APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menantu Tak Diharapkan

Menantu Tak Diharapkan

Cakra menjalani masa kecil yang berat bersama paman dan bibinya. Kehidupannya semakin rumit ketika sang paman terlilit utang besar kepada sebuah keluarga terpandang. Demi melunasi kewajiban tersebut, Cakra terpaksa menjadi menantu di keluarga kaya itu melalui pernikahan kontrak. Alih-alih hidup tenang, perbedaan status sosial yang jurang justru membuat Cakra harus menerima kebencian, sikap dingin, serta penolakan ekstrem dari mertua barunya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Anggap saja itu sebagai balas budimu pada keluarga kami. Lagi pula pamanmu berhutang juga untuk kita semua. Termasuk kamu!" Belum sempat Cakra menjawab. Bibi sudah mencecar dengan kalimat bertubi-tubi, yang semakin membuatnya bungkam. 

"Aku tidak mau tau, kalian angkat kaki dari rumah ini sekarang juga. Atau, salah satu diantara dua pemuda itu menikah dengan anakku!" Sosok berwajah sangar itu bersuara, dengan suara lantang memekakkan telinga. 

Semua orang yang ada di rumah itu terdiam. Paman Karwo menunduk sangat dalam, ia pasti sedang berada di posisi serba salah. Sementara Anggara dan Bibi, menatap tajam ke arah Cakra dengan pandangan menuntut. 

"Bagaimana, jadi tidak ada yang mau menikahi anakku? Kalau begitu, sekarang juga kalian harus tinggalkan rumah ini!" 

"Pak! Tolong jangan usir kami .... " Rintih Bibi dengan suara serak, sambil menangkupkan kedua tangannya. Memohon dengan sangat pada sosok tak punya hati itu. 

"Cakra!" Teriakan bibi beralih ke arah Cakra, "jangan diam saja!" 

"Baik." Serentak, semua orang tercengang setelah Cakra berucap singkat tadi. Kecuali Pak Moko yang hanya berwajah datar. Lain halnya dengan Paman Karwo, ia mendongak sambil membulatkan mata tak percaya. Sementara Bibi dan anak lelakinya tersenyum lega. 

"Saya bersedia menikah dengan anak Pak Moko." Suara Cakra terdengar tegas. Meski raut wajah sendu tak dapat ditutupi lagi. 

"Bagus. Kalau begitu, sekarang juga kemasi barangmu dan ikut bersamaku. Kalian akan menikah nanti siang,"

Bagai mimpi di siang bolong, Cakra tak pernah membayangkan kehidupannya akan seperti ini. Namun, ia masih percaya dengan takdir yang telah digariskan. Semua yang ia ucapkan tadi, tidak boleh disesali. Ia harus berani melangkah, bertanggung jawab atas kesanggupannya. 

Cakra tersurut, mundur menuju kamarnya. Mengambil ransel besar untuk memasukkan seluruh barang yang jumlahnya tak banyak. 

"Cakra." Ia berbalik. Rupanya, Paman Karwo telah berdiri mematung di belakang. Menatap iba terhadapnya. 

"Maafkan Paman, nak. Paman tidak bisa berbuat apapun," ucapnya lirih. Cakra mendekat, tersenyum simpul ke arah sang paman. 

"Bibi benar, Paman. Ini adalah saatnya saya harus membalas budi, atas kebaikan keluarga Paman, sejak saya masih kecil," kata Cakra berusaha menenangkan.

"Apa kamu sudah yakin, dengan keputusanmu tadi? Menikah dengan wanita yang belum pernah kamu kenal sebelumnya?" 

"Saya sudah dewasa, Paman. Saya tau apa yang harus saya lakukan," ucapnya dengan tegas.

***

Sore hari setelah acara pernikahan kilat dan sederhana itu terjadi, nyaris bagai mimpi. Apa lagi bagi seorang Cakra yang hingga kini belum pernah memikirkan tentang pernikahan sebelumnya. Pernikahan yang ia lewati beberapa saat sebelumnya, hanya acara ijab kabul dan syukuran yang dihadiri beberapa keluarga kerabat Pak Moko dan Bu Moko. Hanya beberapa orang saja. 

Saat ini kedua pengantin baru masih duduk di tengah-tengah para tamu yang sibuk memperbincangkan apapun yang menurut mereka menarik. 

"Mas, menantu barumu itu kerjanya apa sih? Kok sepertinya kuper sekali." Salah satu kerabat Pak Moko bertanya sambil sesekali melirik ke arah Cakra, tentunya dengan tetapan sulit diartikan. Hanya satu yang jelas, pandangan tak suka, juga merendahkan. Karena mereka semua itu termasuk keluarga kelas atas. 

"Kenapa kamu tanya begitu? Apa kelihatannya menantuku itu orang miskin?" Sahut Pak Moko sambil tergelak. Dan meledaklah suara tawa di ruangan itu, hingga membuat pendengaran Cakra berdenging. Campur aduk perasannya, telah tak terlukiskan lagi. 

"Kelihatannya sih begitu, Mas." Suara yang muncul setelah tawa mereka agak reda. Namun, bukannya menghargai pendatang baru. Mereka malah membuatnya seperti barang mainan. 

"Kalian benar. Sayang sekali, ya. Menantuku yang baru ini sangat miskin, nggak seperti yang pertama.” Terdengar suara pak Moko. Mulai memberikan perbandingan pada Cakra dan kakak iparnya. Padahal hingga detik ini, ia belum tau siapa kakak ipar yang dibanggakan mertuanya itu. 

Di tempat baru itu, Cakra merasa kerdil. Direndahkan oleh setiap orang, bahkan pak Moko yang sekarang sudah menjadi bapak mertuanya. Bukannya membela, malah ikut membuat hati panas. Apalagi ibu mertuanya itu, meski hingga kini belum terdengar suaranya. Namun, terlihat jelas tatapan tak suka, tersirat di mata lebar menakutkan. 

Sementara itu, Mega. Yang mulai detik ini telah menjadi istrinya, sejak tadi hanya diam dan terus menunduk. Entah apa yang ada di dalam kepala gadis pendiam itu, tak suka dengan perjodohan ini, atau apa? Tidak ada yang tahu. 

Acara bincang keluarga itu berlangsung hingga jam sebelas malam. Selama itu pula, sindiran demi sindiran tertuju kepada Cakra yang selalu bingung. Harus menunjukkan sikap seperti apa, marah atau takut. 

"Sudah malam ini, ko. Kami sebaiknya pulang dulu. Kasihan itu, pengantinmu sudah pada ngantuk." Sosok paling tua di tempat itu berdiri, mengakhiri perbincangan panas malam itu. Sepertinya, itu adalah saudara tertua dalam keluarga besar pak Moko. 

Usai berpamitan mereka meninggalkan rumah mewah itu, tanpa mau bersalaman dengan Cakra. Keberadaannya di tempat itu, hanya seperti bayang-bayang saja, tidak ada orang yang melihatnya. 

Ketika rumah telah sepi, satu persatu keluarga pak Moko pergi meninggalkan ruangan indah ini. Mereka meninggalkan Cakra dan istrinya dengan tatapan tajam dan merendahkan. 

Bu Moko yang pergi paling belakang, ketika hendak melewati pintu, wanita berbalut gaun mewah itu berbalik. Meraih tangan anak perempuannya yang ternyata sangat cantik. 

"Pergilah ke kamar, Mega. Ini sudah malam," ucapnya lembut kepada Mega. Nama yang baru didengar Cakra menjelang acara ijab kabul tadi sore. Gadis itu hanya mengangguk patuh, pergi tanpa menoleh ke arah Cakra yang menatapnya dengan perasaan bingung. 

Ia terkesiap, baru sadar bahwa Bu Moko sedang menatapnya sangat tajam. 

"Jangan berani masuk kamar, sebelum ruangan ini bersih seperti tadi!" Wanita itu mendesis, penuh bisa mematikan. Cakra mengerjap, logikanya belum bisa menyimpulkan semua kejadian yang menimpa beberapa hari belakangan ini. 

Belum sempat ia menjawab, wanita yang katanya telah menjadi ibu mertuanya itu telah pergi dari ruangan mewah berantakan itu. Hanya menyisakan suara sepatu hak tinggi, memantul memenuhi seluruh sudut ruangan terdekat di rumah itu. 

Cakra patuh. Mengerjakan semuanya seorang diri, hingga menjelang jam satu malam. Tak membuatnya pusing dengan pekerjaan rumah menggunung, karena ia telah terbiasa mengerjakannya sejak kecil. 

Ia masuk ke dalam kamar, yang di dalamnya terdapat sesosok perempuan berbaring di atas kasur lembut. Berbeda sekali dengan tempat tidurnya selama ini, yang hanya beralaskan kasur lantai. 

Gadis itu berbaring menghadap ke arahnya, meringkuk memeluk guling. Dengan selimut berwarna biru dengan motif Mickey mouse membalut seluruh badan hingga menutup leher. Netra yang memejam sempurna, serta bahu yang bergerak teratur, menandakan bahwa ia telah tertidur pulas. 

Kali ini Cakra bingung sendiri, berdiri mematung di depan pintu, yang disebelahnya terdapat sofa panjang. Tatapan matanya beralih ke sofa itu, apakah ia harus tidur sini, atau di sana? Satu selimut dengan istrinya itu? Batinnya bertanya-tanya. 

Ia bergerak, maju beberapa langkah. Mendekati tempat tidur besar itu, matanya membulat ketika sosok bernama Mega itu menggeliat. Gerakannya membuat Cakra tak bisa berkedip. Namun, cepat-cepat ia menepis semua pikiran melintas. 

Cakra ikut terperanjat, Mega bangun. Seketika menegakkan badan ketika melihat ada orang lain di dalam kamarnya. Netra yang masih memerah bergerak-gerak, memindai Cakra dari ujung kepala hingga ujung kaki. 

"Selamat malam, Mega. Sudah tidur, ya?" Suaranya terlihat kaku. Sesekali merutuk dalam hati, bodoh sekali pertanyaannya. Memang seumur hidup baru kali ini menyapa perempuan dengan momen yang menurutnya luar biasa. 

Karena yang disapa masih bergeming, ia berusaha mendekat, "Mega?"

"Pergi! Jangan sentuh aku!" Ia tiba-tiba berteriak sambil meringkuk memeluk lutut. Wajahnya terbenam, dengan bahu bergetar hebat. Cakra mengernyit tak mengerti. 

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cermin Retak Masa Lalu
8.0
Pertanyaan suami tentang kenyamanan bra tanpa kawat awalnya dikira perhatian biasa. Namun, kecurigaan muncul saat asisten suaminya panik mengambil kembali paket yang salah alamat. Kebenaran terungkap lewat unggahan Susan Kumala di media sosial yang memamerkan hadiah lingerie dari kekasihnya di hotel romantis. Sadar suaminya berselingkuh demi wanita lain, sang istri langsung menyukai postingan tersebut. Ia mengirim tangkapan layar itu kepada suaminya dengan sindiran tajam tentang diskon belanja.
Sampul Novel Dia, Yang Mudah Dihibur
8.6
Setelah diabaikan lagi di hari Idul Adha demi cinta sejati Brian yang meminta bantuan memperbaiki lampu, sang protagonis memilih melepaskan hubungan mereka. Lewat sebuah unggahan media sosial yang memperlihatkan keintiman Brian dengan wanita tersebut, ia tidak lagi marah melainkan langsung meminta putus. Brian yang terlalu percaya diri mengira pacarnya hanya sedang merajuk dan akan kembali luluh seperti biasa. Namun, ia tidak menyadari bahwa kepatuhan itu kini telah sirna sepenuhnya.
Sampul Novel Gairah Terlarang Sang CEO!
9.0
Jordan Freemantle dilingkupi kemarahan besar akibat ulah Lawrence Brickman yang membawa lari uang proyek penting mereka. Begitu Chantal Brickman, anak perempuan Lawrence yang menawan, tiba di kediaman ayahnya di Malibu, Jordan segera menjadikannya sasaran balas dendam. Pengusaha angkuh ini menuntut Chantal melayani segala nafsunya demi membayar kerugian sang ayah. Tanpa jalan keluar, Chantal terpaksa tunduk di bawah kendali Jordan demi melunasi utang tersebut.
Sampul Novel Hati yang Kau Sakiti
9.5
Kabar kehamilan yang harusnya membawa kebahagiaan bagi Kiran justru berubah menjadi mimpi buruk. Ia mendapati kenyataan bahwa Arka, suaminya, telah berselingkuh hingga memiliki anak dari perempuan lain. Di tengah hancurnya pernikahan yang ia pertahankan, Kiran harus menanggung kepedihan mendalam akibat dikhianati. Kini, ia dihadapkan pada perjuangan sulit untuk memulihkan diri. Akankah Kiran sanggup bangkit, ataukah rasa cintanya pada Arka sudah sirna tanpa sisa?
Sampul Novel Kalau Jodoh Takkan Kemana
8.1
Asmitha Nindiva hancur setelah Saga Anggara, sang tunangan, memilih bersama Marcella Anggita. Saat terpuruk, hadirlah Fahri Mahendra yang menemani dan membantunya memulihkan diri. Namun, ketika Asmitha mulai bangkit, hubungan Saga dan Cella justru berakhir. Saga pun datang lagi untuk merebut kembali hati Asmitha. Kini, Asmitha dihadapkan pada kebimbangan besar: kembali ke pelukan masa lalunya bersama Saga, atau membuka lembaran baru dengan Fahri yang tulus mencintainya.
Sampul Novel Kupu-Kupu Kertas
8.9
Kehamilan di masa remaja merenggut masa depan Mayang setelah Mahesa pergi. Demi menyembunyikan lukanya, ia menolak Sena dengan kejam lalu terjerumus ke dunia malam Jakarta. Sembilan tahun berselang, takdir mempertemukan mereka lagi. Sena kini telah menjadi miliarder sukses yang dipenuhi rasa benci, sedangkan Mayang berusaha menata ulang hidupnya. Meski Sena terus merendahkan dan berniat membeli harga dirinya, Mayang pantang menyerah demi mempertahankan jalan pertobatannya.