APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mencintai Anak Kakakku

Mencintai Anak Kakakku

Sejak kecil, Ara Qubilah Iskander, gadis keturunan Turki, sangat mengagumi pamannya sendiri, Chandra Syauqi Abimana. Bagi Ara, adik ibunya itu adalah pahlawan impian. Namun, Chandra justru merasa sangat terganggu dengan keberadaan Ara. Hubungan mereka kian memburuk saat sebuah kesalahpahaman fatal di suatu malam memicu kebencian mendalam di hati Chandra. Akankah Ara tetap bertahan dengan kekagumannya, ataukah hubungan paman dan keponakan ini akan hancur selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Chandra mengemudikan mobilnya hanya fokus menatap jalan. Chandra ya memang seperti itu, pria remaja yang tidak banyak bicara dengan pembawaan yang tenang.

Sedangkan gadis remaja yang duduk di sebelah Chandra, terbilang bertolak belakang, Ara tidak bisa diam, banyak bicara dan bertingkah.

Ara mulai merasa jenuh karena tidak melakukan apapun, Chandra sama sekali tidak mengajaknya mengobrol sama sekali, sekedar menanyakan kabar juga tidak.

Ara melirik Chandra lewat sudut matanya, mencebikan bibirnya karena sebal, Chandra tidak pernah berubah dari kecil.

“Andra,” panggil Ara.

Chandra tidak menjawab, ia sudah menebak jika Ara hanya ingin menggangunya saja.

“Andra,” panggil Ara lagi.

Masih belum ada sautan dari si pemilik nama.

“Andra.”

Ara cemberut kesal, Andra mengacuhkannya. Dengan sengaja Ara sedikit menyondongkan tubuhnya ke arah Chandra.

“Andra!” teriak Ara tepat di telinga Chandra.

Ciiittt!

Chandra menghentikan mobilnya secara mendadak sehingga mengeluarkan suara decitan ban mobil beradu dengan aspal.

“Ara apaan si?! kenapa teriak seperti itu, aku tidak tuli,” kesal Chandra sambil memegang telinganya yang berdengung.

“Tidak tuli apanya, Ara dari tadi panggil-panggil terus tapi Andra tidak mau menjawab panggilan Ara,” pungkasnya.

“Aku dengar, memang mau apa?”

“Tidak hanya panggil saja,” sahutnya santai.

Chandra berdecak sambil menggelengkan kepala.

Diam sejenak, namun setelah itu Ara memutar tubuhnya menghadap Andra yang kembali melajukan mobilnya.

“Andra,” panggil Ara lagi.

“Pakai seatbelt mu yang benar Ara,” kata Chandra memperingati, tetap tidak menoleh ke arah gadis itu.

“Ini aku juga sudah pakai.”

“Duduklah yang benar.”

“Iya-iya tapi sebelumnya Ara ingin mengajukan protes pada Andra.”

Chandra melirik lewat sudut matanya dengan menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti dengan perkataan yang di katakan oleh Ara.

”Sejak kita bertemu kenapa Andra tidak sedikitpun menanyakan kabar Ara, apakah Ara tidak penting untuk Andra?” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Ara yang dari tadi ingin Ara tanyakan.

“Ooh.”

“Ohh apa? Iihh Andra nyebelin.” Ara mencebikan bibirnya dan kembali mengubah posisi duduknya.

“Untuk apa aku menanyakan nya,” ucap Chandra.

“Paling tidak berbasa-basi gitu, kalau tidak Andra bisa tanya tentang baba atau anne.”

“Aku sudah tahu, jadi untuk apa aku menanyakan apa yang sudah aku tahu.”

Ara menoleh ke arah Chandra. “Andra tahu dari mana?”

Chandra berdecak. “Apa kamu lupa, hampir setiap hari kamu terus saja mengganguku, kau bercerita mengenai banyak hal dan aktivitas yang sudah kamu lakukan, jadi aku sudah tahu betul. Jadi untuk apa aku menanyakannya, buang-buang waktu saja,” jelasnya.

“Eeh iya-iya. Hehehe habis jika tidak menghubungi Andra, rasanya ada yang kurang saja.” Ara tersenyum manis ke arah Chandra.

Chandra menggeleng pelan tanpa berkata lagi.

Sepeluh menit suasan hening di dalam mobil, namun tidak akan bisa berlangsung lama, Ara sudah kembali ingin bicara, namun baru saja ia membuka mulutnya.

“Jangan katakan apapun, yang kau ingin katakan aku sudah tahu,” ucap Andra yang menyela perkataan Ara terlebih dahulu.

“Memangnya Ara ingin ngomong apa? Sok tahu Andra.”

“Kamu ingin bertanya tentang sekolah barumu kan?” tebak Andra.

Ara sedikit membuka mulutnya, tidak percaya. Mana mungkin bisa Andra menebaknya dengan sangat mudah, apa di wajah Ara terlihat tulisan yang ingin Ara katakan, pikir gadis itu.

“Kenapa Andra bisa tahu?”

“Tahu saja,” jawab Chandra.

“Tahu dari mana?”

“Dari wajah.”

Ara memegang wajahnya sendiri. “Jangan-jangan benar di wajah Ara ada tulisannya.”

Hening lagi, Ara sibuk bercermin untuk melihat wajahnya.

Hingga tidak terasa mereka sudah masuk ke jalan menuju mansion.

“Andra berhenti!” kata Ara tiba-tiba.

Karena terkejut Chandra menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.

“Ara ...” belum sempat Chandra bicara, gadis itu sudah keluar dari mobil.

Ara berjalan menuju taman favoritnya, di mana taman itu tidak pernah absen untuk Ara kunjungin setiap kali berada di Indonesia.

“Ara-Ara kenapa malah ke taman si, dia akan memiliki banyak waktu jika ingin pergi ke sini,” gumam Chandra yang masih memperhatikan dari dalam mobil.

Chandra mau tidak mau akhirnya turun dari mobil untuk menyusul Ara.

“Andra sini, ayo kita main jungkat jungkit,” ajak Ara yang sudah duduk di salah satu sisi jungkat jungkit.

“Kaya anak kecil aja, kamu nggak lihat di sini banyak anak kecil yang main,” protes Andra. “Dan kamu tidak sadar, berapa usiamu sekarang Ara.”

“Ayolah Andra sebentar saja ya, aku sudah lama tidak ke sini, aku rindu dengan semua permainan yang ada di sini.” Ara memohon sambil memasang wajah seimut mungkin.

Dengan malas Andra naik ke sisi satunya, Ara terlihat senang.

Dengan tidak perduli jika mereka bermain di tengah anak-anak yang sedang bermian juga. Ara tertawa senang, hanya bermain jungkat jungkit saja membuat gadis itu terlihat gembira, padahal diusia remaja mereka, khususnya kaum wanita pasti akan paling senang jalan ke mall, nonton dan nongkrong, tapi Ara malah asyik bermain di taman dengan permainan anak-anak, heran Chandra.

Ditengah keasyikan Ara main jungkat jungkit, tiba-tiba Andra berdiri. “Sudah ayo pulang, pasti bunda dan daddy sedang menunggu ke datangan kita.”

“Sebentar lagi ya Andra.” Ara beralih pada mangkuk putar, tidak memperdulikan wajah Chandra yang sudah sebal karena tingkahnya.

“Andra ayo putarin Ara dong,” pintanya.

Chandra mulai memutar mangkuk yang terbuat dari besi itu secara pelan.

“Hahaha seru. Lebih kuat lagi dong Dra, kamu belum makan ya, ke mana tenagamu.”

Karena kesal Andra memutar mangkuk putar dengan kencang.

“Hahaha, sekarag Ara pusing, jangan kencang-kencang Andra.”

Bukannya menghentikan, Andra malah semakin kuat memutarnya. “Katanya ingin kencang, aku sudah memunuhi keinginanmu Ara.”

“Aaaa! Andra Ara pusing!”

Kali ini Chandra yang tertawa dapat mengerjai Ara.

“Sudah ayo pulang, kapan-kapan kamu bisa datang ke sini sepuasnya, setiap jam juga tidak apa-apa asalakan jangan ajak aku, aku sudah besar bukan anak TK lagi sepertimu,” kata Chandra, berlenggang terlebih dahulu meninggalkan Ara.

“Andra tungguin Ara,” panggil Ara.

Ara turun dari mangkuk putar dengan kepala pusing, dan karena itu ia berjalan sempoyongan dan menabrak tiang ayunan.

Dukk!

“Aww sakit.” Ara meringis kesakitan sambil memegang keningnya.

Chandra menoleh saat mendengar suara Ara, menghela nafas. Ada-ada saja tingkah Ara yang membuatnya susah.

Mau tidak mau membuat Chandra berjalan mendekati Ara yang terduduk di atas pasir sambil memegang keningnya.

“Ada apa lagi Ara?”

“Ini nih tiang ayunannya kenapa menghalangi jalan, kening Ara jadi kejedot, lagian Andra kenapa tadi putarnya kenceng banget Ara kan jadi pusing,” omel Ara.

“Bukan tiang atau aku yang salah, tapi kamu yang ceroboh,” sahut Andra tidak mau disalahkan.

Ara cemberut dengan mengerucutkan bibirya, sebelah tangannya masih bergerak mengelus keningnya.

Tanpa berkata lagi, Andra pergi meninggalkan Ara.

“Sana-sana pergi, aku bisa ke mansion sendiri, aku akan pulang setelah kepalaku tidak pusing lagi,” gerutu Ara. “Aah tapi kenapa masih sakit, pasti keningku benjol deh,” sambungnya yang masih meringis kesakitan.

Saat Ara ingin beranjak dari duduknya, ada seseorang yang mengulurkan ice cream tepat di depan wajahnya.

Ara mendongak dan tersenyum, Andra kembali untuknya, Ara semakin merasa Andra pangeran impiannya, selalu menolongnya di kala ia membutuhkan.

“Kenapa bengong? Kamu masih mengenaliku kan? jangan bilang karena terbentur membuatmu lupa ingatan,” tebak Andra.

“Ya nggak lah.” Meraih ice cream yang berada di tangan Chandra.

Tanpa berlama-lama, Ara membuka ice cream itu. Sedangkan Chandra berjongkok tepat di depan Ara, ia sedikit menyibakan kerudung yang dipakai oleh Ara, terlihat keningnya memerah sedikit kebiruan, sangat kontras dengan kulit Ara yang putih.

“Apa ini sakit?”

Ara mengangguk.

Chandra mengeluarkan salep penghilang rasa nyeri untuk mengurangi lebam yang akan di timbulkan dari benturan dari benda tumpul itu.

Chandra mengolesnya secara perlahan sambil meniup-niupnya.

Ara tersenyum senang, perlakuan Andra membuatnya semakin mengagumi sosok Chandra.

“Ya sudah ayo kita pulang,” ajak Andra.

Ara mengangguk, Chandra menggendong Ara menuju mobil, memastikan jika Ara tidak lagi terjatuh karena kecerobohannya.

“Andra mau?”

“Tidak.”

“Ini enak loh.”

“Ya sudah makan saja.”

“Ya sudah kalau tidak mau, memang sayang juga si jika harus berbagi pada orang lain.” Ara tertawa renyah dan terus mengoceh.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Ceo Bastard
7.9
Nica harus menjalani kenyataan pahit saat terjebak dalam cengkeraman Dave, seorang miliarder kejam yang tidak mengenal belas kasihan. Setiap tangisan dan rasa sakit yang dialami Nica justru menjadi kepuasan tersendiri bagi Dave, yang terus memperlakukannya dengan semena-mena. Di bawah dominasi kekuasaan sang miliarder, Nica tidak berdaya dan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu. Hubungan penuh paksaan ini pun meninggalkan trauma mendalam yang merenggut kebebasannya.
Sampul Novel Kekasih Gelap yang Dicampakkan
8.2
Selama tiga tahun, hubungan asmara dengan Oscar Nando dijalani secara rahasia tanpa diketahui siapa pun. Namun, saat berniat menjemput sang abang yang sedang berkumpul di luar, sebuah kenyataan pahit terungkap. Melalui obrolan rahasia yang tidak sengaja terdengar, Oscar dengan nada malas justru menyangkal status hubungan tersebut di hadapan abang. Ia menegaskan bahwa hubungan itu bukanlah komitmen serius, melainkan hanya sarana untuk menghabiskan waktu tanpa ada rencana pernikahan sama sekali. Kecewa dan terluka, pintu ruangan pun langsung dibuka dengan kepalan tangan erat.
Sampul Novel Pak Jihan Jangan Galau Lagi, Nona Wina Sudah Menikah
8.2
Lima tahun menjadi kekasih rahasia Jihan Lionel membuat Wina Septa percaya kepatuhannya bisa meluluhkan hati pria itu. Namun, harapan itu pupus saat Jihan mencampakkannya. Tanpa tuntutan materi, Wina yang lembut memilih mundur secara damai. Keadaan berubah drastis ketika Wina memutuskan menikah dengan pria lain. Jihan yang tidak rela tiba-tiba muncul kembali dan bertindak nekat, membuat Wina dilingkupi kebingungan mendalam.
Sampul Novel Pewaris Alpha, Hati yang Tak Ku-inginkan
8.4
Pernikahan Bima dan Keisha di Jakarta retak akibat masalah genetik. Demi mendapatkan keturunan, Bima menunjuk Rania sebagai ibu pengganti. Namun, Bima malah mencintai Rania dan menelantarkan istrinya. Kehancuran Keisha memuncak saat mengetahui Bima berniat menikah siri di vila impiannya. Sadar cintanya dikhianati kebohongan besar, Keisha berpura-pura tegar demi menyusun rencana rahasia untuk pergi dan lenyap selamanya.
Sampul Novel Teman tapi Khilaf
8.7
Dua sahabat terjerat dalam hubungan intim yang penuh gairah dan terus terulang. Walau sadar tindakan ini berisiko serta ditentang lingkungan sekitar, ketertarikan yang begitu kuat membuat mereka sulit untuk berhenti. Keduanya terus saling mendamba, mengabaikan kenyataan bahwa kebahagiaan tersebut mungkin tidak bertahan lama. Kini, di tengah konflik batin dan perasaan yang kian membara, mereka harus menghadapi keputusan sulit mengenai kelanjutan hubungan terlarang ini.
Sampul Novel Wasiat Bertahta Cinta
9.6
Impian pernikahan Abbas dan Linda kandas setelah orang tua Linda memaksanya menikahi David demi balas budi. Nasib buruk Linda berlanjut saat ia diculik Hengky dan dipaksa menikah di pengasingan. Usai kematian Hengky dan dipenjaranya David, Linda pulang untuk merebut kembali hati Abbas. Namun, Abbas kini telah memperistri Jihan, putri Pak Budi yang lama hilang. Abbas pun terjebak dalam dilema antara kesetiaan pada istri barunya atau cinta masa SMA Linda yang kembali membara.