APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mencintai Musuh Keluargaku

Mencintai Musuh Keluargaku

Ketegangan klan Nocturn dan Dravein di Ravenbrook memuncak ketika Isabelle Greystone tersesat di area musuh. Di sana, ia bersua River Blackwood, vampir Nocturn yang langsung jatuh hati tanpa menyadari siapa Isabelle sebenarnya. Begitu kebenaran terungkap, pertempuran hebat antar keluarga pun pecah. Diuji oleh pertumpahan darah dan loyalitas, akankah hubungan asmara terlarang mereka selamat, atau justru binasa akibat takdir permusuhan kuno yang kejam?
Bab
Bagikan

Bab 2

Seorang pria terbangun dengan tiba-tiba begitu mimpinya berakhir. Dengan hati-hati, ia menyingkirkan tangan wanita yang tidur di sampingnya dari bahunya, lalu bergegas ke lemari, mengambil sketsa dan pensil.

Hari ini, dia melihat bibirnya. Bibir yang indah dan menggoda.

Mimpi-mimpi ini semakin tidak beraturan, dan itu membuatnya gelisah karena dia sangat menyukai setiap pertemuan dengan seseorang ini. Namun, pria pirang itu tidak pernah bisa melihat wajahnya secara utuh. Kadang hanya bibirnya, kadang hanya rambut hitamnya yang indah, atau jika dia cukup beruntung, dia bisa melihat matanya.

Bola mata hitam dengan bias coklat yang besar dan lembut.

Dia mencintai matanya. Dia terobsesi dengan matanya.

Mata itu begitu penuh dengan kepolosan. Warnanya begitu berbeda-seperti sinar matahari hangat yang menyebar di langit saat fajar menyingsing. Mata itu memancarkan cinta yang murni, kepedulian, ketulusan, serta kilatan nakal yang samar.

Sayangnya, mata itu tidak ada dalam kenyataan. Mata yang begitu memukau seperti itu sepertinya mustahil untuk benar-benar ada.

Pria itu mulai menggambar bibir yang baru saja dia lihat dalam mimpinya.

"Siapa dia?" suara nyaring menusuk telinganya.

Ugh! Wanita disampingnya sudah bangun.

Dia benar-benar tidak suka ketika mereka mulai berbicara. Tapi hari ini, suasana hatinya sedang cukup baik. Setelah seminggu penuh, akhirnya dia bisa melihat "dia" lagi dalam mimpinya.

"Aku tidak tahu," jawabnya singkat.

Pria itu, River Blackwood membuka halaman lain di bukunya, menatap gambar mata yang ia sketsa sebulan lalu. Gambar itu sudah hampir sempurna, tetapi tetap saja, rasanya belum cukup untuk menangkap keindahan aslinya.

"River?" suara wanita itu kembali memanggil, berusaha menarik perhatiannya.

"Amy! Kembali ke tempat tidur," perintahnya. "Atau, kita sudahi saja untuk malam ini. Aku sudah cukup mendapatkan darah, dan aku pun sudah merasa puas. Sebaiknya kau pergi."

"Tapi ini masih tengah malam."

"Aku bilang pergi."

Amy mendengus kesal, lalu menggumamkan sesuatu pelan sebelum mengambil pakaiannya dan pergi.

River membuka kembali buku catatannya. Ini mulai terasa konyol.

Sudah dua tahun sejak ia mulai melihatnya. Ia bahkan pernah menceritakan tentang "dia" kepada Martha-pasangan sahabatnya yang juga seorang penyihir. Namun, bahkan Martha pun tak bisa mengetahui siapa sebenarnya wanita itu.

Mimpi-mimpi tentangnya mulai menghilang enam bulan lalu, dan itu membuatnya panik. Ia sudah terlanjur terikat padanya. Karena itu, setiap kali melihatnya, ia akan segera membuat sketsa wajahnya.

Ryan, adiknya, mengatakan bahwa wanita itu hanyalah bayangan dari imajinasinya. Namun, entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang menghubungkan mereka begitu dalam.

River meletakkan buku catatannya di meja samping, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur. Ia berharap bisa memimpikannya lagi malam ini.

*****

Isabelle menghentikan mobilnya di depan rumah kakaknya. Sebelum keluar, ia memeriksa lip gloss di cermin. Dengan senyum ramah kepada penjaga gerbang, ia bergegas menuju aula. Seperti biasa, ia terlambat lagi.

Begitu masuk, ayahnya, Robbin, menatapnya tajam. Isabelle segera menyadari bahwa semua kakaknya sudah hadir. Matanya mencari sosok ibunya, tetapi tidak menemukannya. Pasti ibunya sedang menghadiri pertemuan lagi setelah mengantarnya ke rumah Wali Kota untuk kompetisi.

"tuan dan nyonya sekalian!" suara ayahnya menggelegar. "Ini putri bungsuku, Isabelle, dan sekarang dia akan menjelaskan kenapa dia terlambat... lagi."

Isabelle menatap orang-orang yang duduk di seberang meja.

Bagus, pikirnya. Keluarga vampir lagi.

"Hai... Aku... um... Aku sibuk mempersiapkan kompetisi Miss Ravenbrook. Aku... Aku bersama Ibuku," ucapnya dengan gugup, menundukkan kepala.

Isabelle tidak takut. Bagaimanapun, ia juga seorang vampir. Ia berasal dari salah satu keluarga vampir paling berkuasa di dunia, The Dravein.

Ayahnya, Robbin, telah hidup lebih dari seribu tahun dan merupakan salah satu vampir paling ditakuti di planet ini. Ibunya, Maria, adalah istri kedua ayahnya, seorang vampir yang baru berusia sekitar tiga puluh tahun sejak berubah. Istri pertama ayahnya tewas dalam perseteruan dengan keluarga vampir di seberang perbatasan.

Isabelle adalah adik bungsu dari tiga vampir paling mematikan di dunia-Kevin, David, dan Rhea. Meskipun mereka hanya saudara tiri, hubungan mereka tetap sangat dekat.

Dia merasakan Rhea menggenggam tangannya di bawah meja, memberikan dukungan.

"Mereka adalah keluarga Storm," kakaknya, Kevin, memperkenalkan. Isabelle mendongak untuk menyapa.

"Hai!" katanya dengan senyum ramah kepada para vampir yang duduk di seberang mereka.

Isabelle tetap diam sementara kedua keluarga mendiskusikan perjanjian aliansi dengan keluarga Storm. Saat ia mengangkat kepala, matanya bertemu dengan seorang vampir tampan berambut coklat madu yang menatapnya dengan penuh minat.

"Kami akan mendukung kalian melawan The Nocturn jika terjadi pertempuran. Meskipun, kurasa mereka tidak akan berani," jawab Darren Storm, vampir yang sejak tadi memperhatikannya, ketika ayahnya mengarahkan pertanyaan kepadanya.

"Aku tahu mereka tidak akan berani. Meskipun mereka memiliki keuntungan dengan menanam pohon ek, mereka masih terlalu muda. Jika sampai terjadi pertarungan, bahkan jika mereka bersatu, mereka tetap tidak bisa mengalahkanku," kata ayahnya dengan nada profesional.

"Aku lebih tua dan lebih kuat. Lagi pula, mereka sebenarnya belum melanggar perjanjian, tapi Kevin ingin kita bersiap-siap, untuk berjaga-jaga."

"David berhasil menyudutkan salah satu dari mereka beberapa hari yang lalu. Kami menemukan fakta bahwa mereka kini memiliki dukungan dari para penyihir Rowena, dan para manusia serigala," tambah Kevin.

"Hal itu cukup mengkhawatirkan. Meskipun mereka mungkin tidak berencana menyerang dalam waktu dekat, aku rasa kita tetap harus bersiap."

Darren Storm dan Jack Storm mengangguk. Sebuah dentuman keras mengalihkan perhatian mereka.

Mata semua orang langsung tertuju pada sumber suara itu-Jennifer Evergreen tengah berusaha menahan seperangkat porselen agar tidak jatuh dari rak. Namun, tangannya secara tidak sengaja menyenggol piring-piring di sana, menyebabkan rak itu roboh bersama seluruh isinya. Suara pecahan bergema di ruangan.

Tepat sebelum pecahan porselen melukai Jennifer, Kevin berlari ke sisinya dengan kecepatan vampir dan menariknya menjauh, menyelamatkannya dari cedera-meskipun, seandainya terluka, itu tidak akan permanen.

Jennifer adalah seorang vampir dan lukanya akan sembuh dengan cepat. Namun, Kevin adalah pasangannya. Vampir pria terkenal sangat protektif terhadap pasangan mereka.

"Dia memang vampir paling ceroboh di dunia," ujar David sambil tertawa.

"Sayang!" Kevin berkata sambil melingkarkan lengannya di pinggang Jennifer. "Aku sudah bilang untuk tetap di dalam kamar."

"Kevin," Jennifer mendesah kesal. "Aku ini istrimu, bukan budakmu. Aku wanita mandiri yang bisa melakukan apa pun yang ku mau, aku menolak untuk diperintah-perintah."

Jika ada satu hal yang paling Jennifer benci, itu adalah diperintah. Ironisnya, ia menikah dengan pria yang senang mengatur orang lain.

"Dan aku juga sudah bilang, bersihkan cangkirmu setelah minum. Aku benci noda darah di cangkir baruku. Sudah diputuskan, kau tidak akan menggunakan cangkir baru lagi. Aku butuh sepuluh menit untuk menggosoknya sampai bersih... Oh! Kita punya tamu..." katanya, akhirnya menyadari keberadaan Darren dan Jack yang tampak terhibur dengan celotehannya.

"Hai! Aku Jennifer Evergreen-Greystone," katanya sambil tersenyum.

"Dia adalah mate ku," Kevin menambahkan.

"Bukankah aku sudah bilang untuk tidak memanggilku seperti itu?" gerutu Jennifer. "Mate, kedengarannya aneh, bukan? Aku ini istrimu, Kevin. Istri. Gunakan istilah manusia. Aku tahu kita melakukan semacam pernikahan vampir aneh dan sekarang aku jadi milikmu, tapi aku tetap independen. Aku lebih suka kau memanggilku istri daripada pasangan."

Kevin menunduk, sedikit malu. Ia adalah vampir yang dulu membuat dunia gemetar ketakutan, tapi kini justru diomeli oleh istri vampirnya yang baru saja berubah.

"Isabelle!" serunya sambil mengertakkan gigi. "Belle! Bisa kau temani istriku tercinta? Aku ada urusan penting yang harus didiskusikan dengan Tuan Storm di sini."

"Hebat!" Jennifer mengoceh sambil berbalik, diikuti oleh Isabelle. "Abaikan saja aku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa mencintaimu."

Rhea bersyukur Kevin tidak memilihnya untuk menemani Jennifer, terutama saat suasana hatinya seperti ini. Rhea memang tidak pernah akur dengan vampir pirang itu. Isabelle, sebaliknya, bisa bergaul dengan siapa saja, termasuk Jennifer, karena mereka telah berteman sejak kuliah.

Kevin pertama kali bertemu Jennifer saat mengunjungi Rhea di kampus. Saat itu, Jennifer hanyalah sahabat Isabelle, tetapi Kevin langsung jatuh hati padanya. Jennifer mengetahui segalanya dan dengan sukarela berubah demi Kevin. Setelah itu, Kevin menjadikannya pasangannya.

Meskipun mereka telah terikat selamanya oleh hukum vampir, Jennifer tetap menginginkan pernikahan manusia. Mereka memang sudah menikah secara hukum, tetapi Jennifer menginginkan pernikahan yang sesungguhnya. Kevin, yang tergila-gila padanya, dengan senang hati memenuhi keinginannya.

Jennifer juga ingin mengundang semua kerabatnya yang masih sepenuhnya manusia. Namun, untuk melindungi mereka dari ancaman The Nocturn-keluarga rival mereka dari seberang perbatasan-mereka membutuhkan bantuan. Itulah tujuan pertemuan yang diadakan hari ini. Bagi The Dravein, keluarga adalah segalanya. Mereka rela mati dan membunuh demi satu sama lain.

"Aku tidak mengerti kenapa ini jadi masalah besar, sayang," Jennifer mengoceh, dan Kevin harus menahan senyum. "Maksudku, baiklah, The Nocturn memang berbahaya, tapi tidakkah kita bisa, kau tahu, pergi ke perbatasan dan berbicara baik-baik dengan mereka? Meminta mereka untuk tidak menjadikan keluargaku santapan makan siang? Kita bahkan bisa mengundang mereka ke pernikahan. Itu pasti keren. Permusuhan berabad-abad bisa berakhir hanya dengan sikap ramah kita."

Dia begitu polos dengan cara yang begitu indah.

"Itu tidak sesederhana itu, Jennie," kata Isabelle sambil bersandar di pagar atap. "Mereka adalah musuh kita."

"Aku tahu... aku tahu... permusuhan berabad-abad..." Jennifer menghela napas.

Isabelle mengangguk.

Jennifer menyandarkan tubuhnya, mengingat saat Isabelle pernah menjelaskan sejarah mereka kepadanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bulan di Darah Awan
9.8
Cahaya merah abadi kini menyelimuti dunia, membawa penderitaan darah dan kesedihan mendalam. Di tengah perjuangan menjaga kewarasan, sebuah pertemuan singkat justru membuka kembali luka lama. Meski ada ikatan yang terasa berbeda, kebencian masa lalu menciptakan atmosfer menyesakkan. Rahasia yang terpendam memicu amarah besar hingga hubungan yang baru terjalin ini terancam hancur, menyisakan rasa sesak yang tak terlukiskan.
Sampul Novel Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed
8.5
Di balik tembok megah Cachtice Castle, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed menyimpan rahasia kelam yang mengguncang Eropa Timur abad ke-15. Dituduh membunuh lebih dari 600 gadis muda dalam ritual mandi darah demi menjaga kecantikannya, ia menjadi legenda paling menakutkan dalam sejarah Hongaria. Raja Matyas memerintahkan Gyorgy Thurzo menyelidiki laporan kekejaman yang melibatkan ritual bebas dan pembunuhan sadis di dalam kastilnya. Saat para pembantunya dijatuhi hukuman mati, status bangsawan melindungi sang countess dari eksekusi. Ia justru dikurung di kastilnya sendiri, hidup dalam isolasi hingga akhir hayatnya pada 21 Agustus 1614. Kisah ini adalah fiksi yang terinspirasi dari sejarah kelam Blood Countess—cikal bakal legenda vampir Eropa, disajikan sebagai roman gelap yang mencekam dan penuh gairah terlarang.
Sampul Novel Kaum Terakhir (Pembalasan Dendam)
8.8
Demi kedamaian abadi, dunia menuntut pemusnahan total kaum kegelapan. Di tengah kerumunan yang haus darah, seorang gadis dirantai erat, menghadapi kebencian massa yang menginginkan kematiannya. Sorak amarah terus mendesak agar nyawanya segera dilenyapkan. Namun, saat eksekusi mati tampak tak terelakkan, sebuah teriakan tegas memecah keputusasaan. Sosok penyelamat tiba-tiba muncul membela sang ratu, mengubah takdir tragis yang semula sudah berada di depan mata.
Sampul Novel MERMAID AS ALPHA'S DESTINY
9.5
Demi menyelamatkan kaum werewolf dari kepunahan, Billy sang calon raja harus mencari Catalina, reinkarnasi putri duyung Althaia. Takdir menyatukan mereka di dunia modern, namun cinta mereka terhalang rintangan mematikan. Billy membutuhkan Catalina untuk mendapatkan kekuatan, tetapi hubungan fisik dapat merenggut nyawa Catalina jika ia terlambat kembali ke air. Di bawah ancaman vampir dan monster, keduanya harus berjuang bersatu demi klan tanpa saling mengorbankan.
Sampul Novel OBSESI CINTA MANUSIA VAMPIR
9.4
Kehidupan damai Aleeta seketika sirna sejak Leon, pria asing misterius, menerobos masuk ke kamarnya. Sambil mengintimidasi dan mengancam Aleeta, Leon menuntut tempat persembunyian dari kejaran sekelompok pria berbadan besar yang mengincarnya. Keadaan kian menegangkan saat Leon nekat mencium paksa Aleeta. Kini, Aleeta terjebak dalam bahaya besar, terperangkap di antara ancaman luar dan misteri identitas gelap Leon yang perlahan mulai mengintai keselamatannya.
Sampul Novel The Cruel Prince
8.4
Nathasya terjebak dalam penderitaan akibat cinta pertama yang kini berubah menjadi obsesi kelam. Kehidupannya kini dikuasai oleh seorang pria kejam yang gila kendali dan pemenuhan hasrat seksual. Demi memilikinya seutuhnya, sosok maniak itu tidak ragu menggunakan kekerasan fisik maupun batin. Di tengah siksaan keji yang terus menderanya, seluruh impian masa depan Nathasya perlahan hancur dan lenyap. Akankah ia sanggup bertahan melewati segala penderitaan tanpa akhir ini?