
Menceraikan Suamiku yang Menghamili Wanita Lain
Bab 2
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan tanganku. Orang yang melakukan kesalahan bukan aku, melainkan mereka. Selama anak itu lahir, aku bisa menuntut Jeremy melakukan poligami supaya dia dipenjara.
Begitu pikiran ini muncul di benakku, aku tidak dapat menepisnya lagi. ‘Jeremy, kamu dulu yang khianati aku!’
Dari aku mengenal Jeremy sampai menikahinya, waktu yang berlalu sudah 6 tahun. Pacaran 3 tahun, menikah 3 tahun. Aku kira, hubungan kami memiliki landasan cinta.
Dulu, waktu aku terjatuh dan lututku berdarah, dia akan merasa sangat sakit hati. Sekarang, gara-gara suntik, kulitku jadi alergi sehingga menjadi merah-merah dan bengkak. Setiap hari, aku merasa cemas hingga tidak bisa tidur dan rambutku juga rontok banyak. Namun, dia bukan hanya tidak peduli, malah berani tidur dengan tetangga.
Atas dasar apa dia melakukan hal ini?
Setelah memikirkan hal ini, aku segera menghubungi pengacara. Namun, balasan yang diberikannya langsung membuatku putus asa. Di tahap ini, aku akan sulit mendapatkan bukti. Selain itu, jika Jeremy tidak mengakui itu adalah anaknya, aku juga tidak berdaya. Jika ingin melakukan tes DNA, kedua orang itu harus melakukannya dengan status sebagai suami istri, juga harus ditemani saksi.
Hal ini membuatku sangat tidak berdaya.
Pengacaraku membujuk, “Sebaiknya kalian langsung cerai saja. Cari bukti perselingkuhan lebih gampang. Meski nggak bisa buat dia dipenjara, kamu bisa buat dia bangkrut.”
Pengacaraku menyuruhku untuk mempertimbangkannya dengan baik. Aku pun terlebih dahulu menyuruhnya menyiapkan surat cerai. Mengenai buktinya, aku pasti bisa menemukannya.
Setelah menenangkan diri, aku pergi ke ruang baca dan menyalakan komputer Jeremy. Sebelumnya, aku tidak pernah menyentuh komputernya karena sepenuhnya percaya padanya. Namun, demi mencari bukti, aku tidak peduli lagi sekarang.
Untungnya, kata sandi yang digunakannya adalah hari peringatan pernikahan kami. Ironis sekali. Setiap dia memasukkan kata sandi ini, entah dia ingat kenangan kami atau tidak.
Setelah masuk ke komputernya, aku mencari data yang tersimpan di dalamnya, tetapi tidak menemukan apa-apa. Aku berpikir sejenak dan membuka e-mail. Untungnya, dia adalah orang yang malas berpikir. Kata sandi yang digunakannya adalah kombinasi nomor rumah kami dengan inisial namanya. Ini pun memudahkanku mencari bukti.
Alhasil, aku benar-benar menemukan buktinya. Pengeluarannya yang besar selama beberapa bulan terakhir digunakan untuk membayar tagihan hotel, belanja di mal, toko perhiasan, dan toko baju. Totalnya lebih dari 400 juta.
Aku sama sekali tidak percaya pada ucapannya tadi. Aku pun menyalin semua bukti itu sambil menahan air mata. Setelah itu, aku mencoba untuk masuk ke WhatsApp-nya. Untung saja, WhatsApp-nya bisa masuk otomatis dari komputer. Aku pun membaca riwayat obrolannya dengan Sherine.
Setelah membaca percakapan mereka, aku mengepalkan tanganku erat-erat. Sejak aku tidak bisa hamil, obrolan kami berkurang banyak. Setiap hari, obrolan kami hanya seputar masalah makan di rumah atau tidak. Balasannya juga sangat singkat.
Aku kira dia sibuk bekerja dan memaklumi kesulitannya. Namun, dia ternyata bisa mengobrol dengan begitu gembira bersama Sherine. Mereka bahkan menganalisis tentang kenikmatan dan posisi di ranjang. Intinya, percakapan mereka sangat menggoda. Aku benar-benar tercengang.
Selain merasa muak, aku baru menyadari bahwa suamiku itu terasa sangat asing. Aku sama sekali tidak memahaminya. Aku bahkan tidak bisa membedakan sisi mananya yang tulus saat menghadapiku.
Aku memaksakan diri untuk berhenti berpikir dan menyimpan bukti-bukti itu, lalu menghapus semua jejakku sebelum mematikan komputernya. Baru saja aku kembali ke ruang tamu, dia sudah kembali. Aku mau tak mau merasa agak panik dan mencengkeram ponselku erat-erat.
Sementara itu, Jeremy menatapku dengan sedikit perasaan bersalah. Selanjutnya, dia berjalan mendekatiku dan memelukku. Aku sontak menangis.
“Meliya, aku juga nggak mau begini. Kamu nggak tahu seberapa besar tekanan yang kuhadapi. Ayah dan ibuku sudah berulang kali menyuruhku menceraikanmu, tapi aku nggak rela. Aku benar-benar nggak rela melepaskanmu. Aku sudah jelaskan semuanya pada Sherine. Dia akan pergi begitu melahirkan anaknya. Dia nggak mungkin sanggup besarkan anak ini seorang diri!”
Aku merasa sangat muak. Tepat pada saat aku hendak berbicara, terdengar suara ketukan pintu.
“Kak Jeremy, kamu ada di rumah?”
Itu adalah suara Sherine.
Anda Mungkin Juga Suka





