APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mendarat di Hatimu yang Retak

Mendarat di Hatimu yang Retak

Pertemuan kembali setelah sepuluh tahun membawa perubahan besar bagi Liora Anindya dan Arlo Dirgantara. Liora sangat mencintai dunia penerbangan, sementara Arlo justru membenci langit akibat pengkhianatan mantan tunangannya yang merupakan seorang pramugari. Luka lama tersebut membuat Arlo yang dulu hangat kini menjadi sosok yang dingin. Profesi Liora sebagai pramugari pun membangkitkan trauma mendalam pada diri Arlo. Di tengah kebencian dan kenangan masa kecil, mampukah cinta mereka menyembuhkan luka Arlo?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, suasana di meja makan rumah Liora terasa sangat canggung. Mamanya hanya mengaduk-aduk bubur ayam tanpa minat, sementara Liora sibuk mengikat rambutnya dengan gerakan kasar. Kejadian di restoran semalam masih membekas jelas, seperti luka bakar yang belum kering. Liora bisa merasakan tatapan penuh tanya dari mamanya, tapi dia sengaja mengalihkan pandangan ke layar ponsel yang menampilkan jadwal terbang cadangan atau standby.

"Liora," panggil mamanya pelan. "Tante Ratna tadi pagi telepon lagi. Dia nangis-nangis minta maaf soal kelakuan Arlo. Katanya, Arlo memang berubah drastis sejak balik dari luar negeri dua tahun lalu. Tapi Tante Ratna nggak pernah cerita detailnya kenapa."

Liora menghela napas panjang, meletakkan sendoknya. "Ma, Liora nggak apa-apa. Cuma ya kaget aja. Arlo yang dulu kan nggak kayak gitu. Dia yang paling sopan, paling kalem. Sekarang kok kayak orang yang punya dendam kesumat sama seluruh dunia."

"Apa karena pekerjaan kamu, ya? Mama bingung, kok dia bawa-bawa soal 'melayani' di pesawat segala. Memangnya apa yang salah dengan jadi pramugari? Itu kan pekerjaan mulia," lanjut mamanya dengan nada tidak terima.

Liora terdiam. Kalimat Arlo semalam-kamu cuma versi lain dari orang yang pernah menghancurkan hidupku-terus terngiang-ngiang. Siapa perempuan itu? Liora tahu dia tidak bisa membiarkan masalah ini menggantung. Bukan karena dia naksir Arlo, setidaknya itu yang dia katakan pada dirinya sendiri, tapi karena dia tidak suka dituduh tanpa alasan yang jelas.

Setelah mamanya berangkat ke pasar, Liora memutuskan untuk bertindak. Dia tahu di mana kantor Arlo dari hasil pencariannya kemarin. Lazuardi Design terletak di kawasan perkantoran elit di Jakarta Selatan. Dengan mengenakan celana jins gelap dan kaos putih santai yang dibalut jaket denim, Liora berangkat. Dia sengaja tampil seadanya, jauh dari kesan glamor seorang pramugari yang biasanya dilihat orang.

Gedung kantor itu tampak sangat modern, dengan banyak kaca besar dan aksen kayu minimalis. Sangat mencerminkan selera Arlo yang dulu senang menggambar garis-garis tegas di buku sketsanya. Liora masuk ke lobi dan langsung menuju meja resepsionis.

"Selamat siang, saya mau ketemu Pak Arlo Dirgantara. Saya teman lamanya, Liora," ucapnya dengan nada setenang mungkin.

Resepsionis itu tersenyum sopan namun ragu. "Maaf, Mbak Liora, Pak Arlo sedang ada rapat penting. Apa sudah ada janji sebelumnya?"

"Belum, tapi ini penting banget. Saya bakal tunggu di sini sampai dia selesai," sahut Liora sambil menunjuk deretan kursi di pojok ruangan.

Liora menunggu selama dua jam. Dia melihat orang-orang kantoran berlalu lalang, mendengar percakapan soal desain maket, hingga akhirnya pintu lift terbuka dan sosok Arlo muncul. Pria itu sedang bicara serius dengan seorang pria paruh baya yang tampak seperti klien besar. Arlo terlihat sangat berwibawa, namun saat matanya tak sengaja menangkap sosok Liora yang duduk di pojok, langkahnya sempat terhenti.

Wajahnya langsung mengeras. Setelah menyalami kliennya dan mengantarnya sampai pintu depan, Arlo berjalan lurus menuju Liora. Dia tidak menyapa, hanya berdiri di depan Liora dengan tangan masuk ke saku celana.

"Kenapa kamu ke sini?" tanya Arlo, suaranya rendah dan penuh penekanan. "Aku pikir kata-kataku semalam sudah cukup jelas."

Liora berdiri, mencoba mensejajarkan tinggi badannya, meski dia tetap harus sedikit mendongak. "Kata-katamu jelas, tapi nggak masuk akal. Arlo, kita ini teman masa kecil. Kamu nggak bisa seenaknya datang, marah-marah, lalu nyuruh aku hilang cuma karena profesiku. Aku butuh penjelasan. Siapa yang bikin kamu jadi pengecut begini?"

"Pengecut?" Arlo tertawa sinis, tawa yang terdengar hambar. "Kamu nggak tahu apa-apa, Liora. Keluar dari sini sebelum aku panggil keamanan."

"Panggil aja! Biar semua karyawan kamu tahu kalau bos mereka ini trauma sama seragam biru," tantang Liora. Suaranya mulai naik, memancing perhatian beberapa staf di sekitar sana.

Arlo tampak panik sesaat. Dia tidak ingin ada keributan di kantornya. Dengan kasar, dia menarik lengan Liora menuju ruang kerjanya yang berada di lantai atas. Dia membanting pintu ruangannya setelah mereka masuk.

Ruangan itu sangat rapi, tapi terasa dingin. Di salah satu sudut meja, Liora melihat sebuah kotak kayu kecil yang sangat dia kenali. Itu kotak musik yang dulu mereka beli bersama di pasar malam saat masih SMP. Ternyata Arlo masih menyimpannya.

"Kamu masih simpan itu?" tanya Liora, suaranya melembut.

Arlo mengikuti arah pandang Liora dan langsung menyambar kotak itu, menyembunyikannya di balik tumpukan dokumen. "Itu bukan urusanmu. Sekarang katakan mau kamu apa, lalu pergi."

"Aku cuma mau tanya, kenapa kamu benci banget sama pramugari? Apa yang dilakuin perempuan itu sampai kamu nganggep aku sama kayak dia?"

Arlo terdiam lama. Dia berjalan menuju jendela besar yang menghadap jalanan Jakarta yang macet. Punggungnya tampak tegang. "Namanya Sheila. Dia pramugari di maskapai yang sama denganmu sekarang. Kami tunangan tiga tahun lalu. Aku bangun karir ini dari nol buat dia, buat masa depan kami. Tapi ternyata, selama aku lembur mati-matian di kantor, dia asik bersenang-senang sama pilotnya di setiap kota tempat dia mendarat."

Suara Arlo bergetar saat melanjutkan. "Dia ninggalin aku lewat pesan singkat pas aku lagi nunggu dia di restoran buat ngerayain ulang tahun hubungan kami yang ke-5. Dia bilang, laki-laki yang cuma duduk di depan komputer nggak akan pernah bisa kasih dia kemewahan yang bisa dikasih oleh dunia penerbangan. Sejak hari itu, setiap kali aku lihat seragam itu, aku cuma lihat pengkhianatan."

Liora tertegun. Dia tidak menyangka lukanya sedalam itu. Dia merasa bersalah karena sudah marah-marah tadi, tapi di saat yang sama, dia merasa ini tidak adil bagi dirinya.

"Arlo... aku minta maaf soal Sheila. Tapi aku bukan Sheila. Aku kerja keras buat bantu Mama, buat sekolah adikku. Aku nggak pernah selingkuh, apalagi ngerendahin orang lain. Kamu nggak bisa pukul rata semua orang cuma karena satu orang jahat."

"Bagi kamu mungkin gampang ngomong gitu," Arlo berbalik, matanya berkaca-kaca namun penuh amarah. "Tapi buat aku, seragam itu adalah pengingat kalau aku nggak pernah cukup baik. Sekarang pergi, Liora. Kembalikan kotak musik itu kalau kamu ketemu di jalan, tapi jangan pernah datang ke kantor ini lagi."

Liora melihat kotak musik yang diletakkan Arlo kembali di meja. "Aku nggak akan ambil kotak itu. Itu punya kamu. Tapi aku juga nggak akan pergi cuma karena kamu takut. Kita teman, Arlo. Dan aku bakal buktiin kalau langit nggak selalu bawa kabar buruk."

Tanpa menunggu jawaban, Liora berbalik dan keluar dari ruangan itu. Di dalam lift, dia bersandar pada dinding kaca, napasnya terasa berat. Dia baru saja menyadari bahwa menghadapi Arlo bukan sekadar urusan meluruskan salah paham, tapi soal menyembuhkan jiwa yang sudah hancur berkeping-keping.

Sementara itu di ruangannya, Arlo kembali mengambil kotak musik itu. Dia memutarnya pelan, mendengarkan denting melodi yang sudah mulai tidak beraturan. Dia membenci Liora, atau setidaknya dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk membencinya. Namun, aroma parfum Liora yang tertinggal di ruangan itu entah kenapa justru membuatnya merasa sedikit lebih tenang daripada biasanya.

Liora berjalan keluar gedung dengan langkah mantap. Dia punya rencana. Dia tahu bahwa trauma Arlo tidak akan hilang dalam semalam, tapi dia juga tahu bahwa Arlo masih menyimpan kotak musik itu artinya masih ada bagian dari pria itu yang merindukan masa lalu mereka yang bahagia. Dan Liora bertekad untuk menarik Arlo kembali ke masa itu, meskipun dia harus melakukannya sambil tetap mengenakan seragam yang paling dibenci pria itu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alice and The Blue Sea
8.6
Nyawa Alice terselamatkan dari gulungan ombak maut berkat aksi heroik Archer. Sosok misterius penolongnya itu ternyata adalah duyung jantan, fakta luar biasa yang baru Alice percayai setelah menyentuh ekor berototnya sendiri. Usai kejadian ajaib tersebut, Archer meminta bantuan kepada Alice. Akankah kehidupan tenang Alice berubah sepenuhnya setelah terikat takdir dengan sang penghuni samudra? Ikuti kisah fantasi romantis modern yang penuh keajaiban ini.
Sampul Novel Balas Dendam dari Ayahnya Sahabat
7.8
Akibat tindakan ayahnya yang menyakiti putri Om Charlie, seorang wanita harus menanggung konsekuensi pahit sebagai alat pembalasan dendam. Ia dipaksa tunduk pada kemauan pria paruh baya tersebut dalam situasi yang merendahkan harga dirinya. Di saat yang sama, suara kemesraan antara ayahnya dan sahabatnya terdengar dari kamar sebelah. Terjebak dalam lingkaran dendam keluarga yang rumit ini, ia hanya bisa pasrah dan membiarkan Om Charlie memperlakukannya sesuka hati tanpa daya untuk melawan.
Sampul Novel Bunga yang Tumbuh di Kegelapan
8.0
Tragedi kelam merusak hari pernikahan Laras Pradipta dan Kevin. Sang ayah mertua mengakhiri hidupnya di kamar pengantin mereka, meninggalkan surat wasiat yang menuduh Laras sebagai pembunuh. Didorong dendam membara, Kevin bersumpah membuat hidup Laras menderita. Laras pun jatuh miskin menjadi gelandangan, kehilangan kewarasan serta suaranya dalam kesengsaraan yang teramat sangat. Namun, saat Laras telah hidup lebih rendah dari seekor anjing, penyesalan mendalam justru mulai menghantui Kevin.
Sampul Novel Dendam yang Terpendam: Cinta Sang CEO Terhalang Takdir
7.9
Zeesya Aleena Lawrence terbangun dari koma panjang dan mendapati pacarnya berkhianat. Di masa sulit ini, ia jatuh cinta pada pria misterius yang sangat mencintainya. Sialnya, kebahagiaan itu sirna saat rahasia masa lalu terbongkar. Pria tersebut rupanya dalang di balik tragedi berdarah yang menimpa keluarga Zeesya. Kini, ia menghadapi pilihan sulit antara menjaga cintanya atau menuntut balas atas takdir tragis keluarganya.
Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Jasmine Bintang, yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, kerap mengecewakan sang ibu. Harapan indahnya untuk bahagia bersama Ardan Mahendra, suaminya yang sukses, sirna ketika keluarga Ardan terus merendahkannya. Kehadiran Anindya, mantan kekasih Ardan yang membongkar kepalsuan pernikahan mereka, kian memperparah penderitaan Jasmine. Saat Jasmine memilih bercerai demi harga dirinya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya.
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
8.4
Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.