APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mencintai Gadis Amnesia

Mencintai Gadis Amnesia

Belasan tahun hidup bersama Amelia rupanya tak membuat Adib jatuh cinta. Hatinya justru terpikat pada Adiba, gadis hilang ingatan yang ia selamatkan setengah tahun lalu. Walau ditentang keras oleh orang tua serta keluarga Amelia, tekad Adib untuk menikahi Adiba tidak goyah. Sang ibu akhirnya mengajukan syarat berat: Adib wajib melacak keluarga asli Adiba dan siap menghadapi segala konsekuensi. Sanggupkah Adib mempertahankan cintanya saat badai besar mulai mengancam hubungan mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

Adib memijat keningnya yang semakin terasa pusing. Dia memilih menepikan mobilnya sebentar untuk berbicara dengan Amel. Tentu saja menghindari risiko kecelakaan karena konsentrasinya akan terpecah.

“Harusnya kamu bisa mengerti aku sedikit saja, Mel. Setidaknya aku masih menghargai kamu dengan menerima ajakan pertemuanmu meski aku banyak kerjaan,” balas Adib dengan nada suara bercampur emosi.

“Ya, tapi enggak gini juga, ‘kan, Dib? Aku bosen, kamu juga harusnya ngertiin aku, dong. Kalau kamu mau telat kamu kasih tahu aku, biar aku bisa berangkat agak telat juga,” protes gadis itu tidak mau kalah dan tidak mau disalahkan. “Setelah kamu selalu nyuekin aku, enggak mau aku ajak bertemu sama teman-teman yang lain, sekalinya mau nerima ajakan pertemuan aku, kamu malah bikin aku kesal kayak gini. Capek tahu?!”

Terbuat dari batu atau bagaimana sih, Amelia itu? Adib menggelengkan kepala beberapa kali. Tidak mau makin emosi, akhirnya dia memutuskan, “Sudahlah, Mel. Daripada mengomel seperti itu, mending kamu pulang saja, deh. Aku juga sudah tidak ada mood buat bertemu kamu. Tidak ada gunanya juga aku banyak menjelaskan sama kamu. Yang ada kita malah terus berdebat. Asal kamu tahu, yang merasa lelah bukan hanya kamu, Mel. Aku pun. Banyak kerjaan, iya. Mahasiswiku hampir UAS, naskah yang harus aku benerin dari penerbit juga banyak.”

Karena selain menjadi dosen, Adib mempunyai pekerjaan sampingan, yaitu editor di salah satu penerbit mayor. Sebenarnya, dia sudah ingin berhenti saja menjadi editor. Namun, mengingat betapa sulit perjuangannya hingga bisa lolos menjadi editor di penerbit mayor yang cukup terkenal itu, Adib mengurungkan niatnya untuk resign. Dia tidak ingin perjuangannya itu hilang begitu saja. Meski sulit menjalani dua pekerjaan sekaligus, Adib memilih sabar saja. Dia berusaha mengatur manajemen waktunya sebaik mungkin agar tidak berbenturan, tentunya tidak merugikan dirinya sendiri.

“Maaf, aku membuat kamu kecewa lagi kali ini. Aku tidak mungkin menemui kamu dengan keadaan aku yang juga lagi kacau, Mel. Aku harap kamu bisa mengerti aku, ya?” pungkas Adib. Tanpa menunggu jawaban darinya, dia melempar ponsel itu ke kursi di sampingnya. Dia telungkupkan kepalanya ke sisi setir dan berdiam dalam beberapa saat untuk menenangkan diri. Embusan napasnya terdengar memburu, kentara sekali sedang menahan emosi. Namun, dengan keadaan belum benar-benar tenang, dia kembali menegakkan tubuh, bersiap untuk putar balik perjalanan menuju rumahnya sendiri. Biarlah sang mama akan mengomel kembali karena dia tidak jadi pulang ke sana. Daripada makin menambah masalah karena pikirannya sudah benar-benar kacau, lebih baik menghindarinya dengan tidak bertemu dengan orang-orang yang memang menjadi sumber pikiran itu.

Setelah menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, Adib perlahan memutar balik mobil yang dikendarainya. Namun, belum juga berhasil berbalik arah, dia dikejutkan dengan teriakan seorang perempuan berpenampilan acak-acakan yang muncul tiba-tiba. Adib memang berhasil tidak menabrak perempuan itu karena langsung mengerem mendadak, tetapi nasib nahas tetap tidak terelakkan. Tidak tertabrak mobil Adib, dia malah tertabrak mobil lain yang datang dari arah berlawanan. Perempuan itu berteriak saat tubuhnya terpental ke atas dan jatuh menubruk aspal dengan cukup keras. Darah-darah segar muncrat dari hidung, telinga, bahkan mulutnya.

Sementara Adib, menegang di tempatnya duduk. Dalam beberapa detik, matanya tidak berkedip sama sekali—tetap mengarah kepada perempuan yang sudah tergeletak mengenaskan agak jauh dari tempat mobilnya terparkir. Perlahan tetapi pasti, tubuh lelaki berkemeja liris putih-hitam itu bergetar. Keringat-keringat dingin menetes dari beberapa bagian tubuhnya karena perasaan terkejut yang sangat kentara. Bibir tebalnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Kedua bola matanya digenangi cairan-cairan bening. Karena bersamaan dengan itu, ingatan tentang kejadian tragis yang pernah dia alami beberapa tahun yang lalu, kembali terlintas.

“Papa,” desisnya seraya mengeratkan pejaman mata. Ternyata, lebih lima belas tahun berlalu, tidak bisa mengubah perasaannya. Dia tetap tidak baik-baik saja jika teringat kejadian itu lagi.

Cukup lama waktu berlalu dengan keheningan, pikiran Adib berangsur-angsur tenang. Dia terus melanggengkan istigfar dari bibirnya. Beberapa waktu kemudian, dia membuka mata, kemudian melongok ke jendela mobil. Tidak begitu lama melongok, dia menarik kepalanya ke dalam mobil karena tidak kuat dengan bau anyir yang langsung menyeruak ke hidungnya. Hampir saja lelaki itu muntah karena begitu menyengatnya bau darah itu. Tubuhnya yang semula mulai tenang, kembali bergetar. Ternyata dia masih setrauma itu dengan kecelakaan dan yang berhubungan dengan darah.

“Tenang, Adib. Jangan terbawa perasaan seperti ini.” Dia berusaha memberi ultimatum agar dirinya tidak makin kalut. Kalau dia tidak bisa menguasai diri, bagaimana bisa dia akan tiba di rumahnya? Dengan keadaan diri yang sedang kalut, tentu saja sangat berbahaya untuk mengemudi.

Setelah merelaksasi diri dalam beberapa saat dengan menarik napas kuat-kuat dan mengembuskannya perlahan, akhirnya dia kembali melongok ke sisi jendela mobil. Ekor matanya melirik sisi kanan-kiri jalan. Namun, meski sudah lebih lima menit berlalu dari kecelakaan itu, tidak ada tanda-tanda kemunculan orang yang akan membantu. Perempuan itu masih tergeletak tak berdaya di tempatnya. Tidak ada pergerakan apa pun. Jangankan bergerak, merintih pun tidak. Sepertinya dia langsung kehilangan kesadaran sesaat setelah tertabrak. Mobil Inova yang menabraknya pun sudah menghilang entah ke mana. Lagi pula, suasana jalan yang memang sepi, tidak ada rumah-rumah penduduk, mana mungkin ada yang lewat? Kecuali orang-orang yang memang mempunyai kepentingan seperti Adib.

“Kasihan sekali gadis itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan?” lirih Adib seraya menatap lekat-lekat perempuan itu. Bukan tidak dengan alasan dia masih berada di dalam mobil sementara di luar ada orang yang membutuhkan bantuan. Adib menarik kepalanya kembali ke dalam mobil, kemudian menyandarkan tubuh di sandaran kursi. Lantunan istigfar dan kalimat-kalimat thayyibah masih terus dia baca untuk menenangkan diri. Dia ingin sekali segera membantu perempuan itu, tetapi bayangan masa lalu dan trauma itu membuatnya maju mundur untuk bertindak. Banyak pertimbangan yang dia pikirkan terlebih dahulu untuk menolong perempuan itu. Salah satunya tanggapan keluarganya serta keluarga perempuan itu nantinya. Dilema pun menyergap.

Namun, pada akhirnya, jiwa sosialnya yang tidak tega melihat tubuh perempuan korban tabrak lari yang tergeletak mengenaskan di pinggir jalan raya itu pun membuat Adib memilih memajukan mobilnya mendekati gadis itu. Begitu tiba di tempat yang cukup aman untuk memarkir mobil, dia lantas turun dan membuka pintu belakang mobil tersebut. Dengan menutup hidung menggunakan masker demi meminimalisir terciumnya bau anyir dari darah perempuan itu, Adib melangkah dengan pelan mendekati perempuan itu. Celingak-celinguk sebentar ke sisi kanan-kiri jalan, akhirnya Adib segera membopong gadis itu ke dalam mobilnya. Tidak peduli dengan darah segar yang terus mengalir dan berceceran mengotori kemeja dan mobilnya. Setelah itu, dia segera kembali ke kursi kemudi kemudian segera melajukan kendaraan beroda empat itu menuju rumah sakit langganan keluarganya. Karena memang tidak ada pilihan terbaik bagi Adib selain membawa perempuan itu ke rumah sakit. Dia butuh pertolongan dari orang-orang yang lebih paham.

Dalam perjalanan Adib menelepon Aisyah untuk datang ke rumah sakit itu tanpa memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia pikir lebih baik memberi tahu sang mama jika sudah tiba di sana. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan perempuan itu. Pikiran kacau karena ulah mamanya dan Amelia beberapa waktu yang lalu, seolah-olah menguap begitu saja. Berganti kepanikan dan kekhawatiran akan keselamatan perempuan itu.

Kendati demikian, dalam keadaan panik seperti itu, Adib harus tetap bisa mengendalikan diri agar tenang dan bisa selamat sampai tujuan. Dia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, tentunya dengan tetap berhati-hati dalam mengemudi, agar segera sampai di rumah sakit yang dituju.

“Please, bertahan, ya. Jangan membuat saya merasa bersalah untuk kedua kalinya, meski bukan saya yang membuatmu seperti ini,” lirih Adib saat mobilnya sudah memasuki parkiran rumah sakit. Dengan cekatan dia turun dari pintu depan, kemudian bergerak ke pintu belakang dan menggendong perempuan itu untuk segera membawanya ke ruang UGD.

“Dokter Andika!” teriak Adib kepada seorang pria paruh baya berkacamata minus yang hendak melangkah ke luar lobi rumah sakit. Entah keberuntungan atau apa, Adib sangat bersyukur bisa bertemu dengan dokter langganan keluarganya itu di sana. Padahal pada hari-hari sebelumnya harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu. Kecuali dalam keadaan tertentu. “Tolong teman saya, Dok!”

Dokter itu lantas memanggil dua perawat laki-laki untuk membawa brankar dorong untuk membawa perempuan itu. Sementara Adib, terus melangkah menggendong perempuan itu mendekati Dokter Andika. Tidak ada ekspresi apa pun di wajah anak tunggal Aisyah itu selain kepanikan. Dia bahkan seperti tidak merasakan beban sama sekali, padahal sedang menggendong seseorang.

Begitu dua perawat laki-laki itu datang dengan membawa brankar dorong, Adib langsung membaringkan perempuan itu dan membiarkan para tenaga kesehatan itu membawanya ke ruang perawatan gawat darurat.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Putri Konglomerat
8.2
Kehidupan Aluna hancur saat memergoki suaminya, Dian, mendampingi Ratnasari di rumah sakit ketika ia tengah berjuang menjalani program bayi tabung. Penderitaan Aluna memuncak saat ia dikurung dan dipaksa menggugurkan kandungannya lewat sabotase obat. Usai kehilangan bayinya dan diusir, identitas asli Aluna sebagai putri konglomerat media yang hilang akhirnya terungkap. Sang pewaris kini kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Cinta yang Tak Sempat Kudengar
8.9
Setelah tunangannya memilih menikahi kakaknya, ia menerima lamaran Twinkle, pria dingin yang mengaku tulus mencintainya. Tiga tahun pernikahan mereka berjalan sempurna tanpa cela. Namun, kebenaran pahit terungkap saat ia mendengar bahwa pernikahan itu hanyalah kepalsuan demi melindungi wanita bernama Amelie. Menyadari dirinya hanya tameng dan pengganti, ia memutuskan menghapus identitasnya dan merancang kematian palsu untuk lepas sepenuhnya dari Twinkle.
Sampul Novel Dendam Menantu Kaya Raya
9.2
Tiga tahun Liam Hanza bertahan dalam penderitaan, dihina dan diperlakukan seperti budak oleh mertuanya demi cintanya pada Yolanda Liandra. Namun, kesetiaan itu hancur seketika saat ia mendapati sang istri berselingkuh. Di tengah rasa kecewa yang mendalam, Liam memutuskan mengungkap jati dirinya yang sebenarnya sebagai pewaris tunggal takhta triliunan rupiah. Kini, saat keluarga Liandra bersujud memohon maaf, Liam siap mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk membalas dendam.
Sampul Novel Dikhianati oleh Orang yang Dicintai
9.1
Malam pertama Lana berubah menjadi mimpi buruk saat mendapati suaminya, Revan, berselingkuh dengan seorang pria. Di tengah keputusasaan karena dikhianati dan terjebak di rumah mertua, Lana kehilangan arah. Namun, sang ayah mertua, Henry, datang melindungi. Ketegasan Henry luluh demi menjaga menantunya yang rapuh. Dalam kesunyian yang mendalam, Lana mulai bergantung pada Henry hingga akhirnya hubungan terlarang di antara mereka berdua terjalin tak terkendali.
Sampul Novel Keturunan Rahasia
8.5
Akibat intrik licik sang paman, Rajendra Antariksa melakukan kesalahan fatal pada Amara Lucia Haidar. Sepuluh tahun berlalu dalam penyesalan, pewaris Antariksa Group ini terkejut saat tahu Amara mengalami trauma berat dan telah melahirkan putra mereka secara rahasia. Berniat menebus dosanya di masa lalu, langkah Rajendra justru menemui jalan buntu. Ia harus menghadapi penolakan luar biasa dari Amara, orang tuanya, hingga darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Terjerat Cinta Duda Dingin
8.9
Sejak remaja hingga berumur hampir kepala tiga, Kinara Larissa Putri hanya mencintai satu pria. Impiannya terwujud saat ia dinikahi Arka, duda menawan dambaannya. Sayangnya, pernikahan itu hambar. Arka yang kaku dan egois ternyata menikahinya cuma demi sang anak, tanpa rasa cinta. Di tengah dinginnya sikap sang suami, sesosok pria lain hadir menawarkan kasih sayang yang tulus. Kinara kini bimbang, sanggupkah ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta saat godaan baru mulai datang?