APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin

Menaklukkan Duda Dingin

Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, Amber Lim, sosialita bereputasi buruk yang ingin bertobat, nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Sialnya, ia dirampok dan terdampar di hutan beku. Kini, satu-satunya harapan hidup Amber bergantung pada Tuan Dingin, seorang duda misterius pembenci wanita yang dicap kanibal oleh warga. Akankah Amber berhasil meluluhkan hati pria itu, atau justru menjadi korban kebenciannya?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Aku pasti sudah gila. Kenapa aku malah memancing kemarahan Beruang Gila itu?” sesal Amber sambil berusaha mengatur napas. Dengan kepala tertunduk, ia mencoba menata ulang pikiran.

“Apakah benar laki-laki itu tidak meniduriku?” tanyanya lirih.

Sembari mengerutkan alis, Amber menggerak-gerakkan kaki, memeriksa apakah ada yang aneh pada bagian bawah tubuhnya. Setelah memiringkan kepala, wanita itu mulai mengangguk samar.

“Dia pasti impoten. Kalau tidak, kenapa dia semarah itu?” gerutu Amber sebelum terdiam sesaat. “Tapi, apa maksudnya dengan memakanku bulat-bulat? Apakah dia benar-benar psikopat?”

Sembari merenung, tatapan Amber mulai menjelajahi dapur. Tanpa sadar, tangannya bergerak sendiri mengelus perut. “Aku butuh makanan.”

Masih dengan selimut membungkus tubuh, wanita itu bergerak memeriksa apa yang ada di atas meja. Begitu menemukan tumpukan Cinnamon Roll di atas piring, mata Amber sontak membulat.

“Ini pasti enak,” ujarnya bahagia. Tanpa berpikir panjang, ia mulai melahap kue berbentuk gulungan itu.

Setelah menghabiskan satu potong, Amber kembali memeriksa ruangan. “Akan sempurna jika ada susu hangat,” gumamnya sebelum membuka sebuah lemari.

Sedetik kemudian, mata wanita itu membulat. Puluhan botol berisi cairan merah berbaris di hadapannya.

“Apakah ini wine? Kenapa warnanya kental sekali?”

Setelah berkedip-kedip sesaat, ia menutup lemari dan beralih ke kulkas. Di sanalah ia menemukan apa yang dicari.

“Ah, ini dia!”

Dengan sebelah tangan, Amber mengeluarkan sebotol susu dan langsung mengenggaknya. Walau tidak hangat, ia tetap gembira.

“Kenapa rasanya enak sekali? Apakah karena aku kelaparan?” gumam wanita itu sebelum mengembalikan botol ke dalam kulkas.

Menit berikutnya, Amber mulai sibuk mencari di mana mantelnya berada. Malangnya, semua pintu yang ingin ia periksa terkunci rapat. Alhasil, wanita itu malah membongkar laci-laci, menyelidiki identitas si pemilik pondok.

“Siapa sesungguhnya orang ini? Kenapa dia begitu kasar dan dingin?” gerutu Amber sambil terus menggeledah. Sayangnya, tidak ada informasi yang bisa didapat. Sebagian laci tidak berisi dan sebagian lagi memuat barang-barang tak penting.

“Dan kenapa tidak ada foto sama sekali di rumah ini? Apakah Tuan Dingin benar-benar seorang psikopat?” celetuk Amber seraya membuka lemari di dekat sofa.

Sedetik kemudian, alis wanita itu melengkung maksimal. Aneka bentuk tulang terpajang rapi di hadapannya. “A-apa ini?”

Dengan tatapan ngeri, Amber meneliti setiap bagian lemari. Hanya tingkat teratas yang tidak diisi dengan tulang. Gumpalan kertas memenuhi ruangnya. Penasaran, ia pun meraih satu. Sambil menjepit selimut agar tidak melorot, wanita itu meluruskannya.

“ENYAHLAH KANIBAL JAHAT!”

Membaca pesan singkat itu, Amber pun mengerutkan alis. “Kanibal?”

Tanpa mengubah ekspresi, ia mengambil gumpalan kertas lain.

“KANIBAL SEPERTIMU TIDAK LAYAK HIDUP!”

Dalam sekejap, mulut sang wanita ternganga lebar. Sebuah ide baru saja melintas dalam benaknya. Dengan bola mata yang bergetar, ia menyusun bukti-bukti yang telah ditemukan—papan peringatan yang tidak manusiawi, omongan Tuan Dingin tentang memakannya bulat-bulat, puluhan botol berisi cairan semerah darah, dan kumpulan tulang yang dipajang. Ketika mendapat kesimpulan, wajahnya langsung memucat.

“Laki-laki itu kanibal?” desah Amber dengan mata bulat. Seketika, keringat dingin mulai membanjiri tengkuknya.

Tiba-tiba, seseorang membuka pintu dengan kasar. Sedetik kemudian, Tuan Dingin masuk dengan sebuah sekop di tangannya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu dengan nada tak senang. Bola matanya bergerak-gerak mengamati Amber yang terbelalak, lemari yang terbuka lebar, serta dua lembar kertas yang tergeletak di lantai.

Merasa terancam, sang wanita spontan melangkah mundur. Kurang berhati-hati, ia pun membentur lemari. Beberapa tulang berjatuhan di dekat kakinya. Menyaksikan kecerobohan itu, alis Tuan Dingin otomatis melengkung tinggi.

“Tulang-tulangku!” seru pria itu sambil bergegas menghampiri.

Berpikir “sang Kanibal” akan membunuhnya, nyali Amber mendadak lenyap. Wanita itu sadar bahwa dirinya tidak akan bisa lolos dari terkaman sang pria kekar. Sambil merapatkan mata, ia pun menjatuhkan lutut dan bersimpuh.

“Tolong jangan makan aku! Tubuhku terlalu kurus untukmu. Kau tidak akan merasa kenyang,” ucapnya dengan suara bergetar.

Mendengar nada ketakutan itu, Tuan Dingin sontak menghentikan langkah. Dengan raut heran, ia memperhatikan wanita yang menghindari tatapan matanya. “Kau berpikir aku akan memakanmu?” desah pria itu penuh tanya.

“Kumohon maafkan aku!” seru Amber sambil mencengkeram selimut lebih erat. “Aku tidak bermaksud mengganggumu. Kedatanganku ke sini hanyalah sebuah kebetulan, dan aku menyesal telah memarahimu. Aku seharusnya berterima kasih karena kau sudah berbaik hati membiarkanku hidup.”

Sambil berkedip-kedip, Tuan Dingin mencerna situasi. Setelah melihat tulang-tulang dalam lemari dan tulisan “kanibal” di sisi Amber, barulah ia tersenyum miring.

“Dasar perempuan bodoh,” umpatnya dalam hati. Sedetik kemudian, pria itu mendatarkan ekspresi.

“Kau pikir, permohonan maaf saja cukup untuk menyelamatkanmu?” tanya Tuan Dingin dengan nada garang.

Amber sontak kebingungan. Selang perenungan singkat, ia akhirnya mengintip lewat sudut atas matanya. “Apa yang harus kulakukan agar kau mau membebaskanku?” tanya wanita itu takut-takut.

“Entahlah. Aku sudah lama tidak memakan daging manusia.”

Jawaban ringan itu sontak membuat napas Amber tertahan. Kengerian wanita itu kini tumbuh berlipat ganda. “T-tapi, kau punya roti di dapur. Itu jauh lebih enak daripada ... aku.”

Sekali lagi, alis sang pria terangkat maksimal. “Kau mencuri makananku?”

Secepat kilat, Amber menggeleng. “Tidak. Aku tidak mencurinya,” jawabnya dengan suara tertekan.

“Kau mengambil makananku lalu memohon agar aku tidak memakanmu. Apakah itu adil?”

Merasa terdesak, Amber pun menegakkan kepala. “Sungguh. Aku tidak mencuri makananmu,” tegasnya senatural mungkin.

Setelah menyandarkan sekop ke dinding, Tuan Dingin mendekatkan hidungnya ke wajah Amber. Selagi perempuan yang masih berlutut itu menahan napas, ia mulai mengendus-endus.

“Kau memakan Cinnamon Roll-ku,” ujar pria itu sebelum memicingkan mata. “Sekarang, haruskah aku memakanmu?”

Sekujur tubuh Amber mendadak kaku. Ketakutan yang amat besar telah melumpuhkan saraf-sarafnya. Bahkan, untuk berpikir saja, wanita itu sudah tidak sanggup. Ia hanya bisa membayangkan bagaimana Tuan Dingin mencabik-cabik kulit yang selama ini dirawat dengan segenap jiwa.

“T-tolong ... jangan makan aku,” bisiknya hampir tak terdengar. “Aku masih ingin hidup.”

Sembari tersenyum sinis, sang pria menggeleng. “Aku tidak peduli.”

Sedetik kemudian, Tuan Dingin menarik tangan kiri Amber. Mengetahui “si Kanibal” hendak menggigit, sang wanita pun memberikan perlawanan. Dengan sekuat tenaga, ia menarik tangannya.

“Jangan makan aku! Aku terlalu kurus untukmu!” pekik Amber sambil meronta-ronta.

Malangnya, wanita itu kalah tenaga. Tangannya terus mendekat ke arah mulut sang pria.

“Lepaskan! Lepaskan aku!”

Dengan tangannya yang bebas, Amber mendorong wajah Tuan Dingin agar menjauh. Ia tidak peduli jika selimut tak lagi membungkusnya. Wanita itu belum siap kehilangan nyawa.

Tak menduga gerakan itu, sang pria spontan menyerang lebih agresif. Selang beberapa detik, ia telah berhasil menjepit Amber di antara tubuhnya dan lantai kayu beralaskan karpet.

“Tidakkah kau lihat? Tanganku ini hanya tulang berbalut kulit! Gigimu bisa rontok jika memakannya!” seru wanita yang tidak bisa lagi berpikir normal. Apa pun yang terlintas dalam pikiran meluncur begitu saja dari mulutnya. Ia benar-benar putus asa.

“Justru itulah bagian favoritku. Tulang manusia,” ujar Tuan Dingin sambil menahan tawa. Ia gembira melihat si perempuan bodoh menderita. “Sekarang, ucapkan selamat tinggal pada dunia. Kau akan segera menjadi santapan lezat.”

“Tidak,” desah Amber seraya melirik ke arah tangannya yang semakin dekat dengan mulut sang pria. Begitu Tuan Dingin menganga lebar, ia pun memekik di puncak suara. “Tidak ...!”

Tanpa terduga, sang pria berhenti mendekatkan tangan Amber ke mulutnya. Bekas luka pudar yang melintang di pergelangan sang wanita telah mencuri perhatian. Mengapa ia tidak melihatnya semalam?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Jodohnya yang Tak Diinginkan, Sihirnya yang Terlarang
9.2
Lima tahun mengabdi sebagai pendamping Alpha Bram, kesetiaanku dibalas pengkhianatan kejam. Saat lampu gantung jatuh, Bram menjadikanku tameng hidup demi menyelamatkan Bella, selingkuhannya. Akibatnya, tubuhku hancur dan serigalaku lumpuh. Tak cukup sampai di situ, Bram tega memutuskan ikatan suci kami secara paksa. Rasa sakit luar biasa itu merenggut nyawaku, tepat ketika rahasia bahwa aku mengandung ahli warisnya terungkap. Kini, penyesalan Bram sia-sia.
Sampul Novel Keinginan Sang Elf: Petualangan Erotis di Dunia Peri
8.7
Lyra, seorang elf muda, memutuskan menjelajah dunia luar demi menjawab rasa penasaran dan hasrat terpendamnya. Petualangan ini mempertemukannya dengan peri tampan bernama Orion, yang membimbingnya menyelami sisi erotis yang asing baginya. Di tengah keindahan dunia peri, bahaya gelap mulai mengancam. Sembari mengungkap rahasia besar yang menguji cinta mereka, hubungan keduanya pun bertumbuh menjadi sebuah ikatan intim yang sangat mendalam.
Sampul Novel Luna Curiannya, Penyesalan Terbesarnya
9.0
Lima tahun menduduki posisi Luna di Klan Bulan Darah, aku hanya menerima sikap dingin dari Alpha Arlan. Kasih sayang dan gaun impianku justru ia serahkan pada Fiona, perempuan yang selalu ia bela. Saat Arlan menyebut takdir kami sebagai beban yang menyesakkan, aku pun muak. Aku memilih memutuskan ikatan kami dan pergi menjauh. Begitu tautan mistis kami hancur, kepanikan melandanya hingga ia memohon kembali. Namun, penyesalan Arlan kini sama sekali tidak berharga bagiku.
Sampul Novel Luna Jatuh Cinta pada Alpha Lain Setelah Pasangannya Mengkhianatinya
9.2
Saat pesta ulang tahun Alpha Marc Dale, ia membawa kembali mantan pasangan sejatinya, Lucy Burton, yang dahulu disiksanya. Namun, tepat pada hari jadi kami, saya menyaksikan Marc memeluk dan menandai Lucy di kamar. Meski Marc berdalih itu adalah hukuman, Lucy justru mengejek saya dengan memamerkan cincin pernikahan yang persis seperti kepunyaan saya. Pengkhianatan keji ini seketika menghancurkan jiwa serigala saya dalam kepedihan yang teramat sangat.
Sampul Novel Nona Hujan, Cobalah Diriku!
8.4
Kekeringan parah melanda Kerajaan Meng selama puluhan tahun akibat dosa masa lalu. Demi menolong rakyatnya, Putra Mahkota Li Yun Zhu berusaha mencari solusi hingga menemukan harapan pada Su Yu Er, anggota Suku Chang'o yang memiliki kemampuan memanggil hujan. Namun, Yun Zhu menghadapi dilema berat karena ia harus meminta bantuan kepada keturunan dari bangsa yang dahulu dibantai oleh keluarganya sendiri. Akankah dendam masa lalu ini menghancurkan peluang keselamatan kerajaannya?
Sampul Novel Pengantin Wanita yang Dicemoohnya Ternyata Legendaris
8.4
Fernanda kerap dihina sebagai gadis desa yang kasar semenjak kembali ke keluarganya, tetapi ia tak peduli. Keadaan berubah saat Cristian, pria yang sangat rasional, digosipkan hilang akal karena mencintainya. Tak rela sang kekasih difitnah, Fernanda mulai bertindak. Satu demi satu identitas aslinya terkuak, mulai dari desainer hebat, gamer genius, pelukis ternama, hingga pengusaha sukses. Ternyata, dialah yang selama ini membodohi mereka semua.