APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mencintai Monster yang Kupanggil Suami

Mencintai Monster yang Kupanggil Suami

Elara memaksakan pernikahan sepihak dengan Julian, cinta pertamanya, lewat pengaruh besar keluarganya. Tiga tahun berlalu dalam dinginnya kebencian Julian yang merasa terbelenggu. Sadar kasih sayangnya hanya membawa luka, Elara memutuskan mundur dan lenyap tanpa jejak. Kepergian mendadak ini justru menyisakan kekosongan mendalam di hati Julian. Benarkah kebebasan ini yang ia dambakan, ataukah rasa benci yang selama ini ia pelihara sebenarnya adalah cinta?
Bab
Bagikan

Bab 3

Elara menatap koper yang sudah terbuka di atas tempat tidur. Tangannya gemetar saat dia melipat satu per satu pakaian yang tidak terlalu mencolok. Dia sengaja tidak menyentuh gaun-gaun rancangan desainer ternama atau tas kulit buaya yang berderet di rak kaca. Semua itu adalah simbol "Elara sang Putri Konglomerat," identitas yang selama ini dia gunakan untuk menutupi lubang besar di hatinya. Tapi hari ini, dia tidak ingin menjadi putri siapa pun. Dia hanya ingin menjadi manusia yang tidak perlu merasa takut akan dihina setiap kali membuka mulut.

Dia berjalan ke arah meja rias, mengambil sebuah kotak kecil berisi obat sakit kepala yang sudah hampir habis. Selama berbulan-bulan, kepalanya terus berdenyut karena kurang tidur dan tekanan batin, tapi Julian tidak pernah tahu. Julian hanya tahu cara mencaci, bukan cara bertanya "apakah kau baik-baik saja?".

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di lorong. Jantung Elara seolah melompat ke tenggorokan. Itu langkah Julian. Pria itu biasanya tidak pulang secepat ini. Dengan gerakan panik, Elara mendorong kopernya ke bawah kolong tempat tidur dan menutupinya dengan sprei yang menjuntai. Dia segera duduk di tepi ranjang, mencoba mengatur napasnya yang memburu.

Pintu kamar terbuka dengan kasar. Julian berdiri di sana, masih memakai kemeja yang sama dengan yang dia pakai saat membuang makan siang Elara tadi siang. Wajahnya terlihat berang, lebih merah dari biasanya.

"Mana berkas asli proyek pengembangan di pelabuhan?" tanya Julian tanpa basa-basi. Suaranya menggelegar di kamar yang sunyi itu.

Elara mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Ada di brankas ruang kerja bawah. Kenapa? Bukannya kau sudah punya salinannya?"

Julian melangkah mendekat, auranya begitu mengancam. "Ayahmu menahan tanda tangan persetujuan terakhir. Dia bilang, dia hanya akan menandatanganinya kalau aku membawamu makan malam ke rumahnya malam ini. Kau yang merencanakan ini, kan? Kau mengadu padanya soal kejadian di kantor tadi?"

Elara tertawa getir. "Mengadu? Julian, kalau aku mau mengadu, aku sudah melakukannya sejak tahun pertama kita menikah. Aku tidak perlu menunggu sampai kau mempermalukanku di depan Clara hanya untuk bicara pada ayahku."

"Jangan sebut namanya dengan mulutmu yang kotor itu!" bentak Julian. Dia menunjuk wajah Elara dengan telunjuknya. "Aku tahu taktikmu. Kau pura-pura jadi korban, lalu lari ke pelukan ayahmu agar dia bisa menekanku lagi. Kau pikir dengan cara ini aku akan mencintaimu? Yang ada aku makin jijik melihatmu!"

Elara merasakan sesuatu pecah di dalam dirinya. Bukan lagi rasa sedih yang membuatnya ingin menangis, tapi rasa lelah yang luar biasa. Dia berdiri, menatap tepat ke mata Julian, sesuatu yang jarang dia lakukan karena biasanya dia selalu menunduk ketakutan.

"Kalau begitu, jangan pergi," kata Elara datar.

Julian tertegun sejenak. "Apa?"

"Kalau kau merasa ditekan, jangan datang ke makan malam itu. Biarkan ayahku menarik investasinya. Biarkan perusahaanmu goyah. Bukankah itu yang kau mau? Kebebasan? Ambil saja kebebasanmu, Julian. Jangan salahkan aku atas pilihan yang kau ambil sendiri karena kau terlalu takut kehilangan hartamu."

Julian terpaku. Dia tidak menyangka Elara akan menjawab setegas itu. Biasanya, wanita di depannya ini akan memohon maaf atau mencoba menjelaskan dengan suara yang gemetar. Tapi kali ini, mata Elara terlihat... kosong. Tidak ada lagi binar pemujaan yang biasanya membuat Julian merasa muak sekaligus berkuasa.

"Kau berani mengancamku sekarang?" desis Julian, mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan amarah.

"Aku tidak mengancam. Aku hanya memberimu pilihan. Aku capek, Julian. Aku mau istirahat," Elara berbalik, membelakangi Julian, sebuah tanda bahwa dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan.

Julian mendengus kasar, menendang kursi kecil di dekat meja rias hingga terjatuh, lalu keluar dari kamar sambil membanting pintu. Suara dentumannya bergema, menyisakan kesunyian yang mencekam.

Begitu keadaan aman, Elara kembali menarik kopernya. Dia tidak punya banyak waktu. Julian mungkin akan pergi ke rumah ayahnya sendirian atau kembali ke kantor untuk meluapkan amarahnya. Ini adalah kesempatannya.

Dia mengambil selembar kertas dan pulpen. Dia ingin menulis surat yang panjang, menjelaskan betapa dia sangat mencintai pria itu sejak mereka masih bermain di taman belakang rumah belasan tahun lalu. Dia ingin menulis bagaimana dia selalu menyimpan foto masa kecil mereka di dalam dompetnya. Tapi setelah menulis beberapa kata, dia meremas kertas itu.

Tidak ada gunanya. Bagi Julian, kata-katanya adalah sampah. Penjelasannya adalah kebohongan.

Dia akhirnya hanya menulis satu kalimat pendek di atas kertas putih bersih: "Aku mengembalikan kebebasanmu. Jangan cari aku."

Elara meletakkan kertas itu di atas bantal Julian, tepat di samping cincin pernikahannya. Dia merasa seperti sedang melepaskan bagian dari nyawanya, tapi dia tahu jika dia tidak pergi sekarang, dia akan mati perlahan-lahan di rumah ini.

Dengan langkah pelan, dia menyeret kopernya keluar kamar. Dia melewati lorong yang penuh dengan foto-foto pernikahan mereka-foto-foto yang semuanya terasa seperti kebohongan besar. Dia turun melalui tangga pelayan di bagian belakang agar tidak terlihat oleh asisten rumah tangga yang mungkin masih terjaga di dapur.

Udara malam menyambutnya saat dia keluar lewat pintu samping. Dingin, tapi entah kenapa terasa sangat menyegarkan. Dia berjalan menuju gerbang samping, tempat dia sudah memesan taksi online dengan akun baru yang tidak terhubung dengan kartu kredit keluarganya. Dia menggunakan sisa uang tunai yang dia simpan di brankas pribadinya selama setahun terakhir-uang yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk keadaan darurat seperti ini.

Saat taksi itu bergerak menjauh dari gerbang rumah mewah tersebut, Elara menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Lampu di kamar utama masih menyala. Di sana, ada seorang pria yang sangat dia cintai, tapi juga pria yang paling banyak memberinya luka.

"Selamat tinggal, Julian," bisiknya pelan. Air mata akhirnya jatuh, satu tetes yang panas, namun kali ini rasanya berbeda. Ini bukan air mata permohonan, melainkan air mata perpisahan.

Di dalam taksi, Elara mengeluarkan kartu SIM ponselnya dan mematahkannya menjadi dua. Dia membuang potongan plastik kecil itu ke luar jendela. Dia tahu ayahnya bisa melacaknya dalam hitungan jam jika dia tetap menggunakan nomor itu. Dia harus benar-benar menghilang.

Dia meminta sopir taksi menurunkannya di sebuah terminal bus antar kota yang ramai, bukan di bandara. Dia tahu Julian dan ayahnya akan mengecek manifestasi penerbangan terlebih dahulu. Di terminal yang bising dan berbau asap knalpot itu, Elara duduk di bangku kayu yang keras, memeluk kopernya erat-hal.

Dia tidak tahu akan ke mana. Dia tidak punya rencana besar. Yang dia tahu hanyalah dia harus pergi sejauh mungkin dari nama besar keluarganya dan dari bayang-bayang pria yang tidak pernah menganggapnya ada.

Seorang ibu tua yang duduk di sebelahnya menawarkan sebotol air mineral. "Mau ke mana, Nak? Malam-malam begini sendirian, matanya merah lagi."

Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat asing di wajahnya. "Ke tempat yang jauh, Bu. Tempat di mana tidak ada yang kenal siapa saya."

Ibu itu mengangguk paham, seolah sudah sering melihat orang-orang yang melarikan diri dari hidupnya di terminal ini. "Kadang, menjadi orang asing itu lebih tenang daripada menjadi orang yang dikenal tapi tidak dipedulikan."

Kata-kata ibu itu menghujam tepat ke jantung Elara. Benar. Selama ini dia dikenal sebagai istri Julian, sebagai putri konglomerat, sebagai wanita sombong yang merebut suami orang. Dia punya segalanya, tapi dia tidak punya dirinya sendiri.

Bus menuju kota kecil di pesisir selatan datang. Elara berdiri, mengangkat kopernya dengan tenaga yang tersisa. Dia melangkah masuk ke dalam bus tua yang kursinya sudah sobek di sana-sini. Dia memilih kursi paling belakang, menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang bergetar.

Saat bus mulai bergerak meninggalkan terminal, Elara menutup matanya. Dia membayangkan Julian yang mungkin baru saja kembali ke rumah dan menemukan cincin itu di atas bantal. Apakah Julian akan merasa senang? Apakah dia akan langsung menelpon Clara untuk merayakannya? Atau... apakah dia akan merasakan sedikit saja kekosongan?

Elara segera menggelengkan kepalanya. "Berhenti berharap, Elara. Dia membencimu. Dia selalu membencimu."

Kini, perjalanan barunya dimulai. Tanpa pelayan, tanpa mobil mewah, tanpa kartu kredit tanpa batas. Hanya ada dia, kopernya, dan hati yang hancur berkeping-keping yang harus dia rekat kembali sendirian. Dia tidak tahu apakah dia akan sanggup, tapi dia tahu satu hal: dia tidak akan pernah kembali ke neraka yang dia sebut rumah itu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Istri Yang Lemah
7.8
Elara bertekad kuat mempertahankan status pernikahan demi menjaga kemewahan hidupnya. Namun, Vesper diam-diam merancang taktik licik agar sang istri bersedia menuntut cerai, demi memuluskan jalannya menikahi kekasih rahasianya. Setelah tujuh bulan bersama, konflik besar akhirnya meledak di antara mereka. Elara kini harus berjuang bertahan di tengah tekanan berat sang suami, terjebak dalam pusaran ambisi, pengkhianatan, serta intrik cinta yang rumit.
Sampul Novel Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin
9.5
Lima tahun pernikahan Kyna dan Aldrian berjalan tanpa kehangatan fisik. Kebenaran pahit terungkap saat cinta pertama Aldrian, Nara, kembali dan Aldrian terus memprioritaskannya dengan dalih persahabatan. Alih-alih marah, Kyna memilih mempersiapkan masa depannya secara diam-diam dengan belajar bahasa asing dan mendaftar studi ke luar negeri. Begitu visanya disetujui, Kyna menyodorkan surat cerai dan pergi ke Yuropiah. Aldrian yang awalnya meremehkan kemampuan bertahan hidup Kyna, akhirnya dibuat frustrasi dan bertekad memburunya setelah video tarian anggun Kyna viral di internet.
Sampul Novel Dokter Ajaib Primadona Desa
9.4
Kehidupan Tirta Hadiraja berubah drastis setelah ia tidak sengaja memakan seekor ular putih. Masalah impotensi yang dideritanya lenyap, digantikan dengan keperkasaan luar biasa, kemampuan mata tembus pandang, serta daya ingat super. Sebagai pemilik klinik, Tirta memanfaatkan keahlian baru ini untuk mengembangkan kemampuannya ke tingkat yang luar biasa. Di saat kejayaannya mulai menanjak, ia justru dihadapkan pada perebutan hati dari seorang janda, primadona desa, hingga putri konglomerat yang bersaing ketat untuk menjadi istrinya.
Sampul Novel Lepas dari Cinta yang Telah Retak
9.1
Tiga bulan terpisah dari putrinya, Dora, karena campur tangan sang mertua, Fiona, harapan seorang istri membubung saat Arga Pratama mengajaknya berkumpul di vila. Namun, reuni yang dinanti berubah pilu. Dora justru menolak sang ibu kandung dan lebih memilih memeluk erat Maya, pelayan mereka. Alih-alih membantu menjembatani jarak di antara mereka, Arga yang dingin justru bersikap acuh tak acuh. Menghadapi penolakan dari keluarganya sendiri, sang istri memutuskan mundur dan berhenti menunggu suaminya.
Sampul Novel Luka & Keegoisan
9.1
Sembilan tahun dihabiskan Lina Damaris Adelia untuk melupakan Elian Zayn Anderson. Sialnya, takdir mempertemukan mereka lagi dalam ikatan kerja. Kini, Lina terikat di perusahaan milik Elian, pria angkuh yang dulu menorehkan luka mendalam di hatinya. Diuji oleh keegoisan sang bos dan emosi yang terus terkuras, Lina harus bertahan. Akankah pertemuan ini menuntun mereka menyembuhkan masa lalu yang retak, atau justru membuka kembali luka lama yang menyiksa?
Sampul Novel Penyesalan Abang dan Calon Suami
8.8
Setelah dikhianati hingga bangkrut oleh abang dan tunangannya demi sang sahabat, Rose mendapatkan kesempatan kedua dengan kembali ke masa tiga tahun lalu. Menyadari ketidakadilan mereka yang diam-diam memberikan proyeknya kepada orang lain, Rose memilih menyerah dan pergi ke luar negeri, yang justru dirayakan oleh keduanya. Namun, penyesalan terdalam menghampiri mereka saat Rose kembali tiga tahun kemudian sebagai istri dari presdir Grup Arkava di sebuah acara tender besar.