. Belum pernah aku melihatnya dalam jarak sedekat ini dan kuakui bahwa matanya begitu memukau.

Aku menelan ludah. Bagaimana caranya menatap membuatku terintimidasi.

"Oh, kau …," jujur saja aku canggung ditatap dengan seorang pria sepertinya, "yang aku tahu kau menjadi ahli waris Vague Holding Group."

"Hanya itu?"

Aku berpikir. "Memang hanya itu informasi yang paling melekat di dirimu," jawabku. Selama sesaat yang tidak terlalu menyenangkan, kupikir ia akan merespons jawabanku, tapi ternyata ia hanya diam seolah menunggu kalimatku yang selanjutnya. “Tapi aku rasa kau tidak terlalu senang dengan posisi itu.”

Mata biru Mr. Vague menyala.

"Kau berpikir begitu?"

“Maaf,” kataku kemudian. “Itu hanya menurutku. Tolong jangan cabut beasiswaku hanya karena aku berkata kurang sopan.”

"Rupanya kau berkuliah di UC Berkeley." Mr. Vague memberi tanggapan.

“Kau menebaknya."

“Karena program beasiswa Vague Holding Group memang hanya ada di sana,” jelas Mr. Vague seraya menyodorkan tangannya yang sedari tadi memegang paper bag. “Makananmu seharian ini. Pastikan cukup sampai makan malam."

Aku memandang paper bag yang masih menggantung di tangannya. Menerima dengan ragu sambil mengecek apa isi di dalam paper bag tersebut.

"Sandwich dan air mineral?"

"Seperti yang kau lihat."

"Dan kau bilang hanya ini makananku untuk seharian ini? Apa kau serius?"

"Aku tidak pernah tidak serius dan jangan buatku harus menjelaskan dua kali."

“Mr. Vague, tapi ini … jujur aku bisa menghabiskan semua ini sekarang juga. Bahkan aku bisa menghabiskan dua sandwich sewaktu sarapan," ungkapku dan ia hanya bergeming mendengar pengakuanku yang mungkin sedikit memalukan. Terlihat sekali jika aku sangat lapar juga banyak makan.

“Silakan saja jika ingin langsung kau habiskan, tapi kutegaskan bahwa aku hanya akan memberikan makanan untukmu satu kali di pagi hari setiap harinya dan untuk hari ini hanya itu yang aku berikan,” jelasnya berbalik pergi di saat aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.

“Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku pada akhirnya. Kemunculan Mr. Vague beberapa menit lalu nyaris membuatku lupa bahwa aku sedang diculik olehnya.

Langkah kaki Mr. Vague terhenti, lalu ia kembali berbalik menghadapku.

“Apa yang aku perbuat sampai kau berbuat seperti ini? Bahkan aku sama sekali tidak mengenalmu. Jika ada suatu kesalahan yang pernah aku lakukan, tolong katakan, tapi jangan seperti ini.”

“Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, Rose.”

Aku tertegun. “Kau tahu namaku.”

“Hampir semua informasi tentangmu ada di dalam dompet dan ponsel.”

“Oh.” Kepalaku berkeliling. Baru sadar jika tas, dompet, juga ponselku tidak ada di mana pun. “Lalu apa? Jika aku tidak melakukan kesalahan apa pun padamu, kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa kau menculikku?” tanyaku menekan dan matanya kembali menyala.

Mr. Vague sekali lagi mendekat. Tidak terlalu tampak, tapi aku merasa ada perbedaan dari sorot mata juga ekspresi wajahnya. Rahangnya mengatup kuat, kulit di area wajah dan lehernya tertarik, bibir tipisnya mengerut seakan tengah menahan sesuatu yang muncul dari dalam dirinya. Apa aku membuatnya marah? Tapi seharusnya akulah yang marah!

“Kau tidak perlu tahu alasannya,” jelasnya dengan suara pelan, dalam, dan mengintimidasi.

Aku takut, tapi aku tetap berusaha terlihat berani.

“Aku perlu tahu," tegasku.

"Tidak untuk sekarang."

"Apa bedanya sekarang atau nanti?" balasku berkeras tanpa memedulikan reaksinya. "Intinya aku perlu tahu alasan kenapa aku ada di sini. Kau tidak bisa seenaknya melakukan ini pada—AH!” jeritku ketika Mr. Vague tiba-tiba menjambak rambutku begitu kuat hingga kepalaku ikut tertarik ke bawah dengan kasar. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh tarikan yang terjadi di antara rambut dan kulit kepala benar-benar terasa menyakitkan.

Dalam posisi itu, Mr. Vague semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku. Ekspresi yang tadinya terlihat datar, seketika berubah menjadi bengis.

“Kau ikuti saja apa yang aku perintahkan,” katanya berbisik dan menekan, dimana bibirnya nyaris mengenai daun telingaku. Menghadirkan rasa merinding yang luar biasa. Mataku terpejam dan hanya bisa merintih.

"Cukup … tolong … ini sakit," rintihku saat ia makin menjambak rambutku.

"Kukatakan sekali lagi. Itu adalah makanan dan minumanmu selama seharian ini dan kau tidak perlu bertanya kenapa kau bisa ada di sini. Mengerti, Proserpina Johnson?”

Mendengar Mr. Vague menyebut nama lengkapku, hanya makin membuat tubuhku seperti terserang oleh sengatan listrik ratusan volt. Terkesan berlebihan, tapi memang itu yang kurasakan. Suaranya benar-benar mampu menghadirkan sensasi itu.

"Jawab aku jika kau mengerti."

Kepalaku mengangguk pelan.

"Aku butuh suaramu, Rose."

Sebisa mungkin aku berusaha mengeluarkan suaraku di tengah kesakitan yang kuterima.

"A-aku mengerti."

"Gadis baik."

Setelahnya, Mr. Vague melepas tangannya dengan lebih dulu menarik rambut, kepala, beserta tubuhku hingga jatuh ke lantai. Kemudian ia langsung pergi tanpa mengatakan apa pun. Betul-betul pergi menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat. Meninggalkanku seorang diri dengan kondisi masih dihinggapi rasa tidak percaya, bingung, dan takut atas perlakuan seorang Louton Vague.

Lanjut Membaca

Daftar Isi 30 Days With Mr. Vague

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Antara Tajir dan Hafidz Qur'an
8.7
Nadia, wanita bergelimang harta yang ambisius, mengalami guncangan batin setelah mengenal Akbar. Kesederhanaan sang penghafal Al-Qur'an itu perlahan mengikis pandangan Nadia tentang kekayaan materi. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan gengsi sosial atau mengejar cinta tulusnya. Situasi kian rumit karena keluarga besarnya menolak keras Akbar akibat jurang perbedaan ekonomi. Akankah cinta mereka sanggup meruntuhkan tembok status sosial?
Sampul Novel Istri Dadakan CEO Tampan!
8.9
Kehidupan Aska Pradipta, CEO menawan yang digilai banyak wanita, mendadak gempar setelah menemukan bayi dari masa lalunya di depan rumah. Dalam situasi panik, ia meminta bantuan sekretarisnya, Naura, untuk merawat bayi itu. Namun, kehadiran ibu Aska memicu kesalahpahaman besar. Demi mengatasi keadaan, Aska akhirnya menawarkan pernikahan kontrak bernilai fantastis kepada Naura. Akankah kesepakatan sandiwara ini menumbuhkan cinta sejati di antara mereka?
Sampul Novel Kau Pilih Dia, Aku Bawa Anakmu Pergi!
9.7
Malam sebelum pernikahan megah dua keluarga mafia, Jeny menemukan pesan mesum dari Via di ponsel Leo. Meski Leo berjanji setenang mungkin untuk memutuskan hubungan dengan adik mendiang wakilnya itu, pengkhianatan nyata terjadi di hari pernikahan mereka. Saat janji suci hampir diucapkan, Leo memilih pergi menyelamatkan Via yang mengancam bunuh diri. Ditinggal sendirian di altar, Jeny memutuskan mengakhiri hubungan mereka selamanya. Ia menghilang tanpa jejak, membawa pergi anak Leo yang sedang dikandungnya.
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder
9.2
Hubungan intim semalam membawa Raina ke dalam asmara serius dengan miliarder Felix. Sayangnya, Felix mencampakkannya demi cinta pertama yang kembali, meninggalkan Raina dengan selembar cek. Tanpa air mata, Raina pergi membawa senyum. Saat mereka bertemu lagi, Raina telah menggandeng pria baru. Felix yang kini terbakar cemburu setengah mati berbalik mengejarnya, bahkan rela mengantre demi mendapatkan kembali hati sang mantan yang dulu ia sia-siakan.
Sampul Novel Pengampunan Ditolak: Terjerat dengan Paman Mantan Saya
8.3
Madison mendedikasikan masa mudanya demi mencintai Colten, tetapi ia hanya mendapatkan perlakuan dingin. Begitu pengkhianatan Colten menghancurkan seluruh impiannya, Madison memutuskan pergi untuk merajut kehidupan baru yang jauh lebih berharga. Saat Colten akhirnya menyesal dan memohon pengampunan, semuanya telah terlambat. Langkah pria itu diadang oleh pamannya sendiri yang sangat berpengaruh, sosok yang kini menjaga Madison dan menyatakan bahwa ia bukan lagi miliknya.
Sampul Novel Tunangan yang Membiarkannya Mati
7.8
Dalam badai salju yang membekukan, tunanganku tega mengkhianatiku dan membiarkanku sekarat. Demi Karin, dia merampas telepon satelit serta selimut pintar buatanku. Karin bahkan merobek bajuku dengan kapak es sambil mengejekku, sebelum mereka membuangku ke lubang salju. Mereka mengira aku telah habis. Namun, mereka salah besar. Di balik lengan bajuku, tersimpan pemancar darurat rahasia yang siap kuaktifkan demi bertahan hidup dan membalas semuanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan