APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mendadak Jadi Ibu Susu Anak Atasanku

Mendadak Jadi Ibu Susu Anak Atasanku

Kehidupan Mariana runtuh akibat pengkhianatan sang suami dan kepergian bayinya. Saat terpuruk, bosnya yang baru menduda memohon agar Mariana bersedia menjadi ibu susu bagi sang anak. Walau sempat bimbang, tanggung jawab baru ini justru menyeretnya ke dalam konflik batin yang rumit. Kedekatan tak terduga pun mulai terjalin, menumbuhkan rasa cinta yang hadir di saat tidak tepat. Mampukah hubungan ini bertahan di tengah bayang-bayang trauma masa lalu dan keadaan yang serba salah?
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan harinya,

Langit kelabu menaungi pemakaman kecil itu, seolah turut berduka atas kehilangan Mariana. Rintik hujan jatuh perlahan, membasahi tanah merah yang masih basah oleh galian segar. Udara dingin menusuk, tapi tak sebanding dengan kehampaan yang menggerogoti hatinya.

Meski rasa sakit pasca operasi masih terasa, tetapi Mariana meneguhkan hatinya untuk mengantar bayinya ke peristirahatan terakhir.

Wanita itu duduk kaku di samping batu nisan, kedua tangannya saling mencengkeram erat di atas pangkuan. Mata sembabnya menatap kosong ke gundukan tanah merah yang baru saja ditutup. Di sanalah, di dalam bumi yang dingin itu, bayi yang seharusnya lahir dalam hitungan hari kini tertidur selamanya.

Suara ustaz terdengar khidmat saat ia membacakan ayat-ayat suci. Isak tangis pecah di antara keluarga yang hadir, tetapi Mariana sendiri hanya terdiam, tak mampu mengeluarkan suara.

'Sayang ... maafkan Mama.' Suara itu hanya terucap dalam hati Mariana.

Tidak ada air mata lagi yang bisa Mariana tumpahkan. Semuanya terasa hampa.

Di sisi lain, Bara berdiri dengan kepala tertunduk. Wajahnya menyiratkan penyesalan, tetapi Mariana tak ingin melihatnya. Sejak di rumah sakit, ia telah berkata dengan tegas bahwa pria itu tidak lagi memiliki tempat dalam hidupnya.

Bianca tak ada di antara mereka. Mariana bahkan tak ingin tahu di mana adiknya berada. Gadis itu tidak pantas berada di sini. Tak pantas menangisi bayinya yang tidak pernah bisa lagi Mariana genggam.

Di samping Mariana, ibunya sesekali menyeka air mata dengan ujung jarinya. Sang ayah berdiri di belakang mereka, wajahnya tegas namun matanya menyimpan duka yang mendalam.

Orang tuanya belum tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Belum tahu siapa yang telah mengkhianati Mariana.

Belum tahu bagaimana dalam satu malam, hidupnya hancur berantakan-kehilangan suami, kehilangan anak, kehilangan segalanya.

Dan Mariana tak tahu apakah ia sanggup memberi tahu mereka.

Pemakaman telah selesai, dan satu per satu pelayat pun bubar. Namun Mariana sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

Seorang perempuan setengah baya, ibu Mariana, menepuk pundaknya dengan lembut. "Mariana, kita pulang sekarang, hm?"

Mariana masih diam.

Pulang? Ke mana? Rumahnya sudah bukan rumah lagi.

Kamar yang telah ia persiapkan untuk bayi kecilnya dengan penuh cinta kini hanya menjadi ruang kosong yang menyimpan kepedihan. Dan kamar tidurnya bersama Bara hanya akan mengingatkannya pada pengkhianatan paling keji. Pria itu bergumul bersama adiknya tepat di atas kasur mereka.

Tanpa menjawab, Mariana hanya memandang tanah itu sekali lagi. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa serta bisikan yang entah berasal dari mana.

Ia menggigit bibir, menahan gejolak di dadanya.

Tatapannya tetap terpaku pada tanah basah itu, seolah berharap keajaiban bisa mengembalikan bayinya.

Namun, kenyataan tak sebaik itu.

Dengan langkah lemah, ia bangkit dari posisinya. Kakinya hampir tak sanggup menapak, seakan nyawanya sendiri ikut terkubur bersama bayinya.

Hari ini, Mariana bukan hanya kehilangan anaknya.

Hari ini, ia kehilangan segalanya.

***

Usai dari pemakaman, Mariana memilih pulang ke rumah orang tuanya. Setidaknya, masih ada tempat yang bisa dituju selain rumahnya bersama Bara.

Sepanjang perjalanan, Mariana menatap kosong jalanan di luar jendela mobil. Tidak ada percakapan yang terdengar di dalam kendaraan itu. Hanya deru napas yang bersahutan dalam keheningan.

Di samping Mariana, ibunya mengamati putri sulungnya itu dengan cemas. Sejak tadi malam, Mariana belum mengucapkan sepatah pun kata. Dan itu membuat ibunya merasa khawatir.

"Mariana," panggil ibunya.

Mariana menoleh ke samping, menatap ibunya dengan pandangan kosong. Bibirnya seakan terkunci, Mariana tidak mengucapkan apa pun.

Mata ibunya tampak berkaca-kaca. "Ibu mengerti kamu merasa sangat terpukul. Tapi, kamu harus kuat ya," ucapnya seraya menggenggam punggung tangan Mariana.

Kuat? Bagaimana ia bisa kuat di tengah semua hal yang memaksanya untuk hancur?

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai ayah Mariana memasuki halaman rumah. Begitu kendaraan berhenti, Mariana langsung turun dan melangkah masuk ke dalam kamarnya saat masih gadis dulu.

Mariana duduk di ujung ranjang dengan tatapan kosong. Tubuhnya masih terasa lemah, tetapi ada sesuatu yang lain-sensasi nyeri di dadanya.

Mariana menunduk. Pandangannya jatuh pada noda basah di bajunya. ASI.

Meskipun bayinya sudah tiada, tubuhnya masih mengira ada kehidupan yang harus ia beri makan. Tangannya gemetar saat menyentuh dadanya, dan tanpa bisa ditahan, tangisnya pecah lagi.

Bahkan setelah kehilangan segalanya, tubuhnya masih mengingat bahwa ia adalah seorang ibu.

Namun, kini tak ada lagi bayi yang bisa disusuinya.

"Ya Tuhan ...," lirih Mariana di sela isak tangisnya.

Ketukan pelan terdengar sebelum pintu perlahan terbuka. Di ambang pintu, ibunya berdiri sejenak sebelum melangkah masuk. Mata perempuan itu masih sembap, tetapi raut wajahnya tetap lembut saat menatap putrinya yang duduk diam di tepi ranjang.

"Mariana," panggilnya lirih. "Di luar ada Bara. Dia ingin bicara denganmu."

Mariana tidak langsung bereaksi. Ia tetap diam dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti di pipinya. Kepalanya terasa berat, pikirannya pun masih kacau. Perasaan sesak masih mengunci dadanya rapat-rapat.

Sang ibu melangkah lebih dekat, lalu duduk di sampingnya dengan ragu-ragu. Jemarinya menyentuh punggung tangan Mariana, mencoba memberikan sedikit kenyamanan.

"Apa kalian bertengkar?" tanya ibunya hati-hati.

Selama ini ia jarang sekali melihat Mariana mengabaikan suaminya itu. Sekali pun mereka bertengkar, dengan sifat Mariana yang berhati lembut, putrinya itu bahkan masih memperhatikan Bara.

Tapi kali ini ada yang berbeda. Mariana benar-benar mengabaikan Bara, bahkan terlihat tak sudi untuk menatapnya.

Mariana tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah kata-kata ibunya tidak sampai ke telinganya. Hening menyelimuti ruangan, hanya terdengar napas lirih di antara keduanya.

Setelah beberapa saat, Mariana akhirnya menoleh, menatap ibunya dengan mata sayu yang penuh luka. Suaranya nyaris tidak terdengar ketika ia berkata, "Aku akan menemui Bara."

Ibunya mengangguk pelan, namun raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ia berdiri dan mengekori Mariana yang perlahan bangkit dari ranjang. Dengan langkah lemah, Mariana berjalan keluar dari kamar dan membiarkan ibunya mengikuti dari belakang.

Begitu tiba di ruang tengah, pandangannya langsung bertemu dengan Bara yang duduk di samping ayahnya. Pria itu tampak lelah, matanya merah seperti baru saja menangis. Namun Mariana sama sekali tidak peduli.

Ia tidak ingin mencari tahu apakah Bara benar-benar menyesali perbuatannya atau tidak. Baginya, semua itu sudah tidak ada artinya lagi. Kenyataan bahwa Bara membunuh anak mereka sama sekali tidak bisa ditepis begitu saja oleh Mariana.

Mariana berhenti tepat di depan Bara. Tanpa basa-basi, ia membuka mulut dan mengucapkan kata yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya dengan lantang.

"Aku ingin bercerai."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DILEMA CINTA SEGITIGA
9.3
Pernikahan Marlon dan Sarah terikat oleh urusan bisnis, tanpa cinta. Diam-diam, keduanya memiliki kekasih gelap. Demi bercerai cepat, Sarah berencana menghancurkan nama baik Marlon. Namun, ia malah terbakar cemburu saat melihat suaminya bermesraan dengan Natalia. Kini, Marlon berada di posisi sulit karena istri dan selingkuhannya sama-sama menolak untuk pergi. Ia pun didera kebimbangan besar dalam menentukan pilihan hidupnya.
Sampul Novel Langit & Senja
8.4
Dalam romansa remaja ini, sosok Senja adalah bagian krusial bagi kehidupan Langit. Hubungan erat mereka melahirkan harapan besar agar kebersamaan ini abadi tanpa ada yang berubah. Melalui dinamika emosi yang mendalam, perjuangan Langit untuk mempertahankan Senja di sisinya begitu terlihat. Ia sangat meyakini bahwa takdir telah mengikat mereka untuk terus melangkah bersama dalam satu kesatuan yang utuh selamanya.
Sampul Novel Operasi Rahasia, Dokter Sadis
8.5
Didorong keinginan untuk menyenangkan sang kekasih, seorang wanita mengambil keputusan besar untuk menjalani prosedur bedah plastik pada area intimnya. Namun, keputusan ini membawanya ke dalam situasi yang tidak terduga. Saat berada di ruang pemeriksaan, di bawah kendali sang dokter yang dingin, batas-batas dirinya mulai memudar. Di atas ranjang pasien itu, ia menghadapi momen menegangkan yang membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri dalam misteri medis yang membingungkan.
Sampul Novel Pelabuhan Terakhir
9.5
Caca, seorang yatim piatu yang terasing di kediaman pamannya, harus menghadapi kenyataan pahit ketika lamaran Awan ditolak calon ibu mertua akibat perbedaan status sosial. Setelah neneknya wafat, ia memutuskan pergi ke pesantren di Purwokerto demi menunaikan wasiat sang ibu. Di lingkungan baru ini, Caca yang tomboy dan ceria dapat mengekspresikan dirinya secara bebas. Namun, pertemuannya dengan seorang rival justru menjeratnya dalam pusaran konflik asmara yang rumit dan penuh emosi.
Sampul Novel Ritual Birahi Digunung Keramat
8.5
Di puncak Gunung Keramat, Ujang terdiam saat Mbak Wati merapalkan mantra terakhir. Jantungnya berdegup kencang ketika tubuhnya direbahkan secara paksa. Inilah saat yang dinanti: sebuah upacara gaib yang menjadikan keperjakaannya sebagai persembahan. Tanpa ragu, ia rela mengorbankan kesuciannya demi imbalan kepuasan duniawi. Sambil tersenyum penuh damba, Mbak Wati merayap di atas tubuh Ujang yang kaku, memulai ritual penuh gairah dan misteri.
Sampul Novel YAKUZA IN LOVE
9.5
Dunia normal Kanae yang baru berusia 17 tahun runtuh ketika sang kakek, Iyoto Matsumoto, memaksanya memimpin kelompok Yakuza yang berbahaya. Kini, ia harus bertahan hidup di Jepang di bawah bimbingan mentornya, Haru Shima, demi menghadapi ancaman musuh. Di sekolah, takdir mempertemukannya dengan Daiki Koga, berandal sekolah yang sangat ditakuti. Bersama Daiki, Kanae mulai menelusuri sisi kelam dunia mafia yang kini menjadi realitas barunya yang penuh dengan konflik.